Category: Bisnis.com Tekno

  • Belanja AI Diproyeksi Naik pada 2026, Perusahaan Fokus ke Sedikit Vendor

    Belanja AI Diproyeksi Naik pada 2026, Perusahaan Fokus ke Sedikit Vendor

    Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan-perusahaan global diperkirakan akan meningkatkan anggaran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada 2026. Namun, kenaikan belanja tersebut diprediksi tidak lagi tersebar ke banyak penyedia teknologi, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah kecil vendor yang mampu menunjukkan dampak nyata bagi bisnis.

    Wakil Presiden Databricks Ventures Andrew Ferguson menilai 2026 akan menjadi titik balik konsolidasi investasi AI di kalangan perusahaan. Saat ini, menurut dia, banyak perusahaan masih berada pada fase eksperimen dengan menggunakan berbagai alat AI untuk kebutuhan yang sama, khususnya di area go-to-market. Kondisi ini membuat perbedaan nilai antarproduk sulit terlihat, meskipun sudah melewati tahap proof of concept.

    “Ketika perusahaan mulai melihat bukti nyata manfaat AI, mereka akan memangkas anggaran eksperimen, merapikan penggunaan alat yang tumpang tindih, dan mengalihkan dana tersebut ke teknologi AI yang terbukti memberikan hasil,” kata Ferguson dikutip dari laman TechCrunch pada Rabu (31/12/2025).

    Pandangan senada disampaikan Managing Partner Asymmetric Capital Partners, Rob Biederman. Dia memprediksi belanja AI perusahaan ke depan tidak hanya semakin terfokus di tingkat masing-masing perusahaan, tetapi juga secara industri akan mengerucut pada segelintir penyedia teknologi utama.

    “Anggaran akan meningkat untuk sejumlah kecil produk AI yang jelas memberikan dampak, sementara belanja untuk produk lainnya akan menurun tajam,” kata Biederman.

    Dia memperkirakan akan terjadi pemisahan yang tegas di pasar, di mana hanya sedikit vendor yang menguasai porsi besar anggaran AI perusahaan. Sebaliknya, banyak penyedia lain berpotensi mengalami stagnasi hingga penurunan pendapatan.

    Sementara itu, Partner Norwest Venture Partners Scott Beechuk menilai peningkatan belanja AI akan banyak diarahkan pada solusi yang membuat penerapan AI lebih aman dan andal. Menurutnya, perusahaan kini menyadari bahwa investasi krusial justru berada pada lapisan pengamanan, pengawasan, dan tata kelola yang memastikan penggunaan AI secara bertanggung jawab.

    “Ketika kemampuan ini semakin matang dan risiko bisa ditekan, perusahaan akan lebih percaya diri beralih dari tahap uji coba ke penerapan skala besar, sehingga anggaran pun meningkat,” ujar Beechuk.

    Adapun Direktur Snowflake Ventures Harsha Kapre memprediksi belanja AI perusahaan pada 2026 akan terfokus pada tiga area utama, yakni penguatan fondasi data, optimalisasi model pascapelatihan, serta konsolidasi berbagai alat AI.

    Menurut Kapre, para eksekutif kini semakin aktif mengurangi kompleksitas penggunaan software-as-a-service (SaaS) yang berlebihan. Mereka cenderung beralih ke sistem terpadu yang lebih cerdas, dengan biaya integrasi lebih rendah dan imbal hasil investasi yang lebih terukur. Dalam konteks tersebut, solusi berbasis AI diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

  • Asus Berambisi Dominasi Pasar PC Enterprise RI, Geser Lenovo dan Dell

    Asus Berambisi Dominasi Pasar PC Enterprise RI, Geser Lenovo dan Dell

    Bisnis.com, JAKARTA — Asus Indonesia menetapkan target penjualan agresif sebanyak 350.000 unit untuk lini produk Expert Series pada tahun 2026. Perusahaan berambisi untuk merebut pasar yang saat ini dikuasai Lenovo dan Dell.

    Adapun target volume tersebut mencakup keseluruhan ekosistem produk bisnis, mulai dari laptop, desktop, hingga all-in-one PC. 

    Head of Commercial Product Marketing Asus Indonesia Aldi Ramadiansyah mengatakan perusahaan memiliki ambisi besar untuk menggeser peta persaingan vendor komputer komersial. 

    “Ambisi kita sangat tinggi. Kita ingin jadi nomor satu di Indonesia dalam 3 tahun ke depan,” kata Aldi dikutip dalam acara media meeting Asus Commercial, Selasa (30/12/2025).

