Category: Bisnis.com Tekno

  • INET Finalisasi Persyaratan untuk Ikut Lelang Frekuensi 1,4 GHz Komdigi

    INET Finalisasi Persyaratan untuk Ikut Lelang Frekuensi 1,4 GHz Komdigi

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengungkap kesiapan terkait dengan seleksi lelang frekuensi 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar atau broadband wireless access (BWA) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). 

    Direktur Utama INET Muhammad Arif mengatakan pihaknya siap apabila diputuskan untuk mengikuti seleksi tersebut. Namun demikian, perusahaan saat ini masih dalam tahap finalisasi terkait dengan keputusan mengikuti lelang frekuensi 1,4 GHz.

    “Saat ini INET masih finalisasi untuk itu, tapi secara korporasi kita siap jika diputuskan untuk mengikuti tender 1,4 GHz,” kata Arif saat dihubungi Bisnis pada Selasa (29/7/2025). 

    Sebelumnya, Komdigi resmi membuka lelang frekuensi 1,4GHz. Kabar tersebut berdasarkan pengumuman Nomor: 1/SP/TIMSEL1,4/KOMDIGI/2025 Tentang Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk layanan Akses Nirkabel Pitalebar atau Broadband Wireless Access (BWA) Tahun 2025 pada 28 Juli 2025. 

    Dalam pengumuman tersebut, Pemerintah akan melaksanakan seleksi terhadap objek seleksi berupa pita frekuensi radio pada rentang 1432–1512 MHz untuk layanan Time Division Duplexing (TDD) di beberapa wilayah Indonesia. 

    Proses seleksi ini terbagi dalam tiga regional, yakni Regional I,  Regional II, dan Regional III. Adapun masing-masing dengan satu blok seleksi berkapasitas 80 MHz. Masa berlaku Izin Penggunaan Frekuensi Radio (IPFR) ditetapkan selama 10 tahun.

    Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi penyelenggara telekomunikasi untuk mengikuti proses lelang tersebut.  Pertama, memiliki perizinan berusaha penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet-switched atau circuit-switched melalui media fiber optik terestrial dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 61100.

    Kedua, memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk penyelenggaraan jaringan tetap tertutup melalui media fiber optik terestrial dengan KBLI 61100 sebagai proyek utama, bukan proyek pendukung. 

    Ketiga, memiliki NIB untuk penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet-switched melalui media nonkabel (BWA) dengan KBLI 61200 dan status proyek utama. Selain itu, penyelenggara ISP dengan KBLI 61921 juga dapat mengikuti seleksi selama tidak dalam pengawasan pengadilan karena kepailitan, tidak dinyatakan pailit, dan kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan berdasarkan keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. 

    Peserta seleksi juga tidak boleh terafiliasi dengan peserta seleksi lainnya dan wajib menyerahkan dokumen seleksi yang mencakup formulir permohonan, jaminan seleksi (bid bond), dan proposal teknis.

    Proposal teknis wajib mencantumkan target jumlah rumah tangga yang akan terlayani layanan akses nirkabel pitalebar menggunakan pita frekuensi 1,4 GHz, dengan kecepatan akses internet paling sedikit up to 100 Mbps dalam jangka waktu lima tahun. 

    Jumlah rumah tangga yang dilayani pun wajib memenuhi target minimum pada masing-masing Regional I, II, dan III sebagaimana diatur dalam dokumen seleksi.

    Seleksi dilaksanakan secara elektronik melalui sistem e-Auction. Penyelenggara telekomunikasi dapat mengambil dokumen seleksi setelah mendapatkan akun pada sistem tersebut. 

    Proses seleksi dilakukan melalui metode lelang harga (price bidding) dan peserta wajib mengikuti seleksi untuk seluruh regional. Peserta dimungkinkan untuk memenangkan seluruh blok seleksi yang tersedia di ketiga regional tersebut.

    Adapun jadwal pengambilan akun sistem e-Auction dilaksanakan pada 11–13 Agustus 2025 pukul 09.00–15.00 WIB, bertempat di Sekretariat Tim Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz, Gedung Sapta Pesona Lantai 8, Jakarta Pusat.

    Sementara itu, pengambilan dokumen seleksi dilakukan secara daring melalui sistem e-Auction setelah akun diperoleh, mulai Senin, 11 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB hingga Rabu, 20 Agustus 2025 pukul 15.00 WIB.

  • Komet ‘Alien’ Berusia 3 Miliar Tahun Terdeteksi, Objek Terbesar di Dunia

    Komet ‘Alien’ Berusia 3 Miliar Tahun Terdeteksi, Objek Terbesar di Dunia

    Bisnis.com, JAKARTA — Komet asing 3I/ATLAS menjadi objek antarbintang terbesar yang pernah terlihat, menurut sejumlah foto yang diungkap Observatorium Vera C. Rubin baru-baru ini. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan pesawat Alien. 

    Dilansir Livescience (29/07/25), 3I/ATLAS ditemukan pada 1 Juli, meluncur menuju matahari dengan kecepatan lebih dari 210.000 km/jam. Kurang dari 24 jam setelahnya, NASA mengkonfirmasi bahwa benda ini adalah objek antarbintang (ISO) ketiga yang diketahui. 

