Category: Bisnis.com Tekno

  • Bumi akan Alami Fenomena Bulan Hitam Besok 23 Agustus 2025, Begini Dampaknya

    Bumi akan Alami Fenomena Bulan Hitam Besok 23 Agustus 2025, Begini Dampaknya

    Bisnis.com, JAKARTA – Besok 23 Agustus 2025, langit malam di bumi akan menyaksikan fenomena bulan yang tidak biasa yang dikenal sebagai Bulan Hitam.

    Meskipun fenomena ini tidak akan bisa disaksikan dengan mata telanjang, karena Anda tidak bisa sama sekali melihat bulan, namun fenomena ini tetap menarik karena kelangkaannya.

    Dilansir dari space.com, bulan Hitam bukanlah istilah astronomi resmi, tetapi digunakan untuk menggambarkan waktu fase-fase bulan baru yang tidak biasa.

    Fenomena minggu ini termasuk dalam definisi “musiman”: bulan baru ketiga dalam satu musim yang terdiri dari empat bulan baru.

    Bulan baru adalah fase ketika sisi bulan yang disinari matahari membelakangi Bumi, sehingga tidak terlihat di langit kita saat terbit dan terbenam bersama matahari.

    Biasanya, setiap musim memiliki tiga bulan baru, tetapi siklus bulan tidak selalu sesuai dengan kalender kita. Sesekali, bulan baru “ekstra” muncul tiba-tiba, dan bulan ketiga dalam urutan tersebut dijuluki Bulan Hitam. Bulan Hitam musiman terakhir terjadi pada 19 Mei 2023.

    Pukul 02.06 EDT (06.06 GMT) tanggal 23 Agustus — yang bertepatan dengan pukul 23.06 PDT pada hari Jumat (22 Agustus) — bulan akan resmi melewati fase bulan barunya. Pada saat itu, satelit alami kita akan berada di konstelasi Leo, tepat 1 derajat di utara matahari di langit.

    Musim panas 2025 di Belahan Bumi Utara dimulai dengan bulan baru pada 25 Juni, diikuti oleh 23 Juli, 3 Agustus, dan 21 September. Dengan empat bulan baru yang muncul bersamaan dalam musim ini, bulan baru pada 23 Agustus menjadi Bulan Hitam. Bulan Hitam Musiman, seperti yang terjadi pada 23 Agustus, hanya terjadi sekitar sekali setiap 33 bulan.

    Ada juga definisi lain dari Bulan Hitam yang merujuk pada bulan baru kedua dalam satu bulan kalender, yang baru akan terjadi lagi pada 31 Agustus 2027.

    Tidak seperti supermoon atau gerhana bulan, Bulan Hitam bukanlah sesuatu yang dapat Anda saksikan secara langsung. Selama fase bulan baru, bulan berada di antara Bumi dan matahari, sehingga sisi yang tidak disinari matahari menghadap kita, membuatnya tidak terlihat di langit yang cerah.

  • Komdigi Diminta Atur Wilayah Layanan Satelit demi Pemerataan Internet

    Komdigi Diminta Atur Wilayah Layanan Satelit demi Pemerataan Internet

    Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat telekomunikasi meminta pemerintah untuk mengatur layanan satelit yang saat ini masih banyak ditemui di wilayah yang terjangkau serat optik dan seluler. 

    Pemerataan layanan sulit terwujud jika satelit, infrastruktur internet di langit, tidak memanfaatkan keunggulannya melayani wilayah-wilayah tak tersentuh serat optik. 

    Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan idealnya ada kebijakan yang mengatur pembagian peran antara satelit, seluler, dan serat optik, agar ekosistem telekomunikasi dapat berjalan secara sehat.

    “Memang diharapkan ada pengaturan antara mana menggunakan satelit, mana wilayah dengan serat optik dan mana seluler. Agar kompetisi sehat dan antar teknologi saling mengisi atau komplementer,” kata Heru saat dihubungi Bisnis pada Jumat (22/8/2025). 

    Heru menjelaskan satelit memiliki cakupan yang luas sehingga dapat memberikan layanan ke seluruh Indonesia, mulai dari kota hingga pelosok. 

    Hal inilah yang membuat layanan satelit tetap digunakan di daerah perkotaan, meskipun masing-masing teknologi baik satelit, seluler, maupun serat optik memiliki kelebihan dan kekurangannya.

    Dia menambahkan, perkembangan teknologi satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) juga meningkatkan kapasitas dan kecepatan layanan internet.

    “Dengan perkembangan LEO, kapasitas dan kecepatan untuk digunakan layanan internet juga meningkat. Kalaupun kota banyak makai karena memang ada kebutuhan kecepatan internet yang tinggi,” tuturnya.

    Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap satelit broadband tidak sepenuhnya digunakan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sekretaris Jenderal APJII, Zulfadly Syam, mengatakan masih terdapat wilayah perkotaan yang menggunakan internet satelit. Meskipun mayoritas pemasangan satelit memang masih terjadi di perdesaan. 

