Category: Bisnis.com Tekno

  • Frekuensi 2,6 GHz Tepat untuk Percepatan 5G di Indonesia

    Frekuensi 2,6 GHz Tepat untuk Percepatan 5G di Indonesia

    Bisnis.com, JAKARTA — Akademisi menilai pita frekuensi 2,6 GHz menjadi salah satu kandidat menarik untuk mendukung percepatan jaringan 5G di Indonesia yang saat ini penetrasinya masih rendah. 

    Data ATSI menyebut penetrasi 4G sudah di atas 97% dari total pemukiman Indonesia. Sementara 5G masih 4,4%. 

    Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi, Ian Yosef M. Edward, mengatakan frekuensi yang tepat untuk diterapkan saat ini adalah 2,6 GHz karena sudah siap pakai.

    Di luar 2,6 GHz terdapat pita 3,5 GHz. Namun pita tengah 3,5 GHz masih digunakan oleh pemain satelit. Sementara 2,6 GHz sudah kosong sejak 11 bulan lalu. 

    “Frekuensi yang baik untuk kita ini, jadi 2,6. Ya, soalnya yang sekarang ini sudah dibebaskan oleh Indonesia. Sebelumnya, frekuensi 2,6 dipakai oleh satelit dan TV berbayar. Sekarang sudah bebas, sudah kosong, sejak Januari 2025,” ujar Ian dalam acara Bisnis Indonesia Forum dengan tema Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Selasa (23/12/2025).

    Ian juga menegaskan ekosistem frekuensi ini sudah matang. Banyak perangkat jaringan maupun ponsel yang mendukung, selain itu biaya pembangunan dan perangkat juga lebih murah.

    Frekuensi 2,6 GHz tidak memerlukan relokasi besar-besaran dan cocok untuk wilayah Indonesia saat ini. 

    Indonesia merupakan negara kepulauan yang membutuhkan pemerataan jaringan, sehingga frekuensi 2,6 GHz terlihat lebih realistis untuk percepatan 5G.

    Frekuensi 3,5 GHz juga menjadi angin segar bagi Indonesia. Frekuensi ini dinilai memiliki banyak keunggulan, tetapi Ian beranggapan Indonesia belum cukup siap untuk menerapkannya.

    “Secara teknologi, kemudian juga dari sisi keberlangsungan perangkat, kalau di 3,5 jumlahnya lebih banyak lagi. Namun, di Indonesia itu masih ada banyak masalah,” kata Ian.

    Secara global, frekuensi 3,5 GHz telah menjadi band utama untuk pengembangan jaringan 5G karena mampu menyediakan bandwidth besar, bahkan hingga 300 MHz di Indonesia. Dengan kapasitas tersebut, jaringan 5G dapat bekerja lebih cepat dan stabil.

    Namun, di Indonesia, frekuensi ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih digunakan untuk keperluan lain, seperti SDC band. Akibatnya, frekuensi 3,5 GHz belum sepenuhnya siap digunakan sebagai tulang punggung 5G di Indonesia.

    Selain itu, Ian juga menyoroti masalah harga frekuensi di Indonesia yang dinilai masih tidak logis dan terlalu mahal. Teknologi yang sebenarnya sudah semakin efisien dan digunakan secara massal justru dihitung dengan nilai lebih tinggi. Padahal, secara prinsip, semakin efisien dan matang suatu teknologi, seharusnya biaya yang dikenakan juga semakin murah.

    “Tapi teknologi tadi, cara menghitungnya agak berbeda. Kalau sudah banyak di pasaran gitu, yang baru dan selanjutnya akan lebih mahal. Seharusnya tidak begitu. Kalau saya bilang, teknologi itu kalau bandwidth-nya makin efisien, harusnya makin murah,” ujarnya.

    Sistem penilaian yang digunakan saat ini, seperti NIKTB, dinilai belum berpihak pada dampak sosial dan manfaat langsung bagi masyarakat. Penentuan harga frekuensi masih lebih berfokus pada peningkatan pendapatan negara, bukan pada fungsi frekuensi sebagai aset publik yang seharusnya mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan konektivitas nasional.

    Masalah lain yang turut disoroti adalah kurangnya insentif bagi operator telekomunikasi. Operator yang telah membangun jaringan secara luas, bahkan hingga mencakup 80–90 persen wilayah, tidak memperoleh keuntungan tambahan atau perlakuan khusus.

    Padahal, pembangunan jaringan yang lebih merata membutuhkan investasi besar dan berisiko tinggi. Minimnya insentif ini berpotensi menghambat pemerataan jaringan, terutama di wilayah yang secara ekonomi kurang menguntungkan.

    Ian menegaskan, kebijakan pengelolaan frekuensi masih perlu diarahkan kembali pada tujuan sosial telekomunikasi. Frekuensi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan, memperluas akses, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, bukan semata-mata sebagai sumber penerimaan negara.(Nur Amalina)

  • Perbandigan Spesifikasi dan Fitur Huawei MatePad 12 X 2026 vs MatePad Pro 12.2

    Perbandigan Spesifikasi dan Fitur Huawei MatePad 12 X 2026 vs MatePad Pro 12.2

    Bisnis.com, JAKARTA — Huawei kembali menghadirkan inovasi di pasar tablet dengan memperkenalkan Huawei MatePad 12 X 2026, sebuah tablet yang dirancang untuk memberikan pengalaman layaknya laptop. 

