Category: Bisnis.com Tekno

  • China Bakal Rilis Smartphone Ala BlackBerry, Berikut Spesifikasinya

    China Bakal Rilis Smartphone Ala BlackBerry, Berikut Spesifikasinya

    Bisnis.com, JAKARTA — Dua perusahaan smartphone asal China, Unihertz dan Zinwa akan meluncurkan smartphone dengan keyboard fisik QWERTY serupa BlackBerry.

    Sementara itu, dikutip laman web resmi Zinwa, Kamis (3/7/2025) smartphone Zinwa Q25 akan diluncurkan sekitar Agustus mendatang, dengan mengusung chipset MediaTek Helio G99 dan juga RAM 12 GB dan penyimpanan internal 256 GB.

    Handphone tersebut mendukung konektivitas jaringan 4G dan memiliki kapasitas baterai sebesar 3000 mAh.

    Untuk kamera, smartphone tersebut memiliki kamera belakang 50MP dan kamera depan 8MP.

    Perlu diingat bahwa sebenarnya Zinwa Q25 merupakan modifikasi dari seri BlackBerry Classic Q20, yang mengusung beberapa pembaruan hardware, namun tetap mempertahankan komponen-komponen seperti layar touchscreen 720×720, keyboard fisik QWERTY, dan lampu notifikasi LED.

    Smartphone yang akan mereka perkenalkan ini sudah dilengkapi dengan sistem operasi Android, sehingga cocok untuk pengguna perangkat Android yang merindukan pengalaman mengetik dengan handphone ber-keyboard fisik.

    Sementara itu GSMArena melaporkan bahwa produsen China lainnya, Unihertz, berencana untuk meluncurkan seri handphone Titan 2. Wujud fisiknya serupa dengan BlackBerry Passport, dengan layar persegi 4,5”, tetapi yang membedakan adalah keberadaan layar kedua di bagian belakang berukuran 2”.

    Smartphone dual-SIM ini akan diluncurkan dengan Android 15, dengan chipset Dimensity 7300, dipasangkan dengan RAM 12 GB dan penyimpanan 512 GB.

    Tersedia juga kamera belakang 50MP dengan fitur telefoto 3,4x 8MP, dan kamera depan 32MP di smartphone ini. Face Unlock dan Finger Print ID juga didukung di perangkat ini untuk memberikan keamanan.

    Untuk ketahanan baterai, Titan 2 akan ditenagai baterai berkapasitas 5.050 mAh dengan pengisian daya 33W, hanya butuh waktu satu setengah jam untuk melakukan pengisian daya penuh.

    Titan 2 nantinya juga akan dilengkapi dengan fitur-fitur seperti konektivitas jaringan 5G, Bluetooth 5.4 beserta NFC dan juga penerima radio FM.

    Untuk mendukung peluncuran Titan 2, Unihertz bahkan melakukan kampanye penggalangan dana dengan target pre-order sebesar US$100 ribu atau sekitar Rp1,7 miliar (kurs saat ini) yang saat ini sudah terlampaui sekitar US$1,5 juta atau Rp23,7 miliar (kurs saat ini). Rencananya, pengiriman smartphone tersebut akan dimulai bulan Oktober mendatang. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Moratelindo Target Kapasitas Data Center Naik jadi 3,5 MW Tahun Ini

    Moratelindo Target Kapasitas Data Center Naik jadi 3,5 MW Tahun Ini

    Bisnis.com, JAKARTA– PT Mora Telematika Indonesia, Tbk (Moratelindo) mencatatkan pertumbuhan signifikan pada layanan pusat data atau data center yang mereka kelola. 

    Saat ini, kapasitas data center Moratelindo telah mencapai sekitar 3 megawatt (MW), dengan tingkat utilisasi yang telah berada di atas 80%.

    Deputy Chief Transformation Digital Officer Moratelindo Hasanuddin Farid mengatakan, capaian tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan pelanggan terhadap layanan perusahaan serta meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital yang andal dan terhubung langsung dengan jaringan tulang punggung (backbone) nasional dan internasional milik Moratelindo.

    “Kami memproyeksikan bahwa kapasitas data center Moratelindo akan meningkat secara modular menjadi sekitar 3,5 MW pada akhir tahun 2025. Seiring dengan ekspansi tersebut, kami memperkirakan tingkat utilisasi akan tetap tinggi, yakni di atas 75%,” kata Farid saat dihubungi Bisnis pada Rabu (2/7/2025). 

    Dia menambahkan, ada beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut. Pertama, peningkatan kebutuhan dari sektor enterprise, khususnya perusahaan-perusahaan yang tengah melakukan transformasi digital dan membutuhkan infrastruktur teknologi informasi yang aman, stabil, dan scalable. 

    Kedua, penambahan layanan kabel laut Rising 8 milik Moratelindo, yang akan memperkuat konektivitas internasional dan menjadikan pusat data sebagai lokasi strategis untuk traffic regional. 

    Ketiga, meningkatnya permintaan untuk layanan Disaster Recovery Center (DRC) dari berbagai sektor seperti perbankan, keuangan, dan layanan publik yang membutuhkan solusi pemulihan data yang andal dan sesuai regulasi.

