Category: Bisnis.com Tekno

  • Laboratorium AS Kembangkan Obat Robotik Berteknologi Gravitasi Mikro

    Laboratorium AS Kembangkan Obat Robotik Berteknologi Gravitasi Mikro

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan penelitian luar angkasa, Varda Space Industries telah mengumpulkan US$187 juta atau sekitar Rp3,05 miliar (Kurs: Rp16.000) untuk teknologi pembuatan obat robotik di luar angkasa pada Kamis (10/07/25).

    Putaran pendanaan yang mencakup partisipasi sebelumnya dari perusahaan Lux Capital, hingga dana investasi oleh Khosla Ventures dan digabung dengan pendapatan terbaru menjadikan total dana yang dihimpun Varda sebesar US$329 juta atau sekitar Rp5,36 miliar.

    Suntikan modal ini akan meningkatkan kapabilitas laboratorium farmasi Varda, dan juga menjanjikan pengiriman formulasi obat pertama di dunia yang menggunakan teknologi gravitasi mikro, menurut CEO Varda Space Industries, dilansir Reuters, Jumat (18/07/25).

    Bahan-bahan seperti bahan farmasi aktif dalam obat-obatan mengkristal secara berbeda di luar angkasa karena kurangnya gaya gravitasi. Ini menciptakan formulasi obat yang khas, dengan kemurnian dan kualitas yang lebih tinggi, yang tidak mungkin dilakukan dengan cara lain.

    Kendaraan antariksa mereka saat ini juga mendukung untuk memproduksi obat-obatan secara massal di luar angkasa di kemudian hari. Perkiraannya, Varda bisa membawa sekitar 50 kilogram bahan aktif farmasi untuk diolah di luar angkasa.

    Laboratorium orbital kelima Varda (W-5) akan diluncurkan akhir tahun 2025, yang berfokus pada pengoptimalan “reaktor kristalisasi berbasis larutan untuk mengendalikan ukuran partikel dan polimorfisme obat molekul kecil.

    Pada Juni 2024, para Ilmuwan di Stasiun Luar angkasa (ISS) memanfaatkan lingkungan gravitasi rendah untuk meningkatkan efikasi terapi antibodi monoklonal dengan menghasilkan gelembung ultra-halus yang mampu mentransfer nutrisi dan molekul kecil lainnya antar sel.

    Selain itu, mereka juga berhasil meneliti efek gravitasi mikro terhadap diferensiasi sel punca pluripoten pada lingkungan gravitasi rendah, yang menunjukkan proses penuaan sel yang cepat dibanding di bumi.

    Varda menjadi perusahaan pertama yang melakukan proses biomanufaktur semacam itu di luar laboratorium ISS dengan mengusung tujuan “menjadikan pengembangan obat di luar angkasa semulus dan semudah bekerja dengan mitra di Bumi”. 

    Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan yang berkantor pusat di California, Amerika Serikat (AS), sudah terlebih dahulu meluncurkan dan mengembalikan lagi tiga kapsul (W-1, 2, dan 3), serta W-4 yang kini sedang berada di orbit. 

    Seperti peluncuran W-5 yang akan segera dilaksanakan, semua misi tersebut berfokus pada pemrosesan farmasi. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Bursa Kripto Diretas, Total Kerugian Tembus Rp440 Miliar

    Bursa Kripto Diretas, Total Kerugian Tembus Rp440 Miliar

    Bisnis.com, JAKARTA — Bursa aset kripto, BigONE melaporkan adanya peretasan berbagai aset digital mereka senilai US$27 juta atau sekitar Rp440,1 miliar (Kurs: Rp16.000) pada Rabu  (16/07/25).

    “Setelah penyelidikan, dipastikan bahwa ini adalah hasil serangan pihak ketiga yang menargetkan dompet panas kami,” kata pihak BigONE dalam pengumumannya mengenai peretasan tersebut, dilansir Bleeping Computer (18/07/25).

    BigONE bermitra dengan perusahaan keamanan SlowMist untuk melacak dana yang telah dicuri, serta memantau pergerakannya di seluruh blockchain. Mereka meyakinkan pengguna bahwa metode serangan siber telah diidentifikasi dan diatasi sepenuhnya.

    Platform jual beli mata uang kripto tersebut juga mengumumkan, kunci pribadi dan data pengguna tidak terpengaruh oleh peretasan tersebut, dan menjamin ganti rugi untuk pelanggan dari cadangan yang tersedia.

    Beberapa jam setelahnya, admin BigONE mengumumkan layanan penyetoran dan perdagangan mereka telah dipulihkan sepenuhnya setelah serangan yang terjadi, dan akan segera mengaktifkan kembali fungsi penarikan dan Over-The-Counter (OTC) pada waktu yang belum ditentukan.

    SlowMist tidak membagikan informasi apapun tentang cara pelaku meretas bursa dan mencuri dana tersebut. Tetapi yang jelas, bursa kripto itu sudah menjadi korban serangan berantai peretas spesialis blockchain.

    Observatorium khusus BlockChain, Lookochain melaporkan, para peretas telah terlibat dalam sejumlah pencucian uang dan menukar aset yang dicuri dengan 120 Bitcoin, 1272 Ether, 2.625 Solana, dan 23,3 juta Tron.

    Sementara itu, Investigator kejahatan bursa kripto, ZachXBT dalam akun X-nya mengomentari insiden ini dengan menggarisbawahi peran BigONE dalam memproses jumlah besar hasil yang berasal dari penipuan investasi, dengan kata lain, peretasan semacam itu dapat membantu menghadirkan “pembersihan alami” di bidang blockchain.