    “Kami berpikir satelit broadband itu harusnya di tempat 3T. Nah apa yang terjadi sekarang? 61,11% ada di daerah perdesaan. Ada pula yang memasang satelit broadband di daerah perkotaan,” kata Zulfady dalam Media Diskusi usai Peluncuran Hasil Survei APJII: Profil Internet Indonesia 2025 di Jakarta pada Rabu (6/8/2025). 

    Dia menuturkan temuan ini cukup mengundang diskusi internal APJII, sebab idealnya pemanfaatan satelit broadband terfokus pada kawasan rural yang sulit dijangkau layanan kabel atau seluler.  

    Namun, data menunjukkan sekitar 21,07% penggunaan satelit broadband justru berada di daerah perkotaan, sementara daerah pinggiran kota tercatat sebesar 8,40%.  Adapun penggunaan di kawasan pantai dan pesisir mencapai 7,50%, dan hanya 1,93% yang benar-benar berada di tengah hutan.

    “Satelit broadband gimana sih? Ini kan harusnya ke daerah-daerah rural. Kok masuk ke kota? Di kota sebenarnya kalau dipakai FO aja sudah kalah tuh satelit broadband. Tapi kenyataannya seperti ini,” katanya.

    Menurut Zulfadly, APJII bersama para penyelenggara jasa internet sebenarnya berharap penggunaan satelit broadband lebih banyak terkonsentrasi pada area yang memang minim infrastruktur, bukan di kota yang relatif sudah memiliki banyak pilihan konektivitas.

    “Nah kalau yang kami harapkan sebagai ISP under APJII nih ya, kami ingin di tengah hutan ini yang paling banyak digunakan satelit broadband dan di daerah perdesaan,” ucapnya.

    Survei APJII  mencatat berbagai alasan masyarakat memilih satelit broadband. Mayoritas responden atau sebesar 59,26% menyebutkan karena kecepatan internet yang ditawarkan cukup memadai atau tinggi untuk kebutuhan mereka.

    Sebanyak 14,80% mengaku koneksi kabel atau seluler tidak stabil, 11,82% menyebutkan tidak ada alternatif koneksi lain yang menjangkau rumah mereka, 7,53% menggunakan layanan ini untuk kebutuhan profesional atau bisnis di wilayah terpencil, dan 6,58% menyatakan alasan lain.

    Dari sisi kecepatan, sekitar 30,86% pelanggan satelit broadband menikmati bandwidth antara 10 hingga kurang dari 25 Mbps. Selain itu, 13,72% responden menggunakan kecepatan kurang dari 10 Mbps, 11,73% berada di kisaran 25 hingga kurang dari 50 Mbps, sementara 12,80% menikmati kecepatan 100 Mbps atau lebih, sedangkan 13,81% pengguna tidak mengetahui pasti kapasitas bandwidth yang digunakan.

    “Nah besarnya bandwidth satelit broadband yang dirasakan oleh atau per langganannya individu-individu  yang paling besar adalah di angka 10 sampai 25 Mbps. Ini cukup besar juga sebenarnya, 30,8%, lalu 13,7% kurang dari 10 Mbps. 12,8% 100 Mbps atau lebih,” kata Zulfadly.

    Dia menekankan permintaan satelit broadband berkualitas tinggi pun cukup besar, terlihat dari adanya pelanggan yang mengakses hingga 100 Mbps atau lebih. Meski demikian, distribusi penggunaan yang cukup tinggi di wilayah perkotaan tetap menjadi hal yang mengejutkan.

    “Cuma dari daerah kontribusinya atau apa namanya distribusinya, kami agak sedikit kaget ketika satelit broadband ini masuk ke daerah perkotaan,” tutup Zulfadly.

  • Perusahaan Dialis Ginjal AS Davita Terkena Ransomware, 2,7 Juta Orang Terdampak

    Perusahaan Dialis Ginjal AS Davita Terkena Ransomware, 2,7 Juta Orang Terdampak

    Bisnis.com, JAKARTA— Departemen Kesehatan Amerika Serikat mencatat serangan ransomware yang mengenkripsi sejumlah sistem milik perusahaan layanan dialisis DaVita Inc. berdampak pada sekitar 2,7 juta orang. 

    DaVita Inc. adalah penyedia layanan dialisis ginjal terbesar di Amerika Serikat dan salah satu yang terbesar di dunia, yang mengoperasikan jaringan klinik untuk merawat pasien penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal.

    Perusahaan ini berfokus pada perawatan pasien melalui model bisnis penyediaan layanan dialisis berkualitas tinggi dan hemat biaya, mendapatkan pendapatan dari pembayaran pemerintah dan asuransi swasta.  

    Melansir laman Reuters pada Jumat (22/8/2025), DaVita sebelumnya telah mengungkapkan pada April lalu mereka menjadi target serangan siber. 

