Category: Bisnis.com Tekno

  • Persoalan Kapasitas Jadi Masalah Utama Layanan Internet Satelit Starlink

    Persoalan Kapasitas Jadi Masalah Utama Layanan Internet Satelit Starlink

    Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat telekomunikasi dan Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, mengungkapkan dua persoalan utama yang masih membayangi layanan internet satelit, yakni keterbatasan kapasitas dan tingginya latensi.

    Heru menjelaskan meskipun latensi menjadi salah satu persoalan dalam layanan internet satelit, khususnya LEO, tingkat latensinya masih bisa ditoleransi karena lebih rendah dibandingkan dengan satelit Geostationary (GEO). Sementara itu, pada satelit Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink, persoalan kapasitas menjadi kendala besar yang bahkan sudah menjadi isu global. 

    “Untuk satelit Leo, persoalan kapasitas itu memang tidak mudah diatasi sebenernya secara internasional juga kapasitasnya sudah menjadi problem karena kan juga jumlah peminatnya lebih besar dibandingkan kapasitasnya,”kata Heru saat dihubungi Bisnis pada Sabtu (19/7/2025). 

    Heru menyebut satu-satunya cara untuk meningkatkan kapasitas layanan satelit LEO seperti Starlink adalah dengan menambah jumlah satelit yang diluncurkan.

    Di tengah kondisi tersebut, Heru menekankan pentingnya kepatuhan dalam praktik penjualan kembali layanan Starlink. Dia mengungkapkan praktik penjualan kembali layanan Starlink memang dimungkinkan, asalkan dilakukan oleh pihak yang telah mendapatkan komitmen resmi dari Starlink untuk menjadi penyalur atau reseller layanan tersebut.

    “Jadi memang dalam aturan boleh dijual kembali, tapi kan memang harus memiliki izin atau memang menjadi reseller lah atas nama Starlink, kalau tidak seperti itu enggak boleh alias ilegal,” katanya.

    Lebih lanjut Heru menilai keterbatasan kapasitas ini justru bisa menjadi peluang bagi penyedia layanan lokal untuk mengambil ceruk pasar yang belum mampu dijangkau Starlink. Menurutnya, layanan tersebut bisa diberikan melalui teknologi berbeda maupun perusahaan lain seperti operator seluler, maupun ISP berbasis serat optik.

    “Mereka bisa memanfaatkan kondisi ini, karena kita enggak tau juga untuk meningkatkan kapasitas itu tidak mudah kalau satelitnya itu leo,” tuturnya.

    Diberitakan sebelumnya, Starlink tidak menerima pelanggan baru di Indonesia lantaran kehabisan kapasitas.  

    Perusahaan menyebut aktivasi perangkat baru juga dihentikan sementara bagi pelanggan yang membeli melalui toko ritel atau penjual pihak ketiga.  

    “Layanan Starlink saat ini tidak tersedia untuk pelanggan baru di wilayah Anda karena kapasitasnya telah habis terjual di seluruh Indonesia,” demikian tulis Starlink di laman resminya pada Minggu, 13 Juli 2025. 

    Sebagai informasi, Starlink merupakan layanan internet berbasis satelit orbit rendah (LEO) milik SpaceX yang mengorbit pada ketinggian di atas 500 kilometer. 

    Satelit-satelit ini berukuran kecil dan memiliki kapasitas terbatas. Di Indonesia, Starlink digunakan untuk melayani pelanggan ritel, korporasi, serta sebagai jaringan backhaul atau penghubung jaringan utama. 

    Untuk pelanggan ritel, kecepatan internet bisa menurun seiring bertambahnya jumlah pengguna.  Sementara itu, untuk pelanggan korporasi dan backhaul, kapasitas layanan harus diamankan lebih dulu oleh para mitra seperti Telkomsat, Datalake Indonesia, dan Primacom, sebelum pelanggan masuk.

  • Connor Hayes Resmi Pimpin Threads, Gantikan Adam Mosseri

    Connor Hayes Resmi Pimpin Threads, Gantikan Adam Mosseri

    Bisnis.com, JAKARTA — Connor Hayes resmi ditunjuk sebagai pimpinan baru Threads setelah lebih dari 14 tahun berkiprah di Meta.

    Melansir Axios pada Sabtu (19/7/2025), dia menggantikan Adam Mosseri yang sebelumnya memimpin pengembangan platform tersebut. 

    Sebelum menduduki posisi barunya, Hayes menjabat sebagai Wakil Presiden Produk untuk divisi kecerdasan buatan generatif (generative AI) di Meta selama lebih dari dua tahun.