    Dari sisi strategi pembangunan dan efisiensi, Chief Strategic Business Officer Moratelindo Resi Y. Bramani mengatakan, pendekatan yang diterapkan perusahaan berbeda dari pusat data lokal lain yang sebagian besar masih berada dalam fase parsial utilisasi, terutama yang sejak awal dibangun dengan kapasitas besar.

    “Namun, pendekatan yang kami terapkan di Moratelindo berbeda, kami membangun data center secara bertahap dan modular, disesuaikan dengan kebutuhan nyata dari pelanggan,” kata Resi.

    Dengan pendekatan ini, lanjutnya, Moratelindo dapat menjaga tingkat utilisasi layanan yang tinggi sejak awal, sekaligus memastikan kualitas layanan tetap optimal. Strategi tersebut juga membuat investasi yang dilakukan perusahaan menjadi lebih efisien dan adaptif terhadap dinamika pasar.

    Lebih lanjut, Resi mengatakan, untuk menjaga efisiensi dan keberlanjutan operasional, terutama pada masa awal ketika utilisasi belum mencapai kapasitas penuh, pihaknya menerapkan beberapa strategi utama. Pertama pendekatan modular dalam pembangunan sehingga kapasitas bertambah seiring pertumbuhan permintaan.

    Kedua, optimalisasi efisiensi energi, termasuk penerapan desain pusat data berstandar tinggi dengan Power Usage Effectiveness (PUE) yang rendah. Terakhir, digitalisasi operasional dan automasi, guna menjaga efisiensi biaya serta meningkatkan reliabilitas layanan. 

    “Dengan strategi tersebut Moratelindo berkomitmen untuk terus menyediakan layanan pusat data yang andal, efisien, dan berkelanjutan demi mendukung pertumbuhan ekosistem digital nasional secara menyeluruh,” tandas Resi. 

  • Telkom (TLKM) Bakal Tutup Anak dan Cucu Perusahaan yang Kurang Menguntungkan

    Telkom (TLKM) Bakal Tutup Anak dan Cucu Perusahaan yang Kurang Menguntungkan

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) berencana menutup anak dan cucu perusahaan yang dalam 5 tahun terakhir tidak memberikan dampak signifikan terhadap bisnis perusahaan. 

    Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan perusahaan tengah memantau dan melakukan evaluasi terhadap anak dan cucu perusahaan. Salah satu yang menjadi poin evaluasi adalah kontribusi yang diberikan anak dan cucu perusahaan kepada perusahaan telekomunikasi milik negara tersebut, di tengah kondisi penurunan kinerja.

    Langkah ini dilakukan sesuai arahan Danantara agar Telkom dapat bergerak lebih ramping dan lincah menghadapi persaingan industri telekomunikasi yang makin menantang.

    “[Anak dan cucu perusahaan] yang tidak memberikan value kepada kami, tentu akan mulai di-swept,” kata Dian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI, Rabu (2/7/2025). 

    Dian menambahkan selain menutup, perusahaan juga membuka opsi untuk menggabung anak dan cucu perusahaan Telkom, dengan anak perusahaan BUMN lain. Dengan hadirnya Danantara, proses tersebut dapat terjadi. 

    Sebagai contoh, kata Dian, anak perusahaan properti di satu perusahaan BUMN, sekarang bisa digabung dengan anak perusahaan properti lain. Hal tersebut juga berlaku untuk anak dan cucu usaha Telkom. 

    “Untuk streamlining (perampingan), sekarang Pak Seno (Direktur Strategic Portfolio Telkom) yang akan melakukan reviewnya. Memang ke depannya agar Telkom ini bisa menjadi lebih ramping dan juga lebih lincah, dan lebih menguntungkan,” kata Dian.

    Sebelumnya, dalam Komisi VI mempertanyakan mengenai anak dan cucu usaha Telkom yang cukup banyak. Mereka menyoroti kontribusi anak dan cucu perusahaan terhadap bisnis Telkom.

    Diketahui, sepanjang 2024, Telkom mencatatkan pendapatan sebesar Rp149,9 triliun atau tumbuh 0,50% dari  dengan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp149,2 triliun. Berdasarkan laporan kinerja keuangan tahunan, pertumbuhan pendapatan didorong oleh pos data, internet, dan layanan IT yang menyumbang sebesar Rp90,5 triliun, atau tumbuh sebesar 3,5% dibandingkan dengan realisasi 2023 sebesar Rp87,4 triliun. 

    Sementara itu, pendapatan dari layanan IndiHome Telkom tercatat mengalami penurunan sebesar  8,8% YoY menjadi Rp26,2 triliun. Pendapatan dari SMS, fixed, dan cellular voice juga turun 15,5% menjadi Rp10,5 triliun.

    Adapun pendapatan interkoneksi mengalami kenaikan tipis 1,3% menjadi Rp9,18 triliun, dan pendapatan dari jaringan dan layanan telkom lainnya tercatat sebesar Rp13,4 triliun, tumbuh signifikan 17,4% dibandingkan tahun sebelumnya. 