    Saat itu, perusahaan menyatakan tetap memberikan layanan pasien sambil berupaya memulihkan fungsi sistem tertentu, meskipun belum dapat memperkirakan durasi maupun tingkat gangguan yang terjadi.

    Melalui jaringannya yang terdiri dari hampir 3.000 klinik rawat jalan dan layanan dialisis di rumah, DaVita menyediakan perawatan bagi pasien dengan gagal ginjal, di mana darah mereka harus dibersihkan secara mekanis.

    Dalam pernyataan terbaru, DaVita mengonfirmasi pihak yang tidak berwenang berhasil mengakses basis data laboratorium perusahaan yang berisi sejumlah informasi pribadi sensitif milik pasien.

    “Kami tengah memberitahukan pasien saat ini maupun mantan pasien, serta menyediakan berbagai sumber daya, termasuk layanan pemantauan kredit gratis, untuk membantu melindungi data mereka,” kata perusahaan. 

    Kendati serangan ini sempat menyebabkan gangguan sementara pada operasi, DaVita menegaskan timnya tetap mampu memberikan layanan kesehatan penting tanpa henti.

    Perusahaan mencatat, pada kuartal II/2025, serangan siber tersebut menimbulkan biaya sekitar US$13,5 juta atau setara Rp220,7 miliar. 

    Dari jumlah itu, sekitar US$1 juta (Rp16,3 miliar) dialokasikan untuk peningkatan biaya perawatan pasien, sedangkan US$12,5 juta (Rp204,3 miliar) tercatat sebagai kenaikan beban umum dan administrasi untuk pemulihan sistem dengan bantuan pihak ketiga profesional.

  • Rusia Wajibkan Warga Pasang Aplikasi Lokal MAX Usai Whatsapp Tolak Kooperatif

    Rusia Wajibkan Warga Pasang Aplikasi Lokal MAX Usai Whatsapp Tolak Kooperatif

    Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah Rusia mewajibkan semua warganya untuk mengunduh aplikasi perpesanan buatan lokal MAX di seluruh smartphone dan tablet mulai bulan depan. 

    Melansir laman Reuters pada Jumat (22/8/2025) MAX merupakan aplikasi perpesanan buatan perusahaan teknologi milik negara, VK yang juga mengembangkan VK Messenger. 

    Selain MAX, pemerintah juga mewajibkan toko aplikasi domestik, RuStore, yang selama ini otomatis tersedia di perangkat Android, untuk dipasang pada perangkat Apple mulai 1 September. 

    Sementara itu, aplikasi televisi berbahasa Rusia LIME HD TV, yang memungkinkan pengguna menonton saluran televisi negara secara gratis, akan diwajibkan terpasang di seluruh smart TV mulai 1 Januari tahun depan.

    Langkah ini merupakan bagian dari upaya Moskow memperkuat kontrol terhadap ruang internet, seiring ketegangan dengan Barat akibat perang di Ukraina. 

    Pemerintah menuding platform asing seperti WhatsApp dan Telegram tidak kooperatif dalam berbagi data untuk membantu aparat hukum mengatasi kasus penipuan dan terorisme.

    Awal bulan ini, Rusia bahkan mulai membatasi sebagian layanan panggilan di WhatsApp, yang dimiliki oleh Meta Platforms, serta di Telegram. 

    WhatsApp yang pada Juli memiliki jangkauan 97,3 juta pengguna di Rusia, menuding kebijakan Moskow sebagai upaya membatasi akses warga terhadap komunikasi yang aman. Telegram, dengan jangkauan 90,8 juta pengguna, menegaskan tetap berkomitmen memerangi penggunaan berbahaya di platformnya.

    Menurut data Mediascope, aplikasi perpesanan terpopuler ketiga di Rusia pada Juli adalah VK Messenger dengan 17,9 juta pengguna. 

    Adapun MAX sendiri baru-baru ini mengumumkan telah diunduh oleh 18 juta pengguna, meski beberapa fiturnya masih dalam tahap uji coba. Kementerian Dalam Negeri Rusia menyatakan MAX lebih aman dibanding aplikasi asing. Namun, otoritas juga mengungkap mereka telah menangkap seorang tersangka dalam kasus penipuan pertama yang menggunakan aplikasi baru tersebut.

  • Komdigi Tingkatkan Akuntabilitas Kopdes Merah Putih lewat Pelatihan Digital

    Komdigi Tingkatkan Akuntabilitas Kopdes Merah Putih lewat Pelatihan Digital

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memberikan pelatihan pembukuan digital kepada pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk mewujudkan pengelolaan keuangan koperasi yang efisien dan transparan.

    Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan penerapan pembukuan secara digital akan mengurangi kerumitan dan potensi kesalahan saat melakukan pencatatan transaksi. KDMP akan beroperasi dengan lebih akuntabel.

    “Kami buat pelatihan dan upskilling untuk digitalisasi koperasi agar layanan-layanan yang dilakukan ini juga bisa berbasis digital supaya lebih efisien dan transparan,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid di KDMP Karangbesuki, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (21/08/2025).