    Simulasi komputer yang menelusuri kemungkinan wilayah asalnya menunjukkan, usia komet tersebut dapat mencapai 3 miliar tahun lebih tua dari Bumi, yang berpotensi menjadikannya komet tertua yang pernah terdeteksi.

    Hingga saat ini, peneliti telah berhasil mengungkap ukuran komet tersebut. Koma (Awan es, debu, dan gas yang mengelilingi komet) 3I/ATLAS berdiameter hingga 24 km. Namun, ukuran inti esnya, atau kulit terluarnya masih menjadi misteri.

    Dalam studi terbaru yang diunggah tanggal 17 Juli, sekelompok peneliti lainnya berhasil mengungkap ukuran inti komet dengan set data awal Vera C. Rubin.

    Gambar-gambar tersebut menunjukkan inti komet kemungkinan memiliki radius sekitar 3,5 mil, dengan margin kesalahan sekitar 0,4 mil atau 0,7 km.

    Studi tersebut juga memberikan para ilmuwan gambaran yang lebih baik tentang koma komet dan membantu mengidentifikasi sejumlah besar debu dan es air yang mengelilingi intinya.

    Temuan tambahan ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan 3I/ATLAS adalah komet alami, bukan wahana antariksa terselubung yang dikirim peradaban alien maju, seperti isu yang berkembang secara kontroversial oleh beberapa peneliti dalam beberapa minggu terakhir.

    Hingga saat ini, hanya ada dua ISO lain yang pernah dikonfirmasi keberadaannya, yaitu 1I/’Oumuamua pada 2017, dan 2I/Borisov yang terlihat pada 2019. Namun, para astronom telah lama menduga adanya lebih banyak ISO yang sudah melewati tata surya tanpa terdeteksi.

    Observatorium Vera C. Rubin yang terletak di Andes Chile dilengkapi dengan kamera digital terbesar di dunia, yang akan segera memulai misi 10 tahun untuk memindai langit Belahan Bumi Selatan, yang dikenal sebagai Legacy Survey of Space and Time (LSST). 

    Teleskop itu merilis gambar pertamanya pada Juni, mengungkap lebih dari 10 juta galaksi dengan detail yang semakin disempurnakan, dan juga telah menemukan ribuan asteroid baru.

    “Foto-foto baru yang dirilis mampu menentukan ukuran 3I/ATLAS 10 hari setelah objek itu ditemukan, akan menunjukkan kapabilitas teleskop Vera C. Rubin untuk mengeksplorasi penemuan lainnya,” kata Tim Peneliti, dikutip dari Livescience.

    Banyak dari kalangan ahli percaya, observatorium tersebut akan merevolusi studi ISO dan memperkirakan Observatorium Vera C. Rubin dapat mendeteksi hingga 50 benda langit asing baru dalam dekade berikutnya. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Allianz Life Indonesia Tegaskan Kebocoran 1,4 Juta Data Nasabah hanya Terjadi di AS

    Allianz Life Indonesia Tegaskan Kebocoran 1,4 Juta Data Nasabah hanya Terjadi di AS

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Asuransi Allianz Life Indonesia menegaskan insiden kebocoran data yang menimpa Allianz Life Insurance Company of North America di Amerika Serikat (AS) tidak berdampak pada sistem dan operasional mereka di Indonesia.

    Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, Wahyuni Murtiani, menekankan 

     Allianz Life Indonesia merupakan entitas yang terpisah dari Allianz Life AS, meskipun keduanya berada di bawah naungan grup Allianz SE yang berbasis di Jerman.

    “Insiden kebocoran data yang terjadi hanya berdampak pada Allianz Life Insurance Company of North America [Allianz Life US] yang beroperasi di Amerika Serikat,” kata Wahyuni kepada Bisnis pada Selasa (29/7/2025). 

    Wahyuni menambahkan Allianz Indonesia menggunakan sistem dan infrastruktur teknologi yang terpisah dari Allianz Life di AS. Dia menyebut Allianz Indonesia memiliki komitmen tinggi terhadap keamanan dan kerahasiaan data nasabah.

    Wahyuni mengatakan Allianz Indonesia menganggap kerahasiaan data nasabah merupakan hal yang perlu ditangani perusahaan dengan sangat serius. Hal tersebut ditunjukkan dengan sertifikasi ISO27701, yang menunjukkan kepatuhan terhadap perlindungan data nasabah.

    “Allianz Indonesia juga memiliki Data Privacy Officer, hingga mandatory training yang dilakukan secara berkala mengenai kerahasiaan data kepada seluruh karyawan Allianz Indonesia,” katanya.

    Sebelumnya diberitakan, Allianz Life AS mengonfirmasi adanya insiden peretasan yang menyebabkan data pribadi mayoritas nasabah, tenaga keuangan, dan karyawan perusahaan dicuri. 

    Insiden tersebut terjadi pada 16 Juli 2025, saat pelaku peretasan berhasil mengakses sistem manajemen hubungan pelanggan (CRM) berbasis cloud yang digunakan oleh perusahaan, melalui teknik rekayasa sosial.

    Juru bicara Allianz Life AS, Brett Weinberg, menyebut data yang dicuri mencakup informasi pribadi yang dapat diidentifikasi (personally identifiable information/PII).