  • Google Dituntut Rp5,1 Triliun atas Penyalahgunaan Data di Amerika Serikat

    Google Dituntut Rp5,1 Triliun atas Penyalahgunaan Data di Amerika Serikat

    Bisnis.com, JAKARTA — Juri pengadilan California menjatuhkan vonis terhadap Google atas penyalahgunaan data smartphone. Google harus membayar sekitar US$314 juta atau sekitar Rp5,1 triliun (kurs saat ini) akibat kesalahan tersebut.

    Juri pengadilan San Jose menyetujui penggugat bahwa Google Alphabet bertanggung jawab atas pengiriman dan penerimaan informasi dari perangkat tanpa izin saat perangkat tidak digunakan. 

    Pengiriman dan penerimaan informasi tersebut disebut juga sebagai “beban wajib dan tidak dapat dihindari yang ditanggung oleh pengguna perangkat Android demi keuntungan Google.”

    “Keputusan ini merupakan kemunduran bagi pengguna, karena salah mengartikan layanan yang penting bagi keamanan, kinerja, dan keandalan perangkat Android” kata juru bicara Google, Jose Castaneda menanggapi tuntutan tersebut, dilansir Bloomberg.

    Castaneda juga mengatakan bahwa transfer yang dibahas dalam kasus tersebut diperlukan untuk menjaga kinerja miliaran perangkat Android di seluruh dunia, transfer ini menggunakan lebih sedikit data seluler daripada mengirim satu foto.

    Dia juga menambahkan bahwa pengguna Android seharusnya sudah menyetujui transfer tersebut lewat berbagai perjanjian ketentuan pengguna dan opsi pengaturan perangkat.

    Dengan kata lain, Castaneda mewakili Google, menyatakan pada pengadilan bahwa tidak ada pengguna Android yang dirugikan oleh transfer data tersebut dan sudah ada persetujuan terkait hal itu.

    Dalam dokumen pengadilan, penasihat hukum eksternal Google juga ikut berpendapat bahwa pengguna Android tidak mengalami kerugian apapun atas transfer data yang terjadi. Mereka juga membantah bahwa tunjangan data seluler dianggap sebagai “properti” menurut hukum California, dan dikenakan hukum perdata apabila terjadi pengambilan properti seseorang tanpa izin.

    Dikutip dari Reuters, para penggugat atas nama 14 juta warga California telah mengajukan gugatan class action. Mereka berpendapat bahwa Google sudah mengumpulkan, dapat juga dikatakan ‘menyadap’ informasi dari ponsel-ponsel Android yang tidak aktif untuk keperluan perusahaan mesin pencarian internet tersebut. 

    Keperluannya berupa iklan bertarget, yang menghabiskan data seluler pengguna perangkat Android dengan data seluler yang dibeli pengguna secara tidak benar.

    Adapun kelompok lainnya juga ikut mengajukan gugatan terpisah di pengadilan federal San Jose, dengan mengajukan klaim yang serupa terhadap Google atas nama para pengguna Android di 49 negara bagian lainnya. 

    Kasus terpisah tersebut rencananya terjadwal akan disidangkan pada April 2026. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • OPPO Bakal Rilis Produk Baru saat Oppo Run 2025?

    OPPO Bakal Rilis Produk Baru saat Oppo Run 2025?

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi, Oppo Indonesia, akan kembali melaksanakan event lari bekerja sama dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) bertajuk OPPO Run 2025. Kabarnya, bakal ada produk baru yang diluncurkan pada saat itu.

    Event lari tersebut akan dilaksanakan pada November di Bali. Lebih tepatnya di komplek olahraga milik klub sepakbola Liga 1 Indonesia, Bali United Training Centre dan sekitar Gianyar.

    Dengan mengusung slogan “Make Your Moment”, OPPO Run 2025 hadir bukan hanya sebagai langkah OPPO dan BCA mendukung hidup sehat, tetapi juga ajang untuk memperkenalkan inovasi teknologi mereka. 

    Head of PR OPPO Indonesia, Arga Simanjuntak menjelaskan bahwa OPPO selaku perusahaan smartphone, ketika melaksanakan sebuah acara, pasti berorientasi pada produk. Dengan kata lain, akan ada inovasi atau produk baru yang diperkenalkan bersamaan dengan dilangsungkannya acara.

    “Kalau ditanya apakah di OPPO Run 2025 nanti akan ada produk baru atau tidak, mungkin ditunggu saja, akan ada kejutan yang dihadirkan. Terkait apakah inovasinya berupa handphone atau produk lain, harusnya dua atau tiga bulan ke depan udah bisa ketauan, kita tunggu aja” Kata Arga di Jakarta, Rabu (02/07/25), menjelaskan terkait inovasi yang akan OPPO hadirkan.

    Tahun lalu, event ini dilaksanakan di Bali, di tempat yang sama dan bersamaan dengan peluncuran seri smartphone flagship mereka, OPPO Find X8. Smartphone tersebut diperkenalkan kepada peserta dengan menawarkan kamera canggih yang dilengkapi dengan fitur AI, dinilai cocok untuk memotret momen ketika mengikuti OPPO Run.