    Tahun 2025 Merupakan Rekor Pencurian Kripto

    Berdasarkan laporan kejahatan kripto yang dibuat Chain Analysis pada pertengahan 2025, total ada lebih dari US$2,17 miliar atau Rp44,17 triliun (Kurs: Rp16.000). Jumlah itu sudah jauh melampaui angka keseluruhan pada 2024.

    Jumlah yang sedemikian besar itu salah satunya disebabkan oleh peretasan ByBit senilai US$1,5 miliar atau Rp24,45 triliun (Kurs: Rp16.000).

    Platform tersebut juga menyoroti tren penting, yang menunjukkan peretas kini lebih berfokus pada dompet pribadi, yang juga mencakup 23,35% dari semua dana yang dicuri tahun ini.

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • OpenAI Luncurkan Agen ChatGPT Versi Terbaru, Terhubung ke Gmail

    OpenAI Luncurkan Agen ChatGPT Versi Terbaru, Terhubung ke Gmail

    Bisnis.com, JAKARTA — OpenAI akan segera meluncurkan agen AI serbaguna terbaru di ChatGPT yang diklaim mampu menyelesaikan berbagai tugas berbasis komputer untuk penggunanya.

    Agen AI tersebut diperkirakan mampu secara otomatis menavigasi kalender pengguna, menghasilkan presentasi dan tayangan slide yang dapat diedit, dan juga menjalankan kode.

    Dengan menggabungkan beberapa kemampuan dari alat agen OpenAI sebelumnya, termasuk kemampuan Operator mengklik situs web, dan Deep Research untuk mensintesis informasi dari puluhan web, untuk kemudian diringkas, penggunanya akan dapat berinteraksi dengan agen AI terbaru hanya dengan melakukan permintaan kepada ChatGPT dalam bahasa alami.

    Agen ChatGPT diluncurkan pada Kamis (17/07/25) untuk pelanggan paket Pro, Plus, dan Tim OpenAI itu sendiri. Cara mengaktifkannya adalah dengan memilih “Mode Agen” di menu tarik-turun ChatGPT.

    “Memperkenalkan agen ChatGPT, sistem agen terpadu yang menggabungkan peramban jarak jauh Operator untuk mengambil tindakan, sintesis web riset mendalam, dan keunggulan percakapan ChatGPT,” tulis pihak OpenAI di akun resmi X-nya, Kamis (17/07/25), dilansir Techcrunch.

    Ini menjadi upaya OpenAI untuk mengubah ChatGPT menjadi produk agen yang mampu mengambil tindakan dan mengalihkan tugas kepada pengguna, alih-alih hanya menjawab pertanyaan.

    Agen ChatGPT menurut OpenAI akan jauh lebih mumpuni dibanding penawaran sebelumnya. Fitur baru tersebut dapat mengakses konektor ChatGPT, yang memungkinkan pengguna menemukan informasi relevan dengan menghubungkan aplikasi seperti Gmail dan GitHub.

    Agen ChatGPT nantinya juga memiliki akses ke terminal, dan dapat menggunakan API untuk mengakses aplikasi tertentu.

    OpenAI menyarankan agar pengguna dapat memanfaatkan agen tersebut untuk fungsi seperti merencanakan dan membeli bahan-bahan masak, menganalisis pesaing bisnis, serta membuat slide deck.

    Artinya, Kemampuan seperti itu akan mengharuskan agen ChatGPT merencanakan tindakan, dan juga menggunakan alat, yang menjadi tugas yang jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.

    Namun, meskipun layanan agen ChatGPT terdengar mengesankan dan akan lebih memudahkan tugas, pengguna tetap harus melihat langsung seberapa efektif agen tersebut ketika digunakan. Sebab, saat ini, teknologi agen terbukti relatif rapuh saat berinteraksi dengan dunia nyata.

    Agen-agen versi awal yang sudah dibuat perusahaan pesaing, seperti Google dan Perplexity terbukti kesulitan dalam menangani tugas-tugas kompleks, dan juga kurang menarik dibanding visi utama yang ditawarkan. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Google Gugat 25 Warga China Dalang BadBox 2.0, Peretas 10 Juta Perangkat Android

    Google Gugat 25 Warga China Dalang BadBox 2.0, Peretas 10 Juta Perangkat Android

    Bisnis.com, JAKARTA — Google menggugat 25 warga China yang diduga bertanggung jawab dalam operasi botnet global BadBox 2.0, jaringan kriminal siber yang telah menyusup ke lebih dari 10 juta perangkat pintar di seluruh dunia, mulai dari TV box Android, proyektor, tablet, hingga sistem infotaiment mobil.

    Menurut gugatan resmi Google, pada April 2025, BadBox 2.0 merupakan jaringan perangkat terinfeksi berbasis Android Open Source Project (AOSP) terbesar yang pernah terdeteksi. Botnet ini tidak hanya menjangkiti TV box, tetapi juga merambah tablet murah, proyektor digital, dan perangkat lainnya yang lazim digunakan masyarakat global.

    “Gugatan ini memungkinkan kami membongkar lebih lanjut operasi kriminal di balik botnet, memutus kemampuan pelaku berbuat kejahatan dan penipuan lebih lanjut,” tulis Google dalam pengumuman resminya.

