Category: Bisnis.com Tekno

  • Fakta-fakta Hari Terpendek dalam Sejarah, Terjadi Tahun Ini

    Fakta-fakta Hari Terpendek dalam Sejarah, Terjadi Tahun Ini

    Bisnis.com, JAKARTA – Hari Rabu, 9 Juli 2025 menjadi hari yang luar biasa pendek, berlangsung 1,3 milidetik lebih cepat dari rata-rata, karena Bumi berputar lebih cepat pada porosnya.

    Namun, hari-hari yang lebih pendek lagi masih akan tiba, dengan 22 Juli dan 5 Agustus diperkirakan akan berkurang 1,38 dan 1,52 milidetik, masing-masing, menurut timeanddate.com. Tetapi mengapa beberapa hari menjadi lebih pendek di musim panas ini, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kita?

    Dilansir dari livescience, satu hari di Bumi berlangsung sekitar 86.400 detik, atau 24 jam waktu yang dibutuhkan planet untuk berputar penuh pada porosnya. Namun, kecepatan rotasi ini bergantung pada banyak faktor, termasuk posisi matahari dan bulan, serta medan gravitasi Bumi.

    Pada 9 Juli, 22 Juli, dan 5 Agustus 2025, bulan akan berada pada titik terjauhnya dari khatulistiwa, yang mengubah dampak tarikan gravitasinya terhadap rotasi Bumi. Bayangkan Bumi seperti gasing yang berputar — jika Anda melingkarkan jari di tengahnya dan memutarnya, ia tidak akan berputar secepat jika Anda memegangnya dari atas ke bawah. Hal serupa terjadi pada Bumi: Dengan bulan yang lebih dekat ke kutub, Bumi mulai berputar lebih cepat, membuat hari-hari kita lebih pendek dari biasanya.

    Bagaimana hilangnya 1,5 milidetik memengaruhi kehidupan di Bumi?

    Bagi kebanyakan dari kita, hilangnya satu atau dua milidetik sama sekali tidak disadari. Namun, komputer, GPS, sistem perbankan, teleskop besar, dan jaringan listrik bergantung pada sinkronisasi yang sangat akurat agar dapat beroperasi. Bagi sistem ini, setiap milidetik sangat berarti.

    David Gozzard, peneliti senior di University of Western Australia yang berspesialisasi dalam pengukuran presisi dan komunikasi laser satelit mengatakan pengukuran yang tepat tersebut disinkronkan dengan waktu referensi global yang disebut Waktu Universal Terkoordinasi (UTC).

    “[UTC] adalah referensi dunia berdasarkan lebih dari 400 jam atom yang dioperasikan di sekitar 80 lembaga pencatat waktu yang berkontribusi,” ujar Dirk Piester, kepala Time Dissemination Group 4.42 di Physikalisch-Technische Bundesanstalt (PTB), lembaga meteorologi nasional Jerman, kepada Live Science melalui email.

    PTB bertanggung jawab untuk menentukan waktu resmi di Jerman dan merupakan salah satu dari sekitar 80 lembaga di seluruh dunia yang berkontribusi dalam penghitungan UTC.

    Tidak seperti jam atom, yang mampu menghitung waktu dalam skala sepersemiliar detik (nanodetik), rotasi Bumi bisa tidak teratur. Akibatnya, UTC sebagian besar tidak bergantung pada panjang hari yang ditentukan oleh rotasi Bumi, kata Piester.

    Variasi rotasi Bumi seringkali saling meniadakan atau terlalu kecil untuk kita sadari. Namun seiring waktu, satu milidetik di sini dan satu milidetik di sana dapat bertambah. Ketika ini terjadi, pencatat waktu global di IERS menambahkan “detik kabisat”.

    “Jika terdapat deviasi konstan panjang hari dari UTC, maka detik kabisat diterapkan dalam UTC,” kata Piester. “Ini untuk memastikan bahwa waktu yang diberikan oleh UTC sesuai dengan waktu yang diberikan oleh rotasi Bumi dalam satu detik.”

    Namun, pada tahun 2022, para ilmuwan memutuskan untuk menghapuskan detik kabisat pada tahun 2035, karena gangguan yang ditimbulkannya pada sistem yang mengandalkan pencatatan waktu presisi.

    Selama beberapa miliar tahun terakhir, rotasi Bumi justru melambat, yang menyebabkan hari-hari kita menjadi lebih panjang. Misalnya, para peneliti pada tahun 2023 menemukan bahwa, antara sekitar 1 miliar dan 2 miliar tahun yang lalu, satu hari di Bumi hanya berdurasi 19 jam. Para ilmuwan berpendapat bahwa hal ini sebagian besar disebabkan oleh pergeseran bulan secara bertahap menjauh dari planet kita, yang telah membuat tarikan gravitasi bulan melemah seiring waktu dan menyebabkan Bumi berputar lebih lambat pada porosnya.

    Namun, sejak tahun 2020, para ilmuwan telah memperhatikan bahwa Bumi mulai berputar sedikit lebih cepat.

    “Saat ini, hari-hari kita sedikit lebih pendek dibandingkan 50 tahun terakhir,” kata Piester.