    Hayes dikenal sebagai figur kunci di balik sejumlah produk unggulan Meta. Dia turut berperan dalam pertumbuhan fitur Instagram Reels serta berbagai inisiatif untuk mendukung kreator, seperti pengembangan jalur monetisasi dan alat bantu konten.

    Dengan latar belakang kuat di bidang manajemen produk serta pengalaman lintas divisi di Meta dan Instagram, Hayes dinilai sebagai sosok yang tepat untuk membawa Threads ke fase pertumbuhan berikutnya.

    Penunjukan pemimpin khusus ini juga memberi ruang bagi Mosseri untuk kembali fokus sepenuhnya pada pengembangan Instagram. Meski masih berada di bawah naungan tim Instagram, Threads kini mulai diposisikan sebagai aplikasi yang lebih mandiri.

    “Threads saat ini adalah sebuah platform yang nyata, dan saya ingin memastikan kami menanganinya dengan keseriusan yang sama seperti aplikasi lainnya. Karena itu, dibutuhkan seorang pemimpin khusus,” kata Mosseri dalam pernyataan resminya.

    Pesatnya pertumbuhan Threads diyakini menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan ini. 

    Sejak diluncurkan, platform ini terus mencatat peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan. Pada April lalu, Threads dilaporkan telah mencapai 350 juta pengguna aktif bulanan.

    Berdasarkan tren unduhan terbaru, jumlah tersebut diperkirakan telah menembus angka 400 juta. Jika pertumbuhan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Threads akan menyalip X (sebelumnya Twitter), yang menurut Elon Musk memiliki sekitar 600 juta pengguna aktif bulanan namun belakangan ini mengalami penurunan.

    Meta Bangun Data Center

    Sebelumnya, CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg berencana membangun serangkaian pusat data raksasa bertenaga super untuk menopang pengembangan superintelligence, atau kecerdasan buatan tingkat lanjut yang melampaui kapasitas manusia.

    Dalam unggahan di Threads, Zuckerberg mengungkapkan bahwa Meta tengah menyiapkan pusat data berskala multi-gigawatt, termasuk Prometheus yang dijadwalkan beroperasi pada 2026, serta Hyperion yang disebut mampu ditingkatkan hingga kapasitas 5 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan.

    “Kami juga tengah membangun beberapa klaster titan lainnya. Satu klaster saja mencakup area sebesar sebagian besar Manhattan,” ujar Zuckerberg seperti dilansir Reuters, Sabtu (19/7/2025).

    Ia mengutip laporan SemiAnalysis yang menyebut Meta berpeluang menjadi laboratorium AI pertama yang mengoperasikan klaster super dengan daya lebih dari satu gigawatt.

    Pengumuman ini datang di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan. Namun Zuckerberg menegaskan, “Kami memiliki modal dari bisnis inti kami untuk mewujudkan ini.”

    Meta, yang sebagian besar pendapatannya berasal dari iklan digital, mencatatkan pendapatan hampir $165 miliar pada 2024.

    Langkah ini juga memperkuat posisi Meta dalam perlombaan AI global, setelah perusahaan mengonsolidasikan seluruh inisiatif AI-nya ke dalam satu divisi baru bernama Superintelligence Labs. Langkah ini menyusul kendala pada model open-source Llama 4 dan hengkangnya sejumlah talenta kunci.

  • Hindari 2 Hal Ini saat Membeli Headphone di E-Commerce

    Hindari 2 Hal Ini saat Membeli Headphone di E-Commerce

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketika membeli headphone baru, Anda dihadapkan pada banyak pertimbangan. Kualitas suara, estetika, dan juga yang terpenting bujet. Tempat pembeliannya pun beragam, ada toko offline atau dilakukan secara daring. Berikut 2 hal yang perlu dihindari saat membeli headphone di e-commerce.

    Adapun headphone dengan fitur peredam kebisingan atau “Noise Cancellation”. Namun, kebanyakan produk yang menawarkan fitur tersebut cenderung berfilosofi “Ada harga, ada kualitas”, dalam artian jika ingin mendapatkan headphone noise cancellation dengan harga murah, maka yang didapat adalah kualitas yang juga kurang.

    Jika sudah seperti itu, maka pembeli biasanya akan memilih untuk membeli headphone dengan harga lebih tinggi, demi bisa mendapatkan kualitas baik, serta ketahanan produk lebih lama. 

    Jadi, sebelum merogoh kocek, berikut adalah tips memilih mana headphone yang sebaiknya dihindari, mana yang dapat dijadikan pilihan dilansir dari Slashgear, Sabtu (19/7/205).

    Pertama, dari segi harga. JIka dengan harga yang murah produk tersebut menjanjikan deskripsi produk yang terlalu bagus, produk itu berkemungkinan memiliki kualitas yang mengecewakan.