    Terkait dengan pemilihan venue yang tetap berada di Bali, Race Director OPPO Run 2025, Andreas Kansil mengatakan bahwa kompleks olahraga Bali United Training Centre, beserta area sekitarnya yang dimasukkan kedalam rute lari menghadirkan suasana pedesaan dan budaya lokal Bali dan banyak spot yang dapat dimanfaatkan peserta untuk mengabadikan momen lewat jepretan foto. 

    Kontur tanah yang bervariasi, ada tanjakan dan turunan, juga memberikan sensasi lari dengan beragam tingkat elevasi bagi para peserta.

    Senada dengan pendapat Andreas, Direktur Bali United FC, Putri Paramita Sudali juga menyatakan hal yang kurang lebih serupa.

    “Bali United punya visi untuk memajukan Sports Tourism Bali. Untuk itu, kami memiliki Bali United Training Centre dengan luas sekitar 30 hektar, berlokasi strategis karena dekat dengan pinggir pantai. Kami juga terus meningkatkan fasilitas yang ada di dalamnya.” Jelas Putri di Jakarta (02/07/25)

    Tahun ini, OPPO Run akan menargetkan 7000 peserta, dengan rincian 1700 peserta Half Marathon 21K, 2800 peserta lari 10K, dan 2500 peserta lari 5K. Total hadiah yang diperebutkan adalah sebesar Rp545,5 juta untuk tiga pemenang lari 5K, dan lima pemenang lari 10K dan Half Marathon 21K.

    Untuk menarik partisipan, roadshow juga akan dilakukan di Surabaya, Bali dan Jakarta pada bulan Agustus dan September. Roadshow tersebut menargetkan komunitas-komunitas olahraga daerah setempat.

    Pendaftaran early bird dengan potongan harga 50% OPPO Run 2025 sudah dibuka hari ini (02/07/25) khusus untuk pengguna Bank BCA dengan rincian harga sebagai berikut:

    21K Half Marathon: Rp300.000 (Harga normal Rp600.000)

    10K: Rp225.000 (Harga normal Rp450.000)

    5K: Rp125.000 (Harga normal Rp250.000)

    Semua tiket ini sudah termasuk racepack berupa jersey, medali finisher, dan perlindungan asuransi dari BCA Insurance.

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun).

  • Data Center Indonesia Masih Tertinggal dari Tetangga, Malaysia Tetap Terfavorit

    Data Center Indonesia Masih Tertinggal dari Tetangga, Malaysia Tetap Terfavorit

    Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO) menilai investasi senilai Rp37 triliun yang digelontorkan EDGNEX Data Centers by DAMAC sebagai katalis penting dalam mendorong gelombang baru pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Tanah Air.

    Namun, jika dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia masih jauh tertinggal.

    Proyek ini diyakini mampu mempercepat transformasi digital nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai hub pusat data strategis di Asia Tenggara.

    EDGNEX, bagian dari DAMAC Group yang berbasis di Dubai, mengumumkan pembangunan pusat data generasi berikutnya yang siap mendukung teknologi AI di Jakarta, menjadikannya fasilitas kedua mereka di Indonesia. 

    Proyek ini diperkirakan menjadi salah satu pusat data AI terbesar di kawasan, dengan efisiensi energi tinggi ditandai oleh target Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,32, jauh di bawah rata-rata global. Fase pertama ditargetkan beroperasi pada Desember 2026.

    Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma menyebut masuknya DAMAC merupakan sinyal positif bagi iklim investasi pusat data di Indonesia. Apalagi, pertumbuhan kapasitas nasional tengah berlangsung signifikan, dan diproyeksikan mencapai 2,3 gigawatt (GW) pada 2030, naik tajam dari 580 megawatt (MW) yang tercatat saat ini.

    Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa angka tersebut masih tertinggal dari negara tetangga. 

    “Jika kita lihat, ini angka yang sebenarnya masih jauh ketertinggalannya kalau dibandingkan Malaysia. Di Malaysia mereka sudah lebih dari 1 gigawatt saat ini,” kata Hendra saat dihubungi Bisnis pada Rabu (2/7/2025). 

    Lebih lanjut, Hendra menambahkan proyek tersebut membawa banyak peluang, termasuk dalam hal transfer teknologi dan penguatan infrastruktur digital. Teknologi rak dengan densitas tinggi ini dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan (sustainability) operasional pusat data. 

    “Kalau saya lihat justru ini iklim yang baik untuk investment dan efek domino dari investment yang mereka lakukan pastinya akan panjang karena akan ada rekrutmen terhadap data center infrastrukturnya, untuk IT infrastrukturenya sampai ke cybersecurity infrastrukturnya,” kata Hendra.

    Namun, untuk mendukung pertumbuhan eksponensial ini, Hendra menilai pemerintah perlu memperkuat ekosistem regulasi dan insentif, termasuk penyederhanaan perizinan dan tarif listrik yang kompetitif.

    Hendra juga menekankan pentingnya skema tarif listrik khusus dan jaminan pasokan energi terbarukan. 