    Berdasarkan data internal, Asus mencatat pertumbuhan pangsa pasar dari 5% pada 2024 menjadi 11% pada 2025. Sementara target untuk 2026 adalah 18%.

    Saat ini, posisi Asus berada di peringkat ketiga pasar komersial setelah menyalip HP, namun masih berada di bawah Lenovo dan Dell. 

    Aldi menjelaskan guna mencapai target tersebut, strategi produk pada 2026 akan berbeda dengan segmen konsumen yang dinamis. 

    Asus nantinya akan fokus pada industri sektor Jasa Keuangan (FSI), Manufaktur, dan Pemerintahan. 

    Adapun, produk dibagi menjadi ExpertBook P Series untuk UMKM, Seri B untuk enterprise dengan karyawan di atas 300 orang, dan Seri G khusus pemerintahan.

    Perusahaan ini juga akan fokus pada efisiensi dan optimalisasi, di mana peluncuran besar pada 2026 hanya akan dilakukan untuk satu model flagship utama. Model-model lainnya hanya akan mendapatkan penyegaran dari sisi spesifikasi internal, seperti prosesor.

    Kebijakan ini diambil mengingat masa pakai produk komersial cenderung lebih panjang dibandingkan produk konsumen. Peluncuran produk flagship tersebut dijadwalkan pada kuartal kedua 2026. 

    Di sisi lain, menghadapi tantangan global, Asus juga mengantisipasi kenaikan harga komponen, khususnya RAM dan SSD pada 2026. Namun, Aldi menilai dampak pada segmen B2B lebih dapat diredam dibandingkan segmen konsumen karena fleksibilitas dalam penyesuaian spesifikasi kontrak.

    “Kalau konsumer mungkin pasti naik karena mereka sudah enggak bisa subsidi silang, tapi kalau komersial kita masih bisa adjust sana sini,” ujarnya.

    Sebagai strategi diferensiasi melawan kompetitor, Asus menawarkan layanan purna jual berupa garansi baterai yang durasinya sama dengan garansi perangkat, misalnya 3 tahun. Selain itu, jangkauan layanan on-site service diperluas hingga radius 150 km untuk menjamin kelancaran operasional klien korporasi.

    Kinerja Induk

    Diketahui kondisi global yang menantang dan keterbatasan chip membuat Asus menghadapi kondisi yang cukup sulit pada 9 bulan pertama 2025. 

    Laporan keuangan Asus global pada kuartal III/2025 menunjukkan meski pendapatan tumbu 21% YoY menjadi NT$189,9 miliar atau Rp 95,45 triliun), net profit perusahaan turun 16% YoY ke NT$10,556 juta atau Rp 5,31 triliun.

    Adapun pendapatan tersebut berasal dari segmen konsumer (29%), gamer (41%), dan segmen enterprise 30%. Dari di sisi regional, Asia masih menjadi kontribusi terbesar dengan 46%, sementara Amerika tercata sebesar 22% dan Eropa sebesar 32%. Untuk Asia, pasar terbesar ASUS terdapat di Taiwan, India, dan Indonesia. 

    (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Rencana 2026, ITSEC (CYBR) Dorong Keamanan Siber Berbasis AI dan Pelatihan

    Rencana 2026, ITSEC (CYBR) Dorong Keamanan Siber Berbasis AI dan Pelatihan

    Bisnis.com, JAKARTA — PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR) akan fokus dalam mendorong solusi keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pelatihan digital pada 2026 untuk menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan pada 2026.

    Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan memasuki 2026, ITSEC akan terus mendorong inovasi keamanan siber berbasis AI sekaligus menskalakan pengembangan talenta untuk mendukung kebutuhan ketahanan siber nasional dan regional.

    Patrick mengatakan ITSEC  akan memperkuat strategi jangka panjangnya melalui pengembangan ITSEC Cybersecurity & AI Academy, sebuah platform pengembangan kapabilitas yang dirancang untuk mencetak talenta keamanan siber dan AI yang selaras dengan kebutuhan industri.

    Sebagai perusahaan terbuka yang beroperasi di tengah lanskap ancaman yang dinamis, ITSEC meyakini bahwa kesiapan nasional dan industri harus dibangun dengan solusi keamanan yang terpercaya dan juga kapabilitas sumber daya manusia yang berstandar global.

    Melalui ITSEC Cybersecurity & AI Academy, ITSEC melengkapi penawaran end-to-end dengan memungkinkan organisasi maupun institusi mengakses tidak hanya teknologi dan layanan, tetapi juga tenaga profesional terlatih yang mampu mengimplementasikan, mengoperasikan dan mempertahankan pertahanan siber modern.