    Kedua, Situs web tempat kita membeli headphone juga perlu jadi perhatian. Hindari membeli produk dari situs mencurigakan atau yang tidak terpercaya. Ulasan pelanggan juga perlu diperhatikan, karena pada idealnya, pelanggan lain harus transparan jika ada pengalaman negatif terkait suatu produk headphone.

    Dengan mempertimbangkan situs web dan merek terpercaya, akan lebih mudah bagi pembeli menemukan headphone yang sesuai kebutuhan. Pastikan hanya menjelajah pada situs e-commerce terpercaya, misalnya Tokopedia atau Shopee, dan mempertimbangkan merek yang telah memiliki reputasi baik dengan menyediakan produk unggulan.

    Memang, tidak semua headphone murah harus dihindari. Meskipun jarang, banyak pengguna telah membuktikan bahwa headphone murah tetap menawarkan kualitas baik sekaligus meredam kebisingan lingkungan.

    Beberapa ulasan dari pelanggan juga dapat menjadi petunjuk sebelum Anda memutuskan untuk membeli headphone. Ulasan tersebut umumnya berkaitan dengan bagaimana headphone bekerja dalam meredam suara lingkungan sekitar, serta tetap berfungsi dengan baik setelah setahun pemakaian. 

    Pada intinya, pilihan murah bukan yang terbaik. Berinvestasi dengan headphone yang lebih mahal dan berkualitas tinggi biasanya merupakan langkah terbaik, kecuali jika pembeli menemukan hidden gem dengan harga terjangkau. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • 5 Prosesor AMD dan Intel Terbaik untuk Gaming dengan Harga Terjangkau

    5 Prosesor AMD dan Intel Terbaik untuk Gaming dengan Harga Terjangkau

    Bisnis.com, JAKARTA — Bermain game bisa menjadi hobi yang di satu sisi menyenangkan, tetapi di sisi lain belum tentu murah, terutama jika menjadi seorang gamers PC. Berikut sejumlah opsi prosesor game yang bisa Anda beli dengan harga terjangkau.

    Kebanyakan gamers lebih menyukai pengalaman bermain dengan konsol, dibanding harus menghadapi masalah seperti GPU yang harganya tidak murah, tetapi menawarkan performa yang kurang baik.

    Namun, terlepas dari masalah itu, masih tetap ada keunggulan yang ditawarkan saat bermain game PC seperti fleksibilitas, karena PC adalah perangkat multifungsi, dan tentu saja diskon-diskon di aplikasi penyedia game seperti Steam, yang menggiurkan.

    Memang, jika dibandingkan dengan konsol, mungkin untuk merakit PC gaming sering kali butuh biaya yang besar, tetapi bukan berarti tidak ada opsi yang lebih terjangkau, sekalipun untuk pilihan CPU.

    Dilansir Slashgear, lima prosesor ini dapat menjadi pilihan untuk dapat merasakan pengalaman gaming, dengan harga yang lebih terjangkau:

    Intel Core i5-13400F

    Intel mungkin telah meninggalkan seri Core “i” lamanya dengan memperkenalkan seri “Ultra” pada 2023 lalu. Tetapi, seri CPU lama tersebut tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin meminimalkan pengeluaran untuk perangkat gaming.

    Komponen CPU ini dilengkapi 10 inti fisik (enam inti P dan empat inti E), ditambah 16 thread. Dengan begitu, i3-13400F selain menawarkan performa bermain game, juga dapat melakukan pekerjaan solid untuk mengedit foto dan video, dan juga beberapa beban kerja AI.

    Dari web resmi Intel, CPU tersebut dijual dengan kisaran harga US$196 atau sekitar Rp3,2 juta (Kurs:Rp16.000) hingga US$206 atau sekitar Rp3,3 juta (Kurs: 16.000)

    Pengguna juga dapat memilih seri Intel Core i5-14400F yang sedikit lebih baru, meskipun tidak mendapatkan peningkatan performa secara signifikan.

    AMD Ryzen 5 5600

    Kisaran harga CPU ini adalah mulai dari Rp1,5-1,9 juta di sejumlah e-commerce di Indonesia.

    Memang, jika dibandingkan dengan Intel i5-13400F, CPU ini kalah dalam jumlah inti dan thread. AMD Ryzen 5 5600 hanya memiliki enam inti dan 12 thread, sehingga membuat CPU ini tidak sekuat CPU gaming.

    CPU murah AMD tersebut cukup baik dalam permainan modern seperti misalnya “Starfield” atau “The Last of Us Part I”, meskipun tertinggal dalam skenario ray-tracing yang lebih intensif. Ryzen 5 5600 juga mampu menahan apapun yang lebih cepat dari Nvidia RTX 4070.