    Dalam keterangannya kepada otoritas negara bagian Maine, perusahaan mengungkapkan saat ini mereka memiliki sekitar 1,4 juta nasabah. 

    Allianz Life AS telah melaporkan peretasan ini ke Biro Investigasi Federal (FBI), namun belum menyebutkan apakah ada tuntutan tebusan dari pelaku atau keterkaitan dengan kelompok peretas tertentu.

    Allianz Life AS menyatakan akan mulai mengirimkan pemberitahuan resmi kepada seluruh pihak terdampak mulai 1 Agustus 2025.

    Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber terhadap sektor asuransi. Beberapa waktu lalu, penyedia asuransi kesehatan Aflac juga mengalami kejadian serupa. 

    Bahkan, menurut laporan tim keamanan Google, kelompok peretas Scattered Spider diduga aktif melakukan intrusi terhadap perusahaan asuransi dengan memanfaatkan rekayasa sosial untuk menembus sistem internal.

  • XLSMART (EXCL) Ogah Buru-buru Ikut Lelang 1,4 GHz Komdigi

    XLSMART (EXCL) Ogah Buru-buru Ikut Lelang 1,4 GHz Komdigi

    Bisnis.com, JAKARTA — PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSMART) masih mempelajari ketentuan teknis dan administratif yang ditetapkan terkait  dengan seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar (broadband wireless access) tahun 2025.

    Terlebih, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru mengeluarkan pengumuman terkait dengan seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz pada 28 Juli kemarin. 

    “Saat ini kami masih mencoba mempelajari dulu karena pembukaan seleksinya kan juga baru saja disampaikan Komdigi. Untuk hal lainnya kami belum bisa sampaikan,” kata Head of External Communications XLSMART, Henry Wijayanto, saat dihubungi Bisnis pada Selasa (29/7/2025).

    Sebelumnya, Komdigi mengumumkan seleksi tersebut mencakup pita frekuensi radio 1,4 GHz yang terdiri atas tiga regional. Setiap regional mencakup satu blok seleksi dengan rentang frekuensi radio 1432 MHz, lebar pita 80 MHz, menggunakan mode time division duplexing (TDD), dan memiliki masa berlaku Izin Pita Frekuensi Radio (IPFR) selama 10 tahun.

    Seleksi ditujukan bagi penyelenggara telekomunikasi yang memenuhi beberapa syarat. Pertama, memiliki perizinan berusaha penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet-switched atau circuit-switched melalui media fiber optik terestrial dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 61100.

    Kedua, memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk penyelenggaraan jaringan tetap tertutup melalui media fiber optik terestrial dengan KBLI 61100 sebagai proyek utama, bukan proyek pendukung. 

    Ketiga, memiliki NIB untuk penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet-switched melalui media nonkabel (BWA) dengan KBLI 61200 dan status proyek utama. Selain itu, penyelenggara ISP dengan KBLI 61921 juga dapat mengikuti seleksi selama tidak dalam pengawasan pengadilan karena kepailitan, tidak dinyatakan pailit, dan kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan berdasarkan keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. 

    Peserta juga tidak boleh terafiliasi dengan peserta seleksi lainnya dan wajib menyerahkan dokumen seleksi yang mencakup formulir permohonan, jaminan seleksi (bid bond), dan proposal teknis.

    Proposal teknis wajib mencantumkan target jumlah rumah tangga yang akan terlayani layanan akses nirkabel pitalebar menggunakan pita frekuensi 1,4 GHz, dengan kecepatan akses internet paling sedikit up to 100 Mbps dalam jangka waktu lima tahun. 

    Jumlah rumah tangga yang dilayani pun wajib memenuhi target minimum pada masing-masing Regional I, II, dan III sebagaimana diatur dalam dokumen seleksi.

    Seleksi dilaksanakan secara elektronik melalui sistem e-Auction. Penyelenggara telekomunikasi dapat mengambil dokumen seleksi setelah mendapatkan akun pada sistem tersebut. 

    Proses seleksi dilakukan melalui metode lelang harga (price bidding) dan peserta wajib mengikuti seleksi untuk seluruh regional. Peserta dimungkinkan untuk memenangkan seluruh blok seleksi yang tersedia di ketiga regional tersebut.

    Adapun jadwal pengambilan akun sistem e-Auction dilaksanakan pada 11–13 Agustus 2025 pukul 09.00–15.00 WIB, bertempat di Sekretariat Tim Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz, Gedung Sapta Pesona Lantai 8, Jakarta Pusat.

    Sementara itu, pengambilan dokumen seleksi dilakukan secara daring melalui sistem e-Auction setelah akun diperoleh, mulai Senin, 11 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB hingga Rabu, 20 Agustus 2025 pukul 15.00 WIB.

  • Huawei MatePad Pro 12.2 vs Huawei MatePad 11.5: Harga dan Spesifikasi

    Huawei MatePad Pro 12.2 vs Huawei MatePad 11.5: Harga dan Spesifikasi

    Bisnis.com, JAKARTA – Huawei, produsen gawai asal China, telah memperkenalkan Huawei MatePad Pro 12.2” (2025), tablet flagship yang menyasar profesional dan kreator.

    Perangkat ringkas ini hadir dengan beragam fitur dan inovasi untuk menunjang produktivitas, kreativitas, dan fleksibilitas dalam satu waktu. Tablet ini pengembangan dari produk versi sebelumnya MatePad 11.5. Lantas siapa yang terbaik?