    Materi pelatihan ini, lanjutnya, merupakan salah satu jenis pelatihan yang menargetkan para pengurus KDMP di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang tingkat literasi digitalnya sudah baik.

    Pelatihan digital diberikan sesuai dengan kurikulum kondisi daerah masing-masing.

    Sebanyak 15 KDMP di Kota Malang menjadi pilot project untuk pelatihan ini. Kota Malang dipilih sebagai percontohan karena sudah memiliki banyak UMKM yang memanfaatkan teknologi digital.

    “Materi pelatihan ini cocok untuk Kota Malang karena rata-rata UMKM di sini sudah digital,” tuturnya.

    Tidak hanya pelatihan pembukuan digital, Kemkomdigi juga menyelenggarakan pelatihan keamanan siber untuk pengurus KDMP.

    Menurut Meutya, KDMP banyak menyimpan data-data pribadi masyarakat sehingga para pengurus KDMP perlu memiliki pengetahuan tentang cara mengamankan data pribadi.

    “Pelatihan keamanan siber kami selenggarakan atas permintaan UMKM di sini,” kata Meutya.

    Meutya juga meminta masukan dari para pengurus KDMP tentang jenis pelatihan yang dibutuhkan agar Kemkomdigi bisa menyiapkan kurikulumnya.

    “Ini mungkin bisa kita jadikan model untuk melakukan pelatihan di KDMP lainnya se-Indonesia,” tandasnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto menekankan laju digitalisasi turut mendorong pemberdayaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

    “Saat ini Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih semakin berdaya di era digital,” kata Bonifasius dilansir dari Antara.

    Menurutnya, digitalisasi merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, termasuk dalam menjalankan bisnis. Dia menjelaskan, pola usaha digital terus berkembang dari toko fisik, bergeser ke platform perdagangan daring (e-commerce).

    Platform komunikasi dan media sosial kini juga dimanfaatkan untuk promosi dan transaksi. Oleh karena itu, kata Bonifasius, koperasi harus mengikuti perkembangan digitalisasi agar mampu berkembang dan bersaing.

  • Prompt ChatGPT untuk Model GPT-5 Agar Respons Tidak Bertele-tele

    Prompt ChatGPT untuk Model GPT-5 Agar Respons Tidak Bertele-tele

    Bisnis.com, JAKARTA — Model terbaru ChatGPT yang diluncurkan OpenAI, GPT-5 terus dipantau oleh banyak pengguna sejak awal kemunculannya beberapa minggu lalu.

    Model terbaru itu kabarnya banyak mengecewakan pengguna dengan balasannya yang baru, ketidakmampuannya dalam menjawab secara efektif, dan secara umum kurang menarik dibandingkan GPT-4o. Itu bukanlah “prestasi” yang diharapkan oleh OpenAI.

    Selama kurang lebih seminggu terakhir juga, platform media sosial seperti Reddit dibanjiri pengguna yang mengklaim prompt mereka dapat “memperbaiki” GPT-5. 

    Meskipun komunitas di Reddit terkadang suka hiperbola, dan mungkin informasi yang mereka bagikan dirasa meragukan, tetapi ternyata informasi yang mereka bagikan untuk prompt GPT-5 ini bekerja secara efisien.

    Berikut ini adalah prompt lengkap yang dapat digunakan untuk memperbaiki respons ChatGPT, dikutip dari TechRadar (19/8/2025):

    -Mulai sekarang, bertindaklah sebagai asisten ahli saya dengan akses ke semua penalaran dan pengetahuan Anda. Selalu sediakan:

    Jawaban yang jelas dan langsung atas permintaan saya

    Penjelasan langkah demi langkah tentang bagaimana Anda sampai di sana

    Perspektif atau solusi alternatif yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya

    Ringkasan praktis atau rencana tindakan yang dapat saya terapkan segera.

    Jangan pernah memberikan jawaban yang samar-samar

    Jika pertanyaannya luas, pecah menjadi beberapa bagian

    Jika saya meminta bantuan, bersikaplah profesional di bidang tersebut (misal: Guru, pelatih, insinyur, dokter, dll.) Gunakan penalaran Anda hingga 100% dari kapasitas Anda

    Pengguna dapat langsung menyalin dan tempel teks prompt di atas ke ChatGPT, itu akan melatih ChatGPT untuk kemudian menyediakan jawaban yang lebih memuaskan atau lebih relevan sesuai kebutuhan.

    Menurut TechRadar, setelah pengguna membuat prompt tersebut pada ChatGPT, GPT-5 nantinya akan menyediakan jawaban langsung, diikuti dengan langkah yang ringkas tanpa basa-basi, dan mudah dimengerti.

    ChatGPT juga memungkinkan pengguna mengatur nada atau kedalaman setiap respns, tergantung pada apa yang ditanyakan. 

    Misalnya, kita dapat meminta “Quick Hit”, lalu kita akan mendapatkan respons dalam 3-5 poin. Opsi lainnya termasuk “Deep Dive”, “Plan Mode”, “Show Math”, dan “Editor Hat”.