    AMD Ryzen 5 8500G

    CPU ini merupakan seri yang lebih baru dari Ryzen 5 5600, yang bekerja dengan RAM DDR5. Di dalamnya juga sudah dilengkapi delapan inti dan 16 thread, mendukung performa gaming yang cukup baik.

    Namun, bukan berarti pengguna akan mendapatkan frame rate super cepat, sebab dalam pengujian game dengan pengaturan minimum dan resolusi 720p, prosesor ini hanya mampu menghasilkan rata-rata 40 fps.

    Itu termasuk 45 fps di game “Cyberpunk 2077”, dan 62 fps di “Counter-strike 2”, dapat dikatakan lebih baik dari iGPU milik Intel.

    Harga pasarannya ada di antara Rp2,3-2,5 juta, menjadikannya pilihan yang baik untuk menghemat pengeluaran.

    Intel Core i3-12100F 

    Seri prosesor yang satu ini dapat menjadi pilihan yang lebih murah dibanding sebelumnya. 

    Dengan komponen empat inti, dan 8 utas, meskipun terbatas, tetapi i3-12100F tetap mampu bekerja cukup baik dalam beban kerja multiutas, bahkan untuk mengoperasikan Adobe Photoshop.

    Bila dipasangkan dengan GPU yang kuat, misalnya AMD Radeon RX 6900 XT, prosesor tersebut mampu menawarkan performa game yang baik. Selain itu, i3-12100F juga mendukung PCIe 4.0, jadi, jengguna tidak akan mengalami masalah kinerja GPU terkait bandwidth.

    Untuk harganya sendiri, menurut situs resmi Intel, ada di kisaran US$107 atau sekitar Rp1,7 juta (Kurs: Rp16.000) hingga  US$117 atau sekitar Rp1,89 juta (Kurs: Rp16.000).

    AMD Ryzen 5 5500

    Pilihan prosesor satu ini juga menawarkan harga yang tidak kalah murah, yaitu sekitar Rp1,1-1,3 juta di sejumlah e-commerce Indonesia. 

    Ryzen 5 5500 adalah prosesor dengan enam inti dan 12 utas, sehingga akan membuat performa PC lebih lambat, bahkan untuk game yang relatif tidak berat seperti “F1 2020”. Meskipun begitu, CPU ini tetap mampu mendukung game 1080p.

    Satu kompromi yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa Ryzen 5 5500 hanya mendukung PCIe 3.0. Beberapa GPU, termasuk Radeon RX 6400 milik AMD yang banyak dikritik dan RTX 5060 Ti baru milik Nvidia, memiliki antarmuka PCIe yang lebih rendah yang membatasi bandwidth saat digunakan dalam slot PCIe 3.0. Sehingga, pengguna perlu memperhatikan pasangan GPU jika ingin memilih prosesor ini.

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Mophisec Temukan Metode Baru Penyebaran Ransomware Melalui Microsoft Teams

    Mophisec Temukan Metode Baru Penyebaran Ransomware Melalui Microsoft Teams

    Bisnis.com, JAKARTA — Mophisec, perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber, menemukan kampanye serangan siber memanfaatkan panggilan Microsoft Teams untuk menyebarkan ransomware Matanbuchus. 

    Malware tersebut disebar oleh peretas yang menyamarkan diri sebagai meja bantuan TI. Versi terbaru dari Matanbuchus mampu melakukan kemampuan penghindaran, pengaburan, dan pasca-kompromi yang lebih ditingkatkan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi panggilan Microsoft telah disalahgunakan untuk membobol organisasi, peretas menggunakan rekayasa sosial, yaitu menyusup ke obrolan dan menipu pengguna komputer, untuk kemudian mengirimkan malware tahap pertama.

    Dilansir Bleeping Computer Jumat(18/07/25), Morphisec mengatakan, Ransomware Matanbuchus versi 3.0 yang terbaru menunjukkan preferensi terhadap Microsoft Teams untuk akses awal. 

    Peretas yang menyamar menjadi meja bantuan TI yang sah memulai panggilan Microsoft Teams, lalu meyakinkan target untuk meluncurkan alat dukungan jarak jauh bawaan Windows, Quick Assist.

    Hal tersebut membantu peretas memperoleh akses jarak jauh interaktif dan menindaklanjutinya dengan menginstruksikan pengguna menjalankan skrip PowerShell.

    Skrip tersebut nantinya mengunduh dan mengekstrak arsip ZIP dengan tiga file yang digunakan untuk meluncurkan launcher Matanbuchus pada perangkat melalui pemuatan samping DLL.

