Bisnis.com, JAKARTA — Sepanjang 2025, pasar smartphone Indonesia diramaikan oleh gelombang perangkat premium dari berbagai produsen global. Persaingan kian ketat seiring vendor tidak lagi hanya mengandalkan spesifikasi teknis, melainkan juga diferensiasi pengalaman pengguna, desain, serta penguatan ekosistem perangkat.
Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai benang merah yang menyatukan strategi para vendor sepanjang tahun. Ketika adopsi jaringan 5G masih belum merata dan belum sepenuhnya menjadi kebutuhan utama konsumen, AI justru tampil sebagai fitur yang paling agresif dikembangkan dan dipromosikan untuk memberikan nilai tambah yang lebih nyata.
Dalam kaleidoskop gadget 2025, terdapat empat catatan utama yang mewarnai perjalanan pasar smartphone nasional yang dirangkum Bisnis.
Deretan Flagship Premium Meramaikan Pasar
Tahun 2025 menjadi panggung utama bagi vendor global untuk memamerkan teknologi terbaiknya di segmen flagship. Samsung membuka awal tahun dengan merilis Galaxy S25 Series pada Januari 2025.
Seri ini hadir dengan Snapdragon 8 Elite for Galaxy yang dikustomisasi, memungkinkan pemrosesan AI lebih banyak dilakukan langsung di perangkat. Samsung menekankan penguatan Galaxy AI, performa gaming berbasis ray tracing, serta peningkatan signifikan di sektor kamera, termasuk sensor ultrawide 50 MP. Di Indonesia, Galaxy S25 Series dipasarkan mulai di kisaran Rp15 juta.
Xiaomi menyusul pada Maret 2025 dengan menghadirkan Xiaomi 15 Series. Produsen asal China tersebut membawa pendekatan desain yang lebih solid dengan bingkai aluminium melengkung mikro dan layar berbezel sangat tipis.
Kolaborasi dengan Leica tetap menjadi fondasi utama, dengan sistem kamera tiga lensa 50 MP yang dirancang untuk fleksibilitas fotografi dan videografi profesional. Xiaomi juga menekankan optimalisasi performa melalui Snapdragon 8 Elite, baterai berkapasitas besar dengan pengisian cepat, serta fitur AI fotografi yang dirancang untuk menangkap momen cahaya alami secara lebih presisi. Xiaomi 15 dipasarkan mulai kisaran Rp11,9 juta, sedangkan Xiaomi 15 Ultra yang mengusung sensor kamera 1 inci dan kemampuan zoom ekstrem menembus harga hampir Rp20 juta.
Realme turut meramaikan segmen flagship dengan meluncurkan realme GT 7 Series sebagai “flagship killer” pada pertengahan 2025. Mengandalkan chipset MediaTek kelas atas, sistem pendingin berbasis graphene, baterai jumbo 7.000 mAh, serta pengisian super cepat, realme menargetkan pengguna yang menginginkan performa tinggi tanpa harga flagship konvensional. Kehadiran realme GT 7 Dream Edition hasil kolaborasi dengan Aston Martin Formula One™ Team juga menjadi penegasan strategi realme dalam membangun citra premium melalui edisi terbatas.
Apple memperkenalkan iPhone 17 Series secara global pada September 2025 dan membuka pre-order di Indonesia pada Oktober. Empat model iPhone 17, 17 Air, 17 Pro, dan 17 Pro Max mengusung chip A19 dan A19 Pro, peningkatan kamera berbasis komputasi AI, serta optimalisasi pemrosesan langsung di perangkat. Seri Pro tetap menjadi andalan Apple di segmen premium dengan dukungan perekaman video resolusi tinggi dan konektivitas USB-C berkecepatan lebih tinggi.
Huawei juga memperkuat eksistensinya lewat peluncuran Pura 80 Series pada September 2025. Fokus utama diarahkan pada inovasi kamera, termasuk sensor 1 inci, teknologi Ultra Chroma, serta sistem lensa telefoto ganda yang dapat berpindah focal length. Huawei memosisikan Pura 80 Pro dan Ultra sebagai perangkat imaging-centric yang menyasar pengguna profesional dan kreator.
Merek Lama Kembali Bangkit
Selain deretan flagship baru, 2025 juga ditandai dengan kembalinya sejumlah merek yang sempat absen dari pasar Indonesia. Motorola resmi kembali setelah hengkang sejak 2017, membawa lini Moto G dan Moto Edge dengan strategi Android murni dan harga kompetitif di segmen menengah.
Nubia, sub-merek ZTE, kembali menguatkan eksistensi di ceruk gaming smartphone dengan desain agresif dan sistem pendingin canggih. Sementara itu, Honor menandai comeback besar pada awal 2025 dengan membawa beragam perangkat, mulai dari ponsel lipat Honor Magic V3, seri Honor X dan Honor 200, hingga tablet, laptop, dan wearable.
Pada paruh kedua tahun, Honor kembali memperluas portofolionya melalui peluncuran lini tablet Honor Pad yang menyasar segmen entry-level hingga premium. Strategi ini memperlihatkan upaya Honor membangun ekosistem perangkat yang lebih luas, dengan AI sebagai benang merah di seluruh lini produknya.
Adopsi Smartphone 5G Masih Lambat
Di tengah agresivitas peluncuran perangkat, adopsi smartphone 5G di Indonesia masih menunjukkan stagnasi. Data Counterpoint Research mencatat, pada kuartal III/2025, perangkat 5G hanya menyumbang sekitar 35% dari total pengapalan tidak berubah dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tahunan pun terbatas, hanya naik tipis sekitar 4%.
Meski pasar smartphone nasional secara keseluruhan tumbuh dua digit, pertumbuhan justru ditopang oleh segmen entry-level. Pengapalan ponsel di bawah US$150 melonjak signifikan dan mendominasi lebih dari separuh pasar. Sebaliknya, segmen menengah hingga premium mengalami koreksi.
Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai stagnasi 5G bukan disebabkan oleh keterbatasan perangkat, melainkan kualitas dan pemerataan jaringan. Menurutnya, cakupan 5G yang belum konsisten membuat fitur tersebut belum memberikan nilai tambah nyata bagi konsumen. Dalam keseharian, aplikasi populer masih berjalan lancar di jaringan 4G, sehingga konsumen lebih memprioritaskan harga, daya tahan baterai, dan durabilitas perangkat.
Pandangan tersebut sejalan dengan temuan GfK yang menunjukkan konsumen semakin rasional dan berorientasi pada manfaat nyata dibanding spesifikasi futuristik.
Fitur AI Jadi Senjata Utama
Jika 5G belum menjadi magnet utama, kecerdasan buatan justru menjelma sebagai senjata paling agresif sepanjang 2025. Hampir seluruh vendor menjadikan AI sebagai diferensiasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Samsung memperluas Galaxy AI untuk fotografi, penerjemahan real-time, hingga produktivitas. Apple meningkatkan pemrosesan AI on-device untuk personalisasi sistem dan pengolahan gambar. Xiaomi, Honor, dan Huawei memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan kamera, efisiensi baterai, hingga performa keseluruhan perangkat.