    Apabila pengguna merasa puas dengan respons yang dihasilkan dari prompt di atas, pengguna dapat menjadikannya sebagai pengalaman ChatGPT dengan menambahkannya ke tab Personalisasi di Pengaturan. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Berapa Batas Kapasitas Power Bank yang Boleh Dibawa di Pesawat?

    Berapa Batas Kapasitas Power Bank yang Boleh Dibawa di Pesawat?

    Bisnis.com, JAKARTA — Kehadiran power bank seperti angin segar, terlebih lagi ketika mengetahui baterai handphone Anda akan habis, sementara Anda tidak menemukan stopkontak. Namun ingat, tidak sembarangan power bank boleh dibawa di pesawat.

    Power bank juga menyimpan potensi bahaya apabila kita memperlakukannya dengan buruk atau membeli barang tiruan.

    Berikut ini adalah tips lengkap seputar power bank, dilansir dari TechRadar (21/8/2025).

    Power bank merupakan baterai isi ulang, biasanya berupa litium-ion yang dibungkus casing dengan komponen elektronik yang memastikan pengisian daya aman. Kualitas komponen elektronik dan material menentukan apakah perangkat akan awet bertahun-tahun atau rusak dengan hanya beberapa kali pemakaian.

    Biasanya untuk kapasitas yang tertera di power bank adalah milliampere per jam (mAh), tetapi biasanya maskapai penerbangan dan regulator transportasi menggunakan watt per jam (Wh) untuk mengukur kapasitas. rumus untuk menghitungnya adalah: Wh = (mAh/1000) x Tegangan.

    Kebanyakan power bank beroperasi pada tegangan 3,7 volt, jadi, untuk model 10.000 mAh maka akan menghasilkan daya sekitar 37 Wh. Biasanya maskapai penerbangan menyepakati tidak boleh membawa alat listrik apapun di atas 160 Wh.

    Untuk membawa power bank ke pesawat, perhatikan juga larangan-larangan lainnya dalam menggunakan power bank seperti:

    -Hindari power bank dari suhu panas atau dingin ekstrem

    -Jangan gunakan power bank yang retak atau mulai bengkak

    -Hindari penggunaan power bank di dalam tas, karena akan terlalu panas.

    Tips Menggunakan Power Bank dengan Aman saat Bepergian

    Saat penerbangan, power bank harus disimpan dalam tas kabin, karena power bank dilarang dibawa dalam bagasi dalam kondisi apapun. Ingat selalu batas daya, misalnya 100Wh diperbolehkan, antara 101-160 Wh memerlukan persetujuan maskapai, dan yang di atas 160 Wh tidak diizinkan.

    Itu penting diperhatikan karena baterai litium-ion dapat memanas hingga rusak, sehingga demi keselamatan, power bank perlu disimpan di kabin untuk mencegah terjadi hal tersebut, dan apabila terjadi, kru kabin akan cepat menanganinya.

    Berikut ini adalah daftar yang perlu diperhatikan agar kita selalu aman ketika membawa power bank  saat bepergian:

    -Periksa kapasitas

    -Periksa apakah ada kerusakan

    -Dapatkan persetujuan ketika diperlukan

    -Verifikasi peraturan maskapai

    -Packing barang dengan benar

    Jangan lupa untuk selalu memperhatikan kebijakan setiap maskapai penerbangan terkait power bank, ambil contoh Garuda Indonesia, yang memiliki kebijakan serupa (100 Wh diperbolehkan tanpa persetujuan), dan untuk 101-160 Wh memerlukan persetujuan maskapai, serta adanya larangan mengisi daya dengan power bank selama di pesawat

    Cara Membuang Power Bank Lama atau Sudah Rusak

    Oleh karena power bank berisikan litium-ion yang dapat memanas, maka penanganannya ketika kita ingin membuangnya juga berbeda dibanding ketika kita membuang sampah biasa.

    Cara melakukan daur ulang power bank adalah sebagai berikut:

    -Daur ulang melalui program daur ulang limbah elektronik/baterai

    -Periksa dengan cermat apakah ada tanda-tanda kerusakan/malfungsi

    -Beritahu staf daur ulang jika bengkak, bocor, atau terlalu panas

    -Jangan buang power bank di tempat sampah rumah tangga/tempat daur ulang pinggir jalan yang standar

    -Jangan mengisi daya/menggunakan power bank yang rusak/tidak berfungsi

    -Jika power bank terlihat mulai berasap/terbakar, hubungi layanan darurat

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • 300.000 Percakapan Pengguna Grok Terekspos di Google, Termasuk Obrolan Sensitif

    300.000 Percakapan Pengguna Grok Terekspos di Google, Termasuk Obrolan Sensitif

    Bisnis.com, JAKARTA — Ratusan ribu percakapan yang dilakukan oleh pengguna dengan chatbot xAI Grok milik Elon Musk mendadak dapat diakses dengan mudah melalui Google Search.