    “Tarif listrik kita ini kalau bisa dibikin lebih kompetitif karena memang Indonesia adalah potensial renewable energy terbesar yang ada di kawasan ini. Kita minta ada skema khusus nih untuk industri data center yang memang adalah industri strategis nasional,” jelasnya.

    Di luar tantangan teknis, IDPRO juga menyoroti faktor sosial seperti penolakan pembangunan oleh organisasi masyarakat di beberapa wilayah, serta kebutuhan mendesak akan pengembangan talenta digital lokal. 

    Dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) di atas 17% dari sisi kapasitas daya, Hendra menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. 

    “Kalau kita lihat energi mix dari PLN kan masih di atas 60%. Artinya kalau industri ini tumbuh tanpa adanya dukungan dari renewable energy maka dampak terhadap ekosistemnya akan buruk,” tegasnya.

    Seiring dengan dinamika pasar yang terus berkembang, Hendra mengatakan IDPRO mencatat lonjakan signifikan jumlah anggota, termasuk pemain global seperti Equinix dan Microsoft yang kini telah bergabung. Di anggota IDPRO yang tadinya hanya enam member pada 2016 dengan kapasitas sekitar 32 megawatt, sekarang sudah lebih dari 340 megawatt. 

    Lebih lanjut, dia menyebut periode 2024 hingga pertengahan 2025 sebagai momentum penting, dengan puluhan proyek data center baru yang mencakup ratusan megawatt kapasitas tambahan. 

    “Data ini juga line sama data dari PLN. Artinya memang di 2024 sampai sekarang ini pertumbuhan pembangunan data center ini lumayan besar,” ujarnya.

    Dia pun menggarisbawahi peran krusial pusat data dalam menopang sektor-sektor strategis di era digital. 

    “Data center ini sekarang menjadi tulang punggung dari kegiatan pendidikan, kesehatan, keuangan. Makin ke depan makin masif penduduk menggunakan aplikasi, dan aplikasi ini membuat data ter-transfer, ter-generate, dan juga terproses di data center. Jadi data center itu sebenarnya backbone dari digital ecosystem,” pungkasnya.

  • Pengamat Ungkap Bisnis Data Center di Indonesia Masih Prospektif 3-5 Tahun ke Depan

    Pengamat Ungkap Bisnis Data Center di Indonesia Masih Prospektif 3-5 Tahun ke Depan

    Bisnis.com, JAKARTA — Industri pusat data (data center) di Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan signifikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan. 

    Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan prospek industri pusat data dalam beberapa tahun ke depan sangat menjanjikan. Menurutnya, pertumbuhan ini tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan pemrosesan data besar di sektor e-commerce, layanan publik, hingga fintech.

    “Industri data center di Indonesia diprediksi tumbuh pesat dalam 3–5 tahun ke depan, didorong oleh adopsi AI dan kebutuhan pemrosesan data besar. Transformasi digital di sektor e-commerce, fintech, dan layanan publik meningkatkan permintaan infrastruktur digital,” ujarnya saat dihubungi Bisnis pada (2/7/2025). 

    Heru menyoroti laporan pasar data center Indonesia yang diperkirakan mencapai US$3,98 miliar atau setara Rp64,87 triliun pada 2028 dengan CAGR 14%. Kapasitas data center AI-ready diproyeksikan melonjak dari 200 MW saat ini menjadi 971,9 MW pada 2025 dan 2.110 MW pada 2030. 

    Menurutnya lonjakan tersebut turut didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah seperti Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), peta jalan Making Indonesia 4.0, serta penetrasi teknologi Internet of Things (IoT). Namun demikian, tantangan tetap membayangi, terutama dalam aspek keekonomian energi dan regulasi.

    “Tantangan terbesar keberlanjutan data center di Indonesia adalah keekonomian energi dan regulasi,” katanya. 

    Heru menyebut data center membutuhkan pasokan listrik besar, tetapi biaya energi tinggi dan ketergantungan pada gas impor menghambat daya saing. 

    “Regulasi seperti UU PDP dan KBLI 63112 menuntut kepatuhan ketat, termasuk residensi data dan izin lingkungan, yang sering kompleks,” ungkapnya.

    Heru juga menekankan pentingnya revisi regulasi yang relevan agar pertumbuhan industri ini tetap sejalan dengan kepentingan nasional dan mendukung keberlanjutan sektor digital. Termasuk melakukan revisi terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 mengenai keberadaan pusat data agar kembali pada semangat awal yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012, yaitu mewajibkan pusat data untuk layanan di Indonesia beserta pusat pemulihan data (data recovery center)-nya ditempatkan di wilayah Indonesia untuk semua jenis layanan.

    Optimisme terhadap potensi pasar data center Indonesia juga terlihat dari langkah perusahaan infrastruktur digital global, EDGNEX Data Centers by DAMAC. Menurut masuknya investasi asing mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. Namun, dia juga mengingatkan akan potensi ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.

    “Namun, tanpa permintaan yang sepadan, ada risiko overcapacity. Kapasitas saat ini hanya 200 MW, jauh dari kebutuhan 2.000 MW. Proyeksi backlog 20–30% pada 2030 menunjukkan potensi ketimpangan jika ekspansi tidak diimbangi strategi pasar yang matang,” ucapnya. 