    Huawei MatePad Pro 12.2 memiliki keunggulan desain ramping dan bodi yang ringan Huawei MatePad Pro 12.2” mudah dibawa kemana saja baik digunakan di meja kerja rumah, diselipkan ke dalam tas saat bepergian, maupun dibuka di kafe untuk mengedit dokumen.

    Tablet ini mendukung transisi mulus antara berbagai mode penggunaan: dari mengetik, mencatat, hingga menggambar semuanya tanpa jeda. Hal ini dimungkinkan berkat PC-Level Productivity yang ditawarkan, melalui Huawei Glide Keyboard, lengkap dengan penyimpanan stylus tersembunyi yang praktis dan aman untuk mobilitas tinggi.

    Salah satu keunggulan tablet ini adalah kehadiran layar Tandem OLED yang memberikan kualitas visual jernih, nyaman di mata, dan tetap terbaca jelas bahkan di bawah sinar matahari.

    Baik saat bekerja berjam-jam di depan layar, membalas email siang hari, atau membaca sebelum tidur, pengguna tetap bisa fokus dan produktif tanpa merasa cepat lelah.

    Berikut perbandingan spesifikasi MatePad Pro 12.2 dan MatePad 11.5:

    Huawei MatePAD Pro 12.2

    -Layar: 12,2 inci, Tandem OLED PaperMatte, resolusi 2,800 × 1,840 piksel, refresh rate 144Hz, kecerahan puncak hingga 2,000 nits, 1,07 miliar warna, rasio aspek 3:2, rasio screen-to-body 92%, kontras 2.000.000:1, dan akurasi warna profesional ΔE• Prosesor: Huawei Kirin 9000S (7nm), octa-core.

    • RAM & Storage: 12GB atau 16GB RAM, pilihan memori internal: 256GB, 512GB, atau 1TB (tanpa slot microSD).

    • Sistem Operasi: HarmonyOS 4.2/4.3.

    • Kamera Belakang: Dual—13MP utama (f/1.8, PDAF) + 8MP ultrawide, video sampai 4K@30fps.

    • Kamera Depan: 16MP (f/2.2), video 1080p.

    • Baterai: 10,100mAh, pengisian cepat 100W (85% dalam 40 menit, penuh dalam 55 menit).

    • Dimensi & Bobot: 271,3 × 182,5 × 5,5mm, berat 508g.

    Huawei MatePad 12.2 Pro

    • Konektivitas: Wi-Fi 6 (802.11 a/b/g/n/ac), Bluetooth 5.2, USB Type-C 3.1, GPS lengkap (GLONASS, GALILEO, QZSS), tanpa NFC.

    • Speaker: 4 stereo speakers, tanpa jack audio 3,5mm.

    • Sensor: Sidik jari di samping, akselerometer, gyro, kompas, ambient light sensor.

    • Stylus & Keyboard: Mendukung stylus Huawei M-Pencil generasi ke-3 dan Glide Keyboard.

    • Fitur Lain: Papermatte display minim pantulan cahaya, mendukung HDR Vivid, desain sangat tipis & ringan, Beidou Satellite SMS (region tertentu), NearLink untuk koneksi stabil, casing logam, warna: Gold, White, Black.

    Harga: Rp13 juta

    Spesifikasi Huawei MatePad 11.5

    Layar: 11,5 inci, resolusi 2,200 × 1,440 piksel, refresh rate 120Hz, rasio layar-ke-bodi sekitar 86%, mendukung 16,7 juta warna

    • Prosesor: Qualcomm Snapdragon 7 Gen 1

    • RAM: 6GB atau 8GB (tergantung model)

    • Memori internal: 128GB atau 256GB

    • Sistem operasi: HarmonyOS 4.2 (varian internasional bisa HarmonyOS 3.1)

    • Kamera belakang: 13MP (f/1.8)

    • Kamera depan: 8MP

    • Baterai: 7,700mAh

    Huawei MatePAD 11.5

    • Dimensi: 260,88 × 176,82 × 6,85 mm

    • Bobot: sekitar 499g

    • Konektivitas: Wi-Fi 6, Bluetooth 5.2, USB-C

    • Fitur lain: Mendukung stylus (Huawei M-Pencil), multi-window, dan fitur produktivitas untuk belajar maupun bekerja

    Harga: Rp4 juta – Rp4,5 juta. 

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • AS Kembali Berdiskusi Setelah 7 Tahun, Bahas Proyek Luar Angkasa

    AS Kembali Berdiskusi Setelah 7 Tahun, Bahas Proyek Luar Angkasa

    Bisnis.com, JAKARTA — Kepala badan antariksa Rusia Roscosmos, Dmitry Bakanov tiba di Houston, Amerika Serikat (AS), untuk mengadakan pembicaraan dengan kepala sementara NASA, Sean Duffy pada Selasa (29/07/25).

    Pertemuan tatap muka tersebut menjadi yang pertama kalinya sejak terakhir kali diadakan pada 2018. Bakanov dan Duffy dijadwalkan akan melakukan pembicaraan pada 31 Juli mendatang, menurut kantor berita TASS Rusia.