    Kebocoran tersebut berasal dari tombol “bagikan” Grok, yang ketika pengguna mengkliknya, mereka akan menerima tautan unik untuk mengirimkan obrolan mereka melalui email, SMS, atau media Sosial.

    Dilansir TechCrunch, Jumat (22/8/2025), tautan URL tersebut kemudian diindeks oleh mesin pencari seperti Google, Bing, dan DuckDuckGo, yang pada gilirannya memungkinkan siapapun mencari percakapan di web.

    Forbes melaporkan, ada 370.000 lebih URL yang terindeks, dan dapat diakses secara bebas. Sebagian dari konten yang terekspos relatif biasa saja, seperti misalnya, pengguna meminta bot untuk menulis tweet, meringkas berita, atau menghasilkan ide bisnis.

    Salah satu jurnalis Inggris, Andrew Clifford memanfaatkan Chat xAI Grok untuk membuat ringkasan untuk situs webnya, Sentinel Current.

    “Saya sedikit kesal, tetapi tidak ada apapun di sana yang seharusnya tidak ada,” kata Andrew, menyayangkan insiden bocornya chat Grok, dikutip dari Forbes (21/8/25).

    Namun, sebagian lainnya dari obrolan yang terekspos berisikan penjelasan cara pembuatan fentanil, metode bunuh diri, penawaran kode malware, atau bahkan rencana pembunuhan untuk Elon Musk itu sendiri.

    Padahal aturan xAI sudah melarang penggunaan botnya untuk mempromosikan tindakan yang membahayakan nyawa manusia atau mengembangkan senjata biologis, senjata kimia, atau senjata pemusnah massal, meskipun itu tidak serta-merta menghentikan pengguna melakukannya.

    Pengguna pun juga mengunggah file-file spreadsheet, dokumen, dan gambar, yang semuanya dapat dicari setelah dibagikan. Bahkan beberapa materi berisikan nama, kata sandi, dan informasi medis pribadi.

    Kasus ini sedikit mengingatkan pada insiden serupa yang menimpa chatbot Meta dan Open AI, ketika permintaan pencarian cara meretas dompet kripto, obrolan dengan persona AI yang eksplisit, atau instruksi cara memasak sabu terekspos di sana.

    Para profesional ikut terkena dampak, misalnya Ilmuwan Komputasional di Allen Institute for AI, Nathan Lambert yang terkejut saat menyaksikan obrolan-obrolannya dengan Grok terlihat secara daring.

    Sementara itu di sisi lain, para oportunis memanfaatkan situasi. Contohnya seperti Spesialis SEO di LinkedIn dan forum-forum ilegal seperti BlackHatWorld, yang telah memulai eksperimen dengan tautan berbagi Grok untuk memanipulasi peringkat pencarian.

    Pada akhirnya, masalah kebocoran chat ini menempatkan Grok bersama platform AI lain yang juga menampilkan percakapan di publik. Sebelumnya, OpenAI sempat mengizinkan percakapan ChatGPT bersama muncul di Google sebelum pada akhirnya membatalkannya, dan menyebutnya sebagai :Eksperimen Jangka Pendek” (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • 8.100 Starlink Telah Mengorbit per Agustus 2025, Satu Roket Bawa 24 Satelit

    8.100 Starlink Telah Mengorbit per Agustus 2025, Satu Roket Bawa 24 Satelit

    Bisnis.com, JAKARTA — SpaceX, perusahaan dirgantara luar angkasa milik Elon Musk, mencatat sebanyak 8.100 satelit Starlink telah mengorbit di ketinggian 500 kilometer di atas permukaan bumi hingga Agustus 2025.

    SpaceX baru saja meluncurkan 24 satelit internet Starlink ke orbit rendah pekan ini. Peluncuran dilakukan menggunakan roket Falcon 9 dari Vandenberg Space Force Base, California, Amerika Serikat.

    Misi kali ini menjadi penerbangan Falcon 9 ke-100 untuk tahun 2025, sekaligus misi ke-103 bagi SpaceX tahun ini, termasuk tiga penerbangan uji sub-orbital Starship—roket yang diproyeksikan membawa manusia ke Bulan dan Mars. Dalam waktu sekitar 9 menit setelah lepas landas dari Space Launch Complex 4 East, roket berhasil mencapai orbit awalnya dan diperkirakan akan melepas 24 satelit Starlink (Group 17-5) sekitar 50 menit kemudian.

    Space melaporkan dengan tambahan 24 satelit terbaru, kini jumlah satelit aktif di konstelasi Starlink telah mencapai lebih dari 8.100 unit, memperluas cakupan internet global SpaceX. Sejak 2018, total satelit Starlink yang telah diluncurkan mencapai lebih dari 9.400 unit.

    Sebelumnya, Starlink juga berencana mengeluarkan produk “komunitas” baru yang memungkinkan banyak pelanggan berbagi akses ke layanan melalui terminal tunggal berbentuk piringan dengan harga sewa yang lebih murah. 