    Malware tersebut saat ini ditawarkan seharga US$10.000 atau sekitar Rp163 juta untuk varian HTTP, dan US$15.000 atau sekitar Rp244,5 juta (Kurs: Rp16.000). 

    Cybersecuritynews.com melaporkan, penyadapan terjadi sebelum malware dirilis ke publik, yang menunjukkan penyerang mendistribusikan pemuat HTTP dalam lingkaran terpercaya atau memanfaatkannya dalam operasi mereka sendiri.

    Metode serangan semacam itu menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan ke arah pemanfaatan platform komunikasi bisnis yang sah untuk tujuan jahat.

    Cara Kerja Matanbuchus 3.0

    Matanbuchus 3.0 memperkenalkan beberapa fitur serta penyempurnaan baru. Developer-nya mengganti komunikasi perintah-dan-kontrol (C2) dan pengaburan string dari RC4 ke Salsa20

    Pemuatannya diluncurkan dalam memori, bersamaan dengannya, ada juga rutinitas verifikasi anti-sandbox baru untuk memastikan malware hanya berjalan pada locale yang ditentukan.

    Panggilan Application Programming Interface (API) lebih dikaburkan dengan menggunakan fungsi hash non-kriptografi ‘MurmurHash3’, yang membuat rekayasa balik dan analisis statis lebih sulit.

    Untuk dampak pasca-infeksi, Matanbuchus 3.0 dapat mengeksekusi perintah CMD, PowerShell, atau juga muatan EXE, DLL, MSI, dan juga Shellcode. 

    Setelahnya, malware ini akan mengumpulkan rincian penting, seperti nama pengguna, domain, informasi versi OS, proses EDR/AV yang sedang berjalan, dan status peningkatan prosesnya (Admin atau pengguna biasa).

    Malware tersebut memeriksa proses yang sedang berjalan pada perangkat korban, untuk mengidentifikasi alat keamanan pada sistem, lalu mencatat bahwa metode eksekusi yang dikirim kembali dari C2 mungkin ‘bergantung pada tumpukan keamanan korban saat ini’.

    Para peneliti mengatakan, Matanbuchus sudah berkembang menjadi ancaman yang canggih. Untuk itu, mereka menyediakan indikator kompromi yang mencakup sampel malware dan domain yang digunakan oleh ransomware itu. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • XLSMART Fokus Retensi dan Monetisasi Pelanggan Existing saat Pasar Jenuh

    XLSMART Fokus Retensi dan Monetisasi Pelanggan Existing saat Pasar Jenuh

    Bisnis.com, JAKARTA– PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) memfokuskan strateginya pada retensi dan monetisasi pelanggan existing di tengah kondisi pasar telekomunikasi yang semakin jenuh.

    Head of External Communications XLSMART, Henry Wijayanto, mengatakan bahwa upaya tersebut dilakukan dengan terus meningkatkan pengalaman pelanggan secara menyeluruh (end-to-end).

    “Tujuannya adalah agar pada akhirnya dapat mendorong peningkatan profitabilitas,” kata Henry kepada Bisnis pada Sabtu (19/7/2025). 

    Lebih lanjut, Henry menjabarkan bahwa inisiatif yang dilakukan mencakup pengoperasian tiga brand utama, yaitu XL, Axis, dan Smartfren, yang masing-masing menyasar segmen pelanggan yang berbeda.

    Dia menambahkan setiap brand dikembangkan dengan penawaran produk dan layanan yang disesuaikan, memastikan relevansi serta daya tarik terhadap target pasarnya.

    Tidak hanya sampai disitu, Henry mengatakan strategi lainnya mencakup penguatan loyalitas pelanggan, peningkatan kualitas jaringan, penyediaan e-SIM, serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan digital analytics untuk memahami kebutuhan pelanggan secara lebih mendalam dan real-time.

    “Kami memanfaatkan teknologi AI untuk melakukan data analytic sehingga kami bisa lebih optimal dalam melakukan penyediaan dan penawaran produk dan layanan yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan,”katanya. 

    Dengan strategi tersebut, XLSMART berharap dapat mendorong peningkatan penggunaan layanan, yang pada akhirnya akan berdampak pada naiknya Average Revenue Per User (ARPU) atau rata-rata pendapatan per pelanggan.

    Meskipun fokus utama diarahkan pada pelanggan yang sudah ada, Henry menegaskan XLSMART tetap membuka peluang untuk pertumbuhan pelanggan baru.

    “Sedangkan untuk pelanggan baru, kami tentunya juga berharap dan berupaya untuk tetap bisa tumbuh,” katanya.

    Sebelumnya, XLSMART mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal I/2025 dengan penambahan 1,2 juta pelanggan mobile secara tahunan (year on year/YoY).