  • Pengamat Ungkap Alasan Warga RI Ogah Pakai e-SIM

    Pengamat Ungkap Alasan Warga RI Ogah Pakai e-SIM

    Bisnis.com, JAKARTA— Pengamat telekomunikasi dan Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai rendahnya minat masyarakat untuk bermigrasi ke teknologi e-SIM disebabkan oleh tidak adanya keunggulan signifikan dibanding kartu SIM fisik.

    Ditambah lagi, mayoritas perangkat di Indonesia masih menggunakan kartu SIM konvensional.

    “Ya karena kemudahan pindah-pindah operator dengan SIM card biasa dibanding e-SIM. Dan tidak ada kelebihan e-SIM membuat pengguna malas migrasi, tambah lagi tidak semua ponsel sudah bisa e-SIM,” kata Heru saat dihubungi, Kamis (10/7/2025).

    Heru juga menyoroti mayoritas masyarakat pengguna prabayar masih berharap bisa bebas berganti nomor. Namun, penggunaan e-SIM dinilai kurang fleksibel dalam hal ini.

    Di sisi lain, Heru menilai penerapan teknologi biometrik dan e-SIM akan berdampak baik jika sistem keamanannya bisa dijamin.

    “Dampak penerapan bagus sepanjang data biometriknya juga dijaga secara aman,” katanya.

    Namun, dia mengingatkan penggunaan data biometrik tidak bisa sembarangan karena termasuk data pribadi yang diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

    “Biometrik terganjal UU PDP karena biometrik adalah data pribadi spesifik, tidak bisa sembarangan diambil dari masyarakat. Termasuk harus diamankan secara khusus juga,” kata Heru.

    Dia pun menekankan perlunya transparansi terkait penggunaan data biometrik sebelum sistem ini diimplementasikan secara luas.

    “Sebelum diimplementasikan, dipastikan data apa yang dipakai, bagaimana metode registrasi, penyimpanan data, dan keamanan datanya. Masyarakat terus terang ragu kalau pakai biometrik dan e-SIM,” ungkapnya.

    Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti lambannya adopsi teknologi e-SIM di Indonesia. 

    Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut dari sekitar 25 juta perangkat yang sudah mendukung teknologi e-SIM, baru satu juta yang bermigrasi.

    “Kami tahu bahwa belum semua menggunakan e-SIM, namun demikian kami melihat celah dari 25 juta ponsel yang sudah berteknologi e-SIM, baru satu juta yang migrasi,” kata Meutya dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR pada Senin, 7 Juli 2025.

    Meutya menjelaskan migrasi ke e-SIM penting untuk meningkatkan efisiensi serta keamanan data, khususnya dalam pengembangan layanan digital seperti Internet of Things (IoT). Proses migrasi ini juga mencakup pembaruan data pengguna dan verifikasi biometrik.

    Meski begitu, Meutya menekankan bahwa pemerintah belum mewajibkan migrasi penuh ke e-SIM. 

    “Bahasa permennya [Permen/Peraturan Menteri] tidak demikian, bahasa permennya adalah mendorong untuk kemudian migrasi ke e-SIM,” katanya.

    Untuk SIM fisik, Meutya menyebut saat ini sudah ada regulasi yang membatasi kepemilikan nomor berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) maksimal tiga nomor. Pemerintah pun tengah mengkaji penerbitan regulasi baru yang akan mengatur sanksi bagi operator seluler yang melanggar ketentuan ini.

    “Permen itu belum mengatur sanksi ya, ini yang sedang kami eksersais, mungkin kami akan keluarkan permen baru yang mengatur sanksi bagi operator seluler yang tidak mematuhi itu,” ungkapnya.

    Mengutip laman resmi Komdigi, e-SIM merupakan evolusi dari teknologi SIM card fisik yang telah terintegrasi langsung ke dalam perangkat, sehingga tidak memerlukan kartu fisik untuk mengakses layanan seluler. 

    Selain mendukung efisiensi, e-SIM membuka peluang bagi pengembangan teknologi wearable, machine-to-machine (M2M), dan IoT.

    Registrasi pelanggan e-SIM dilakukan melalui verifikasi data biometrik seperti pengenalan wajah (minimal 90% akurasi) dan/atau sidik jari (100% akurat), yang divalidasi langsung dengan data kependudukan dari Ditjen Dukcapil.

    Meutya menyebut pemanfaatan teknologi e-SIM dan biometrik akan menjadi fondasi sistem komunikasi masa depan. 

    “Dengan lebih dari 350 juta pelanggan seluler di Indonesia, kita membutuhkan sistem yang tidak hanya efisien, tetapi juga mampu memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat dari kejahatan digital yang lebih aman, efisien, dan terpercaya,” katanya.

    Komdigi, melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital (DJED), mewajibkan seluruh operator telekomunikasi untuk menerapkan sistem manajemen keamanan informasi berbasis ISO 27001 dan memastikan perlindungan data pribadi sesuai peraturan yang berlaku. 

    Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi risiko kebocoran data dan tindak kejahatan siber lainnya, serta mewujudkan ekosistem digital yang lebih aman, inklusif, dan transparan.