    Dia menegaskan pentingnya kolaborasi antara investor asing dengan pelaku lokal serta dukungan regulasi yang adaptif agar momentum pertumbuhan ini tidak hanya bersifat sementara, tapi juga berkelanjutan. Dalam pandangannya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat data regional, terutama dengan adanya hambatan pengembangan data center di negara-negara tetangga yang sebelumnya dominan di kawasan.

    EDGNEX Data Centers by DAMAC sebelumnya mengumumkan pembangunan pusat data generasi berikutnya dengan teknologi AI-ready di Jakarta, yang menjadi fasilitas kedua mereka di Indonesia. Investasi tersebut mencapai US$2,3 miliar atau sekitar Rp37 triliun, menjadikannya salah satu pengembangan pusat data AI terbesar di Asia Tenggara.

    Lokasi proyek telah memasuki tahap awal konstruksi setelah proses akuisisi lahan diselesaikan pada Maret lalu. Fase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada Desember 2026, dengan penggunaan rak AI berdensitas tinggi dan target Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,32—jauh di bawah standar global rata-rata, yang menandakan efisiensi energi tinggi.

    Hussain Sajwani, Pendiri DAMAC Group, menyatakan komitmen perusahaannya dalam menjembatani kesenjangan digital di pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia.

    “Kami bangga membangun salah satu pusat data paling canggih dan berkelanjutan di kawasan ini, yang dirancang untuk mendukung gelombang inovasi dan pertumbuhan digital berikutnya,” ujarnya dalam keterangan resmi.

  • Data Center Google Konsumsi 30,8 Juta Megawatt Sepanjang 2024, Naik 4 Kali Lipat

    Data Center Google Konsumsi 30,8 Juta Megawatt Sepanjang 2024, Naik 4 Kali Lipat

    Bisnis.com, JAKARTA — Google mengungkap bahwa data center mereka telah mengkonsumsi daya hingga 30,8 juta megawatt-jam listrik sepanjang 2024. 

    Melansir laman TechCrunch pada Rabu (2/7/2025) angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat apabila dibandingkan pada 2020 yang mencatat 14,4 juta megawatt jam.

    Sebelumnya, Google telah berkomitmen untuk menggunakan sumber energi bebas karbon dalam seluruh operasionalnya.  Namun demikian, pertumbuhan pesat data center mereka membuat komitmen ini semakin menantang untuk diwujudkan. 

    Hampir seluruh kebutuhan listrik Google berasal dari pusat data pada 2024, sekitar 95,8% dari total konsumsi listrik perusahaan digunakan untuk mengoperasikan fasilitas tersebut.

    Rasio konsumsi listrik antara data center dan kebutuhan operasional lainnya juga konsisten selama empat tahun terakhir. 

    Meski Google baru menyediakan data mulai 2020, jika rasio tersebut digunakan untuk menghitung ke belakang, maka diperkirakan pada 2014 pusat data Google hanya mengonsumsi sedikit lebih dari 4 juta megawatt-jam. 

    Dengan perhitungan tersebut, dalam satu dekade, konsumsi energi data center Google naik hampir tujuh kali lipat.

    Google sebenarnya telah mengoptimalkan efisiensi energi data center secara maksimal dan kerap dipuji sebagai perusahaan teknologi terdepan dalam hal ini. 

    Namun, ketika rasio power usage effectiveness (PUE) atau efektivitas penggunaan daya perusahaan mendekati angka ideal 1,0, peningkatan efisiensi menjadi lebih lambat. 

    Pada 2024, PUE Google tercatat sebesar 1,09 hanya membaik 0,01 poin dari tahun sebelumnya dan 0,02 dari satu dekade lalu.

    Menyadari kebutuhan energi yang terus meningkat, Google mulai berinvestasi besar-besaran dalam berbagai sumber energi bebas karbon, termasuk panas bumi (geothermal), dua jenis energi nuklir (fisi dan fusi), serta energi terbarukan lainnya.

    Energi panas bumi dinilai menjanjikan karena dapat menghasilkan listrik stabil tanpa tergantung cuaca. 

    Beberapa startup seperti Fervo Energy—yang didukung Google—berhasil mengembangkan teknologi pengeboran untuk memanfaatkan potensi ini secara lebih luas.

    Di sisi energi nuklir, Google baru saja mengumumkan investasi pada Commonwealth Fusion Systems dan akan membeli 200 megawatt listrik dari pembangkit Arc mereka yang ditargetkan mulai beroperasi awal 2030-an. 

    Sementara itu, untuk energi fisi, Google telah berkomitmen membeli 500 megawatt listrik dari Kairos Power, perusahaan pengembang reaktor modular kecil.

    Meski demikian, kedua proyek nuklir tersebut belum akan menghasilkan listrik dalam waktu dekat, paling tidak dalam lima tahun ke depan. Google juga gencar membeli kapasitas dari sumber terbarukan. 

    Pada Mei 2025, Google membeli kapasitas 600 megawatt dari pembangkit surya di South Carolina, dan pada Januari mengumumkan kerja sama untuk 700 megawatt pembangkit surya di Oklahoma. 