    Perangkat ini menyasar kalangan pekerja  maupun pelajar yang membutuhkan produktivitas tinggi dalam satu perangkat ringkas.

    Berbeda dari generasi sebelumnya, MatePad 12 X 2026 hadir dengan berbagai pembaruan signifikan, baik dari sisi perangkat lunak maupun fitur pendukung. Huawei mengklaim tablet ini mampu memberikan sensasi bekerja seperti menggunakan laptop, meskipun tetap mempertahankan fleksibilitas sebuah tablet.

    Tablet yang akan diluncurkan pada awal Januari 2026 ini membawa peningkatan besar pada sisi software. 

    Salah satu sorotan utamanya adalah kehadiran PC-level WPS Office 3.0 dengan enam pembaruan penting, seperti fitur insert document (link dan dokumen), dukungan chart yang dapat ditempel ke dalam komponen, lebih banyak fungsi dan formula matematika untuk Excel, dukungan UI bahasa Inggris, Simplified Chinese, dan Traditional Chinese, fitur pengeditan formula LaTeX, serta dukungan URL link.

    Selain itu, Huawei menghadirkan pembaruan pada Huawei M-Pencil Pro dengan enam fitur baru, serta peningkatan pada aplikasi GoPaint. Seluruh ekosistem ini dirancang agar tampil dan berfungsi seperti versi laptop, dengan kompatibilitas penuh terhadap format dokumen komputer.

    Huawei MatePad 12

    Lantas, antara Huawei MatePad 12 X 2026 dan Huawei MatePad Pro 12.2, mana yang paling unggul dan sesuai untuk kebutuhan Anda? 

    Tentunya ada beberapa perbedaan dan inovasi fitur yang mencolok, sebelum masuk ke spesifikasi lengkap, mari kita lihat perbedaan utamanya.

    Huawei MatePad X 12 2026 unggul dalam pembaruan perangkat lunak, dengan enam peningkatan fitur software yang tidak ditemukan pada saudara tuanya, MatePad Pro 12.2. Kelebihan ini juga didukung oleh penyempurnaan pada sisi hardware.

    Salah satu pembeda utama terletak pada stylus. MatePad X 12 2026 sudah dilengkapi dengan M-Pencil Pro yang membawa lima inovasi dibanding M-Pencil 3rd Gen pada model Pro, yaitu fitur rotate, pinch, tactile feedback, quick button, voice recording, dan find. Stylus baru ini juga hadir dengan tiga jenis ujung pena yang dapat ditukar untuk pengalaman menulis atau menggambar yang berbeda.

    Dari segi daya tahan, kedua tablet memiliki kapasitas baterai yang sama, yaitu 10.100 mAh. Namun, dalam hal pengisian daya, MatePad X 12 2026 memerlukan waktu lebih lama, yakni 85 menit untuk pengisian penuh, sementara MatePad Pro 12.2 lebih cepat dengan hanya 55 menit.

    Dari bobot yang di tawarkan, MatePad Pro 12.2 menjadi pilihan yang lebih ringan. Bobotnya hanya 508 gram, yang berarti 47 gram lebih ringan dibandingkan MatePad X 12 2026. 

    Huawei MatePad X 12 2026 memiliki kamera belakang 50 MP, lebih tinggi dari MatePad Pro 12.2 yang hanya 13 MP. Namun, untuk kamera depan, situasinya terbalik: MatePad Pro 12.2 unggul dengan 16 MP, sementara MatePad X 12 2026 menggunakan kamera depan 8 MP.

    Spesifikasi lengkap ….

  • Satelit Navigasi Bermasalah, Driver Ojol di China Alami Kekacauan Selama 6 Jam

    Satelit Navigasi Bermasalah, Driver Ojol di China Alami Kekacauan Selama 6 Jam

    Bisnis.com, JAKARTA — Gangguan sinyal yang parah melumpuhkan GPS dan BeiDou di kota Nanjing, China timur. Pemadaman satelit ini terjadi pada hari Rabu pekan lalu dan berlangsung selama 6 jam.

    Kota Nanjing di China Timur, merupakan rumah bagi setidaknya 10 juta penduduk. Layanan mereka bergantung pada GPS dan BeiDou, diantaranya navigasi mobil, pengiriman makanan, layanan transportasi daring, hingga operasi drone. 

    Karena gangguan yang terjadi, pihak berwenang menginformasikan, sinyal lokasi yang biasa digunakan menjadi tidak akurat dan tidak bisa dijadikan patokan.

    Warga juga melaporkan pergeseran posisi yang parah dan hilangnya informasi jalan secara total, menyebabkan gangguan rutinitas dan aktivitas bisnis di seluruh kota.

    Disadur dari Interesting Engineering Selasa (23/12/2025), pesanan layanan transportasi daring turun hingga 60%, layanan pengiriman makanan turun 40%, dan sistem berbagi sepeda mencatat kesalahan lokasi hingga 35 mil, secara signifikan mempengaruhi mobilitas dan logistik perkotaan.