    Pencapaian ini sejalan dengan strategi induk perusahaan, XL Axiata, yang konsisten menumbuhkan bisnis konvergensi tetap dan bergerak (Fixed Mobile Convergence/FMC).

    Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Rajeev Sethi, menyebutkan stabilitas pada layanan Fixed Broadband (FBB) dengan lebih dari 1 juta pelanggan turut menjadi fondasi pertumbuhan FMC perusahaan ke depan.

    “Hal tersebut merupakan faktor penting untuk terus mendorong dan memperkuat pertumbuhan bisnis FMC kami saat ini dan ke depan,” kata Rajeev dalam keterangan resminya, Selasa (6/5/2025).

    Hingga akhir Maret 2025, total pelanggan XL Axiata mencapai 58,8 juta. Rata-rata pendapatan per pengguna atau ARPU campuran tercatat stabil di kisaran Rp40.000. 

    Dalam periode yang sama, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp8,6 triliun, tumbuh 2% secara tahunan, dengan EBITDA Rp4,32 triliun dan EBITDA margin 50,2%. Kontribusi layanan data dan digital bahkan mencapai lebih dari 91% terhadap total pendapatan.

  • Komdigi Tegaskan Tak Ada Rencana Blokir WhatsApp Call dan VoIP

    Komdigi Tegaskan Tak Ada Rencana Blokir WhatsApp Call dan VoIP

    Bisnis.com, JAKARTA— Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menegaskan pemerintah tidak memiliki rencana untuk membatasi layanan panggilan suara dan video berbasis internet atau voice over internet protocol (VoIP), termasuk layanan WhatsApp Call.

    Pernyataan ini disampaikan Meutya untuk meluruskan kabar yang menyebutkan adanya rencana pemerintah membatasi layanan VoIP.

    “Saya tegaskan pemerintah tidak merancang ataupun mempertimbangkan pembatasan WhatsApp Call. Informasi yang beredar tidak benar dan menyesatkan,” kata Meutya dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu (18/7/2025).

    Dia menjelaskan Kementerian Komunikasi dan Digital memang menerima sejumlah masukan dari berbagai pihak, seperti Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), mengenai penataan ekosistem digital.

    Salah satu poin yang disorot adalah hubungan antara penyedia layanan over-the-top (OTT) dan operator jaringan.

    Namun, Meutya menekankan masukan tersebut belum pernah dibahas dalam forum pengambilan kebijakan, serta tidak menjadi bagian dari agenda resmi kementerian.

    “Saya sudah meminta jajaran terkait untuk segera melakukan klarifikasi internal dan memastikan tidak ada kebijakan yang diarahkan pada pembatasan layanan digital,” tuturnya.

    Dia juga menyampaikan permohonan maaf jika isu ini sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Meutya memastikan saat ini Komdigi fokus pada agenda prioritas nasional seperti memperluas akses internet di wilayah tertinggal, meningkatkan literasi digital, serta memperkuat keamanan dan perlindungan data pribadi di ruang digital.

    Wacana pembatasan layanan VoIP sebelumnya mencuat dalam sebuah diskusi publik di Jakarta pada Rabu (16/7/2025). 

    Dalam forum tersebut, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, menyampaikan beberapa negara telah menerapkan pembatasan pada fitur panggilan suara dan video berbasis internet, di mana layanan pesan teks seperti WhatsApp masih bisa digunakan. 

    “Contoh di Uni Emirat Arab itu teks boleh, tapi WhatsApp call, video call, tidak bisa. Jadi, yang basic service itu tetap, tapi yang call dan video yang dibatasi,” kata Denny.

    Menurutnya, potensi pengaturan ini juga bisa mencakup fitur serupa di platform lain seperti Instagram. Namun, dia menekankan akses ke media sosial secara umum tetap tidak akan terganggu.

    Denny menjelaskan usulan pembatasan layanan VoIP masih berada dalam tahap awal diskusi. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem yang adil antara penyedia OTT dan operator seluler, yang selama ini menanggung beban investasi infrastruktur.

    “Masih wacana, masih diskusi,” ujarnya.

  • Kaspersky Sebut Tren Serangan Siber Menyamar Sebagai Firma Hukum

    Kaspersky Sebut Tren Serangan Siber Menyamar Sebagai Firma Hukum

    Bisnis.com, JAKARTA – Kaspersky mendeteksi peningkatan pesat serangan siber yang menargetkan lebih dari 1.100 pengguna korporat sejak Juni 2025. Celakanya, para penyerang menyamar sebagai firma hukum dan melalui email.