  • Teknologi e-SIM Sepi Peminat, Komdigi: Pengguna Baru 1 Juta

    Teknologi e-SIM Sepi Peminat, Komdigi: Pengguna Baru 1 Juta

    Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti rendahnya tingkat migrasi pengguna ke teknologi e-SIM meski perangkat yang mendukung teknologi ini telah beredar luas.

    Dari sekitar 25 juta perangkat yang telah berteknologi e-SIM, baru satu juta yang melakukan migrasi.

    “Kami tahu bahwa belum semua menggunakan e-SIM, namun demikian kami melihat celah dari 25 juta ponsel yang sudah berteknologi e-SIM, baru satu juta yang migrasi,” kata Meutya Hafid dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin, 7 Juli 2025.

    Meutya menegaskan pentingnya percepatan migrasi ke e-SIM bukan hanya dari sisi efisiensi, tetapi juga keamanan data dan pengembangan layanan digital seperti Internet of Things (IoT).

    Terlebih proses migrasi ke e-SIM tidak sekadar mengganti kartu fisik, tetapi juga mencakup pembaruan data pengguna dan verifikasi biometrik, yang dinilai penting untuk peningkatan kualitas layanan digital ke depan.

    Meutya pun menekankan bahwa pemerintah tidak mewajibkan migrasi penuh ke e-SIM, melainkan mendorongnya secara bertahap.

    “Bahasa permennya tidak demikian, bahasa permennya adalah mendorong untuk kemudian migrasi ke e-sim,” ungkapnya.

    Untuk pengguna yang masih menggunakan SIM fisik, Meutya mengingatkan saat ini telah ada regulasi yang membatasi kepemilikan kartu berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk tiga nomor. 

    Ke depan, Komdigi juga mempertimbangkan untuk menerbitkan regulasi tambahan berupa sanksi bagi operator seluler yang tidak mematuhi ketentuan ini.

    “Permen itu belum mengatur sanksi ya, ini yang sedang kami exsercise, mungkin kami akan keluarkan permen baru yang mengatur sanksi bagi operator seluler yang tidak mematuhi itu,” ujarnya.

    Meutya juga menyoroti pentingnya peran operator dalam memperbarui data pelanggan. Menurutnya, dari 350 juta nomor yang terdaftar di Indonesia, pembaruan data menjadi langkah krusial untuk menjaga integritas sistem komunikasi nasional.

    Meutya juga menyambut baik jika DPR berkenan melakukan pengawasan khusus terhadap kepatuhan operator dalam menjalankan instruksi tersebut.

    “Jadi monggo jika memang juga DPR melakukan pengawasan khusus terhadap bagaimana operator seluler juga melakukan pemuktahiran data sesuai instruksi dari Komdigi,” kata Meutya.

  • Komdigi, Indosat, hingga Nvidia Luncurkan Indonesia AI Center of Exellence.

    Komdigi, Indosat, hingga Nvidia Luncurkan Indonesia AI Center of Exellence.

    Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara resmi meluncurkan Indonesia AI Center of Exellence. 

    Ini merupakan ekosistem inklusif nasional untuk mendorong daya saing Indonesia di bidang kecerdasan buatan (AI) yang berkolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH), Cisco, dan Nvidia.

    Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan, AI Center of Excellence merupakan hasil dari komitmen pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mempercepat adopsi teknologi AI di Indonesia.

    “Kami sangat senang dengan inisiatif yang dilakukan oleh Indosat, dibantu oleh Cisco dan Nvidia untuk mencoba meluncurkan AI Center of Excellence. Jadi, AI Center of Excellence, atau kami sebut AICCE, adalah sebuah inisiatif yang mencoba menyatukan para pemangku kepentingan yang ada,” kata Nezar dalam acara peluncuran AI Center of Excellence di Jakarta pada Jumat (11/7/2025). 

    Tidak hanya menggandeng para pakar teknologi, Nezar mengatakan, pemerintah juga bekerja sama dengan universitas, industri, dan komunitas yang mengembangkan AI.

    Menurutnya, mereka dapat memanfaatkan akses yang akan dibuka oleh AI Center of Excellence supaya adopsi teknologi AI dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

    Tidak hanya sampai di situ, Nezar mengatakan, pihaknya juga memberikan suatu perspektif berupa perluasan adopsi AI ke semua daerah di Indonesia. 

    “Jadi, ada dua kata kunci. Pertama, kami memperkuat kolaborasi. Kedua, kami mendorong inklusivitas dalam adopsi teknologi AI,” ungkapnya. 

    Meskipun belum ada fasilitas fisik, Nezar menekankan pihaknya akan menyiapkan kemudahan akses. Dia mencontohkan, bagi mereka yang ingin mengembangkan teknologi AI atau mendapatkan pengalaman dari teknologi AI, termasuk daya komputasi yang disiapkan Indosat yang juga dapat diakses untuk kebutuhan riset. 

    “Dan juga kebutuhan bagaimana AI diadopsi di dunia bisnis, bagaimana AI diadopsi untuk layanan publik, juga diadopsi di sektor pendidikan, kesehatan, dan lainnya,” ungkapnya.

