Category: Bisnis.com Tekno

  • Penjahat Dunia Maya Suap Mantan Karyawan Kripto Coinbase Demi Dapat Data Pengguna

    Penjahat Dunia Maya Suap Mantan Karyawan Kripto Coinbase Demi Dapat Data Pengguna

    Bisnis.com, JAKARTA — Beberapa pegawai layanan pelanggan perusahaan jual beli mata uang kripto Coinbase diduga menerima suap dari penjahat siber. Mereka memberikan data pribadi pelanggan dengan total 70.000 data pelanggan bocor.

    CEO Coinbase Brian Armstrong mengatakan polisi Hyderabad telah menangkap mantan agen layanan pelanggan Coinbase. Penangkapan ini bukan yang terakhir, perusahaan akan terus mengejar pelaku lainnya sampai mereka menerima hukuman.

    “Satu lagi berhasil dikalahkan, dan masih akan ada lagi,” kata Armstrong mengutip The Register, Selasa (30/12/2025).

    Walaupun data yang bocor cukup banyak, seperti nama, alamat, nomor telepon, email, hingga data identitas, namun akses penting seperti kata sandi, kode keamanan (2FA), dan dompet kripto tidak ikut bocor.

    Namun demikian, perlu diwaspadai karena penjahat memanfaatkan data tersebut untuk menipu pelanggan, dengan cara menyamar sebagai pegawai Coinbase, lalu membujuk korban agar menyerahkan kripto mereka. Selain itu, para penjahat juga memeras Coinbase dan meminta uang tebusan senilai US$20 juta atau Rp334 miliar.

    Coinbase menolak membayar tebusan tersebut. sebagai gantinya, mereka menyediakan US$20 juga atau Rp334 miliar bagi siapapun yang membantu menangkap para pelaku kejahatan tersebut.

    Kasus ini memicu kritik dari publik, terutama karena Coinbase mengalihdayakan layanan pelanggan ke luar negeri, yang dianggap membuka celah terjadinya suap dan kebocoran data. Coinbase sendiri memang sudah sering dikritik sebelumnya karena layanan pelanggan yang dinilai buruk.

    Selain itu, Coinbase bekerja sama dengan kejaksaan Distrik Brooklyn untuk membantu penyelidikan dan proses hukum terhadap seorang pria asal Brooklyn. Pria bernama Ronald Spektor (23) dituduh menyamar sebagai petugas layanan pelanggan Coinbase.

    Dengan cara itu Spektor berhasil menipu sekitar 100 pengguna dengan modus mengatakan akun mereka terancam diretas. Korban dibujuk untuk menyerahkan aset kripto mereka kemudian aset tersebut akan dipindahkan ke dompet kripto milik Spektor.

    Total kerugian mencapai US$16 juta atau Rp267 miliar. Saat ini penegak hukum berhasil menyita US$600 ribu atau sekitar Rp10 miliar dari hasil kejahatan tersebut.

    Coinbase menegaskan bahwa kasus Spektor ini tidak ada kaitannya dengan kasus lain yang melibatkan pegawai layanan pelanggan Coinbase di luar negeri yang menerima suap dan membocorkan data pelanggan, meskipun modusnya sama-sama mengaku sebagai petugas Coinbase. (Nur Amalina)

  • 5G, AI, Internet Rumah, dan Pengalaman Pelanggan

    5G, AI, Internet Rumah, dan Pengalaman Pelanggan

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mengungkapkan arah bisnis perusahaan pada tahun depan dengan menegaskan fokus pada tiga prioritas strategis utama.

    VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi mengatakan Telkomsel akan melanjutkan kepemimpinan industrinya dengan berfokus pada tiga prioritas strategis, yakni connectivity, digital ecosystem, dan customer experience pada 2026.

    Fahmi menjelaskan, dari sisi connectivity, Telkomsel akan memperkuat jaringan broadband yang andal dan berkualitas melalui pengembangan autonomous network, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan Fixed Mobile Convergence (FMC).

    “Fokus kami tidak hanya pada perluasan cakupan, tetapi memastikan konektivitas yang tangguh dan konsisten bagi individu, rumah, dan bisnis di seluruh Indonesia, termasuk melalui pengembangan ekosistem 5G,” kata Fahmi kepada Bisnis pada Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, pada pilar digital ecosystem, Telkomsel akan mengembangkan bisnis digital yang scalable dan profitable melalui strategi beyond connectivity, solusi Business to Business to Consumer (B2B2C) dan enterprise, serta kolaborasi dalam ekosistem digital yang saling terhubung. 

    Adapun pada aspek customer experience, Fahmi mengatakan Telkomsel menjadikan pengalaman pelanggan sebagai fondasi utama, dengan menghadirkan personalisasi berbasis AI serta perjalanan pelanggan (customer journey) yang lebih sederhana, relevan, dan bernilai di setiap interaksi.

    “Arah ini sejalan dengan komitmen Telkomsel untuk mendukung transformasi digital nasional dan menciptakan ekosistem telekomunikasi yang sehat,” kata Fahmi.

    Dari sisi pengembangan jaringan 5G, Fahmi menyampaikan Telkomsel akan melanjutkan ekspansi secara bertahap dan terukur. 

    Fokus pengembangan diarahkan ke wilayah perkotaan, kawasan industri, serta area dengan potensi adopsi teknologi yang tinggi.

    Dia menambahkan, target penambahan base transceiver station (BTS) akan disesuaikan dengan roadmap jaringan, kesiapan ekosistem perangkat, serta kebutuhan pasar agar investasi tetap optimal dan berkelanjutan. 