    The Register melaporkan Google juga mengkhawatirkan dampak operasional dan reputasi akibat BadBox, yang menyebabkan gangguan terhadap hubungan dengan pengguna serta memaksa raksasa teknologi ini mengalokasikan sumber daya besar untuk menanggulangi dampaknya.

    Meski demikian, peluang pelaku bakal benar-benar diadili sangat kecil, mengingat para terdakwa berlokasi di China, negara yang jarang mengekstradisi warganya ke Amerika Serikat.

    Gugatan Google lantas membeberkan struktur bisnis kejahatan “BadBox 2.0 Enterprise” yang sangat terorganisir. Menurut Google, mereka beroperasi dengan membentuk group khusus seperti Grup Infrastruktur yang hanya fokus mengelola server dan domain pusat komando. Kemudian, Grup Backdoor Malware yang menanamkan malware dan menjual akses ke perangkat terinfeksi untuk proxy, ad fraud, dan aksi kejahatan lain.

    Ada juga Grup Evil Twin yang membuat aplikasi jahat “kembaran” aplikasi sah di Play Store untuk menjebak pengguna dengan adware dan browser tersembunyi. Aksi mereka menargetkan perangkat sebelum sampai ke tangan konsumen, dengan malware sudah diinstal dari awal.

    “Terakhir, Grup Ad Games yang mengembangkan game palsu yang diam-diam menjalankan penipuan periklanan lewat perangkat terinfeksi,” tulis Google.

    Laporan dari Human Security dan Trend Micro mengonfirmasi, BadBox 2.0 telah memungkinkan pelaku aksi peretasan, pencurian kredensial, exfiltrasi informasi sensitif, penyerangan DDoS, hingga penjualan akses proxy residential yang tetap sulit dideteksi oleh korban.

    FBI bahkan telah mengeluarkan peringatan publik atas maraknya botnet berbasis perangkat Android. Meski upaya pemblokiran server komando pernah dilakukan, struktur BadBox tetap tumbuh dan berpotensi hadir dalam versi lebih mutakhir.

    “Jaringan ini sangat besar dan terus berkembang. Kami prediksi akan ada BadBox 3 di masa depan,” kata Gavin Reid, CISO Human Security.

  • Hacker Ukraina Klaim Lumpuhkan Infrastruktur IT Pabrik Drone Rusia Gaskar Group

    Hacker Ukraina Klaim Lumpuhkan Infrastruktur IT Pabrik Drone Rusia Gaskar Group

    Bisnis.com, JAKARTA  —  Kelompok peretas (hacker) Ukraina mengklaim telah melumpuhkan infrastruktur TI milik Gaskar Integration, salah satu pemasok drone terbesar bagi militer Rusia. Selain memadamkan jaringan, mereka juga menghancurkan ribuan data teknis terkait produksi drone yang disebut penting untuk operasi militer Negeri Beruang Merah.

    Dilansir dari Register, Jumat (18/7/2025) menurut BO Team (Black Owl), kelompok peretas yang mengumumkan pelumpuhan ini melalui kanal Telegram, mereka “menembus sangat dalam” ke sistem pabrikan drone tersebut, bahkan menyamakan aksinya sebagai aksi pengurangan kekuatan militer (demiliterisasi) hingga kebagian inti.

    Para peretas mengaku sempat mengambil alih jaringan dan server Gaskar Group, mengumpulkan informasi krusial tentang produksi UAV (drone) Rusia — baik yang sedang diproduksi maupun yang baru dalam tahap pengembangan — lalu “menghancurkan semua informasi” yang ada di server, termasuk 10TB file cadangan.

    Selain meretas, BO Team juga menuduh China berperan dalam membantu produksi dan pelatihan spesialis Gaskar Group.

    Kelompok peretas Ukraina juga mengaku berhasil mencuri “seluruh source code” sebelum memusnahkan sistem dan infrastruktur Gaskar. Mereka turut mengunggah dokumen internal yang disebut sebagai kuesioner karyawan rahasia.

    Sampai berita ini dibuat, baik pihak Gaskar Integration maupun Kementerian Pertahanan Ukraina belum memberikan tanggapan atas klaim dan pertanyaan resmi dari media internasional.

    Pada Juni 2025, Perang Rusia vs Ukraina sempat memanas lagi dan membuat kekhawatiran dunia semakin tinggi. Satu hal yang perlu mendapat perhatian lebih dari memanasnya kembali hubungan dua negara tersebut adalah respons AS.

    Saat Ukraina dan Rusia saling menyerang dan mengadakan putaran kedua perundingan pada hari Senin, pemerintahan Trump tampak sangat tenang.

    Laporan ABC News bahkan menyebut bahwa hal ini menandakan adanya perubahan yang jelas namun halus dalam pendekatan AS terhadap mediasi konflik.

    Ilustrasi drone perang

    Untuk diketahui, Presiden Donald Trump tidak memberikan reaksi publik langsung terhadap serangan pesawat tak berawak Ukraina yang dramatis jauh di dalam Rusia.

    Padahal, serangan ini terjadi tepat sebelum delegasi Ukraina dan Rusia bertemu langsung di Istanbul.

    Pertemuan kali ini sebagian besar mengikuti format yang ditetapkan oleh pemerintahan Trump. Sebab sebelumnya, perwakilan dari kedua negara mengadakan pertemuan pada bulan Mei untuk pertama kalinya sejak bulan-bulan awal perang.