    Produk tersebut diberi nama Starlink Community, mereka telah mengunggah detail produk tersebut pada halaman dukungan. Website untuk program Starlink Community juga sudah dibuat, walaupun tampak belum berfungsi sepenuhnya untuk saat ini. 

    Disebutkan juga dalam laman tersebut, bahwa harga yang dipatok untuk paket Starlink Community adalah sebesar US$60 atau sekitar Rp970.000 per bulan, lebih murah dari paket Residential Lite seharga US$80 atau sekitar Rp1,29 juta per bulan (kurs: Rp16.233).

    Gagasan layanan internet komunitas terdistribusi sebenarnya bukan hal baru dalam bidang penyediaan internet satelit. OneWeb sudah melakukan hal serupa, dan pada Mei lalu, Starlink juga menyarankan pada pengecer dan pemasang layanannya agar pemilik sistem utama dapat memperoleh komisi untuk setiap pelanggan.

    Dilansir ISPreview (15/8/2025), saat ini, belum diketahui secara pasti jenis antena parabola apa yang akan dikirimkan Starlink untuk keperluan tersebut.

    Belum diketahui juga apakah host sistem utama nantinya akan dilengkapi router yang lebih canggih untuk membantu pendistribusian sinyal Wi-Fi ke area yang lebih luas. 

    Kapasitas yang akan dikelola pun juga belum disebutkan, tetapi hal yang pasti adalah setiap pelanggan tetap membutuhkan router mereka sendiri untuk dapat terhubung ke Starlink Community.

  • Kedaulatan Digital, Kunci Masa Depan Penerimaan Pajak

    Kedaulatan Digital, Kunci Masa Depan Penerimaan Pajak

    Bisnis.com, JAKARTA – Dalam laporan E-Conomy SEA 2024 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada 2024 mencapai US$90 miliar, naik 13% dibandingkan dengan 2023 senilai US$80 miliar. Pencapaian tersebut sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan Gross Merchandise Value (GMV) tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

    Angka tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara, bahkan melampaui Thailand (US$33 miliar), Malaysia (US$23 miliar), atau Vietnam (US$16 miliar). Capaian tersebut sering dianggap sebagai bukti kebangkitan ekonomi digital kita.

    Namun, di balik optimisme itu tersimpan pertanyaan penting mengenai sejauh mana negara mampu memastikan lonjakan transaksi digital benar-benar memberikan pengaruh positif terhadap penerimaan pajak? Sebab, tanpa kendali dan kedaulatan atas data transaksi, pertumbuhan yang mengesankan itu berisiko hanya berakhir menjadi angka-angka di atas kertas, sementara potensi penerimaan negara malah terabaikan.

    RISIKO KEBOCORAN

    Seluruh sistem perpajakan pada dasarnya berangkat dari data. Di era ekonomi konvensional, data transaksi relatif mudah diperoleh karena mayoritas kegiatan ekonomi terjadi dalam wilayah negara dan tercatat melalui sistem perbankan atau laporan keuangan perusahaan domestik. Dengan kata lain, otoritas pajak memiliki akses langsung terhadap informasi yang menjadi basis pengenaan pajak.

    Namun, logika itu mulai bergeser ketika ekonomi merambah ke ranah digital. Transaksi tidak lagi dibatasi oleh batas geografis, melainkan berlangsung lintas negara, lintas sistem pembayaran, bahkan lintas yurisdiksi hukum. Pergeseran ini membuka ruang bagi sejumlah perusahaan digital raksasa seperti Google, Meta, atau Amazon untuk meraup keuntungan besar di Indonesia yang notabene tidak memerlukan kehadiran secara fisik. Layanan iklan digital, langganan aplikasi, atau transaksi e-commerce kerap hanya tercatat dalam server yang berlokasi di luar negeri. Akibatnya, data yang seharusnya menjadi basis pemajakan justru berada di luar jangkauan otoritas pajak.

    Jika data transaksi ekonomi digital tidak sepenuhnya terkendali, maka proses pemungutan pajak ibarat membidik sasaran dalam kabut. Negara hanya bisa mengandalkan laporan sepihak dari perusahaan asing, yang biasanya menuntut insentif sebagai daya tawar untuk meminimalkan beban pajaknya. Di sinilah kedaulatan digital menjadi krusial.

    Ketika negara tidak memiliki kendali penuh atas data transaksi digital, potensi profit shifting atau pengalihan keuntungan ke yurisdiksi dengan tarif pajak yang rendah menjadi keniscayaan. Dalam praktiknya, perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dapat memanfaatkan celah regulasi dan keterbatasan akses negara terhadap data ekonomi digital untuk melakukan praktik base erosion and profit shifting (BEPS).

    Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 1,8% (Rp25,4 triliun) dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia (Rp1.420 triliun) yang berhasil dikonversi menjadi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). Padahal secara matematis potensi penerimaan bisa sekitar Rp156 triliun. Ini bukti bahwa negara belum mampu memaksimalkan potensi fiskal dari transaksi digital.