    Bersama Intersect Power dan TPG Rise Climate, Google tengah membangun beberapa gigawatt kapasitas pembangkit bebas karbon, dengan total nilai investasi mencapai US$20 miliar atau setara dengan sekitar Rp 324 triliun dengan kurs 16.202 per dolar AS. 

    Secara total, Google telah mengontrak energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan total konsumsi energinya. Namun, tantangannya adalah sumber-sumber tersebut tidak selalu tersedia pada waktu dan lokasi yang dibutuhkan.

    “Kami sejak awal menyatakan bahwa pencapaian 100% pemadanan energi secara tahunan bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir kami adalah mencapai penggunaan energi bebas karbon 24/7 di seluruh lokasi operasi kami, sepanjang waktu,” kata Michael Terrell, Kepala Divisi Energi Terbarukan Google

    Secara global, baru sekitar 66% konsumsi data center Google yang dipadankan secara real-time dengan listrik bebas karbon. Angka ini juga bervariasi antarwilayah di Amerika Latin, angkanya sudah mencapai 92%, namun di kawasan Timur Tengah dan Afrika, baru menyentuh 5%.

    Menurut Terrell, hambatan-hambatan inilah yang mendorong Google untuk berinvestasi pada sumber energi stabil seperti fisi dan fusi. 

    “Untuk bisa mencapai target kami, teknologi-teknologi ini sangat dibutuhkan,” katanya.

  • Sektor Data Center Indonesia Makin Menarik Usai DAMAC Masuk

    Sektor Data Center Indonesia Makin Menarik Usai DAMAC Masuk

    Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai investasi raksasa properti asal Dubai, Damac, beberapa waktu lalu menandakan Indonesia masih menarik bagi investor global. 

    Diketahui Damac sebelumnya mengumumkan pembangunan data center siap AI di Indonesia. Total nilai yang disiapkan mencapai Rp37 triliun. 

    Sekretaris Umum APJII Zulfadly Syam mengatakan kehadiran pemain asing seperti DAMAC, menunjukkan bahwa iklim investasi di sektor infrastruktur digital Indonesia mulai dilirik dunia internasional.

    Menurutnya kompetisi pasar akan sedikit banyak berdampak pada segmentasi yang sama, namun karena pasar masih luas maka industri ini masih berkembang untuk jadi enabler dalam transformasi digital Indonesia.

    Dia juga menilai bahwa langkah perusahaan global untuk menanamkan investasi di sektor ini memberi sinyal positif bagi perkembangan industri ke depan.

    “Kehadiran DAMAC dan sejumlah pemain asing lainnya menandakan iklim investasi infrastruktur digital Indonesia sudah mulai kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura,” kata Zulfadly kepada Bisnis, Rabu (2/7/2025).

    Namun demikian, dia mengingatkan bahwa data center tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan infrastruktur dasar yang kuat dan ekosistem pendukung.

    “Sinyal progress-nya ada, namun data center tidak dapat berdiri sendiri. Supply listrik selalu harus bagus sehingga tetap memerlukan pemikiran menggunakan energi terbarukan. Kedua, harus didukung oleh ekosistemnya, ketiga, regulasi yang berkaitan harus mendukung industri,” paparnya.

    Zulfadly juga menjelaskan mengenai tiga komponen penting di sektor data center yaitu mengatakan  ketiga komponen tersebut antara lain lahan, supply listrik, dan permintaan (demand). 

    “Selama ketiga komponen itu masih available di Indonesia maka demand terhadap data center masih progress,” kata Zulfadly saat dihubungi Bisnis pada Rabu (2/7/2025). 

    Berdasarkan laporan terbaru dari Structure Research dan Cushman & Wakefield, jumlah data center di Indonesia pada 2024 tercatat sebanyak 430 fasilitas. 

    Angka ini masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia (532) dan Singapura (717), meskipun Indonesia memiliki potensi pasar dan jumlah populasi yang jauh lebih besar.

    Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), Hendra Kusuma sebelumnya mengatakan lambatnya pertumbuhan data center di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor struktural, mulai dari regulasi, pasokan listrik, hingga kesiapan ekosistem.

    Menurutnya, proses perizinan yang kompleks menjadi salah satu hambatan utama investasi. 

    “Proses perizinan ini di beberapa wilayah kita ini masih tergolong kompleks dan memakan waktu. Jadi terutama untuk data center yang hyperscale ya, yang skalanya besar,” ungkap Hendra.

    Tantangan lainnya adalah terkait kebutuhan energi. “Data center itu power hungry, jadi dia membutuhkan energi, pasokan listrik yang luar biasa besar,” kata Hendra.

    Dia mencontohkan Malaysia yang mampu memberikan insentif listrik hingga 8 sen dolar per kWh, menjadikan negara tersebut lebih atraktif bagi investor. Selain itu, Malaysia juga memiliki proses perizinan yang lebih ramah serta lahan yang luas untuk pembangunan fasilitas skala besar.

    Malaysia bahkan diprediksi akan menjadi pasar data center terbesar kedua di dunia dalam lima tahun ke depan, menggeser posisi Singapura. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih dalam tahap membangun permintaan, baik domestik maupun internasional.