    Hingga akhir November 2025, Telkomsel telah mengoperasikan 5.000 BTS 5G di berbagai kota utama di Indonesia.

    “Jaringan 5G Telkomsel menghadirkan kecepatan tinggi, latensi rendah, dan kapasitas yang lebih besar, dengan cakupan yang terus diperluas untuk mendukung kebutuhan pelanggan consumer maupun enterprise, serta membuka peluang use case baru di berbagai sektor industri,” kata Fahmi.

    Pada 2026, Telkomsel juga akan memperkuat penetrasi pasar melalui inovasi di segmen consumer dan enterprise. 

    Di segmen B2C, Telkomsel mendorong ekosistem digital yang semakin seamless melalui MyTelkomsel, layanan digital lifestyle, serta penguatan proposisi SIMPATI, by.U, dan Halo sesuai karakter masing-masing segmen untuk mendukung inklusi digital dan produktivitas masyarakat.

    Sementara itu, di segmen B2B dan enterprise, fokus diarahkan pada pengembangan solusi berbasis cloud, IoT, AI, serta layanan konvergensi untuk mendukung transformasi digital bernilai tambah dan mengakselerasi kemajuan di berbagai lini industri.

    Terakhir, Telkomsel berharap kebijakan pemerintah dapat terus mendukung ketersediaan spektrum yang memadai bagi pengembangan 5G. Selain itu, perusahaan juga mengharapkan regulasi dan insentif yang mendorong efisiensi infrastruktur, termasuk skema berbagi jaringan, serta terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat dan berkelanjutan.

    “Dukungan kebijakan yang konsisten akan memperkuat investasi jangka panjang, mendorong inovasi, serta mempercepat transformasi digital nasional demi manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas,” ungkap Fahmi.

  • Meta Mark Zuckerberg Akuisisi Startup AI Singapura Manus Rp32 Triliun

    Meta Mark Zuckerberg Akuisisi Startup AI Singapura Manus Rp32 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA— Meta Platforms Inc. resmi mengakuisisi Manus, sebuah startup kecerdasan buatan (AI) berbasis di Singapura. 

    Mengutip laporan Techcrunch, Selasa (30/12/2025), Meta sepakat membayar US$2 miliar atau sekitar Rp32 triliun, sejalan dengan valuasi yang dibidik Manus untuk putaran pendanaan berikutnya. 

    Bagi CEO Meta Mark Zuckerberg, akuisisi ini dinilai strategis. Di tengah kekhawatiran investor terhadap belanja infrastruktur AI Meta yang mencapai US$60 miliar atau sekitar Rp960 triliun, Manus dipandang sebagai contoh produk AI yang sudah menghasilkan pendapatan nyata.

    Meta menyatakan Manus akan tetap beroperasi secara independen. Namun, teknologi agen AI-nya akan diintegrasikan ke dalam ekosistem Meta, termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, yang saat ini telah dilengkapi layanan Meta AI.

    Di balik kesepakatan tersebut, terdapat satu isu sensitif. Manus didirikan oleh pendiri asal China yang sebelumnya membangun perusahaan induk Butterfly Effect di Beijing pada 2022, sebelum memindahkan basis operasional ke Singapura pada pertengahan tahun ini.

    Fakta ini sempat memicu perhatian politik di Amerika Serikat. Senator John Cornyn, anggota senior Komite Intelijen Senat AS, sebelumnya mengkritik investasi Benchmark di Manus. Ia mempertanyakan keputusan investor AS yang dinilai berpotensi memperkuat kemampuan AI China, yang dianggap sebagai pesaing strategis AS. 

    Menanggapi hal tersebut, Meta menegaskan setelah proses akuisisi rampung, Manus tidak lagi memiliki keterkaitan dengan investor China dan akan menghentikan seluruh operasi serta layanannya di China.

    “Tidak akan ada kepemilikan China yang berlanjut di Manus AI setelah transaksi ini, dan Manus AI akan menghentikan layanan serta operasinya di China,” ujar juru bicara Meta kepada Nikkei Asia.

    Adapun, Manus mencuri perhatian sejak kemunculannya awal tahun ini lewat video demonstrasi yang viral. 

    Dalam tayangan tersebut, Manus menampilkan agen AI yang mampu melakukan berbagai tugas kompleks, mulai dari menyaring kandidat kerja, merencanakan perjalanan wisata, hingga menganalisis portofolio saham. 

    Perusahaan itu bahkan mengklaim performanya melampaui fitur Deep Research milik OpenAI.

    Tak lama setelah peluncuran, tepatnya pada April 2025, Manus berhasil mengamankan pendanaan tahap awal senilai US$75 juta atau sekitar Rp1,2 triliun, yang dipimpin oleh Benchmark. Pendanaan tersebut menempatkan valuasi Manus pada level US$500 juta atau sekitar Rp8 triliun (post-money). Sejumlah investor ternama turut masuk, termasuk Tencent, ZhenFund, dan HSG (sebelumnya Sequoia China).

    Meski sempat menuai kritik setelah menetapkan tarif berlangganan US$39 hingga US$199 per bulan sekitar Rp624.000 hingga Rp3,18 juta saat produknya masih dalam tahap pengujian, Manus belakangan mencatat kinerja impresif. Perusahaan mengklaim telah menggaet jutaan pengguna dan membukukan pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue/ARR) lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.