    Menteri Luar Negeri Marco Rubio hadir dalam diskusi awal, yang dengan cepat dianggap sebagai kekecewaan oleh AS.

    Hal tersebut karena Rusia memilih untuk hanya mengirim sekelompok diplomat tingkat kerja untuk mewakili kepentingannya di meja perundingan.

    Namun kali ini, Rubio dan pejabat tinggi pemerintahan Trump lainnya memainkan peran yang lebih kecil dalam pembicaraan tersebut dan memiliki ekspektasi yang lebih rendah lagi.

    Menurut Departemen Luar Negeri, Rubio melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, di mana ia “menegaskan kembali seruan Presiden Trump untuk melanjutkan perundingan langsung antara Rusia dan Ukraina guna mencapai perdamaian abadi.”

    Akan tetapi, departemen tersebut mencatat dalam pernyataan percakapan tersebut bahwa panggilan telepon tersebut dilakukan atas permintaan Lavrov.

    Putaran negosiasi kedua berlangsung singkat dan berakhir tanpa terobosan berarti.

  • 3 Pilihan Graphic Card untuk Gamers dengan Uang Pas-pasan

    3 Pilihan Graphic Card untuk Gamers dengan Uang Pas-pasan

    Bisnis.com, JAKARTA — Kartu grafis atau graphic card, menjadi salah satu komponen penting yang jadi perhatian bagi pengguna komputer, khususnya gamers.

    Di masa kini, game-game virtual semakin menawarkan grafik yang realistis, sehingga seringkali perangkat komputer yang tidak dilengkapi graphic card mumpuni akan sulit berjalan dengan baik, bahkan untuk menampilkan gambar 1080p.

    Apabila seorang pengguna masih ingin bermain game dengan persyaratan sistem cukup berat seperti EA FC, inZOI, atau Cyberpunk 2077 dengan graphic card yang ‘pas-pasan’, maka konsekuensi yang harus diterima adalah memainkannya dengan framerate rendah, atau menurunkan pengaturan grafik ke sedang, atau bahkan rendah.

    Namun, jika pengguna tidak mempermasalahkan bermain game dengan framerate rendah atau dengan grafik yang tidak bisa di-set terlalu tinggi, berikut ini adalah tiga pilihan graphic card dengan kualitas bersaing, tetapi dengan harga yang terjangkau, dikutip dari Slashgear:

    RX 9060 XT 16GB

    Kartu grafis keluaran AMD ini dapat mendukung resolusi 4K, tetapi terdapat kemungkinan batasan ini membuat beberapa game sama sekali tidak dapat dimainkan pada resolusi yang lebih tinggi. 

    Game-game seperti “Black Myth Wukong”, atau “Final Fantasy XVI” mungkin tergolong berat jika dijalankan dengan graphic card ini. Namun, RX 9060 XT 16GB sudah cukup mampu memainkan game-game terkini lainnya, meski framerate dapat turun di bawah 20 FPS.

    Kartu grafis ini dibanderol dengan kisaran harga sekitar Rp7-8 juta di sejumlah platform e-commerce.

    RTX 5060 Ti 16GB

    Produk ini merupakan besutan Nvidia, dengan performa kurang lebih sama dengan AMD 9060 XT. 

    Graphic card ini adalah kartu seri 50 termurah yang tersedia, dan mampu menangani grafik 4K dengan cukup baik. RTX 5060 Ti 16GB mampu menghindari masalah dengan 1% terendah, dan framerate yang jarang turun di bawah rata-rata 30 FPS.

    Graphic card ini dijual dengan kisaran harga Rp8-9 juta di sejumlah platform e-commerce.

    Perlu diingat bahwa pemilihan kartu grafis berbeda dengan pemilihan GPU. Ketika memilih GPU, kinerja dan harga untuk yang generasi lama pun masih cukup mumpuni, sehingga tidak masalah jika harus membeli GPU bekas.

    Namun untuk pemilihan kartu grafis, ada baiknya jika pengguna berhati-hati jika membelinya dalam kondisi bekas.

    RX 7700 XT

    Satu lagi dari AMD, RX 7700 XT sebetulnya merupakan generasi terakhir, tetapi masih bisa ditemukan dalam kondisi baru di berbagai pengecer.

    Graphic card ini dapat mengalahkan seri 5060 Ti dan 9060 XT, akan tetapi di beberapa perilisannya dinilai gagal.

    Dengan menggunakan kartu grafis ini, persyaratan minimum game 4K sudah dapat dipenuhi, harga yang ditawarkan produk ini di sejumlah e-commerce adalah sekitar Rp8 juta. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Mengembalikan Ruh Komunikasi di Era Viral

    Mengembalikan Ruh Komunikasi di Era Viral

    Bisnis.com, JAKARTA – Tiga dekade lalu, komunikasi ada­­­lah per­­­temuan batin. Ia lahir dari kebutuhan untuk dipahami, bukan hanya didengar. Saat itu, percakapan punya makna karena dilandasi keinginan untuk saling mengerti.

    Kini, dunia digital mengubah wa­­­jah komunikasi menjadi ta­­­­yangan singkat yang ber­­­kejaran di lini masa ra­­­mai, cepat, dan sering kali tak menyisakan ruang un­­­tuk perenungan. Di era me­­­­dia sosial, percakapan tak lagi sekadar tentang isi pesan, tapi tentang im­­­pre­si: berapa banyak yang me­­­nyukai, membagikan, atau mengomentari. Ruh komunikasi perlahan me­­­mu­­­dar, tergantikan oleh “ke­­­butuhan” untuk tampil, untuk viral, untuk dianggap ada.