    Selanjutnya, potensi ketidakadilan fiskal makin nyata. UMKM lokal yang berjualan di platform digital diwajibkan melaporkan dan membayar pajak sesuai aturan, sementara raksasa teknologi global bisa saja menghindar melalui rekayasa struktur bisnis. Kondisi tersebut tentunya memunculkan ironi ketimpangan, karena mayoritas pelaku usaha kecil harus tunduk pada aturan, sementara kelompok kapitalis besar leluasa mencari celah.

    Terakhir, jika semua data transaksi ekonomi hanya tersimpan di server asing, maka pemerintah kehilangan instrumen penting untuk merumuskan kebijakan fiskal yang efektif. Penerimaan negara menjadi rapuh, bergantung pada “kemauan baik” perusahaan global dalam melaporkan pendapatannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya, negara bisa saja tumbuh menjadi pasar digital terbesar di kawasan, tetapi tetap miskin dalam hal penerimaan pajak.

    Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sejumlah kebijakan telah diluncurkan untuk menambal celah penerimaan, salah satunya adalah penerapan PPN atas PMSE. Sejak berlaku pada 2020, beberapa perusahaan global seperti Netflix, Google, dan Spotify telah terdaftar sebagai pemungut PPN, sehingga transaksi digital masyarakat Indonesia turut menyumbang penerimaan negara.

    Selain itu, Indonesia juga terlibat aktif dalam kerja sama internasional di bawah payung OECD/G20. Melalui skema Inclusive Framework on Base Erosion and Profit Shifting, negara-negara bersepakat untuk membatasi praktik penghindaran pajak oleh perusahaan multinasional. Salah satu terobosan pentingnya adalah kesepakatan pajak minimum global 15% dan pembagian hak pemajakan bagi negara pasar, termasuk Indonesia.

    Namun, upaya pemerintah dalam memajaki ekonomi digital masih menghadapi tantangan besar. Penerapan PPN PMSE misalnya, baru mencakup sebagian transaksi dan belum mampu menjangkau keseluruhan ekosistem digital. Di sisi lain, rencana implementasi pajak global juga membutuhkan konsensus internasional yang rumit dan proses panjang sebelum benar-benar bisa dijalankan secara efektif.

    Situasi ini makin diperumit oleh dominasi perusahaan digital multinasional yang memiliki sumber daya hukum dan finansial jauh lebih besar dibandingkan otoritas pajak negara berkembang, sehingga mereka relatif lebih mudah mencari celah untuk menghindari kewajiban pajak.

    Masa depan penerimaan negara di era digital sangat ditentukan oleh sejauh mana Indonesia mampu mengukuhkan kedaulatan digitalnya. Ada beberapa langkah strategis yang bisa dipertimbangkan.

    Pertama, Indonesia perlu memperkuat regulasi atas data transaksi digital. Negara harus memiliki kewenangan untuk mengakses data transaksi yang terjadi di wilayah yurisdiksinya, terlepas di mana entitas perusahaan berada. Kewajiban berbagi data dengan otoritas pajak harus menjadi syarat bagi setiap platform yang beroperasi di Indonesia. Kedua, membangun infrastruktur digital nasional yang kuat. Langkah ini meliputi pengintegrasian sistem pembayaran lokal dengan platform e-commerce internasional, sehingga setiap transaksi yang dilakukan masyarakat dapat tercatat secara transparan dan tidak luput dari pengawasan. Investasi pada teknologi big data dan kecerdasan buatan juga diperlukan agar DJP mampu mengolah data dalam skala besar secara cepat dan akurat.

    Ketiga, Indonesia harus aktif mendorong implementasi pajak minimum global dan memastikan hak pemajakan negara pasar tidak diabaikan. Tanpa sikap tegas, potensi penerimaan dari perusahaan multinasional akan terus menguap. Keempat, pemerintah harus mendorong literasi pajak digital di masyarakat. Pemahaman bahwa setiap transaksi digital membawa konsekuensi fiskal perlu terus disosialisasikan. Pajak di era digital bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud partisipasi warga negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi bangsa.

    Jika negara gagal menguasai data transaksi ekonomi digital, maka masa depan penerimaan pajak akan rapuh. Sebaliknya, jika Indonesia mampu mengelola data dengan baik, membangun infrastruktur digital yang mumpuni, dan menegosiasikan hak fiskalnya di level global, maka peluang untuk meningkatkan penerimaan negara terbuka lebar.

    Era digital sering disebut sebagai “new oil”, di mana saat ini data menjadi sumber daya paling berharga. Namun, data saja tidak cukup, negara juga harus memiliki kilang untuk mengolahnya. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi penyedia “ladang minyak” sementara nilai tambahnya diangkut keluar negeri. Pertanyaannya, apakah kita ingin terus menjadi pasar digital yang besar tetapi gagal memaksimalkan nilai tambah?