    Di sisi lain, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menekankan AI Center of Excellence bukan semata tentang penerapan teknologi, tetapi tentang memastikan akses yang merata terhadap AI. 

    “Di Indosat, kami percaya bahwa AI harus inklusif bukan hanya soal akses, tapi juga soal membuka peluang,” kata Vikram. 

    Dengan dukungan dari para mitra global, Vikram mengatakan, pihaknya ingin mempercepat laju pertumbuhan Indonesia dengan memastikan masyarakat Indonesia bukan hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga kreator dan inovator. 

    “Inilah wujud komitmen kami untuk memperkuat talenta lokal yang berdaya saing global. Seluruh hal ini sejalan dengan tujuan besar kami memberdayakan Indonesia,” katanya. 

    Chuck Robbins, selaku Chair and Chief Executive Officer Cisco, menambahkan tansformasi di era AI membutuhkan fondasi infrastruktur kuat dengan sumber daya manusia yang siap bersaing. Lewat kolaborasi bersama Komdigi, Indosat, dan Nvidia, Cisco mendukung AI Center of Excellence sebagai fondasi yang aman, cerdas, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital. 

    “Dukungan ini memperkuat kemitraan kami selama lebih dari 25 tahun dengan sektor publik dan swasta di Indonesia dalam membangun ekosistem digital yang tangguh dan berkelanjutan,” katanya. 

    Terakhir, SVP Telecom Nvidia Ronnie Vasishta berharap bahwa kolaborasi tersebut menjadi model bagi negara lain dalam mengintegrasikan teknologi demi pertumbuhan yang berkelanjutan.

    “Selain itu, penting untuk memastikan AI bisa diakses oleh semua orang. Melalui kolaborasi strategis ini Nvidia tak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga mendorong pembangunan fondasi ekosistem AI yang kokoh,” ungkapnya. 

    Adapun, AI Center of Excellence diperkuat enam pilar utama dalam mendorong perkembangan AI, di antaranya:

    1. AI Sandbox yang berfokus pada pengembangan aplikasi nyata di sektor prioritas.

    2. Program pelatihan serta sertifikasi AI dan data untuk puluhan ribu talenta digital Indonesia.

    3. Akselerator untuk mendukung pertumbuhan perusahaan rintisan lokal.

    4. Enterprise hub untuk menciptakan solusi nyata bersama pelaku industri.

    5. Platform pengembangan Large Language Model berskala nasional.

    6. Forum think-tank nasional untuk merumuskan kebijakan AI yang etis dan bertanggung jawab.

  • Kecerdasan Buatan (AI) Perlambat Pengembangan Software hingga 19%, Ini Studinya

    Kecerdasan Buatan (AI) Perlambat Pengembangan Software hingga 19%, Ini Studinya

    Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga penelitian Kecerdasan Buatan (AI), METR, menemukan bahwa penggunaan alat-alat AI ternyata malah memperlambat pengembangan perangkat lunak (software), alih-alih meningkatkan pekerjaan. Hal tersebut diungkap dalam studi terbaru mereka pada Kamis (11/07/25), 

    Lembaga tersebut telah melakukan studi mendalam pada sekelompok developer berpengalaman pada awal tahun ini saat mereka menggunakan asisten pengkodean AI, Cursor, untuk membantu mereka menyelesaikan tugas dalam proyek sumber terbuka (Open-source) yang mereka kenal.

    Dilansir Reuters, sebelum studi ini, para pengembang perangkat lunak open-source percaya bahwa penggunaan AI akan mempercepat proses, dan memperkirakan waktu penyelesaian tugas akan berkurang hingga 24%.

    Penulis utama studi tersebut, Joel Becker dan Nate Rush, juga mengharapkan adanya peningkatan kecepatan signifikan hingga dua kali lipat.

    Namun, nyatanya, hasil studi menunjukkan hal yang sebaliknya, bahwa penggunaan AI malah meningkatkan waktu penyelesaian tugas sampai 19%.

    Temuan ini menantang keyakinan bahwa AI selalu membuat insinyur manusia yang mahal jauh lebih produktif, yang menjadi sebuah faktor penarik investasi besar ke perusahaan yang menjual produk AI untuk membantu pengembangan perangkat lunak.

    Literatur sebelumnya tentang peningkatan produktivitas telah menemukan peningkatan yang signifikan. Satu studi menemukan bahwa penggunaan AI mempercepat proses kerja programmer hingga 56%, sementara itu, di studi lainnya menemukan bahwa pengembang mampu menyelesaikan lebih banyak tugas sekitar 26% dalam waktu tertentu.

    Studi METR terbaru menunjukkan bahwa peningkatan tersebut tidak berlaku untuk semua skenario pengembangan perangkat lunak. Khususnya, studi terbaru tersebut menunjukkan bahwa pengembang yang sangat memahami kekhasan dan persyaratan basis kode open-source yang besar dan mapan justru mengalami perlambatan.

    Perlambatan ini disebabkan oleh pengembang yang perlu menghabiskan waktu untuk memeriksa dan mengoreksi apa yang disarankan model AI.