    Secara psikologis, ini bu­­­kan gejala yang sepele. Dopamin zat kimia penghargaan di otak dilepaskan bukan hanya saat kita menerima “like,” tetapi juga ketika kita melontarkan ekspresi kemarahan yang divalidasi publik. Siklus ini seperti mematuhi skema variable ratio reinforcement pada mesin judi di mana kita terus mencoba karena tak tahu kapan unggahan kita akan “meledak”.

    Keinginan menjadi viral sesungguhnya berakar pada dua dorongan psikologis: kebutuhan akan signifikansi sosial, dan kebutuhan akan otonomi mengendalikan narasi diri. Ironisnya, demi mengejar kebebasan berekspresi, kita justru terjebak dalam mekanisme umpan balik yang ditenagai klik orang banyak.

    Dalam konteks ini, kebutuhan dasar manusia untuk merasa signifikan dan didengar bermetamorfosis menjadi kebutuhan akan validasi instan. Bahkan kemarahan pun kini dikapitalisasi: studi menunjukkan bahwa unggahan bermuatan emosi negatif, terutama kemarahan moral, cenderung lebih mudah viral dibanding konten yang bernuansa netral. Kita lebih memilih mengekspresikan kekesalan secara terbuka daripada menyelesaikannya secara personal. Ujaran kebencian pun menjadi komoditas algoritmik.

    Salah satu bentuk nyata dari pergeseran ini adalah cara masyarakat menyampaikan keluhan. Komplain yang dahulu disampaikan secara langsung kini dialihkan ke media sosial, bukan semata karena kecewa, tapi karena tahu bahwa perhatian publik akan mempercepat respons. Konsumen merasa memiliki “kuasa” saat suara mereka disaksikan ribuan mata.

    Komplain publik kini lebih “seksi” ketimbang percakapan privat, menimbulkan pergeseran makna komunikasi yang semestinya dua arah berubah menjadi pertunjukan satu arah: menyampaikan agar dilihat, bukan agar dimengerti.

    Dari perspektif teori komunikasi, media sosial menyediakan spectator audience—hadirin yang memperbesar tekanan bagi brand untuk segera merespons. Konsumen memindahkan keluhan ke ruang publik demi mempercepat solusi, tetapi juga demi merasakan kekuasaan simbolik: “brand besar itu akhirnya mendengar suara saya.” Sayangnya, proses ini sering menyingkirkan good faith assumption dan menggantikannya dengan asumsi apriori: brand bersalah sampai terbukti sebaliknya.

    MAKNA INTERAKSI

    Fenomena ini kemudian menjadi tantangan bagi dunia industri, khususnya dalam membangun relasi antara brand dan audiens. Tak heran bila muncul tren “memanusiakan brand”— sebuah upaya untuk mendekatkan institusi korporat dan kebutuhan manusiawi pelanggan.

    Namun, pendekatan ini sering kali disalahartikan. Banyak brand berlomba-lomba tampil santai, menggunakan bahasa gaul, atau membalas komentar dengan emoji dan humor sarkastik, seolah kedekatan hanya soal gaya bicara. Padahal, esensi memanusiakan merek bukan soal meniru slang warganet, melainkan menempatkan empati, kejujuran, dan kerentanan terukur sebagai poros interaksi.

    Di tengah keramaian dunia digital, industri seharusnya mulai menggeser fokus dari “viralitas” ke “vitalitas”—dari kuantitas keterlibatan ke kualitas hubungan. Pengukuran keberhasilan bukan dari seberapa sering nama brand disebut, tetapi seberapa dalam makna yang dirasakan audiens dari setiap interaksi. Komunitas daring perlu difasilitasi bukan sekadar untuk menggemakan promosi, tapi untuk membangun ruang dialog yang sehat.

    Pada akhirnya, manusia tetaplah titik pusat dari komunikasi. Media sosial hanyalah alat; tetapi pilihan untuk menyampaikan dengan hormat, mendengar dengan niat, dan merespons dengan empati, adalah tindakan sadar yang tak bisa digantikan algoritma.

    Kita mungkin tak bisa sepenuhnya membendung derasnya budaya klik, tetapi kita bisa memilih untuk tidak tenggelam di dalamnya. Bagi industri, memenangkan hati berarti terlebih dulu memenangkan martabat percakapan.

    Bagi individu, menjadi viral sekejap tidak akan pernah menandingi ketenangan batin saat didengar sepenuh hati. Ketika scrolling berhenti, tersisa interaksi nyata antar-manusia, saling bertanya, “Apa kabarmu hari ini?” Itulah ruh komunikasi yang harus kita rawat kembali.

     

  • Singtel Kaji Kemitraan Regional, Sinergi PDN hingga Pemerataan Internet

    Singtel Kaji Kemitraan Regional, Sinergi PDN hingga Pemerataan Internet

    Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid tengah mengkaji kolaborasi dengan swasta Singapore Telecommunications Limited (Singtel) dalam membangun infrastruktur internet hingga mengelola pusat data nasional (PDN).

    Saat menerima kunjungan Chairman Singapore Telecommunications Limited (Singtel) Lee Theng Kiat di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis (17/7/2025), Meutya mengatakan sejumlah isu dibahas termasuk terkait aliansi strategis untuk memperkuat ekosistem digital kawasan Asia Tenggara, khususnya melalui kerjasama di bidang pusat data, kecerdasan artifisial (AI), dan optimalisasi konektivitas digital hingga ke pelosok negeri.