    “Kalau kita terapkan digital sovereignty atau kedaulatan digital, harusnya makin banyak data center ini akan pindah ke Indonesia,” jelas Hendra.

    Dia menyebut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang maksimal, Indonesia memerlukan sekitar 3 gigawatt daya listrik hanya untuk kebutuhan data center. Artinya, dibutuhkan pembangunan sekitar 100 data center baru dalam seratus tahun ke depan.

  • Aplikasi Doppl dari Google Labs Mencoba Fashion Secara Virtual

    Aplikasi Doppl dari Google Labs Mencoba Fashion Secara Virtual

    Bisnis.com, JAKARTA – Google kembali memunculkan inovasi baru yang cocok untuk menciptakan tren terbaru. Melalui Google Labs, Doppl menjadi aplikasi terbaru yang dapat memenuhi gaya kebutuhan fashion seluruh masyarakat dunia.

    Doppl merupakan aplikasi buatan Google Labs yang dikemas khusus dengan konsep eksperimental AI. Konsep ini akan membawa Anda memahami penggunaan dan manfaat teknologi AI, dalam perkembangan dunia fashion.

    Aplikasi Doppl memudahkan Anda untuk bergaya dan menentukan konsep berpakaian sesuai dengan kebutuhan pribadi secara virtual. Tak hanya itu, aplikasi ini juga membuat Anda lebih mudah dalam menemukan referensi fashion.

    Dilansir dari Google Labs, Doppl dibuat dengan tujuan membuat penjelajahan gaya yang lebih mudah, menyenangkan, dan dapat diakses secara instan. Selain itu, sistem video AI yang terdapat di dalam aplikasi tersebut membantu pengguna untuk bergerak, mencoba pakaian, dan mengevaluasi detail kecocokan model pakaian yang dipilih. 

    Cara menggunakan aplikasi Doppl:

    1. Pastikan Anda berusia di atas 18 tahun, berdomisili di AS, dan masuk ke akun Google.

    2. Setelahnya, unggah foto seluruh tubuh untuk mencoba penampilan baru. Anda dapat melihat rekomendasi yang disediakan untuk memilih foto yang luar biasa.

    3. Jika Anda tidak memiliki foto yang siap pakai, cobalah salah satu Model AI yang telah dibuat sebelumnya untuk memulai.

    4. Selanjutnya, pilih pakaian awal yang ingin dicoba. Setelah muncul tampilan pertama, Anda dapat mengunggah foto dan tangkapan layar pakaian yang ingin dicoba. 

    5. Setelah Anda mendapatkan tampilan yang Anda sukai, silahkan ketuk tombol animasi untuk melihat tampilan bergerak dengan video pendek.

    6. Unduh atau bagikan penampilan Anda menggunakan tombol bagikan.

    Saat ini, Doppl tersedia bagi pengguna ios dan android. Berdasarkan informasi yang tertera, aplikasi ini hanya baru bisa digunakan oleh masyarakat di Amerika Serikat. Hal ini sungguh disayangkan, karena masyarakat di negara lain belum bisa menikmati konsep AI secara langsung yang tersedia pada Doppl. 

    Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan Doppl, yaitu berupa:

    1. Kategori

    Saat ini, Doppl hanya menyediakan kategori pakaian yang dapat dicoba berupa atasan, bawahan, dan gaun. Saat ini, Doppl terus berupaya untuk memperluas ke kategori lainnya.

    2. Tidak didukung

    Jenis fashion yang tidak didukung oleh Doppl adalah sepatu, pakaian dalam, baju renang, dan aksesoris. Selain itu, kostum tradisional, keagamaan, dan budaya juga belum tersedia di Doppl. AI Generatif tidak mendukung jenis pakaian yang tipis dan melanggar kebijakan yang telah ditentukan.  

    3. Barang yang Disarankan

    Doppl dapat membantu Anda dalam memberikan saran pada bagian-bagian pakaian, yang sekiranya membutuhkan elemen tambahan. Jika Anda hanya memberikan satu jenis pakaian, maka aplikasi ini akan membantu mencari dan menyediakan elemen tambahan yang diperlukan, sehingga referensi fashion yang diinginkan dapat ditemukan secara tepat. 

    4. Pakaian default

    Pakaian default dimaknai sebagai barang atau referensi outfit yang dicari tidak dapat ditemukan. Hal ini karena jenis pakaian tersebut tidak didukung oleh Doppl, sehingga hanya menampilkan tampilan pakaian berbentuk kaos dan celana hitam dasar. 

    Hadirnya aplikasi ini, menjadi salah bentuk kemajuan teknologi AI yang dibuat selaras dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Fashion akan terus berkembang dan melahirkan gaya-gaya berpakaian terbaru, sehingga membutuhkan fitur aplikasi yang mendukung.

    Anda dapat memanfaatkan Doppl sebagai aplikasi yang tepat dalam mengeksplor gaya berpakaian, untuk meningkatkan rasa kepercayaan dan menemukan jati diri seutuhnya. (Maharani Dwi Puspita Sari)