    Interferensi Sinyal Sistem Navigasi Satelit Global (GNSS) mengakibatkan kesalahan lokasi yang parah. Analisis teknis oleh Asosiasi Industri Aplikasi Satelit Nanjing menyebutkan gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan dan penekanan sementara GNSS, bukan karena kegagalan jaringan seluler.

    Asosiasi tersebut menjelaskan gangguan tersebut secara khusus menargetkan pita frekuensi sipil dari Beidou dan GPS. Sehingga mencegah  penerima mendeteksi sinyal posisi secara akurat akibatnya, navigasi menjadi tidak efektif. 

    Aplikasi peta offline tidak bisa menampilkan lokasi yang akurat dan sering error total. Ini terjadi karena perangkatnya tidak mendapat sinyal penentu posisi (seperti GPS). Akibatnya, pengguna tidak bisa bernavigasi atau menggunakan layanan yang membutuhkan data lokasi.

    Pemerintah China tidak menjelaskan siapa yang menyebabkan gangguan atau alasannya. Mereka mengatakan jika gangguan yang terjadi akibat pengendalian sinyal untuk keamanan acara besar, tindakan tersebut adalah bagian dari protokol standar. Ini menunjukkan acara dengan keamanan tinggi sedang berlangsung.

    Setelah kejadian tersebut secara bertahap sinyal satelit yang relevan kembali normal, memulihkan layanan navigasi bagi pengguna yang terdampak juga aplikasi yang bergantung pada lokasi di seluruh kota.

    Secara keseluruhan, peristiwa ini menunjukkan bagaimana sistem navigasi satelit dirancang tidak hanya untuk penggunaan sipil, tetapi juga sebagai bagian dari strategi keamanan. BeiDou dan GPS memiliki pendekatan teknis yang berbeda dalam memisahkan sinyal militer dan sipil, namun keduanya sama-sama bertujuan menjaga operasi militer tetap aman tanpa mengorbankan layanan bagi masyarakat umum.

    Gangguan yang terjadi secara bersamaan pada sinyal sipil BeiDou dan GPS dinilai para ahli bukan sebagai kebetulan. Kondisi ini mencerminkan perencanaan strategis jangka panjang, di mana setiap upaya untuk mengganggu satu sistem secara otomatis akan berdampak pada sistem lainnya. Dalam konteks potensi konflik, hal ini menciptakan mekanisme saling mengawasi dan menyeimbangkan kekuatan. (Nur Amalina)

  • WIFI Gandeng FiberHome, Internet Rakyat Rp100.000 Komersial Kuartal I/2026

    WIFI Gandeng FiberHome, Internet Rakyat Rp100.000 Komersial Kuartal I/2026

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) resmi menjalin kerja sama dengan FiberHome guna mempercepat komersialisasi Internet Rakyat Rp100.000 yang ditargetkan hadir pada kuartal I/2026. 

    Kerja sama ini juga guna mempercepat pengembangan dan peluncuran layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA)  SURGE yang beroperasi pada spektrum 1,4 GHz di Indonesia yang dikenal sebagai IRA atau Internet Rakyat.

    Presiden Direktur SURGE Yune Marketatmo mengatakan perusahaan berkomitmen untuk menetapkan standar baru pada penyediaan layanan broadband yang dapat dijangkau dan optimal. 

    “Kolaborasi ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan konektivitas digital nasional,” kata Yune dikutip Rabu (24/12/2025).

    Selain itu, dia juga menegaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada pertumbuhan ekonomi dan mempercepat perkembangan teknologi digital di Indonesia. 

    Kapabilitas FiberHome dalam pengadaan jaringan berskala besar menjadikannya sebagai mitra yang tepat demi memperluas jangkauan SURGE, menurutnya. 

    Adapun, FiberHome nantinya akan memberikan produk lengkap FWA mereka yang telah dikembangkan pada spektrum 1,4 GHz kepada SURGE. 

    Demi menjamin efisiensi dan stabilitas operasional, produk-produk tersebut akan dijadikan infrastruktur utama jaringan 5G FWA SURGE.

    Layanan ini nantinya akan menawarkan akses internet berkecepatan hingga 100 Mbps dengan unlimited kuota. Untuk harga yang ditawarkan dimulai dari Rp100.000. 

    Selain itu, Pulau Jawa akan menjadi wilayah yang akan difokuskan pada tahap awal pengimplementasian. Hal ini karena tentunya kepadatan penduduk dan demand yang tinggi. Wilayah Maluku dan Papua juga mendapatkan perlakuan khusus karena terbatasnya infrastruktur digital di daerah itu. 

    FiberHome dan SURGE juga telah melakukan pemasangan dan mengaktifkan sejumlah site di wilayah Jawa untuk keperluan uji coba pra-komersial.

    Presiden Direktur FiberHome untuk Wilayah Pasifik Selatan Liang Dong memberikan apresiasinya atas terlaksananya proyek strategis ini. Dia meyakini bahwa langkah ini mencerminkan kepemimpinan Indonesia dalam inovasi digital.

    “Komersialisasi teknologi 5G FWA pada spektrum 1,4 GHz merupakan pencapaian penting di tingkat global,” ujarnya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Harga Mahal Frekuensi Low Band Hambat Pemerataan Jaringan

    Harga Mahal Frekuensi Low Band Hambat Pemerataan Jaringan

    Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) meminta pemerintah untuk turut mempertimbangkan aspek sosial saat ingin melelang pita frekuensi 700 MHz. 