  • Ancaman Orang Dalam hingga AI

    Ancaman Orang Dalam hingga AI

    Bisnis.com, JAKARTA — Lanskap ancaman siber Indonesia disebut akan semakin kompleks dan tidak lagi semata bertumpu pada aspek teknologi. Tantangan disinyalir datang dari faktor manusia, tata kelola, regulasi, hingga pola kolaborasi lintas sektor yang selama ini belum sepenuhnya solid.

    Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan salah satu isu krusial yang diprediksi mengemuka adalah meningkatnya ancaman dari dalam organisasi atau insider threat. 

    Ancaman ini kerap luput dari perhatian karena pelaku memiliki akses legal terhadap sistem dan data sensitif. 

    “Faktor humanis seperti kelalaian, ketidaktahuan, tekanan ekonomi, hingga motif spionase menjadi pemicu utama terjadinya insiden siber yang merugikan,” ujarnya, dikutip Bisnis, Senin (29/12/2025).

    Ardi menyebut, data global menunjukkan bahwa insiden siber yang melibatkan pihak internal sering kali berdampak lebih besar dibandingkan serangan eksternal, karena mereka memiliki akses pada data sensitif dan sistem inti. Di Indonesia, risiko tersebut diperparah oleh belum meratanya kesadaran keamanan siber di tingkat sumber daya manusia. 

    Banyak organisasi masih menitikberatkan investasi pada infrastruktur teknologi tanpa diimbangi pembentukan budaya keamanan digital. Padahal, penguatan literasi siber, pelatihan berkelanjutan, serta sistem deteksi dini perilaku mencurigakan menjadi fondasi utama dalam menekan risiko dari dalam.

    Selain aspek SDM, Ardi menyoroti peran cyber insurance atau asuransi siber yang diperkirakan kian relevan seiring maraknya kasus ransomware, kebocoran data, dan potensi tuntutan hukum. 

    Kerugian akibat serangan siber tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga merusak reputasi dan kepercayaan pelanggan.

    Kendati demikian, pengembangan asuransi siber di Tanah Air masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari pemahaman risiko yang terbatas, penyesuaian produk dengan regulasi domestik, hingga mekanisme klaim yang belum sederhana. 

    Edukasi kepada pelaku usaha dan penguatan regulasi dinilai penting agar cyber insurance benar-benar menjadi instrumen mitigasi risiko yang efektif.

    Selain itu, pemerintah menurutnya perlu memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap industri asuransi siber, agar perlindungan yang diberikan optimal dan dapat dipercaya. 

    Transparansi dalam proses klaim, serta kolaborasi antara perusahaan asuransi dan regulator, katanya menjadi kunci agar cyber insurance dapat menjadi solusi yang efektif dalam menghadapi ancaman siber pada masa depan.

    Sementara itu, ICSF menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ketahanan siber nasional yang tangguh dan adaptif. 

    Regulasi yang responsif, sistem pelaporan insiden yang transparan, serta kemampuan respons cepat terhadap serangan menjadi pondasi utama dalam menghadapi ancaman yang bersifat lintas batas. 

    Indonesia menurutnya perlu mempercepat pembentukan kerangka kerja yang jelas, termasuk Unified Cyber Command yang mampu merespon ancaman secara terintegrasi dan profesional.

    Indonesia juga didorong untuk aktif dalam kerja sama regional dan global melalui diplomasi siber. Ancaman siber bersifat lintas negara dan kerap melibatkan jaringan internasional, sehingga pertukaran informasi dan strategi mitigasi menjadi kebutuhan mendesak.

    Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang sekaligus risiko baru. AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem deteksi dan respons insiden, tetapi di saat bersamaan juga berpotensi digunakan pelaku kejahatan siber untuk melakukan social engineering dan serangan yang lebih canggih. 

    “Tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik di mana teknologi AI tidak hanya digunakan untuk pertahanan, tetapi juga pelaku kejahatan siber,” tegas Ardi.

    Oleh saebab itu, Ardi menekankan pentingnya investasi pada talenta digital yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memahami etika dan perlindungan data. Pemerintah, dunia pendidikan, dan industri perlu bersinergi menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola risiko teknologi secara bertanggung jawab.

    Tak kalah penting, peningkatan literasi siber masyarakat luas menjadi garda terdepan dalam memperkuat ketahanan nasional. Edukasi mengenai perlindungan data pribadi, pengenalan hoaks, dan kesadaran privasi digital perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku UMKM dan aparatur daerah.

    “Masa depan keamanan dan ketahanan siber Indonesia bergantung  pada sinergi antara teknologi, manusia, dan kebijakan berelanjutan,” tegas Ardi.

  • Gadget Sebabkan Obesitas hingga Depresi pada Anak di Bawah 13 Tahun

    Gadget Sebabkan Obesitas hingga Depresi pada Anak di Bawah 13 Tahun

    Bisnis.com, JAKARTA — Studi terbaru mengungkapkan bahaya pemberian gadget pada anak sebelum usia 13 tahun. Dampaknya tidak main-main, mulai dari kualitas tidur yang buruk, obesitas, hingga depresi.

    Temuan ini memicu kekhawatiran global mengenai dampak teknologi dan media sosial terhadap anak-anak. Australia menjadi negara pertama yang menerapkan larangan akses media sosial, termasuk beberapa platform seperti TikTok dan Instagram, bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini telah diterapkan pada awal bulan ini.

    Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, American Academy of Pediatrics (AAP) pada awal bulan ini melakukan penelitian yang menguji dampak kesehatan penggunaan gadget pada anak-anak di masa transisi antara kanak-kanak dan remaja.