    Meutya menegaskan perubahan paradigma pembangunan Pusat Data Nasional (PDN). Jika sebelumnya PDN hanya dibangun menggunakan infrastruktur pemerintah, kini pemerintah Indonesia secara terbuka mengundang keterlibatan pihak swasta melalui skema kemitraan publik-swasta (public-private partnership/PPP).

    “Kami mengubah pendekatan, sebelumnya PDN hanya dibangun oleh pemerintah, sekarang kita akan libatkan ekosistem, terbuka peluang PPP untuk digunakan sebagai ekosistem pusat data digital nasional,” kata Meutya.

    Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur digital dasar yang kompetitif, aman, dan dapat diandalkan.

    Lebih lanjut, Meutya juga membahas mengenai urgensi pengembangan AI yang bertanggung jawab. 

    Dia mengakui Singapura sebagai rujukan utama di Asia Tenggara dalam tata kelola dan regulasi AI. Kesamaan visi antara Indonesia dan Singapura, khususnya Singtel, menjadi dasar kuat dalam membangun sinergi strategis di bidang teknologi mutakhir ini.

    “Singapura dalam hal ini akan menjadi panutan bagi kami karena telah memulainya lebih awal,” kata Meutya.

    Terakhir, Meutya dan Singtel membahas mengenai  cara mengatasi blank spot atau wilayah tanpa akses internet di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Dia menegaskan pentingnya peran Telkom, Telkomsel, serta Singtel sebagai katalisator dalam mewujudkan misi zero blank spot di Indonesia.

    “Salah satu quick win kami adalah mewujudkan zero blank spot. Kami percaya kerja sama erat dengan Telkomsel dan Singtel akan mempercepat pencapaian ini,” kata Meutya.

    Diketahui, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) telah menjangkau 4.132 desa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mendapatkan koneksi dengan internet pita lebar hingga Juli 2025. 

    Angka tersebut mencakup 41,32% dari yang telah ditargetkan yakni mencapai 10.000 desa digital. Dengan capaian tersebut, sudah lebih dari 3,8 juta warga yang dapat mengakses layanan digital untuk pertama kalinya.

    Pembangunan 7.500 menara BTS telah memperluas layanan 4G ke wilayah non-komersial. Sementara itu, jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring kini telah menjangkau seluruh provinsi.

    “Target kami, 90% populasi Indonesia terkoneksi dengan internet pita lebar pada 2030, dan 100 persen pada 2045. Ini bagian dari Visi Indonesia Digital 2045,” kata Meutya.

    Meutya pun menekankan  pembangunan digital harus menjangkau seluruh warga negara tanpa terkecuali. Menurutnya konektivitas digital adalah hak semua orang, bukan hak istimewa segelintir kelompok. 

    “Internet harus hadir di pedesaan, perkotaan, hingga daerah terpencil,” katanya.

  • Di Balik Starlink Stop Layani Pelanggan Baru, Ritel dan Korporasi Berebut Kapasitas

    Di Balik Starlink Stop Layani Pelanggan Baru, Ritel dan Korporasi Berebut Kapasitas

    Bisnis.com, JAKARTA— Kapasitas layanan internet berbasis satelit milik SpaceX, Starlink disebut telah mencapai batas maksimum, hingga tidak lagi menerima pelanggan baru di Indonesia. Pengaturan terhadap layanan ini menjadi sorotan.

    Pakar telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Harsoyo, menjelaskan layanan internet Starlink umumnya dibagi menjadi dua jenis: pertama, layanan dengan jaminan kualitas (Quality of Service/QoS) tertentu, yang biasanya digunakan oleh pelanggan korporasi; dan kedua, layanan berbasis sistem berbagi (shared capacity atau up to), yang umum digunakan oleh pelanggan individu.

    Menurut Agung, penyebab utama kejenuhan kapasitas secara teknis adalah keterbatasan jumlah satelit Starlink yang melintas di wilayah Indonesia, sementara pengguna yang memesan, telah menggunakan, dan akan menggunakan sangat besar. 

    Permintaan besar tersebut terjadi di pelanggan ritel dan juga pelanggan korporasi.

    “Secara teknis, inilah faktor penyebab kejenuhan kapasitas,” kata Agung saat dihubungi Bisnis pada Kamis (17/7/2025).

    Diketahui, Starlink merupakan satelit yang mengorbit pada ketinggian di atas 500 kilometer. Satelit khusus internet tersebut berukuran kecil dan memiliki kapasitas terbatas.

    Di Indonesia, Starlink melayani digunakan untuk tiga hal yaitu menyalurkan internet kepada pelanggan ritel, pelanggan korporasi, dan jaringan pengalur atau backhaul.

    Karakteristik satelit ini untuk pelanggan ritel adalah makin banyak pengguna, maka akan makin menyusut. Sementara itu, untuk pelanggan korporasi dan backhaul karena yang dijual adalah jaminan kualitas layanan (SLA), maka sebisa mungkin reseller Starlink seperti Telkom, Datalake Indonesia, Primacom, dan lain sebagainya, memastikan ketersediaan kapasitas.

    Artinya, walaupun pelanggan belum ada, namun perusahaan harus mengantongi kapasitas satelit Starlink sehingga ketika pelanggan korporasi atau selular masuk, layanan bisa diberikan. 