    Pita frekuensi 700 MHz kini menjadi sorotan dalam transformasi digital Indonesia karena karakteristiknya sebagai low-band yang sangat efektif untuk cakupan yang luas.

    Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir menilai frekuensi ini merupakan kunci utama untuk menyediakan akses internet di daerah rural serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

    “Mematok harga tinggi pada pita 700 MHz dapat menghambat pemerataan akses masyarakat di wilayah pelosok,“ ujarnya dalam Bisnis Indonesia Forum (BIF) bertajuk Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, di Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (23/12/2025)

    Hal ini dikarenakan nilai dampak sosial dari pita 700 MHz dianggap jauh lebih tinggi daripada nilai ekonomi teknisnya.

    Selain itu, dia juga menyarankan frekuensi ini seharusnya ditetapkan lebih murah dibandingkan dengan pita kapasitas seperti 2,1 GHz. 

    “Operator yang berkomitmen membangun di daerah terpencil disarankan mendapatkan insentif berupa pengurangan BHP,” menurutnya.

    Insentif tersebut dinilai sebagai kompensasi yang adil atas mahalnya biaya pembangunan infrastruktur di medan yang sulit.

    Selain 700 MHz, pemerintah juga diminta segera merilis frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz.

    Skema Konvesional Bikin 5G RI Kian Tertinggal

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) Mastel Sigit Jarot mengatakan performa digital Indonesia disebut masih setara dengan Laos dan Kamboja akibat regulasi spektrum yang dinilai tertunda.

    “Jika pendekatan business as usual tetap dipertahankan, Indonesia berisiko tertinggal lebih dari lima tahun dalam pengadopsian teknologi 5G,” kata Sigit.

    Biaya spektrum yang terlalu mahal terbukti secara global justru memperlambat investasi jaringan dan menurunkan kualitas layanan kepada konsumen. 

    Sebagai solusi, muncul usulan untuk menerapkan kembali mekanisme Beauty Contest atau seleksi administratif guna mencapai keseimbangan spektrum antar operator.

    Pemerintah disarankan untuk menarik beban pembayaran di muka ke belakang agar operator memiliki napas untuk belanja modal di awal.

    Pergeseran fokus dari keuntungan top line ke bottom line dianggap krusial bagi masa depan ekonomi digital nasional. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • OpenAI Akui Keamanan ChatGPT Atlas Masih Sangat Rentan dari Serangan Siber

    OpenAI Akui Keamanan ChatGPT Atlas Masih Sangat Rentan dari Serangan Siber

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan riset kecerdasan artifisial (AI) yang menciptakan ChatGPT, OpenAI, mengakui peramban web berbasis AI milik mereka rentan terhadap risiko serangan prompt injection. 

    OpenAI menilai bahwa serangan prompt injection terhadap browser ChatGPT Atlas merupakan ancaman yang tidak akan hilang dalam waktu dekat.

    Sebagai informasi, prompt injection merupakan jenis serangan yang memanipulasi agen AI agar mengikuti instruksi berbahaya yang seringkali disembunyikan di dalam halaman situs web atau pesan email.

    Melansir dari unggahan blog resminya Rabu (24/12//2025), OpenAI menyatakan bahwa tantangan ini serupa dengan skema penipuan dan rekayasa sosial yang ada di internet.

    Startup AI dengan valuasi Rp 8.305 triliun per Oktober 2025 ini mengakui bahwa fitur “agent mode” dalam ChatGPT Atlas justru memperluas ancaman keamanan siber bagi pengguna.

    “Prompt injection adalah tantangan keamanan AI jangka panjang, dan kami perlu terus memperkuat pertahanan kami terhadapnya,” tulis OpenAI dalam keterangan resminya.

    Sebagai langkah mitigasi, OpenAI menerapkan siklus respons cepat yang proaktif untuk menemukan strategi serangan baru secara internal sebelum dieksploitasi oleh pihak luar. Salah satu taktik berbeda yang diambil OpenAI adalah pengembangan penyerang otomatis berbasis model bahasa besar (LLM-based automated attacker).

    Bot ini dilatih menggunakan metode reinforcement learning untuk berperan sebagai peretas yang mencari cara menyelinapkan instruksi berbahaya ke dalam agen AI. Melalui simulasi tersebut, bot dapat mempelajari bagaimana target AI berpikir dan tindakan apa yang akan diambil jika menghadapi serangan tertentu.

    Wawasan terhadap penalaran internal ini memungkinkan OpenAI menemukan celah keamanan lebih cepat dibandingkan dengan hacker di dunia nyata.

    Sebelumnya, Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) Inggris telah memperingatkan bahwa serangan prompt injection terhadap aplikasi AI generatif mungkin tidak akan pernah bisa diselamatkan secara total.

    NCSC menyarankan para profesional keamanan siber untuk fokus pada pengurangan dampak risiko daripada sekadar mencoba menghentikan serangan sepenuhnya.