    Profesor psikiatri sekaligus psikiater anak dan remaja di Rumah Sakit Anak Philadelphia, yang juga pimpinan studi AAP, Ran Barzilay, menganalisis data lebih dari 10.500 anak di 21 lokasi di Amerika Serikat (AS).

    Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima ponsel pada usia 12 tahun memiliki risiko gangguan tidur lebih dari 60 persen lebih tinggi. 

    Mereka juga berisiko mengalami obesitas lebih dari 40 persen dibandingkan dengan anak yang baru menerima ponsel pada usia 13 tahun.

    “Pada usia 13 tahun, di antara 3.486 remaja yang tidak memiliki ponsel pintar pada usia 12 tahun, mereka yang memperoleh ponsel pintar dalam setahun terakhir memiliki kemungkinan lebih besar melaporkan psikopatologi tingkat klinis dan kurang tidur dibandingkan mereka yang belum memilikinya, setelah mengontrol kondisi kesehatan mental dan tidur pada awal penelitian,” ujar Barzilay, dikutip dari The Independent, Selasa (30/12/2025).

    Para peneliti menyimpulkan bahwa kepemilikan gadget pada remaja berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan mental dan fisik, seperti depresi, obesitas, dan kurang tidur.

    Karena dampaknya dinilai serius, para peneliti merekomendasikan pengembangan kebijakan publik untuk melindungi anak dan remaja dari dampak negatif teknologi digital.

    Respons dari Berbagai Negara

    Sejumlah negara telah menindaklanjuti temuan ini dengan kebijakan pembatasan. Australia menjadi pelopor kebijakan nasional yang membatasi akses media sosial bagi anak-anak dengan mewajibkan perusahaan teknologi memblokir akses pada usia tertentu.

    Langkah serupa juga sedang dipertimbangkan oleh Malaysia dan beberapa negara lainnya.

    Di Amerika Serikat, sejumlah negara bagian telah mengesahkan undang-undang yang membatasi akses anak ke media sosial, termasuk kewajiban persetujuan orang tua untuk akun remaja yang lebih muda. (Nur Amalina)

  • 5 Kasus Kegagalan Misi Roket dan Wahana Antariksa 2025, SpaceX hingga Roket H3

    5 Kasus Kegagalan Misi Roket dan Wahana Antariksa 2025, SpaceX hingga Roket H3

    Bisnis.com, JAKARTA — Industri antariksa mencatatkan serangkaian insiden kegagalan misi yang krusial sepanjang 2025. Berbagai peristiwa naas ini melibatkan perusahaan startup yang baru mencoba mencetak sejarah hingga lembaga antariksa terkenal.

    Mulai dari kegagalan peluncuran orbital perdana di Amerika Selatan dan Australia hingga pendaratan yang tidak sempurna di permukaan Bulan. Kejadian-kejadian ini kembali menegaskan besarnya risiko dalam sektor eksplorasi luar angkasa.

    Insiden tersebut bervariasi dari masalah propulsi pada tahap kedua roket hingga ketidakstabilan struktural saat pendaratan. Data yang dihimpun dari berbagai laporan peluncuran sepanjang tahun menunjukkan bahwa lima peristiwa ini menjadi sorotan publik internasional.

    Berikut adalah 5 kegagalan misi antariksa yang terjadi selama tahun 2025.

    1. Kegagalan Debut Orbital Innospace (Korea Selatan)

    Startup asal Korea Selatan, Innospace, gagal dalam upayanya untuk mencetak sejarah pada Senin 22 Desember 2025. Perusahaan tersebut meluncurkan roket Hanbit-Nano dari Pusat Antariksa Alcantara di Brasil pada pukul pukul 22.13 waktu setempat Brasil. Misi ini sangat dinantikan karena merupakan upaya peluncuran orbital pertama yang pernah dilakukan oleh perusahaan swasta asal Korea Selatan.

    Sayangnya, sebagaimana yang sering terjadi pada peluncuran perdana, misi tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Roket setinggi 17,3 meter tersebut jatuh kembali ke Bumi hanya sekitar satu menit setelah lepas landas.

    2. Kegagalan Misi Satelit Navigasi Roket H3 (Jepang)

    Misi ketujuh dari roket andalan Jepang, H3, mengalami kegagalan teknis yang fatal saat membawa muatan penting. Roket H3 diluncurkan dari Tanegashima Space Center pada hari Minggu, 21 Desember 2025, pukul 10.51 waktu setempat Jepang. Roket ini membawa satelit navigasi yang dikenal sebagai Michibiki 5, atau QZS-5, menuju orbit. Ini tercatat sebagai kegagalan kedua dari tujuh peluncuran yang telah dilakukan oleh roket H3.

    Penyebab kegagalan terletak pada tahap kedua roket. Pejabat dari Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) menyatakan dalam sebuah pernyataan resmi bahwa penyalaan kedua mesin tahap kedua gagal dimulai secara normal dan mati sebelum waktunya. Akibat malfungsi ini, satelit QZS-5 tidak dapat ditempatkan ke orbit yang direncanakan, dan misi tersebut dinyatakan gagal total.

    3. Kegagalan Peluncuran Perdana Gilmour Space (Australia)

    Perusahaan asal Australia, Gilmour Space, meluncurkan roket Eris dari Bowen Orbital Spaceport di pesisir Queensland pada 29 Juli 2025. Peluncuran ini dimaksudkan untuk menjadi momen bersejarah sebagai upaya peluncuran orbital pertama untuk roket buatan dalam negeri Australia. Namun, penerbangan tersebut berakhir sangat singkat dan tidak mencapai ketinggian yang diharapkan.