    “Ketika kami menonton video, kami menemukan bahwa AI memberikan beberapa saran tentang pekerjaan mereka, dan saran tersebut seringkali tepat, namun tidak persis seperti yang dibutuhkan” Kata Becker terkait hasil tugas AI yang mungkin terkadang salah menggambarkan tugas di dunia nyata, dikutip The Economic Times.

    Becker dan Rush, selaku penulis memperingatkan bahwa mereka tidak memperkirakan perlambatan ini akan terjadi pada skenario lain, seperti misalnya pada insinyur junior atau insinyur yang bekerja pada basis kode yang tidak mereka kenal.

    Meski demikian, mayoritas partisipan studi masih menggunakan Cursor hingga saat ini. Mereka masih mempercayai AI akan membuat pengalaman pengembangan menjadi lebih mudah, bahkan mampu mengedit esai alih-alih menatap halaman kosong. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Perusahaan Pencari Kerja PHK 1.300 Karyawan Imbas Kecerdasan Buatan (AI)

    Perusahaan Pencari Kerja PHK 1.300 Karyawan Imbas Kecerdasan Buatan (AI)

    Bisnis.com, JAKARTA — Recruit Holdings, induk perusahaan firma pencarian kerja dan ulasan karyawan, Glassdoor, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah 1.300 karyawan pada Kamis (10/07/25).

    Pengurangan jumlah pekerja itu dilakukan di tengah peralihan fokus perusahaan mereka ke arah kecerdasan buatan dan menyasar pada sekitar 6% dari tenaga kerja segmen teknologi SDM. Perusahaan akan segera mengirimkan pemberitahuan pada karyawan yang kehilangan pekerjaannya.

    Pemutusan hubungan kerja akan menyasar tim penelitian dan pengembangan perusahaan, serta tim “manusia & keberlanjutan” di Amerika Serikat (AS), tetapi tidak menutup kemungkinan akan berdampak serupa pada area dan wilayah lain. 

    “AI sedang mengubah dunia, dan kami harus beradaptasi dengan memastikan produk kami memberikan pengalaman yang benar-benar luar biasa bagi para pencari kerja dan pemberi kerja.” Kata CEO Recruit Holdings, Hisayuki “Deko” Idekoba menjelaskan peralihan fokus perusahaan tersebut, dilansir Reuters. 

    Langkah ini mencerminkan fokus Recruit Holdings dalam menggunakan AI untuk mentransformasi cara mencari pekerjaan serta cara perusahaan menangani rekrutmen. Sebagai bagian dari upaya tersebut, perusahaan akan menggabungkan operasi Glassdoor ke dalam Indeed. 

    Penggabungan Indeed dan Glassdoor bahkan mengakibatkan CEO Glassdoor, Christian Sutherland-WOng akan meninggalkan perusahaannya per 1 Oktober mendatang.

    “Sangat sulit menemukan industri besar dengan persentase biaya manual tenaga kerja manusia yang begitu tinggi. Jadi yang kami yakini pada dasarnya adalah bagaimana kita dapat menyederhanakan perekrutan dengan memanfaatkan AI, teknologi, dan data untuk mengurangi pekerjaan manual, itu yang kami fokuskan.” Jelas Deko mengenai usaha yang dilakukan perusahaan untuk melakukan perombakan besar.

    Dia juga mengatakan bahwa sekitar sepertiga kode pemrograman baru perusahaan ditulis oleh AI, dan diperkirakan akan melonjak menjadi setengahnya.

    Recruit, yang mengakuisisi Indeed pada 2012 dan glassdoor pada 2018 saat ini memiliki 20.000 karyawan di unit bisnis teknologi SDM. dan pemangkasan jumlah pekerja tahun ini bukanlah yang pertama.

    Pada tahun 2024, Indeed mengumumkan rencana untuk memangkas 1.000 posisi. Hal ini menyusul pengumuman pada 2023, ketika perusahaan itu menyatakan akan memangkas sekitar 2.200 pekerjaan, yang mewakili 15% dari total stafnya.

    Pada akhirnya, tren PHK ini merupakan kenyataan yang terjadi, bahwa para pemimpin perusahaan tengah menggembar-gemborkan kemampuan AI, dan berpotensi menyebabkan hilangnya banyak pekerjaan. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • XLSMART Respons Soal Rencana Komdigi Beri Sanksi Aturan 1 NIK 3 Nomor

    XLSMART Respons Soal Rencana Komdigi Beri Sanksi Aturan 1 NIK 3 Nomor

    Bisnis.com, JAKARTA – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) merespons rencana Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memberikan sanksi terhadap operator seluler yang tidak patuh aturan satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) tiga nomor telepon. 

    Head of External Communications XLSMART, Henry Wijayanto mengatakan perusahaan berkomitmen untuk mematuhi aturan pembatasan registrasi nomor prabayar berdasarkan NIK tersebut. 

    “XLSMART sepenuhnya berkomitmen untuk mematuhi seluruh aturan dan ketentuan yang berlaku terkait batas penggunaan NIK untuk registrasi nomor, dan kami tentunya juga mendukung rencana-rencana Komdigi tersebut,” kata Henry kepada Bisnis pada Jumat (11/7/2025). 