    Principal Security Researcher di firma keamanan siber Wiz Rami McCarthy menyatakan bahwa cara yang berguna untuk mengukur risiko dalam sistem AI adalah dengan mengalikan tingkat otonomi dengan akses yang dimiliki.

    “Peramban agen AI cenderung berada di ruang yang menantang, yakni otonomi moderat yang dikombinasikan dengan akses yang sangat tinggi,” ujar McCarthy dikutip dari TechCrunch.

    Menurut McCarthy, profil risiko peramban agen saat ini masih dianggap terlalu tinggi dibandingkan nilai manfaat yang diberikan untuk sebagian besar kasus penggunaan sehari-hari.

    Risiko tersebut mencakup akses ke data sensitif seperti email dan informasi pembayaran, meskipun akses inilah yang membuat AI menjadi alat yang sangat fungsional.

    Guna mengurangi risiko, OpenAI menyarankan pengguna untuk membatasi akses login dan memberikan instruksi yang spesifik kepada agen AI. 

    Juru bicara OpenAI menyebutkan bahwa Atlas telah dilatih untuk selalu meminta konfirmasi pengguna sebelum mengirim pesan atau melakukan transaksi pembayaran. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Adopsi dan Investasi Tumbuh Pesat, Regulasi Masih Mengejar

    Adopsi dan Investasi Tumbuh Pesat, Regulasi Masih Mengejar

    Bisnis.com, JAKARTA— Tahun 2025 menjadi fase krusial bagi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), baik di tingkat global maupun di Indonesia. Di satu sisi, investasi AI mengalir deras, pencetakan talenta digenjot, dan inovasi aplikasi lokal mulai menunjukkan taring. 

    Namun di sisi lain, regulasi AI nasional belum juga rampung, sementara penipuan berbasis AI justru semakin marak di tengah masifnya adopsi teknologi ini. Berikut kaleidoskop AI pada 2025 yang dirangkum Bisnis: 

    Investasi AI Makin Masif 

    Gelombang investasi AI global sepanjang 2025 menunjukkan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Microsoft mengumumkan investasi US$17,5 miliar atau sekitar Rp291 triliun di India untuk periode 2026–2029, difokuskan pada pembangunan pusat data, infrastruktur cloud, dan pengembangan talenta AI. Langkah ini menjadi investasi terbesar Microsoft di Asia.

    Meta bahkan melangkah lebih agresif. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu menyatakan akan menggelontorkan US$600 miliar atau sekitar Rp10 kuadriliun di Amerika Serikat hingga 2028, sebagian besar untuk membangun pusat data AI.

    Meta menargetkan pengembangan “personal superintelligence”, istilah yang merujuk pada kecerdasan buatan yang berpotensi melampaui kemampuan kognitif manusia.

    Tren serupa tercermin di Indonesia. PT Telkom Indonesia (Persero) meluncurkan AI Center of Excellence yang tersebar di sembilan kota strategis, mulai dari Jakarta hingga Papua. Langkah ini diambil seiring meningkatnya kebutuhan AI di sektor pemerintahan, korporasi, hingga UMKM, yang bahkan mulai menunjukkan gejala fear of missing out (FOMO).

    Indosat Ooredoo Hutchison bersama Nokia dan NVIDIA juga meresmikan AI-RAN Research Center di Surabaya.

    Pusat riset ini menjadi fondasi pengembangan jaringan Radio Access Network berbasis AI, yang diklaim mampu meningkatkan kualitas layanan AI sekaligus memperkuat kedaulatan digital nasional.

    Pencetakan Talenta AI 

    Sejalan dengan masifnya investasi, pencetakan talenta AI juga dikebut. Microsoft Indonesia menargetkan sertifikasi 500.000 talenta AI pada 2026. Pemerintah melalui BPSDM Komdigi mencatat lebih dari 30.000 talenta AI berhasil dibina sepanjang 2025 melalui berbagai program, seperti Digital Talent Scholarship dan AI Talent Factory.

    Komitmen Indonesia membangun talenta AI bahkan mulai menarik perhatian global. Sejumlah organisasi luar negeri menyatakan minat memberikan dukungan, mulai dari GPU berkapasitas besar hingga platform open source tanpa biaya.

    Namun, di balik optimisme tersebut, muncul catatan kritis. Pengamat telekomunikasi dari ITB Agung Harsoyo menilai masalah utama Indonesia bukan semata kekurangan talenta, melainkan belum siapnya ekosistem pemanfaatan AI. Talenta yang dicetak membutuhkan akses data, masalah nyata, dan ruang berkarya yang konkret di industri.

    Sementara itu, Heru Sutadi mengingatkan AI juga membawa tantangan serius bagi tenaga kerja. Perkembangan AI berpotensi menggeser banyak pekerjaan manusia jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

    Ilustrasi kecerdasan buatan

    Persaingan Pasar Chatbot

    Meski masih memimpin pasar, laju pertumbuhan ChatGPT mulai melambat. Data Sensor Tower menunjukkan pengguna aktif bulanan ChatGPT hanya tumbuh sekitar 6% pada Agustus–November 2025. Sebaliknya, Google Gemini justru melesat hingga 30%, didorong integrasi langsung dengan sistem operasi Android dan popularitas fitur pembuat gambar Nano Banana.