    “Kami, bersama NASA berencana membahas proyek bersama yang sedang berlangsung,” jelas pihak Roscosmos terkait tujuannya berkunjung ke AS, dilansir Reuters (29/07/25).

    Proyek kerjasama Roscosmos-NASA itu mencakup program lintas penerbangan, perpanjangan masa operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan kerja gugus tugas gabungan Rusia-AS terkait deorbit ISS yang aman, serta pembuangan laut terkendali di masa mendatang.

    Nantinya, Bakanov bersama pejabat NASA akan mengunjungi divisi Johnson Space Center dan fasilitas produksi Boeing untuk pembicaraan dengan pimpinan program luar angkasa perusahaan.

    Selain itu, menjelang peluncuran penerbangan SpaceX Crew-11 NASA, yang dijadwalkan pada 31 Juli, Kepala Roscosmos itu juga akan bertemu dengan awak pesawat ruang angkasa Crew Dragon, yang mencakup kosmonot Rusia, Oleg Platonov.

    Oleg akan tergabung dalam kumpulan kru yang juga terdiri dari tiga astronot lainnya. Mereka adalah perwakilan NASA, Zena Cardman dan Mike Fincke, dan satu astronot Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Kimiya Yui.

    Selama waktu empat astronot tersebut berada di laboratorium yang mengorbit di luar angkasa, mereka akan melakukan penelitian baru untuk mempersiapkan eksplorasi manusia di luar orbit rendah bumi, serta untuk memberi manfaat bagi sesama manusia di Bumi.

    Hubungan Amerika Serikat dan Rusia di sejumlah bidang sudah memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina dilancarkan pada tahun 2022. Namun, kedua negara tersebut masih melakukan kerja sama yang erat di bidang program luar angkasa.

    Pertemuan terakhir antara pimpinan Roscosmos dan NASA terjadi pada Oktober 2018, ketika Direktur Jenderal Roscosmos saat itu, Dmitry Rogozin bertemu langsung dengan Administrator NASA, Jim Bridenstine di Kosmodrom Baykonur, Kazakhstan.

    Pada hari-hari awal setelah Trump kembali menjabat pada Januari, Rusia dan AS bergerak lebih dekat untuk memulihkan hubungan, tetapi Presiden Donald Trump sejak saat itu menjadi tidak sabar dengan Moskow, dengan memberi Rusia waktu 10-12 hari untuk membuat kemajuan dalam mengakhiri perang di Ukraina. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun).

  • ISAT Cs Berebut Spektrum Frekuensi 1,4 GHz

    ISAT Cs Berebut Spektrum Frekuensi 1,4 GHz

    Bisnis.com, JAKARTA — Persaingan dalam memperebutkan pita frekuensi 1,4 GHz cukup ketat. PT Solusi Sinergi Digital (WIFI), PT Indosat Tbk. (ISAT), PT XLSmart Telecommunication Sejahtera Tbk. (EXCL) dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sempat dikabarkan tertarik untuk menggunakan pita frekuensi tengah tersebut.

    Berdasarkan pengumuman Nomor: 1/SP/TIMSEL1,4/KOMDIGI/2025 Tentang Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk layanan Akses Nirkabel Pitalebar atau Broadband Wireless Access (BWA) Tahun 2025. 

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan melaksanakan seleksi terhadap objek seleksi berupa pita frekuensi radio pada rentang 1432–1512 MHz untuk layanan Time Division Duplexing (TDD) di beberapa wilayah Indonesia. 

    Proses seleksi ini terbagi dalam tiga regional, yakni Regional I,  Regional II, dan Regional III. Adapun masing-masing dengan satu blok seleksi berkapasitas 80 MHz. Masa berlaku Izin Penggunaan Frekuensi Radio (IPFR) ditetapkan selama 10 tahun.

    Proposal teknis memuat target jumlah rumah tangga yang terlayani internet akses nirkabel pitalebar dengan kecepatan akses internet paling sedikit sampai dengan (up to) 100 Mbps menggunakan pita frekuensi radio 1,4 GHz dalam jangka waktu 5 (lima) tahun dengan jumlah rumah tangga terlayani wajib memenuhi minimal target rumah tangga pada Regional I, Regional II, dan Regional III yang diatur dalam Dokumen Seleksi.

    Direktur Solusi Sinergi Digital Shannedy Ong menjelaskan WIFI akan mengikuti lelang spektrum 1,4 GHz. Menurutnya, spektrum 1,4 GHz memang tidak aman dari sisi ekosistem karena belum dikembangkan atau ter-develop. 

    Namun, perseroan sudah mengembangkan dengan berkolaborasi dengan para vendor global baik dari sisi teknologi hingga jaringan. 

    “Jadi secara jaringan dan juga secara device, semuanya kami sudah lengkap, sudah komprehensif,” kata Shannedy dalam Shareholders Insight Forum WIFI, beberapa waktu lalu.

    Shannedy Ong menegaskan dengan sejumlah kolaborasi itu, WIFI sudah sangat siap untuk mengikut lelang spektrum ini. 

    Direktur Utama Solusi Sinergi Digital Yune Marketatmo menambahkan WIFI optimistis dapat memenangkan lelang spektrum ini. “Seberapa yakin? Saya yakin [menang lelang],” ujar Yune.