    Meskipun Eris berhasil melakukan debutnya di landasan peluncuran, roket tersebut tidak terbang jauh atau lama. Laporan menunjukkan bahwa roket tersebut tergelincir ke samping dari landasan dan jatuh kembali ke tanah (terra firma) hanya 14 detik setelah lepas landas.

    4. Pendarat Robotik Athena Tumbang di Bulan (Amerika Serikat)

    Pada 6 Maret 2025, Athena, sebuah pendarat robotik yang dibangun oleh perusahaan Intuitive Machines yang berbasis di Houston, berhasil mendarat di Bulan membawa sejumlah muatan sains NASA. Namun, kesuksesan pendaratan tersebut sangatlah cepat karena Athena segera terguling.

    Posisi telungkup wahana tersebut mencegah beberapa muatan untuk digelar dengan benar, dan yang lebih kritis, pendarat tersebut tidak dapat mengumpulkan sinar matahari yang cukup untuk mengisi ulang baterainya. Intuitive Machines menyatakan Athena mati sehari kemudian.

    Sebelumnya, perusahaan ini membuat sejarah pada Februari 2024 dengan pendaratan wahana antariksa Odysseus, namun Odysseus juga terguling setelah kakinya patah saat menyentuh tanah, yang menyebabkan misinya berakhir lebih cepat.

    5. Lika-liku Uji Terbang Starship SpaceX (Amerika Serikat)

    Roket terbesar dan terkuat yang pernah dibuat, Starship milik SpaceX, meluncur sebanyak lima kali pada 2025 dalam penerbangan uji suborbital dari situs Starbase di Texas Selatan. Tiga penerbangan pertama tahun ini tidak berjalan dengan lancar. Pada 16 Januari, tahap pertama Starship, booster besar bernama Super Heavy, berhasil kembali ke Starbase dan ditangkap oleh lengan “chopstick” menara peluncuran.

    Namun, tahap atas Ship meledak kurang dari 10 menit setelah lepas landas, menyebarkan puing-puing di atas Kepulauan Turks dan Caicos. Hasil serupa terjadi pada uji terbang 6 Maret, yang merupakan peluncuran Starship kedua di 2025 dan kedelapan secara keseluruhan.

    Penerbangan ke-9, yang lepas landas pada 27 Mei, dianggap sebagai langkah mundur karena kedua tahapan roket hilang secara prematur, meskipun terbang lebih lama dibandingkan pada Penerbangan 7 dan 8. Program ini mengalami kemunduran lain beberapa minggu kemudian ketika kapal yang disiapkan untuk Penerbangan 10 meledak di landasan uji pada 18 Juni.

    Namun, SpaceX berhasil bangkit kembali di paruh kedua 2025. Mereka sukses dalam Penerbangan 10 pada 26 Agustus dan Penerbangan 11 pada 13 Oktober.

    Saat ini, perusahaan sedang bersiap untuk uji terbang pertama Starship Versi 3, varian yang lebih besar dan kuat yang dirancang untuk mencapai Mars. Bagian dari persiapan tersebut mencakup pengujian di mana Super Heavy mengalami pembengkokan pada 21 November, namun SpaceX terus melanjutkan program pengembangannya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

    Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

    Bisnis.com, JAKARTA — SoftBank Group Corp. mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi DigitalBridge Group, Inc., manajer aset alternatif global yang fokus pada infrastruktur digital dengan nilai perusahaan mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp67,1 triliun. Adapun DigitalBridge Group diketahui memiliki jejaring hingga ke Indonesia.

    DigitalBridge memiliki hubungan kepemilikan strategis dengan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (Centratama atau CENT), perusahaan menara telekomunikasi asal Indonesia, melalui platform EdgePoint Infrastructure.

    DigitalBridge mendirikan EdgePoint Infrastructure pada 2020-2021 untuk ekspansi menara telekomunikasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. EdgePoint kemudian mengakuisisi saham mayoritas Centratama, mencapai 76,8% pada Juli 2021 melalui EP ID Holdings Pte Ltd setelah membeli 33% dari Northstar Group. Adapun saat ini kepemilikan EdgePoint di Centratama mencapai 92,17%. 

    Adapun Centratama sendiri mengelola lebih dari 11.000 situs infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, seperti menara seluler dan DAS. Centratama aktif mendukung operator besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART dalam memberikan layanan internet serta mengakselerasi transformasi digital nasional.

    Saat ini Centratama tengah berjuang dalam menekan rugi yang terus meningkat. Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, rugi bersih tahun berjalan Centratama melompat dari Rp782 miliar menjadi Rp1,47 triliun pada kuartal III/2025. Angka tersebut naik 88,23% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Pendapatan CENT hanya naik tipis 2,73% year on year/YoY menjadi Rp1,88 triliun.

    Adapun bisnis sewa menara menjadi kontributor utama pendapatan CENT dengan total menacapai Rp1,63 triliun atau sekitar 87% dari total pendapatan. Sisanya berasal dari sewa infrastruktur (IBC), serat optik, jasa internet dan lain sebagainya.

    Sementara itu beban pokok meningkat 29% menjadi Rp1,25 triliun pada kuartal III/2025, yang didominasi oleh beban utang jangka panjang. Penyusutan aset menara dan tetap membuat kondisi makin berat.