    Persaingan chatbot semakin ketat dengan kehadiran Claude dan Perplexity yang mencatat pertumbuhan pengguna ratusan persen sepanjang 2025. Kondisi ini menandai fase baru pasar AI global yang mulai matang dan kompetitif.

    Aplikasi Lokal Menggeliat

    Di tengah dominasi pemain global seperti ChatGPT dan Gemini, pengembangan aplikasi AI lokal mulai menunjukkan kemajuan. GoTo dan Indosat meluncurkan Sahabat-AI dengan model 70 miliar parameter yang mendukung berbagai bahasa daerah, mulai dari Bahasa Indonesia hingga Batak. Sahabat-AI diposisikan sebagai LLM open-source yang sesuai dengan konteks dan karakteristik Indonesia.

    KORIKA juga meluncurkan Korika Chat (KChat), platform generative AI berbasis agentic AI yang ditujukan untuk BUMN dan lembaga publik. KChat dirancang untuk mengelola informasi publik terverifikasi secara real-time, mempercepat birokrasi, hingga meningkatkan transparansi regulasi.

    Regulasi AI Mundur, Payung Hukum Belum Turun

    Di tengah pesatnya adopsi AI, regulasi nasional justru tertinggal. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan dua regulasi AI yakni peta jalan AI dan etika AI kemungkinan baru akan terbit pada kuartal pertama atau kedua 2026.

    Pemerintah menyiapkan regulasi tersebut sebagai payung kebijakan umum, sementara pengaturan sektoral akan diserahkan kepada masing-masing kementerian dan lembaga.

    Penipuan AI Marak

    Di sisi gelap perkembangan AI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat maraknya penipuan berbasis AI sepanjang 2025. Satgas PASTI menemukan modus voice cloning dan deepfake semakin sering digunakan untuk menipu masyarakat, mulai dari penyamaran suara anggota keluarga hingga rekayasa video yang sangat meyakinkan.

    OJK mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, melakukan verifikasi silang, dan tidak mudah percaya pada permintaan transfer dana atau data sensitif, meski berasal dari pihak yang tampak dikenal.

    Di lain sisi, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 343.402 laporan terkait dugaan penipuan selama setahun terakhir, sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025. Dari total 563.558 rekening yang dilaporkan, sebanyak 106.222 rekening telah diblokir. Kerugian yang dicatat korban mencapai Rp7,8 triliun, sementara dana yang berhasil dibekukan sebesar Rp386,5 miliar.

  • Seleksi Frekuensi Skema Lelang Berisiko Bikin Digitalisasi RI Makin Tertinggal

    Seleksi Frekuensi Skema Lelang Berisiko Bikin Digitalisasi RI Makin Tertinggal

    Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat Telematika Nasional (Mastel) menilai seleksi frekuensi dengan skema lelang harga berisiko membuat pergelaran 5G di Indonesia melambat dan digitalisasi makin tertinggal.

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Masyarakat Telematika, Sigit Puspito Wigati Jarot, mengatakan bahwa sistem lelang harga akan memberatkan operator dari segi finansial. Akibatnya, jaringan lambat dibangun dan tujuan 5G tidak tercapai, serta digitalisasi makin tertinggal.

    Operator harus menyiapkan dana setiap tahun untuk membayar frekuensi di tengah ongkos penggelaran internet yang tidak murah. 

    Data ATSI menyebut biaya yang dibayarkan operator seluler untuk ongkos regulasi, termasuk bayar frekuensi tahunan, telah mencapai Rp20 triliun. Nilai tersebut setara 12,2% dari pendapatan yang dibukukan. 

    “Kalau lelang otomatis kan operator yang punya lelang, yang menang lelang akan menggelar. Tapi kan tadi di presentasi orang bilang operator itu enggak punya cukup napas,” kata sigit dalam acara Bisnis Indonesia Forum dengan tema Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Selasa (23/12/2025).

    Sigit juga memaparkan bahwa Indonesia seharusnya tidak fokus pada satu cara, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti beauty contest. Indonesia pada awalnya pernah melakukan beauty contest pada tahun 2013, namun tetap ada perbaikan yang harus diperhatikan.

    “Ada opsi kedua gitu, beauty kontes kan, dan kita pernah kontes waktu ya 2013,” kata Sigit.

    Skema beauty contest cukup baik, kata Sigit, hanya saja membutuhkan kerja keras di sisi regulator karena harus menilai banyak aspek teknis dan bisnis tidak sekedar membandingkan harga.

    Namun untuk menjalankan skema ini, harus dipastikan bahwa penilaian dilakukan secara benar dan transparan sehingga tidak muncul persepsi di kemudian hari bahwa Komdigi ‘main belakang’. 

    “Tapi kalau kontes memang nanti khawatir ini apa namanya main apa ada main belakang”

    Sigit juga berpendapat bahwa perlu adanya desain yang sangat hati-hati. Jika kriteria tidak jelas, beauty contest bisa gagal mencapai tujuan.

    Untuk mengoptimalkan spektrum frekuensi yang belum terlelang, Sigit menyarankan agar Komdigi membuat regulasi spektrum yang lebih fleksibel dan inovatif, tidak hanya lelang harga yang mahal. 

    Regulasi di Indonesia butuh pembaharuan agar bisa mengikuti perkembangan kontribusi spektrum 5G.