    Namun demikian, Henry mengatakan pihaknya berharap pemerintah memberikan ruang dialog dalam proses penerapan sanksi terhadap operator seluler yang melanggar.

    “Dalam penerapan sanksi, kami sangat berharap untuk adanya ruang diskusi/dialog dengan kami,” imbuhnya.

    Dia menambahkan, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menggunakan lebih dari satu perangkat telekomunikasi turut mendorong tingginya kepemilikan multi-SIM card. 

    Lebih lanjut, Henry menyatakan XLSMART telah menjalankan sejumlah langkah konkret untuk menertibkan dan memperbarui data pelanggan sesuai kebijakan yang berlaku. 

    Langkah-langkah tersebut mencakup penerapan sistem validasi data dengan Dukcapil, pembaruan data pelanggan secara berkala, serta sosialisasi kebijakan registrasi kepada masyarakat.

    “Sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021, XLSMART juga telah membatasi jumlah registrasi kartu prabayar maksimal tiga nomor per NIK secara sistem, sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi dan komitmen dalam menjaga ketertiban data pelanggan,” ungkapnya.

    XLSMART juga telah memulai penerapan verifikasi biometrik dalam proses reaktivasi SIM card untuk meningkatkan akurasi dan keamanan data pelanggan. Pihaknya menantikan terbitnya regulasi resmi dari Kominfo agar implementasi penuh dapat segera dilakukan secara nasional. 

    “Kami meyakini percepatan kebijakan ini akan semakin memperkuat ekosistem identitas digital dan perlindungan konsumen di sektor telekomunikasi,” tutupnya.

    Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan pihaknya tengah menyiapkan aturan baru yang akan memperkuat penerapan kebijakan pembatasan satu NIK hanya boleh digunakan untuk maksimal tiga nomor prabayar. 

    Aturan ini sebelumnya telah tertuang dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2021, namun belum mencantumkan sanksi yang tegas bagi operator yang melanggar.

    “Permen itu belum mengatur sanksi ya, ini yang sedang kami exercise, mungkin kami akan keluarkan Permen baru yang mengatur sanksi bagi operator selular yang tidak mematuhi itu,” kata Meutya dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI di Jakarta, Senin (7/7/2025).

    Dia menekankan pentingnya pemutakhiran data pelanggan oleh operator seluler, terutama untuk mendukung transformasi digital nasional dan meningkatkan keamanan siber. Meutya juga mengajak DPR untuk turut mengawasi proses ini secara ketat, mengingat data Komdigi menunjukkan jumlah nomor yang beredar mencapai 350 juta.

    Lebih lanjut, Meutya menyoroti pola penggunaan SIM card di Indonesia yang dinilai unik karena dominasi pelanggan prabayar yang mencapai 96,3%. Dia juga menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mendorong migrasi ke teknologi e-SIM demi efisiensi dan keamanan data.

    Dari sekitar 25 juta ponsel yang sudah mendukung e-SIM di Indonesia, baru sekitar satu juta yang bermigrasi. 

    “Dan karena itu sebetulnya kami mendorong untuk juga manfaat keamanan, maupun manfaat layanan-layanan yang lebih baik bagi masyarakat luas,” kata Meutya.

  • OpenAI Bakal Rilis Browser Berbasis AI, Tandingan Google Chrome

    OpenAI Bakal Rilis Browser Berbasis AI, Tandingan Google Chrome

    Bisnis.com, JAKARTA— OpenAI dikabarkan tengah bersiap merilis browser berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa pekan mendatang. 

    Melansir laman Reuters pada Kamis (10/7/2025), langkah ini disebut-sebut sebagai upaya menyaingi dominasi Google Chrome di pasar peramban internet. Browser AI buatan OpenAI tersebut dikembangkan dengan pendekatan baru dalam menjelajah web, serupa dengan Comet milik Perplexity dan Dia dari The Browser Company. 

    Bedanya, browser ini memungkinkan beberapa interaksi pengguna tetap berlangsung di dalam platform ChatGPT, tanpa perlu membuka tautan eksternal ke situs lain. 

    Menurut laporan Reuters, OpenAI kemungkinan akan menyematkan Operator, agen AI penjelajah web miliknya, sebagai salah satu fitur utama dalam browser tersebut. Ini akan memperkuat fungsionalitas pencarian dan interaksi langsung pengguna dengan informasi dari internet.

    Sebelumnya, laporan dari The Information mengungkap OpenAI memang telah mempertimbangkan untuk mengembangkan browser pesaing Chrome sejak awal 2024. 

    Seperti halnya Perplexity, tujuan OpenAI adalah mendapatkan akses langsung terhadap data pengguna dan merancang pengalaman browsing yang lebih inovatif tanpa bergantung pada perantara seperti Google.

    Dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun sejak meluncurkan platform chatbot populernya, ChatGPT, OpenAI berhasil mencatat lonjakan pendapatan yang signifikan. 

    Perusahaan ini mengklaim telah mencapai pendapatan tahunan sebesar US$10 miliar atau setara sekitar Rp163 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS). Angka tersebut naik hampir dua kali lipat dari sekitar US$5,5 miliar atau setara Rp89,65 triliun pada tahun sebelumnya.