    “Pasar tidak hanya membutuhkan alat yang lebih baik, tetapi juga SDM yang mampu mengoperasikannya. Academy kami merupakan komitmen jangka panjang bagi talenta keamanan siber dan AI di Indonesia,” kata Patrick dikutip Rabu (31/12/2025).

    Sepanjang 2025, kata Patrick, ITSEC terus memperkuat misinya dalam menghadirkan solusi keamanan siber yang terukur, skalabel, dan relevan terhadap ancaman digital. Perusahaan mempertajam fokus pada pemanfaatan AI sebagai force multiplier yang praktis.

    Tidak hanya untuk mendorong inovasi produk dan layanan, tetapi juga untuk mencetak profesional keamanan siber dan AI yang siap menjawab kebutuhan sektor publik dan swasta yang terus meningkat.

    “Kami memperkuat layanan dan kinerja keuangan, sekaligus berfokus pada AI, bukan hanya sebagai jargon, tetapi sebagai kemampuan nyata yang dapat membantu organisasi mendeteksi ancaman lebih cepat, merespons dengan lebih cerdas dan mengukur tingkat keamanan,” kata Patrick.

    Dia mengatakan AI terus membentuk ulang lanskap ancaman siber, termasuk cara serangan digital diluncurkan, diperluas dan disamarkan. Menjawab tantangan tersebut, ITSEC memperluas peran AI di seluruh ekosistem keamanan sibernya untuk menghadirkan hasil yang nyata.

    Sebelumnya, ITSEC juga mengumumkan perluasan layanannya dengan masuk ke Qatar, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi menjanjikan di Timur Tengah. Patrick mengatakan perusahaan berkomitmen untuk memberikan solusi keamanan terbaik ke sejumlah sektor strategis di Qatar.

    ITSEC melihat sektor telekomunikasi, minyak & gas (migas), penerbangan, hingga perbankan, sebagai sektor yang potensial yang akan digarap ITSEC. Menurutnya, secara fundamental masalah yang terjadi di Qatar sama seperti masalah yang terjadi di Indonesia sehingga menghadirkan layanan yang sudah terbukti di suatu negara dan kemudian diadopsi ke negara lain – karena permasalahannya sama – bukanlah hal yang sulit. 

    “Saya pikir ini adalah negara yang sangat penting secara global. Nomor satu dan bagi kami ini benar-benar menunjukkan lagi tentang apa yang bisa dilakukan talenta Indonesia,” kata Patrick kepada Bisnis, Jumat (5/12/2025).

    Sekadar informasi, meski memiliki permasalahan yang sama dengan Indonesia, namun tingkat PDB per kapita di Qatar lebih tinggi sehingga secara persentase nilai layanan yang dijual di Qatar akan lebih berkualitas. 

    Pertumbuhan PDB tinggi di Qatar disebabkan negara ini memiliki keunggulan di sektor gas alam cair/LNG.

    QatarEnergy, ExxonMobil, TotalEnergies, Shell, dan ConocoPhillips adalah sejumlah nama besar perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. Sementara untuk perusahaan telekomunikasi, ada Ooredoo dan Vodafone, yang seluruhnya menjadi pasar yang diincar ITSEC.

    Patrick menambahkan ITSEC Asia hadir di Qatar dengan menggandeng mitra lokal. Dia tidak menyebutkan nama perusahaan tersebut, tetapi dipastikan perusahaan besar.

    Selain menggandeng mitra lokal, ITSEC Asia rencananya juga akan membangun pusat pengembangan dan riset (R&D) di Doha untuk mempelajari pasar dan solusi yang relevan. 

    Solusi dan hasil riset yang dihasilkan oleh R&D tersebut nantinya tidak hanya dimanfaatkan di Qatar, juga Indonesia. Pun sebaliknya. 

    “Apa pun yang dipelajari di sana akan kami bawa ke Indonesia,” kata Patrick.

  • Krisis Memori, Toko PC di Jepang Mulai Hentikan Pesanan dan Naikkan Harga 2026

    Krisis Memori, Toko PC di Jepang Mulai Hentikan Pesanan dan Naikkan Harga 2026

    Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang permintaan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) mulai memberikan dampak serius pada rantai pasok komputer konsumer. Sejumlah vendor PC Build-to-Order (BTO) di Jepang terpaksa menghentikan pesanan hingga 2026 akibat krisis pasokan komponen.

    Kondisi ini dipicu oleh kapasitas produksi global yang tersedot ke sektor AI, menyebabkan harga memori DDR5 melonjak hingga 4 kali lipat. Selain itu, harga sebagian besar SSD juga dilaporkan telah mengalami kenaikan hingga 2 kali lipat.