    Kedua, Sigit menjelaskan bahwa pemerintah bisa menggunakan mekanisme kombinasi (hybrid) misal lelang dengan beauty contest atau skema berbagi jaringan. 

    Dengan cara ini pengembangan spektrum 5G bisa merata ke segala daerah yang ada di indonesia, misal di daerah perkotaan bisa menggunakan mekanisme lelang atau beauty contest sedangkan untuk daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) bisa menggunakan mekanisme yang lebih cocok.

    Tiga, tujuan utama harus jelas, apa yang ingin dicapai oleh pemerintah dan apa dampak ekonomi dan digital yang ingin dicapai 3 sampai 5 tahun kedepan, bukan sekedar uang masuk cepat. 

    “Kalau cara lama terus dipakai, indonesia akan makan tertinggall dalam transformasi digital,” kata Sigit. (Nur Amalina)

  • ATSI Sebut Spektrum 2,6 dan 3,5 GHz Ideal untuk 5G di Indonesia

    ATSI Sebut Spektrum 2,6 dan 3,5 GHz Ideal untuk 5G di Indonesia

    Bisnis.com, JAKARTA— Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai pita frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz merupakan spektrum yang paling ideal untuk mendukung pengembangan jaringan generasi kelima (5G) di Indonesia.

    Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir mengatakan secara teknis pita mid-band, seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz, memiliki karakteristik yang paling sesuai untuk kebutuhan 5G, terutama dalam menyeimbangkan cakupan dan kapasitas.

    “Sebetulnya, pita 2,6 GHz dan 3,5 GHz [memang lebih menarik untuk 5G]. Namun, ada juga kebutuhan terhadap low band,” kata Marwan dalam Bisnis Indonesia Forum: Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kantor Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (23/12/2025).

    Dalam jangka panjang, Marwan menilai pita mid-band juga berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan layanan lain. Oleh karena itu, perencanaan spektrum perlu mempertimbangkan dinamika permintaan dan potensi penggunaan di masa depan.

    “Di daerah lain, mid-band bisa ‘dimakan’ oleh use case lain dalam jangka panjang,” katanya.

    Marwan menambahkan kejelasan peta teknologi nasional, termasuk segmentasi kebutuhan tiap wilayah, menjadi faktor krusial untuk mendorong minat investasi di sektor telekomunikasi. Dengan peta yang jelas, penggunaan spektrum dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah, tanpa harus meniru pendekatan negara lain secara mentah. Dia menegaskan kepastian arah kebijakan juga akan menjadi fondasi penting bagi pelaku industri dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

    “Kalau semuanya sudah jelas, kontribusinya pasti akan terlihat. Iya. Kalau arahnya jelas, orang mau investasi pasti ada pertimbangannya,” kata Marwan.

    Menurut Marwan, ketidakjelasan arah kebijakan selama ini membuat proses seleksi spektrum kerap berbenturan dengan regulasi yang masih berorientasi pada penerimaan negara semata, alih-alih memperkuat ekosistem industri dan kesejahteraan jangka panjang. Dalam konteks tersebut, ATSI berpandangan penurunan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi menjadi salah satu kunci untuk mendorong investasi operator, khususnya dalam pembangunan infrastruktur jaringan.

    “Kami berpandangan mindset-nya adalah menurunkan BHP. Jika BHP diturunkan, operator tentu akan terdorong. Oke, itu bisa dilakukan,” katanya.

    Marwan menilai skema kebijakan yang terlalu menitikberatkan pada penerimaan negara di sisi atas (top line) justru berpotensi meningkatkan beban belanja modal (capital expenditure/capex) operator dan kembali menekan industri secara keseluruhan.

    Dia menjelaskan penarikan penerimaan negara yang besar dari spektrum akan berimplikasi langsung pada kebutuhan capex operator, terutama untuk pembangunan base station. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus tekanan yang berulang bagi industri, meskipun terdapat argumen peningkatan capex juga dapat mendorong perluasan jaringan.

    “Karena dengan tambahan capex itu, dia bisa menambah sekitar 30 ribu BTS. Dengan capex yang ditambah, pembangunan juga bertambah,” kata Marwan.

    Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), luas pemukiman yang terlayani mobile broadband saat ini memang sudah relatif tinggi untuk jaringan 4G, yakni mencapai 97,45%.

    Namun, cakupan 5G masih sangat terbatas, baru menjangkau 4,44% wilayah pemukiman. Kondisi ini menunjukkan adopsi 5G di Indonesia masih berada pada tahap awal dan belum merata. Dari sisi kualitas layanan, kecepatan rata-rata mobile broadband Indonesia tercatat sebesar 42,85 Mbps.

    Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-83 dari 112 negara secara global serta peringkat ke-8 dari 9 negara ASEAN. Capaian ini masih tertinggal jauh dibandingkan Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, dan Malaysia yang masing-masing mencatat kecepatan rata-rata di atas 150 Mbps.

    Sementara itu, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan dalam lima tahun ke depan. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan rencana strategis sektor digital, cakupan pemukiman terlayani mobile broadband ditargetkan mencapai 98% pada 2029. Dari sisi kualitas, kecepatan mobile broadband nasional ditargetkan meningkat hingga 100 Mbps atau lebih dari dua kali lipat capaian saat ini.