    Melansir laman TechCrunch, Selasa (10/6/2025), seorang juru bicara OpenAI menyebutkan bahwa angka tersebut mencakup pendapatan dari berbagai lini bisnis, mulai dari produk konsumen, layanan ChatGPT untuk kalangan bisnis, hingga API untuk perusahaan.

    Saat ini, OpenAI tercatat melayani lebih dari 500 juta pengguna aktif mingguan dan memiliki 3 juta pelanggan bisnis berbayar. Ke depan, perusahaan yang dipimpin oleh Sam Altman ini menargetkan pendapatan mencapai US$125 miliar atau sekitar Rp2.037 triliun pada 2029.

    Namun, ambisi besar ini datang bersama tekanan besar pula. OpenAI harus terus mendorong pertumbuhan pendapatan di tengah tingginya biaya operasional, mencakup miliaran dolar per tahun yang digunakan untuk merekrut talenta unggulan dan membangun infrastruktur guna melatih serta menjalankan sistem kecerdasan buatan miliknya. 

    Hingga kini, perusahaan belum secara terbuka mengungkap besaran biaya operasional maupun apakah mereka sudah mulai mendekati titik impas. Seiring ekspansi dan inovasi yang terus dilakukan, OpenAI juga terus mendapatkan suntikan dana dari sejumlah investor besar. 

    Baru-baru ini, perusahaan berhasil mengumpulkan pendanaan sekitar US$6,6 miliar atau sekitar Rp107,58 triliun dari berbagai pemodal, termasuk Microsoft, NVIDIA, Thrive Capital, dan Khosla Ventures. 

    Dana segar ini turut mendorong valuasi perusahaan melonjak hingga menyentuh US$157 miliar atau setara sekitar Rp2.560 triliun. 

    Menurut laporan Reuters, sebagian besar pendanaan ini diperoleh melalui penerbitan obligasi konversi. 

    Thrive Capital bahkan disebut telah menggelontorkan investasi lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp16,3 triliun, dengan potensi tambahan investasi pada tahun depan apabila OpenAI berhasil mencapai target pertumbuhan yang ditetapkan.

    Di sisi lain, SoftBank lewat Vision Fund dikabarkan tengah menjajaki peluang untuk berpartisipasi dalam putaran pendanaan tersebut yang akan menjadi investasi pertama mereka di OpenAI, jika terealisasi. 

    Sementara itu, Apple disebut memilih mundur dari rencana keterlibatan dalam pendanaan. Adapun, untuk tahun 2025, OpenAI memproyeksikan pendapatan mencapai US$11,6 miliar atau sekitar Rp189 triliun, naik signifikan dibanding estimasi pendapatan pada 2024 yang sebesar US$3,7 miliar atau sekitar Rp60,31 triliun. 

  • Microsoft Hemat Rp8 Triliun Berkat AI Usai PHK Ribuan Karyawan

    Microsoft Hemat Rp8 Triliun Berkat AI Usai PHK Ribuan Karyawan

    Bisnis.com, JAKARTA— Microsoft mengklaim pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional perusahaan. 

    Chief Commercial Officer Microsoft Judson Althoff mengatakan, alat berbasis AI telah meningkatkan produktivitas di berbagai lini seperti penjualan, layanan pelanggan, dan rekayasa perangkat lunak. 

    Bahkan, berkat optimalisasi tersebut, Microsoft mengklaim mampu menghemat lebih dari US$500 juta atau sekitar Rp8,15 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS) hanya dari operasional pusat layanan (call center) sepanjang tahun lalu, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

    Pernyataan tersebut muncul sepekan setelah Microsoft mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 9.000 karyawan. 

    Itu menjadi gelombang ketiga PHK sepanjang tahun ini sehingga total karyawan yang terdampak mencapai sekitar 15.000 orang. Langkah efisiensi ini memicu sorotan karena dilakukan di tengah periode kinerja keuangan perusahaan yang justru sedang mencetak rekor.

    Microsoft dilaporkan mencatat laba bersih senilai US$26 miliar atau sekitar Rp423,8 triliun dan pendapatan sebesar US$70 miliar sekitar Rp1.141 triliun pada kuartal pertama 2025. Belum ada kejelasan apakah ribuan posisi yang dipangkas pada tahun ini memang digantikan oleh AI atau sekadar bagian dari strategi penyesuaian struktur pascapandemi. 

    Microsoft sebelumnya telah mengumumkan rencana investasi senilai US$80 miliar atau sekitar Rp1.304 triliun untuk infrastruktur AI sepanjang 2025. 

    Pada saat yang sama, perusahaan juga terus merekrut talenta-talenta unggulan untuk memperkuat posisinya dalam kompetisi global pengembangan AI, yang kini semakin diperebutkan oleh perusahaan teknologi besar. 

    Prioritas rekrutmen pun tampaknya akan lebih difokuskan pada peneliti dan insinyur AI dengan bayaran tinggi ketimbang posisi manajerial menengah atau staf operasional.

    Sebelumnya, Microsoft menyampaikan bahwa PHK terhadap sekitar 9.000 karyawan yang merupakan kurang dari 4% dari total tenaga kerja global dilakukan untuk menyesuaikan organisasi dan memangkas lapisan manajemen demi meningkatkan efisiensi. 