    Sebelumnya, dilansir dari laman resmi Softbank, Selasa (30/12/2025), akuisisi Softbank atas DigitalBridge dilakukan untuk memperkuat misi mewujudkan Artificial Super Intelligence (ASI) demi kemajuan umat manusia.

    Akuisisi ini akan memperluas kapasitas pusat data dan konektivitas SoftBank guna mendukung pelatihan, penerapan, dan layanan AI skala global.

    Chairman dan CEO SoftBank Group Corp Masayoshi Son mengatakan seiring transformasi AI di berbagai industri dunia, perusahaan membutuhkan lebih banyak daya komputasi, konektivitas, listrik, dan infrastruktur yang skalabel.

    “DigitalBridge adalah pemimpin di infrastruktur digital, dan akuisisi ini akan memperkuat fondasi pusat data AI generasi berikutnya, memajukan visi kami menjadi penyedia platform ASI terkemuka, serta membuka terobosan yang mendorong kemajuan umat manusia,” kata Son kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, CEO DigitalBridge Marc Ganzi mengatakan pembangunan infrastruktur AI merupakan peluang investasi terbesar saat ini. SoftBank memiliki DNA serupa sebagai pembangun dan investor jangka panjang yang berkomitmen pada infrastruktur digital transformatif.

    “Visi, kekuatan modal, dan jaringan global mereka akan memungkinkan kami mempercepat misi dengan fleksibilitas lebih besar,” kata Marc.

    Berdasarkan kesepakatan, SoftBank akan mengakuisisi seluruh saham umum DigitalBridge secara tidak langsung seharga $16 per saham tunai.

    Transaksi ini direkomendasikan secara bulat oleh komite khusus dewan direksi DigitalBridge yang terdiri dari direktur independen, dengan premi 15% dari harga penutupan saham pada 26 Desember 2025, dan 50% dari rata-rata harga 52 minggu sebelumnya per 4 Desember 2025.

    Setelah penutupan, DigitalBridge akan tetap beroperasi sebagai platform terpisah di bawah pimpinan Marc Ganzi. Transaksi tunduk pada persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada paruh kedua 2026.

    Langkah ini memperkuat posisi SoftBank di sektor infrastruktur digital global, sejalan dengan lonjakan permintaan AI dari perusahaan teknologi besar.

  • SoftBank Group Akuisisi DigitalBridge Rp67,1 Triliun untuk Perluas Infrastruktur AI

    SoftBank Group Akuisisi DigitalBridge Rp67,1 Triliun untuk Perluas Infrastruktur AI

    Bisnis.com, JAKARTA — SoftBank Group Corp. mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi DigitalBridge Group, Inc., manajer aset alternatif global yang fokus pada infrastruktur digital seperti data center, menara seluler, jaringan serat optik, dan infrastruktur edge, dengan nilai perusahaan mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp67,1 triliun.

    Dilansir dari laman resmi Softbank, Selasa (30/12/2025), langkah ini diambil untuk memperkuat misi mewujudkan Artificial Super Intelligence (ASI) demi kemajuan umat manusia.

    Akuisisi ini akan memperluas kapasitas pusat data dan konektivitas SoftBank guna mendukung pelatihan, penerapan, dan layanan AI skala global.

    Chairman dan CEO SoftBank Group Corp Masayoshi Son mengatakan seiring transformasi AI di berbagai industri dunia, perusahaan membutuhkan lebih banyak daya komputasi, konektivitas, listrik, dan infrastruktur yang skalabel.

    “DigitalBridge adalah pemimpin di infrastruktur digital, dan akuisisi ini akan memperkuat fondasi pusat data AI generasi berikutnya, memajukan visi kami menjadi penyedia platform ASI terkemuka, serta membuka terobosan yang mendorong kemajuan umat manusia,” kata Son kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, CEO DigitalBridge Marc Ganzi mengatakan pembangunan infrastruktur AI merupakan peluang investasi terbesar saat ini. SoftBank memiliki DNA serupa sebagai pembangun dan investor jangka panjang yang berkomitmen pada infrastruktur digital transformatif.

    “Visi, kekuatan modal, dan jaringan global mereka akan memungkinkan kami mempercepat misi dengan fleksibilitas lebih besar,” kata Marc.

    Berdasarkan kesepakatan, SoftBank akan mengakuisisi seluruh saham umum DigitalBridge secara tidak langsung seharga $16 per saham tunai.

    Transaksi ini direkomendasikan secara bulat oleh komite khusus dewan direksi DigitalBridge yang terdiri dari direktur independen, dengan premi 15% dari harga penutupan saham pada 26 Desember 2025, dan 50% dari rata-rata harga 52 minggu sebelumnya per 4 Desember 2025.

    Setelah penutupan, DigitalBridge akan tetap beroperasi sebagai platform terpisah di bawah pimpinan Marc Ganzi. Transaksi tunduk pada persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada paruh kedua 2026.

    Langkah ini memperkuat posisi SoftBank di sektor infrastruktur digital global, sejalan dengan lonjakan permintaan AI dari perusahaan teknologi besar.

  • Bos ISAT Ungkap Peran Indosat, Northstar Group, dan Arsari Group di FiberCo

    Bos ISAT Ungkap Peran Indosat, Northstar Group, dan Arsari Group di FiberCo

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk, (ISAT) bersama konsorsium yang terdiri dari Arsari Group dan Northstar Group telah menandatangani perjanjian investasi pembentukan perusahaan patungan (joint venture) yang bergerak di bisnis serat optik bernama FiberCo. Masing-masing perusahaan memiliki kekuatan yang saling melengkapi.

    Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan perusahaan FiberCo yang dikembangkan Indosat hampir mirip dengan InfraNexia milik PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM). Bedanya, kekuatan FiberCo tidak berasal dari satu perusahaan, melainkan gabungan dari beberapa perusahaan, dengan Indosat menjadi pemegang saham mayoritas.

    Adapun berdasarkan dokumen yang didapat Bisnis, Indosat akan menggenggam 45% saham di FiberCo. Sementara itu 45% lainnya dipegang oleh Arsari Group dan Northstar, dengan 10% sisanya beredar bebas.

    Arsari Group dan Northstar Group mengambil peran penting sebagai mitra strategis bagi FiberCo. Kedua perusahaan memiliki keahlian di bidangnya, termasuk perihal finansial. Sementara Indosat berperan dalam mengoperasikan bisnis serat optik.

    “Indosat akan controling dalam hal pengoperasian karena kami yang mengerti bagaimana mengoperasikan [bisnis] fiber optik,” kata Danny kepada Bisnis, dikutip Senin (29/12/2025).

    Danny menambahkan FiberCo akan membantu perusahaan telekomunikasi yang membutuhkan dukungan infrastruktur serat optik untuk menghadirkan layanan internet andal guna mendukung percepatan transformasi digital.

    Dari sisi implementasi, entitas baru ini akan mengoperasikan jaringan serat optik yang komprehensif dan terintegrasi sepanjang lebih dari 86.000 kilometer, mencakup jaringan backbone, kabel laut domestik, serta akses infrastruktur yang menghubungkan menara telekomunikasi dan kawasan bisnis.

    Dengan komposisi jaringan sekitar 45% di Pulau Jawa dan 55% di luar Jawa, platform ini memiliki peran strategis dalam mendorong konektivitas digital yang lebih merata. Sebagai entitas independen, FiberCo akan beroperasi dengan model open-access, menyediakan akses terbuka bagi berbagai penyedia layanan telekomunikasi untuk memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur dan mempercepat inklusi digital nasional.

    “Kekuatan inisiatif ini adalah investasi pada masa depan. Banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau serat optik. Nanti perusahaan ini akan menggelar kabel untuk mendukung Indosat,” kata Danny.

    Sebelumnya, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan kolaborasi ini berangkat dari visi jangka panjang yang sejalan dalam memberdayakan Indonesia. Butuh kolaborasi yang kuat serta ambisi jangka panjang dalam membangun infrastruktur digital dan mencapai misi tersebut.

    Bagi Indosat dan para pemegang sahamnya, transaksi ini menghadirkan nilai strategis yang signifikan. Indosat akan mengalihkan aset serat optiknya ke FiberCo Raya dengan nilai sekitar Rp14,6 triliun.

    Transaksi ini memungkinkan Indosat memonetisasi aset tersebut sekaligus mempertahankan sekitar 45% kepemilikan FiberCo.

    “Langkah strategis ini penting bagi pertumbuhan bisnis Indosat di masa yang akan datang, dengan menggunakan dana hasil transaksi untuk pengembangan jaringan 5G serta memperkuat fondasi AI Indosat,” kata Vikram.

    Deputy CEO and COO Arsari Group Aryo P.S. Djojohadikusumo menegaskan komitmen jangka panjang Arsari Group dalam pembangunan nasional melalui infrastruktur digital. 

  • Operator Seluler Kehilangan Fleksibilitas Memilih Penyedia Menara di Badung

    Operator Seluler Kehilangan Fleksibilitas Memilih Penyedia Menara di Badung

    Bisnis.com, JAKARTA — Penyedia layanan seluler tidak memiliki pilihan dalam menggunakan jasa menara telekomunikasi di Badung, pusat perekonomian di Bali. Hak eksklusivitas membuat mereka harus menyewa secara menyeluruh layanan yang disediakan oleh PT Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI), demi menghadirkan internet di Pulau Dewata.

    Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Muhammad Danny Buldansyah mengatakan perjanjian eksklusif yang diteken oleh Pemerintah Kabupaten Badung dengan salah satu provider menara membuat perusahaan seluler kehilangan fleksibilitas dalam berbisnis menjadi hilang.

    Perusahaan seluler harus menggunakan satu-satunya penyedia menara telekomunikasi yang terdapat di wilayah dengan perputaran ekonomi terbesar di Bali.

    Informasi yang beredar menyebut saat ini di Badung terdapat lebih dari 3.100 akomodasi dan sekitar 4.444 restoran. Dengan banyaknya infrastruktur penunjang pariwisata itu, Badung memiliki kebutuhan telekomunikasi tertinggi di Bali.

    “Perhatian kita adalah ini, bahwa sekarang dapat diterima tetapi kan harusnya operator punya pilihan,” kata Danny kepada Bisnis, dikutip Senin (29/12/2025).

    Danny menambahkan selain fleksibilitas, perusahaan telekomunikasi bergerak juga harus menyewa layanan perusahaan menara tersebut secara bundel, mulai dari menara hingga beberapa komponen perangkat, sehingga harga relatif lebih tinggi dibandingkan jika menyewa secara terpisah seperti yang dilakukan oleh penyelenggara lain.

    Danny menuturkan meski tidak memiliki fleksibilitas dan harus menyewa secara bundel, kualitas layanan yang diberikan Bali Tower cukup baik. Dia berharap ke depan perusahaan seluler memiliki fleksibilitas dalam memilih penyedia menara telekomunikasi di Badung.