    Pelaku kejahatan ini mengancam penerima dengan tuntutan hukum atas dugaan pelanggaran paten nama domain, yang bertujuan menyebarkan malware. Korban yang membuka dan meluncurkan berkas terlampir otomatis memasang malware Trojan dalam perangkat mereka.

    Selain itu, pelaku menyatakan minat pemegang paten untuk memperoleh domain tersebut dan menawarkan untuk mengetahui detail dugaan pelanggaran dengan membuka arsip terlampir yang berisi dokumen.

    Analis spam di Kaspersky Anna Lazaricheva menyebut kampanye ini sebagai perpaduan canggih antara manipulasi psikologis dan tipu daya teknis, memanfaatkan rasa takut akan pelanggaran hukum untuk memaksa bisnis mengeksekusi file berbahaya yang tersembunyi dalam arsip terlampir.

    “Kampanye ini dimulai dengan 95 email pada 11 Juni 2025 dan terus mengalami peningkatan. Kondisi ini urgensi bagi perusahaan untuk memperkuat pertahanan. Keamanan email yang mumpuni, pelatihan karyawan, dan pelaporan insiden yang cepat sangat penting untuk melawan ancaman yang terus berkembang ini,” kata Anna dalam keterangan tertulis, Jumat (18/7/2025).

    Perlu dicatat, penyerang mungkin untuk menghindari deteksi, melampirkan arsip yang tidak dilindungi kata sandi, dan di dalamnya terdapat arsip lain yang dilindungi kata sandi serta sebuah berkas yang berisi kata sandi bersamanya.

    Setelah pengguna memasukkan kata sandi arsip dan mengeklik dokumen hukum yang diduga ada di dalamnya, sebuah Trojan terinstal di perangkat. Pengguna melihat pesan yang bertuliskan ‘Dokumen ini tidak dapat dibuka di perangkat ini. Coba buka di perangkat Windows lain’.

    Kemudian, secara bersamaan tor browser diunduh dan diinstal secara diam-diam. Melalui pesan tersebut, malware secara berkala mengirimkan snapshot layar pengguna kepada penyerang melalui jaringan Tor. Malware ini juga aktif secara otomatis setiap kali komputer dihidupkan ulang.

    Kaspersky merekomendasikan pengguna korporat dan individu untuk mengambil beberapa hal. Pertama, berhati-hatilah saat berinteraksi dengan lampiran. Jangan membuka arsip terlampir (termasuk yang dilindungi kata sandi) yang tampak mencurigakan. Jangan menjalankan berkas yang dapat dieksekusi, karena dapat menyebarkan malware.

    Kedua, verifikasi keaslian pengirim, konfirmasikan keabsahan klaim hukum atau entitas apa pun yang disebutkan dalam email yang tidak diminta.

    Ketiga, terapkan perlindungan titik akhir untuk mendeteksi dan memblokir upaya serangan. Keempat, edukasi staf tentang cara mengenali taktik serangan.

    Kelima, segera beri tahu tim TI atau keamanan siber jika telah membuka berkas terlampir pada email yang dicurigai sebagai phishing.

  • Laboratorium AS Kembangkan Obat Robotik Berteknologi Gravitasi Mikro

    Laboratorium AS Kembangkan Obat Robotik Berteknologi Gravitasi Mikro

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan penelitian luar angkasa, Varda Space Industries telah mengumpulkan US$187 juta atau sekitar Rp3,05 miliar (Kurs: Rp16.000) untuk teknologi pembuatan obat robotik di luar angkasa pada Kamis (10/07/25).

    Putaran pendanaan yang mencakup partisipasi sebelumnya dari perusahaan Lux Capital, hingga dana investasi oleh Khosla Ventures dan digabung dengan pendapatan terbaru menjadikan total dana yang dihimpun Varda sebesar US$329 juta atau sekitar Rp5,36 miliar.

    Suntikan modal ini akan meningkatkan kapabilitas laboratorium farmasi Varda, dan juga menjanjikan pengiriman formulasi obat pertama di dunia yang menggunakan teknologi gravitasi mikro, menurut CEO Varda Space Industries, dilansir Reuters, Jumat (18/07/25).

    Bahan-bahan seperti bahan farmasi aktif dalam obat-obatan mengkristal secara berbeda di luar angkasa karena kurangnya gaya gravitasi. Ini menciptakan formulasi obat yang khas, dengan kemurnian dan kualitas yang lebih tinggi, yang tidak mungkin dilakukan dengan cara lain.

    Kendaraan antariksa mereka saat ini juga mendukung untuk memproduksi obat-obatan secara massal di luar angkasa di kemudian hari. Perkiraannya, Varda bisa membawa sekitar 50 kilogram bahan aktif farmasi untuk diolah di luar angkasa.