    PHK ini mencakup berbagai tim, wilayah, dan level jabatan, termasuk divisi penjualan dan Xbox. PHK terakhir ini menyusul pemangkasan pada Mei lalu yang berdampak pada sekitar 6.000 posisi, mayoritas di bidang produk dan teknik.

    Di tengah gelombang transformasi digital dan percepatan investasi AI, perusahaan teknologi seperti Microsoft dihadapkan pada tantangan besar, yakni bagaimana tetap mempertahankan efisiensi sambil menjaga keseimbangan antara keuntungan, inovasi, dan keberlangsungan tenaga kerja.

  • Studi Ungkap Mencairnya Gletser dapat Memicu Letusan Gunung Berapi di Seluruh Dunia

    Studi Ungkap Mencairnya Gletser dapat Memicu Letusan Gunung Berapi di Seluruh Dunia

    Bisnis.com, JAKARTA – Para peneliti memperingatkan mencairnya gletser dapat membuat letusan gunung berapi lebih eksplosif dan sering terjadi, sehingga memperburuk perubahan iklim.

    Hal ini, karena ratusan gunung berapi di Antartika, Rusia, Selandia Baru, dan Amerika Utara berada di bawah gletser. Namun, seiring planet ini menghangat dan lapisan es ini mencair serta menyusut, gunung berapi ini kemungkinan akan menjadi lebih aktif, menurut penulis sebuah studi baru yang menganalisis aktivitas enam gunung berapi di Chili selatan selama zaman es terakhir.

    “Gletser cenderung menekan volume letusan gunung berapi di bawahnya. Namun, seiring mencairnya gletser akibat perubahan iklim, temuan kami menunjukkan bahwa gunung berapi ini akan meletus lebih sering dan lebih eksplosif,” ujar penulis utama studi Pablo Moreno Yaeger, mahasiswa pascasarjana di University of Wisconsin-Madison, dilansir dari livescience.

    Proses ini telah diketahui telah mengubah Islandia secara fundamental, yang terletak di atas lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia yang sedang menyimpang. Pada tahun 2002, para ilmuwan menghitung perubahan aktivitas vulkanik Islandia seiring mencairnya gletser di akhir zaman es terakhir, sekitar 10.000 tahun yang lalu. Gunung-gunung berapi di pulau itu merespons dengan gelombang letusan, yang berhembus dengan kecepatan 30 hingga 50 kali lebih dahsyat daripada sebelumnya atau sesudahnya.

    Namun, bahaya yang mungkin mengintai di dalam sistem vulkanik kontinental masih kurang dipelajari. Untuk menyelidikinya, para ahli geosains mengamati enam gunung berapi yang terletak di Chili selatan, termasuk gunung berapi Mocho-Choshuenco yang kini tidak aktif, dan bagaimana mereka merespons pencairan Lapisan Es Patagonia ribuan tahun yang lalu.

    Dengan menggunakan peluruhan radioaktif argon yang dilepaskan oleh gunung berapi yang meletus di wilayah tersebut sebagai jam isotop, dan dengan mempelajari kristal yang mulai terbentuk di dalam batuan magmatik yang dimuntahkan ketika gunung berapi meletus, para peneliti dapat melacak aktivitas vulkanik di wilayah tersebut dan hubungannya dengan hilangnya es di sana.

    Mereka menemukan bahwa antara 26.000 hingga 18.000 tahun yang lalu, selama puncak zaman es terakhir, lapisan es meredam volume letusan, menyebabkan reservoir magma raksasa terakumulasi di bawah permukaan wilayah tersebut. Ketika lapisan es mencair, tekanan di dalam reservoir ini meningkat dan akhirnya terlepas untuk membentuk gunung berapi Mocho-Choshuenco.

    Ancaman ini bersifat planet dalam lingkupnya: 245 gunung berapi yang berpotensi aktif di dunia terletak di bawah atau dalam jarak 3 mil (5 kilometer) es, menurut sebuah studi tahun 2020.

    Ia menambahkan bahwa wilayah lain yang menjadi perhatian termasuk Amerika Utara, Selandia Baru, dan Rusia, dengan mengatakan bahwa wilayah-wilayah ini “memerlukan perhatian ilmiah yang lebih dekat.”

    Dalam periode waktu yang singkat, letusan biasanya melepaskan aerosol sulfat yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa. Hal ini telah menyebabkan peristiwa pendinginan setelah letusan sebelumnya, beberapa di antaranya telah memicu bencana kelaparan besar. Namun dalam jangka panjang, gas rumah kaca dari gunung berapi ini kemungkinan akan mempercepat perubahan iklim, kata para peneliti.

    “Seiring waktu, efek kumulatif dari beberapa letusan dapat berkontribusi pada pemanasan global jangka panjang karena penumpukan gas rumah kaca,” kata Moreno Yaeger. “Ini menciptakan lingkaran umpan balik positif, di mana gletser yang mencair memicu letusan, dan letusan tersebut pada gilirannya dapat berkontribusi pada pemanasan dan pencairan lebih lanjut.”