    Jajaran Direksi WIFI

    Sementara itu, pada Februari 2025, Indosat mengaku tengah melakukan kajian mendalam mengenai keikutsertaan mereka dalam seleksi pita frekuensi 1,4 GHz, dengan mengukur dampak jangka panjang terhadap pemerataan infrastruktur digital.

    PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melalui anak usaha Telkomsel disebut akan terlibat dalam seleksi tersebut. Pun dengan XL Axiata.

    Etta Rusdiana Putra, Analis Maybank Sekuritas Indonesia mengatakan kecepatan internet Indonesia tertinggal dari negara lain lantaran penundaan perluasan jaringan 5G dan terbatasnya pengembangan fix broadband (FBB). 

    Dia berharap Telkomsel, Indosat dan XL Axiata berpartisipasi aktif untuk memenangkan persaingan lelang frekuensi 1,4 GHz guna meredam persaingan di masa mendatang. 

    Pasalnya, pemain di luar ketiga operator juga memiliki hasrat yang tinggi untuk memenangkan spektrum ini guna memanfaatkan infrastruktur fiber yang dimiliki. 

    “Jika pemerintah memberikan kepada non-MNO [Mobile Network Operator], kami memiliki dua kekhawatiran yakni sebesar besar bandwidth-nya dan ke mana perusahaan itu ekspansi,” tulisnya pada riset tertanggal 27 Februari 2025. 

    Menurutnya, jika operator di luar MNO memperoleh lebih dari 40 MHz, persaingan bakal makin ketat dan kemungkinan akan menyasar pasar yang mudah diraih yakni Jawa dan akan menyerang dengan harga yang lebih rendah. 

    “Kami yakin MNO harus memenangkan 1400 MHz, terutama Telkomsel,” imbuhnya. 

    Sementara itu, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan secara teknis, pemenang fixed broadband, tidak akan menjadi pemain selular karena izin penyelenggaraan dan izin frekuensinya juga berbeda. 

    Perusahaan selular memiliki izin frekuensi yang bersifat nasional, sedangkan untuk fixed broadband hanya di wilayah tertentu saja. Dengan kondisi tersebut, maka fixed broadband tidak menjadi seluler karena tidak ada mobilitas.

    Namun, lanjutnya, dari perspektif persaingan usaha, penyedia layanan internet tetap pada seleksi 1,4 GHz berpeluang menghadirkan layanan yang beririsan dengan seluler. Ketika secara layanan ada kemiripan misalnya dalam hal kecepatan dan lain sebagainya, maka kemungkinan target pasar yang diincar ada relevansi atau kemiripan. 

    Sebagai pembeda, kata Sigit, perlu ada aturan kualitas layanan, misalnya antara fixed broadband yang menggunakan FO, fixed broadband yang menggunakan wireless seperti FWA atau BWA, dengan selular. 

    “Sudah sewajarnya, target fixed broadband lebih tinggi daripada selular, karena secara teknis juga lebih kondusif dengan tidak adanya mobilitas kualitas sinyalnya bisa lebih baik,” kata Sigit kepada Bisnis, Jumat (28/2/2025). 

    Diketahui, Komdigi berencana untuk melakukan lelang frekuensi 1.4Ghz untuk layanan broadband wireless access (BWA) pada semester pertama 2025. Harapannya, melalui seleksi tersebut akan melahirkan sebuah perusahaan yang dapat menghadirkan layanan internet cepat 100 Mbps seharga Rp100.000 – Rp150.000. 

    Dalam seleksi tersebut, Sigit berharap Komdigi dapat memastikan pemenang  lelang frekuensi 1.4Ghz hanya untuk memberikan layanan broadband fix 5G dengan kecepatan yang bisa dipastikan 100Mbps. Bukan 4G seperti selular. 

    “Sehingga  bisa menjadi pembeda dengan selular. Jika Komdigi tak tegas dalam membuat regulasi BWA sebagai, maka akan menimbulkan permasalahan persaingan usaha di kemudian hari,” kata Sigit. 

  • Lupa Password Wi-Fi? Begini Cara Menemukan Kata Sandi di Windows dan Android

    Lupa Password Wi-Fi? Begini Cara Menemukan Kata Sandi di Windows dan Android

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketika kita mengunjungi suatu tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya, biasanya laptop Windows akan langsung mengingat SSID dan kata sandi jaringan Wi-Fi, sehingga kita dapat otomatis masuk. Tetapi jika kita lupa, bagaimana?

    Seringkali kasus yang terjadi adalah perangkat teman kerja kita belum pernah masuk di tempat tersebut sebelumnya sehingga tidak dapat terhubung.

    Di sisi lain, kita mungkin sudah lupa kata sandi Wi-Fi tersebut, atau mungkin pernah mencatatnya, tetapi tidak ingat disimpan dimana catatan tersebut.

    Windows 10 dan 11, serta Android menyimpan semua catatan koneksi jaringan yang tersimpan, dan jika kita tahu cara melakukannya, kita dapat menemukan SSID dan kata sandi, kemudian dapat dibagikan dengan teman atau digunakan di perangkat yang lain.

    Berikut ini adalah beberapa cara untuk mencari SSID dan kata sandi Wi-Fi, dilansir The Register (28/07/25).