    Perangkat penerima sinyal Starlink

    Dalam kasus Starlink, SpaceX berhenti memberikan layanan internet kepada pelanggan ritel dan mitra disebabkan kapasitas habis. Starlink juga tidak membagi antara kapasitas untuk ritel, korporasi, dan backhaul, termasuk wilayah yang dilayani.

    Berbeda dengan serat optik yang kapasitasnya dapat ditambah kapanpun tanpa menambah infrastruktur kabel, kapasitas Starlink baru dapat ditambah jika ada satelit baru yang diluncurkan Elon Musk.

    Agung menduga kapasitas Starlink penuh bukan semata disebabkan oleh lonjakan pengguna individu, melainkan kemungkinan juga karena permintaan di korporasi dan backhaul. Hal ini mengingat Starlink mengantongi izin untuk melayani segmen business to business (B2B) maupun business to customer (B2C). 

    Oleh karena itu, Agung mendorong adanya peran regulator dalam memantau dan mengevaluasi jumlah pelanggan yang dilayani oleh Starlink di Indonesia.

    “Regulator dapat melakukan asesmen terhadap penyebab kejenuhan kapasitas yang dilaporkan oleh Starlink,” tambahnya.

    Terkait asumsi Starlink lebih banyak digunakan di wilayah perkotaan, yang semestinya sudah dijangkau layanan fiber optik (FO), Agung mengatakan hal tersebut berkaitan dengan komitmen pembangunan yang biasanya tercantum dalam izin operasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), termasuk kewajiban untuk melayani wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

    Seharusnya Starlink, dengan kapasitas yang dimiliki sebelumnya, fokus melayani daerah 3T sehingga pemerataan internet terjadi. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya.

    “Secara teknis, Starlink tidak memiliki kendala untuk melayani daerah 3T,” ujarnya.

    Sementara itu, VP Corporate Secretary Telkomsat, Fino Arfiantono mengatakan bahwa SpaceX menggunakan satelit yang sama untuk memberikan layanan Starlink bagi pelanggan ritel dan pelanggan korporasi (termasuk backhaul). Namun, Fino memastikan perusahaan hanya memesan kapasitas sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

    “Telkomsat membeli layanan sesuai dengan kebutuhan customer. Hal yang sama juga dilakukan oleh reseller yang lainnya,” kata Fino.

    Diberitakan sebelumnya, Starlink saat ini tidak menerima pelanggan baru di Indonesia lataran kehabisan kapasitas.  Perusahaan menyebut aktivasi perangkat baru juga dihentikan sementara bagi pelanggan yang membeli melalui toko ritel atau penjual pihak ketiga. 

    “Layanan Starlink saat ini tidak tersedia untuk pelanggan baru di wilayah Anda karena kapasitasnya telah habis terjual di seluruh Indonesia,” demikian tulis Starlink di laman resminya pada Minggu, 13 Juli 2025. 

    Ilustrasi konektivitas internet

    Fino menjelaskan kebijakan tesebut hanya berlaku bagi pelanggan baru. Sementara itu pelanggan yang telah memesan Starlink sebelum kebijakan tersebut disampaikan, tidak terdampak.

    Dia mengatakan seluruh reseller Starlink di Indonesia telah menerima pemberitahuan resmi pemberhentian layanan, begitupun Telkomsat. 

    “Starlink melakukan pemberhentian layanan dikarenakan kapasitas yang sudah penuh,” kata Fino kepada Bisnis, dikutip Kamis (17/7/2025). Namun demikian, Fino tidak menampik saat ini masih ada antrean pemasangan yang tertunda akibat penghentian penerimaan pelanggan baru dari Starlink.  Pihaknya pun memastikan telah memberikan informasi gangguan tersebut kepada pelanggan yang terdampak. 

    “Telkomsat telah mengirimkan informasi kepada pelanggan baik melalui surat resmi maupun media lain,” katanya.  Sampai dengan saat ini pelanggan yang menggunakan layanan Starlink melalui Telkomsat mencapai sebanyak lebih dari 3000 node.

    Adapun dari jumlah tersebut, Telkomsat hanya melayani pelanggan korporat. Diberitakan sebelumnya, Starlink mengumumkan tidak lagi menerima pelanggan baru di Indonesia melalui laman resminya. 

    Perusahaan menyebut aktivasi perangkat baru juga dihentikan sementara bagi pelanggan yang membeli melalui toko ritel atau penjual pihak ketiga.

    Kebijakan tersebut dilakukan lantaran kapasitas Starlink sudah habis di Indonesia 

    “Layanan Starlink saat ini tidak tersedia untuk pelanggan baru di wilayah Anda karena kapasitasnya telah habis terjual di seluruh Indonesia,” demikian tulis Starlink. SpaceX menyediakan layanan Starlink Business yang menawarkan kecepatan unduh hingga 220 Mbps dan latensi rendah di sebagian besar lokasi, untuk memastikan kelancaran operasional bisnis. 

    Starlink Business menyasar berbagai sektor, termasuk migas, pertambangan, perkebunan, dan operasi lepas pantai, yang seringkali beroperasi di lokasi terpencil.   

  • Seleksi Frekuensi 1,4 GHz Menunggu Kesiapan Infrastruktur

    Seleksi Frekuensi 1,4 GHz Menunggu Kesiapan Infrastruktur

    Bisnis.com, JAKARTA —  Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih menyiapkan seleksi pita frekuensi 1,4 GHz hingga pertengahan Juli 2025. Salah satu yang menjadi penghambat adalah kesiapan infrastruktur untuk menggelar seleksi secara elektronik. 