    “Kalau operator punya pilihan lebih fleksibel,” kata Danny.

    Sikap KPPU

    Diketahui, pada 2007 Pemkab Bandung menjalin perjanjian eksklusif dengan PT Bali Towerindo Sentra Tbk. terkait penggelaran infrastruktur menara di Badung. Salah satu inti dari perjanjian yang akan berakhir pada 2027 itu adalah pembangunan menara telekomunikasi di Badung hanya boleh digelar oleh Bali Tower, dengan alasan menjaga estetika dan melindungi kelestarian Bali.

    Kebijakan ini kemudian menjadi sorotan karena dinilai menutup peluang perusahaan telekomunikasi lain untuk membangun infrastruktur menara. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun ikut turun tangan.

    Pada 2023, KPPU  menaikkan kasus dugaan monopoli menara telekomunikasi bersama atau tower BTS di kabupaten Badung ke tahap penyelidikan atau penegakan hukum. saat itu KPPU mengaku sudah melakukan pemanggilan kepada semua pihak terkait dan mendengarkan keterangan mereka. Dari hasil kajian tersebut ditemukan dugaan pelanggaran hukum yang harus diselidiki lebih lanjut.  

    Namun saat dikonfirmasi kembali pada Senin (29/12/2025) Kepala Biro Humas dan Kerja Sama KPPU Deswin Nur mengatakan penyelidikan itu telah dihentikan.

    “Karena lebih dominan persoalan kebijakan pemerintah,” kata Deswin kepada Bisnis.

    Deswin juga mengatakan KPPU telah menyampaikan sejumlah saran kebijakan dan konsesi yang seharusnya sudah ditenderkan. Sayangnya Deswin tidak menyebutkan saran dan konsesi tersebut.

    “Jika hak eksklusif diberikan berdasarkan proses yang kompetitif, masih sejalan dengan prinsip yang ada. Saat ini belum ada update tindakan terbaru KPPU atas persoalan tersebut,” kata Deswin.

    Ilustrasi pekerja memperbaiki jaringan di menara telekomunikasi

    Sebelumnya, Manager OM & Deployment Balinusra Mitratel Andi Baspian Yasma mengatakan mengaku khawatir hak eksklusivitas di Badung akan diperpanjang 20 tahun atau hingga 2047 sesuai dengan gugatan yang diajukan oleh Bali Tower kepada Pemkab Badung dengan alasan wanprestasi. Perpanjangan tersebut akan berdampak pada persaingan usaha menara di Pulau Dewata.

    Senada Regional Manager Balinusra PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Anandayu Ega Hardianto mengatakan, kontrak antara Bali Tower dan Pemerintah Kabupaten Badung menyulitkan pelaku usaha infrastruktur telekomunikasi lain untuk berbisnis di wilayah tersebut. 

    Perusahaan telekomunikasi yang awalnya ingin berinvestasi dan menggelar layanan di Badung mengurungkan niatnya karena tidak memiliki pilihan. 

    “Perusahaan telekomunikasi tidak leluasa karena adanya monopoli sehingga mungkin ada penetapan satu harga gitu kalau ada pemain kan bisa melakukan apa ya penawaran harga terbaiklah gitu,” kata Ega. 

    Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Badung I Wayan Puspa Negara menjelaskan asal muasal Bali Tower mendapat kontrak eksklusif. Bali Towerindo diberikan kontrak oleh Pemkab karena mempertimbangkan posisi Badung sebagai destinasi pariwisata internasional. 

    Pemerintah daerah menekankan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi harus memperhatikan tiga prinsip utama, yaitu tidak boleh merusak bentang alam, estetika kawasan, maupun nilai budaya setempat.

    Aturan tersebut kemudian diterapkan dengan pembatasan 49 titik menara telekomunikasi terpadu yang lokasinya harus ditetapkan bersama. Bali Tower dipilih untuk membangun menara dengan kontrak selama 20 tahun. 

    Saat itu jumlah penyedia layanan masih terbatas dan pembangunan menara terpadu dinilai relatif dapat mengurangi gangguan terhadap bentang alam. Hanya saja pelaksanaannya berada di bawah eksekutif.

    Puspa mengatakan, DPRD Badung juga memahami adanya isu terkait perpanjangan kerja sama yang akan berakhir pada 2027. 

    DPRD belum mendapat informasi mengenai rencana perpanjangan kontrak hingga 20 tahun. Dia memastikan seluruh MoU akan melibatkan DPRD.

    “Hingga kini DPRD mengaku belum menerima informasi resmi terkait rencana perpanjangan tersebut,” kata Puspa.

    Puspa menegaskan DPRD terbuka terhadap perkembangan teknologi telekomunikasi. Apalagi dukungan infrastruktur teknologi komunikasi bagian dari pengembangan pariwista Bali, khususnya Kabupaten Badung.

    Kebutuhan jaringan digital yang lebih baik sangat dibutuhkan, seiring berkembangnya aktivitas work from home, bisnis digital, dan sektor pariwisata.

    “Dengan kunjungan sekitar 6,8 juta wisatawan mancanegara dan 10 juta wisatawan domestik, kebutuhan infrastruktur telekomunikasi menjadi kebutuhan mutlak,” kata Puspa.

    Upaya untuk melakukan pertemuan dengan pemerintah Kabupaten Badung telah dilakukan tetapi Pemkab tidak hadir pada pertengahan bulan ini.