    Menemukan Kata Sandi untuk Koneksi Wi-Fi saat ini di Windows

    Untuk melihat koneksi jaringan saat ini, cari “View Network Connections” di pencarian Windows, lalu klik

    Pengguna akan diarahkan ke layar berisi daftar semua adaptor jaringan, termasuk ethernet. Di sana akan tercantum adaptor Wi-Fi yang dipakai, dan terhubung dengan SSID jaringan saat ini.

    Klik kanan pada koneksi jaringan saat ini, lalu pilih Status

    Klik tombol Wireless Properties

    Navigasikan ke tab Security

    Centang Show Characters, kata sandi Wi-Fi untuk jaringan saat ini akan terlihat di bidang Network Security Key

    Menemukan SSID dan Kata Sandi untuk Jaringan Lama/Tersimpan

    Buka Command Prompt dengan mengetik “cmd” di pencarian Windows

    Pada Command Prompt, masukkan perintah “netsh WLAN show profile” untuk melihat daftar semua profil Wi-Fi

    Semua jaringan Wi-Fi yang pernah disambungkan akan terlihat 

    Temukan nama jaringan yang ingin didapatkan kata sandinya, kemudian masukkan perintah “netsh WLAN show profile [Nama Jaringan] key=clear”

    Pastikan untuk mengapit nama jaringan dengan tanda kutip, bila SSID berisi spasi, misalnya: netsh WLAN show profile “Bisnis Tekno” key=clear

    Kata sandi akan ditemukan dalam teks biasa di bawah Security Settings → Key Content

    Menemukan kata sandi Wi-Fi dari perangkat Android

    Gulir ke bawah layar ponsel untuk membuka menu pengaturan cepat, lalu pilih “Internet” atau “Wi-Fi”

    Untuk melihat jaringan saat ini, cukup lihat nama yang ada di bagian teratas, yang tertera tulisan “Connected”, 

    atau jika ingin mencari kata sandi pada jaringan tersimpan , gulir ke bawah dan ketuk Lihat Semua, lalu gulir lagi untuk mengetuk Jaringan Tersimpan

    Ketuk pada jaringan yang ingin dilihat (Saat ini ataupun yang tersimpan)

    Di layar berikutnya, akan terlihat beberapa informasi tentang jaringan, klik Share atau Bagikan

    Verifikasi identitas akan diminta pada tahap ini, bisa dibuka dengan login wajah atau dengan PIN keamanan ponsel.

    Layar berikutnya setelah proses verifikasi akan memperlihatka kode QR dan kata sandi Wi-Fi dalam bentuk teks

    Setelah kata sandi diketahui, pengguna dapat menyalinnya, lalu membagikannya. Khusus untuk Android, kode QR Wi-Fi dapat dibagikan dengan memindai kode tersebut. (Muhamad Rafi Fimansyah Harun)

  • Tesla Pakai Chip Samsung untuk Humanoid Optimus, Nilai Kontrak Rp269,6 Triliun

    Tesla Pakai Chip Samsung untuk Humanoid Optimus, Nilai Kontrak Rp269,6 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA — Tesla telah menandatangani kesepakatan senilai US$16,5 miliar atau sekitar Rp269,6 triliun (Kurs: Rp16.000) untuk mendapatkan chip dari Samsung Electronics.

    Langkah tersebut disebut-sebut akan memperkuat kontrak bisnis raksasa teknologi Korea Selatan tersebut, dan di sisi lain juga akan membantu Tesla menjual lebih banyak kendaraan listrik.

    CEO Tesla, Elon Musk mengatakan, pabrik chip baru Samsung di Texas akan memproduksi chip AI6 generasi berikutnya untuk Tesla. Nantinya, chip tersebut akan digunakan pada kendaraan self-driving dan robot humanoid Optimus, lebih tepatnya untuk menjalankan model AI dan membuat keputusan secara real-time.

    Dalam unggahan di akun X-nya, Elon Musk menyambut baik kerjasama Tesla-Samsung, karena selain membantu dalam hal produksi, letak pabrik Samsung yang dekat dari rumahnya akan memungkinkan dia langsung turun tangan dalam proses pengembangan.

    “Angka US$16,5 miliar hanya angka minimum, output sebenarnya kemungkinannya bisa berjumlah beberapa kali lebih tinggi,” Kata Musk dalam unggahan lainnya, dilansir Reuters (29/07/25).

    Namun, meski belum ada jadwal pasti yang ditetapkan untuk produksi chip AI6, pada akhir 2026, chip AI5 generasi berikutnya akan diproduksi, yang mengindikasikan bahwa AI6 akan menyusul setelahnya.

    Analis di SK Securities, Lee Dong-Ju memperkirakan produksi chip AI6 akan dilakukan pada 2027 atau 2028, tetapi tetap ada kemungkinan pengunduran, sebab Tesla memiliki sejarah gagal mencapai targetnya.

    Selain memproduksi chip memori, Samsung juga memproduksi chip logika yang dirancang oleh pelanggan melalui bisnis pengecorannya. Proyek tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan chip memori utamanya ke manufaktur chip kontrak.

    Kesepakatan dengan Tesla akan membantu mengurangi kerugian pada bisnis pengecoran Samsung, yang menurut analis Kiwoom Securities, Pak Yuak, berjumlah melebihi US$3,6 miliar atau Rp58,8 triliun (Kurs: Rp16.000) pada paruh pertama tahun ini.