    Berdasarkan studi dan riset Coleago, untuk mencapai kecepatan unduh rata-rata 100 Mbps per pengguna, Indonesia membutuhkan total spektrum low band dan mid band dalam kisaran 1.000 MHz hingga 2.000 MHz, bergantung pada tingkat kepadatan penduduk di masing-masing wilayah.

    Dalam simulasi berbasis kota besar, kebutuhan spektrum total low band dan mid band diperkirakan mencapai sekitar 2.000 MHz untuk Jakarta dengan kepadatan sekitar 16.000 penduduk per kilometer persegi. Surabaya dengan kepadatan sekitar 9.000 penduduk per kilometer persegi membutuhkan sekitar 1.600 MHz, sedangkan Solo dengan kepadatan sekitar 12.000 penduduk per kilometer persegi membutuhkan sekitar 1.300 MHz.

    Saat ini, alokasi spektrum yang digunakan industri seluler dinilai masih jauh dari kebutuhan tersebut. Total spektrum eksisting low band yang digunakan operator tercatat sekitar 92 MHz dari pita 800 MHz dan 900 MHz. Adapun spektrum mid band yang tersedia saat ini sekitar 360 MHz dari pita 1,8 GHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz.

    Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah melaksanakan seleksi pita frekuensi 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pita lebar sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 13 Tahun 2025.

    Ke depan, pemerintah juga berencana membuka lelang pita frekuensi 2,6 GHz dan 700 MHz untuk mendukung penggelaran jaringan 5G. Pita 700 MHz dinilai strategis karena memiliki jangkauan luas untuk wilayah pedesaan dan pinggiran kota, sementara pita 2,6 GHz menawarkan keseimbangan antara cakupan dan kapasitas data tinggi bagi layanan 5G.

  • Mastel Tegaskan Mekanisme Seleksi Penggunaan Pita Frekuensi Tak Hanya Lelang

    Mastel Tegaskan Mekanisme Seleksi Penggunaan Pita Frekuensi Tak Hanya Lelang

    Bisnis.com, JAKARTA  — Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menegaskan bahwa mekanisme seleksi penggunaan pita frekuensi tidak hanya dapat dilakukan melalui lelang spektrum (auction).

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) Mastel, Sigit Jarot, menyampaikan bahwa pemerintah perlu terlebih dahulu memperjelas rencana merintis frekuensi, termasuk waktu penggunaan, tujuan, serta pendekatan yang akan diterapkan.

    Dengan adanya kejelasan tersebut, kebijakan yang diambil dapat dinilai ketepatannya dengan skema seleksi yang beragam. 

    “Dan jangan memakai asumsi ‘sudah kita lelang saja’. Karena sebelumnya kalau masalah regulasi, lelang itu hanya salah satu cara sebenarnya. Ada opsi kedua, beauty contest,” kata Sigit dalam Bisnis Indonesia Forum (BIF) bertajuk Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, di Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (23/12/2025). 

    Adapun Mastel juga memaparkan beberapa mekanisme lainya selain lelang spektrum ataupun beauty contest seperti Shared Wireless Network (SWN), Nationala Wholesale Network (NWM) dan Hybrid/Policy-Driven. 

    Sigit menuturkan, mekanisme di luar lelang tersebut telah diterapkan di berbagai negara. Salah satunya Malaysia, yang sempat menggunakan skema SWN. 

    Berdasarkan tabel perbandingan komprehensif yang disusun Mastel, dari lima mekanisme skema Hybrid/Policy-Driven, yakni kombinasi kebijakan yang disesuaikan dengan wilayah dan tujuan, dinilai paling optimal di Indonesia.

    Menurut Sigit, dari sisi dampak terhadap industri dan investasi, skema tersebut bersifat bankable dan adaptif terhadap pasar. 

    Kontribusinya terhadap perekonomian nasional juga dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang maksimal dan berlapis. Namun demikian, skema ini memiliki risiko berupa kompleksitas dalam desain kebijakan.

    Meski demikian, menurutnya, skema yang paling tepat adalah kebijakan yang dapat memberikan dampak lebih bagi pertumbuhan ekonomi. 

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan lelang pita frekuensi 2,6 GHz kemungkinan akan dibuka pada tahun ini.

    Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto dalam peresmian Kampung Internet di Desa Sribit, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

    “Kemungkinan tahun ini paling hanya membuka aja,” kata Wayan. 

    Namun, Wayan belum dapat memberikan rincian mengenai waktu pasti pelaksanaan lelang pita frekuensi 2,6 GHz tersebut. Dia menjelaskan, pemerintah masih menyiapkan perangkat regulasi sebagai dasar hukum pelaksanaan lelang tersebut.

    “Kan harus ada permen [peraturan menteri], ada KM [keputusan menteri], ada KM itu pun KM tentang pengadaan, dan KM sertifikasi perangkatnya gitu ya,” katanya. 

    Sebelumnya, Komdigi telah melaksanakan lelang pita frekuensi 1,4 GHz, yang bertujuan menentukan pengguna pita frekuensi radio di seluruh regional, sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 13 Tahun 2025 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio pada pita 1,4 GHz.