    Laboratorium orbital kelima Varda (W-5) akan diluncurkan akhir tahun 2025, yang berfokus pada pengoptimalan “reaktor kristalisasi berbasis larutan untuk mengendalikan ukuran partikel dan polimorfisme obat molekul kecil.

    Pada Juni 2024, para Ilmuwan di Stasiun Luar angkasa (ISS) memanfaatkan lingkungan gravitasi rendah untuk meningkatkan efikasi terapi antibodi monoklonal dengan menghasilkan gelembung ultra-halus yang mampu mentransfer nutrisi dan molekul kecil lainnya antar sel.

    Selain itu, mereka juga berhasil meneliti efek gravitasi mikro terhadap diferensiasi sel punca pluripoten pada lingkungan gravitasi rendah, yang menunjukkan proses penuaan sel yang cepat dibanding di bumi.

    Varda menjadi perusahaan pertama yang melakukan proses biomanufaktur semacam itu di luar laboratorium ISS dengan mengusung tujuan “menjadikan pengembangan obat di luar angkasa semulus dan semudah bekerja dengan mitra di Bumi”. 

    Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan yang berkantor pusat di California, Amerika Serikat (AS), sudah terlebih dahulu meluncurkan dan mengembalikan lagi tiga kapsul (W-1, 2, dan 3), serta W-4 yang kini sedang berada di orbit. 

    Seperti peluncuran W-5 yang akan segera dilaksanakan, semua misi tersebut berfokus pada pemrosesan farmasi. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Bursa Kripto Diretas, Total Kerugian Tembus Rp440 Miliar

    Bursa Kripto Diretas, Total Kerugian Tembus Rp440 Miliar

    Bisnis.com, JAKARTA — Bursa aset kripto, BigONE melaporkan adanya peretasan berbagai aset digital mereka senilai US$27 juta atau sekitar Rp440,1 miliar (Kurs: Rp16.000) pada Rabu  (16/07/25).

    “Setelah penyelidikan, dipastikan bahwa ini adalah hasil serangan pihak ketiga yang menargetkan dompet panas kami,” kata pihak BigONE dalam pengumumannya mengenai peretasan tersebut, dilansir Bleeping Computer (18/07/25).

    BigONE bermitra dengan perusahaan keamanan SlowMist untuk melacak dana yang telah dicuri, serta memantau pergerakannya di seluruh blockchain. Mereka meyakinkan pengguna bahwa metode serangan siber telah diidentifikasi dan diatasi sepenuhnya.

    Platform jual beli mata uang kripto tersebut juga mengumumkan, kunci pribadi dan data pengguna tidak terpengaruh oleh peretasan tersebut, dan menjamin ganti rugi untuk pelanggan dari cadangan yang tersedia.

    Beberapa jam setelahnya, admin BigONE mengumumkan layanan penyetoran dan perdagangan mereka telah dipulihkan sepenuhnya setelah serangan yang terjadi, dan akan segera mengaktifkan kembali fungsi penarikan dan Over-The-Counter (OTC) pada waktu yang belum ditentukan.

    SlowMist tidak membagikan informasi apapun tentang cara pelaku meretas bursa dan mencuri dana tersebut. Tetapi yang jelas, bursa kripto itu sudah menjadi korban serangan berantai peretas spesialis blockchain.

    Observatorium khusus BlockChain, Lookochain melaporkan, para peretas telah terlibat dalam sejumlah pencucian uang dan menukar aset yang dicuri dengan 120 Bitcoin, 1272 Ether, 2.625 Solana, dan 23,3 juta Tron.

    Sementara itu, Investigator kejahatan bursa kripto, ZachXBT dalam akun X-nya mengomentari insiden ini dengan menggarisbawahi peran BigONE dalam memproses jumlah besar hasil yang berasal dari penipuan investasi, dengan kata lain, peretasan semacam itu dapat membantu menghadirkan “pembersihan alami” di bidang blockchain.

    Tahun 2025 Merupakan Rekor Pencurian Kripto

    Berdasarkan laporan kejahatan kripto yang dibuat Chain Analysis pada pertengahan 2025, total ada lebih dari US$2,17 miliar atau Rp44,17 triliun (Kurs: Rp16.000). Jumlah itu sudah jauh melampaui angka keseluruhan pada 2024.

    Jumlah yang sedemikian besar itu salah satunya disebabkan oleh peretasan ByBit senilai US$1,5 miliar atau Rp24,45 triliun (Kurs: Rp16.000).

    Platform tersebut juga menyoroti tren penting, yang menunjukkan peretas kini lebih berfokus pada dompet pribadi, yang juga mencakup 23,35% dari semua dana yang dicuri tahun ini.

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)