    Selain itu, kebijakan yang disusun secara komprehensif berjalan secara lancar, adil, dan transparan juga menjadi perhatian. 

    “Sesuai komitmen di atas, setelah kebijakan seleksi dan infrastruktur seleksi siap, maka Kemkomdigi akan mengumumkan pelaksanaan seleksi sesegera mungkin,” Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto kepada Bisnis, Jumat (18/7/2025). 

    Setelah beberapa kali mundur, Komdigi menargetkan pemenang lelang frekuensi 1,4 Ghz dapat diumumkan pada Juli atau Agustus 2025. Selain peminat lainnya, Surge (WIFI) dan Sinergi Inti (INET) menjadi dua emiten yang secara gamblang menyatakan tertarik pada lelang frekuensi 1,4 Ghz yang diarahkan untuk internet murah itu. 

    PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge, emiten yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo bahkan optimistis bakal menang lelang frekuensi 1,4 Ghz itu. WIFI mengklaim telah menyiapkan secara komprehensif untuk menggarap segmen baru untuk internet murah berkecepatan 100 Mbps itu. 

    Direktur Solusi Sinergi Digital Shannedy Ong menjelaskan WIFI akan mengikuti lelang spektrum 1,4 GHz. Menurutnya, spektrum 1,4 GHz memang tidak aman dari sisi ekosistem karena belum dikembangkan atau ter-develop. 

    Namun, perseroan sudah mengembangkan dengan berkolaborasi dengan para vendor global baik dari sisi teknologi hingga jaringan. 

    “Jadi secara jaringan dan juga secara device, semuanya kami sudah lengkap, sudah komprehensif,” kata Shannedy dalam Shareholders Insight Forum WIFI, di Jakarta, Jumat (4/7/2025).

    Menara telekomunikasi pemancar internet

    PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) masih mengkaji lebih lanjut rencana Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang akan membuka skema jaringan terbuka (open access) berbasis spektrum frekuensi baru. 

    Group Head Government Relation & Regulatory XLSMART Alvin Aslam mengatakan pihaknya saat ini masih mempelajari kebijakan tersebut dan secara aktif menjalin komunikasi dengan Komdigi. 

    “Saat ini kami masih mempelajari hal tersebut serta tentunya berkomunikasi dengan Komdigi,” kata Alvin saat dihubungi Bisnis pada Selasa (17/6/2025). 

    Alvin mengakui bahwa salah satu tantangan utama dalam implementasi kebijakan ini adalah menyatukan pemahaman serta menyelaraskan strategi dan kepentingan seluruh pihak dengan semangat untuk mengedepankan kepentingan bersama dan mendorong kemajuan demi memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Pihaknya berharap agar regulasi yang sedang disusun pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, sehingga mampu menciptakan iklim investasi yang lebih sehat.

    “Pada akhirnya memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” imbuhnya. 

    Sementara itu, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) masih mengkaji lebih lanjut rencana Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang akan membuka skema jaringan terbuka (open access) berbasis spektrum frekuensi baru. 

    Group Head Government Relation & Regulatory XLSMART Alvin Aslam mengatakan pihaknya saat ini masih mempelajari kebijakan tersebut dan secara aktif menjalin komunikasi dengan Komdigi. 

    “Saat ini kami masih mempelajari hal tersebut serta tentunya berkomunikasi dengan Komdigi,” kata Alvin saat dihubungi Bisnis pada Selasa (17/6/2025). 

    Alvin mengakui bahwa salah satu tantangan utama dalam implementasi kebijakan ini adalah menyatukan pemahaman serta menyelaraskan strategi dan kepentingan seluruh pihak dengan semangat untuk mengedepankan kepentingan bersama dan mendorong kemajuan demi memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Pihaknya berharap agar regulasi yang sedang disusun pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, sehingga mampu menciptakan iklim investasi yang lebih sehat.

    “Pada akhirnya memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” imbuhnya. 

    Etta Rusdiana Putra, Analis Maybank Sekuritas Indonesia mengatakan kecepatan internet Indonesia tertinggal dari negara lain lantaran penundaan perluasan jaringan 5G dan terbatasnya pengembangan fix broadband (FBB). 

    Dia berharap Telkomsel, Indosat dan XL Axiata berpartisipasi aktif untuk memenangkan persaingan lelang frekuensi 1,4 GHz guna meredam persaingan di masa mendatang. 

    Ilustrasi jaringan 5GPasalnya, pemain di luar ketiga operator juga memiliki hasrat yang tinggi untuk memenangkan spektrum ini guna memanfaatkan infrastruktur fiber yang dimiliki. 

    “Jika pemerintah memberikan kepada non-MNO [Mobile Network Operator], kami memiliki dua kekhawatiran yakni sebesar besar bandwidth-nya dan ke mana perusahaan itu ekspansi,” tulisnya pada riset tertanggal 27 Februari 2025. 

    Menurutnya, jika operator di luar MNO memperoleh lebih dari 40 MHz, persaingan bakal makin ketat dan kemungkinan akan menyasar pasar yang mudah diraih yakni Jawa dan akan menyerang dengan harga yang lebih rendah. 

    “Kami yakin MNO harus memenangkan 1400 MHz, terutama Telkomsel,” imbuhnya.