    Dikutip dari Techcrunch, Tesla sendiri beralih dari platform Drive Nvidia ke chip kustomnya sendiri sejak 2019 yang bernama FSD Computer (FSDC) atau Hardware 3. 

    FSDC rancangan Samsung terdiri dari dua sistem duplikat yang berdampingan pada satu papan, untuk menciptakan redudansi yang dibutuhkan sistem mengemudi otomatis.

    Sejak saat itu, perhatian perusahaan terhadap chip khusus mereka semakin meluas seiring ambisi yang juga meningkat. Chip AI menjadi inti dari upaya Tesla beralih dari hanya produsen mobil menjadi perusahaan AI dan robotika. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Ekosistem 1,4 GHz yang Kurang Matang jadi Tantangan Gelar Layanan di Pita Tengah

    Ekosistem 1,4 GHz yang Kurang Matang jadi Tantangan Gelar Layanan di Pita Tengah

    Bisnis.com, JAKARTA — Kesiapan ekosistem menjadi salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh perusahaan telekomunikasi dalam pengembangan layanan data di pita frekuensi 1,4 GHz. 

    Adapun pita frekuensi 1,4 GHz termasuk kategori mid band atau frekuensi pita tengah yang memiliki karakteristik jangkauan lumayan luas dan kapasitas besar.

    Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan tantangan utama dalam pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz berkaitan dengan kesiapan ekosistem pendukung yang masih minim.

    “Masalah utama dari teknologi 1,4 GHz adalah ukuran ekosistemnya,” ujar Julian dalam konferensi virtual, Senin (28/7/2025). 

    Dia menjelaskan bahwa setiap pita frekuensi yang dialokasikan membutuhkan ekosistem komprehensif agar dapat dimanfaatkan secara efektif—dari pembuat chip, antena, hingga produsen perangkat yang dapat mendukung spektrum tersebut.

    Di berbagai belahan dunia, pita frekuensi paling populer yang lebih dulu diadopsi secara masif adalah 3,5 GHz, diikuti dengan 2,6 GHz. Pita-pita ini mendapat sambutan luas karena didukung oleh rantai pasok global yang matang dan biaya produksi perangkat yang efisien karena skala adopsi yang besar.

    Sebaliknya, pita 1,4 GHz hanya digunakan secara sporadis di beberapa wilayah dunia, sehingga keberadaan perangkat, chip, dan dukungan teknis lainnya masih relatif terbatas. 

    “Kalau Indonesia memilih untuk mengembangkan layanan di pita ini, tentu kontribusi terhadap pembentukan ekosistem global sangat besar. Tetapi untuk saat ini, kurangnya skala adalah tantangan terbesar,” kata Julian. 

    Sementara itu, Pakar telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agung Harsoyo mengatakan spektrum frekuensi 1,4 GHz berpotensi digunakan untuk fixed wireless access (FWA).

    Namun, menurut Agung, salah satu tantangan FWA di 1,4 GHz adalah kapasitas frekuensi yang terbatas, sehingga perusahaan telekomunikasi harus rutin menambah investasi jika ingin menjaga layanan di tengah pertumbuhan pelanggan.

    Struktur ongkos yang membengkak akan menjadi tantangan bagi tim produk yang menawarkan paket ke pelanggan. Makin banyak pengguna, makin banyak ongkos, dan makin kecil pula marginnya jika harga layanan tidak dinaikkan. 

    Adapun cara agar kualitas layanan tetap optimal dan pelanggan yang dilayani tetap banyak, serta bisnis perusahaan telekomunikasi tetap sehat, cara yang ditempuh adalah dengan menurunkan ongkos penggunaan spektrum frekuensi atau ongkos regulator.

    “Frekuensi itu kan dihitung berdasarkan yang menggunakan. Jadi kalau yang menggunakan sendirian itu dapat bit rate yang sangat tinggi. Wireless dishare. Berbeda dengan optik.  Artinya itu kan tidak berbeda dengan yang ada di selular,” kata Agung. 

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membuka seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar (broadband wireless access) tahun 2025.

    Objek seleksi pada pita frekuensi radio 1,4 GHz yang terdiri atas 3 regional yang masing-masing mencakup rentang frekuensi radio 1432 MHz, 1 blok (80 MHz), mode frekuensi radio time division duplexing, serta masa berlaku IPFR 10 tahun.

    Adapun, syarat peserta seleksi yaitu penyelenggara telekomunikasi yang memenuhi sejumlah ketentuan.

    Pertama, memiliki perizinan berusaha penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet- switched melalui media fiber optik atau penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis circuit switched melalui media fiber optik teresterial dengan KBLI 61100.

    Kedua, perizinan berusaha atau nomor induk berusaha (NIB) penyelenggaraan jaringan tetap tertutup melalui media fiber optik teresterial dengan KBLI 61100 dan jenis proyek utama (bukan  pendukung). 

    Ketiga, NIB penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet-switched melalui media nonkabel (BWA) dengan KBLI 61200 dan jenis proyek utama (bukan pendukung).

    Kemudian, perizinan berusaha penyelenggaraan Internet Service Provider (ISP) dengan KBLI 61921 tidak dalam pengawasan pengadilan terkait kepailitan; tidak dinyatakan pailit atau kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).