    Situasi tersebut membuat toko-toko komputer di Jepang kesulitan memberikan penawaran harga yang pasti kepada pelanggan karena biaya pengadaan suku cadang yang tidak stabil. Alhasil, keadaan itu memaksa para pelaku usaha untuk menutup pesanan demi memenuhi komitmen yang sudah ada di sisa tahun 2025.

    Melansir dari tom’s Hardware Rabu (31/12/2025), setidaknya tiga toko besar di Jepang telah menerapkan kebijakan penghentian layanan sementara. Pertama, Toko komputer Sycom, yang sempat menutup pesanan online pada 16 Desember hingga 19 Desember lalu. Meski layanan telah dibuka kembali, manajemen Sycom memperingatkan adanya durasi pengiriman yang lebih lama dari biasanya.

    Langkah lebih drastis diambil oleh toko TSUKUMO melalui dua merek internalnya, G-Gear dan eX.computer. Kedua merek tersebut telah menghentikan penerimaan pesanan baru sepenuhnya. TSUKUMO juga menunda pemesanan untuk pengiriman selama sisa hari di tahun 2025.

    Mouse Computers pun turut mengumumkan penangguhan penjualan untuk lini produk NEXTGEAR, G TUNE, dan DAIV PC. Penjualan produk-produk tersebut dihentikan mulai 23 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

    Perusahaan menegaskan bahwa operasional akan kembali normal pada Senin (5/1/2026), namun dengan catatan khusus bagi konsumen. Ketika pesanan kembali dibuka, produk-produk tersebut dipastikan akan hadir dengan harga yang telah mengalami kenaikan signifikan atau inflasi.

    Dampak kelangkaan ini tidak hanya terbatas pada memori sistem, tetapi juga merambat ke komponen kartu grafis (GPU). Toko PC Tsukumo eX di Akihabara kini membatasi pembelian hanya satu unit per transaksi untuk seri GeForce RTX 5060 Ti 16GB ke atas, atau Radeon RX 9000 ke atas.

    “Kartu yang dilengkapi dengan memori berkapasitas tinggi menjadi sangat sulit untuk didapatkan. Kami masih memiliki stok saat ini, tetapi kami berada dalam situasi di mana kami tidak tahu kapan pengiriman berikutnya akan tiba atau apakah akan tiba sama sekali,” tulis pernyataan resmi toko Tsukumo eX.

    Krisis pada GPU disebabkan oleh ketergantungan pada teknologi semikonduktor tipe DRAM yang sama dengan memori komputer. Ketika tiga produsen cip besar memangkas produksi DRAM untuk beralih ke pasar AI yang lebih menguntungkan, pasokan memori grafis (GDDR) ikut mengetat.

    Hal ini disinyalir memaksa divisi kartu grafis konsumen dari produsen utama seperti AMD, Intel, dan Nvidia untuk mengurangi output produksi mereka.

    Pelaku pasar memprediksi situasi ini akan bertahan cukup lama. Meskipun produsen memori memutuskan untuk membangun pabrik baru saat ini, fasilitas tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk beroperasi, sehingga normalisasi harga dan pasokan belum akan terjadi dalam waktu dekat. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Pengamat Ungkap Tantangan Industri Mobile Broadband hingga Satelit pada 2026

    Pengamat Ungkap Tantangan Industri Mobile Broadband hingga Satelit pada 2026

    Bisnis.com, JAKARTA— Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward mengungkapkan sejumlah tantangan utama yang masih membayangi industri telekomunikasi nasional, mulai dari layanan mobile broadband (MBB), fixed broadband (FBB), hingga layanan satelit.

    Pada segmen mobile broadband operator seluler, Ian menilai isu paling krusial adalah ketersediaan spektrum frekuensi baru. Menurutnya, kebutuhan frekuensi bagi operator seluler sudah berada pada tingkat yang sangat mendesak.

    “Beberapa frekuensi juga sudah ‘nganggur’ sebenarnya, 700, 2600, 26 GHz sudah siap. PR besar masih di 3500, khususnya mengenai mekanisme clearance,” kata Ian saat dihubungi Bisnis, Selasa (30/12/2025).

    Ian menegaskan pita frekuensi 3.500 megahertz (MHz) memegang peran strategis dalam peta persaingan industri telekomunikasi sekaligus peningkatan kualitas layanan mobile broadband kepada pelanggan. Hal ini menjadi semakin penting jika pemerintah ingin mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), termasuk kecepatan layanan hingga 100 megabit per second (Mbps).

    Ke depan, Ian melihat peluang besar bagi industri mobile broadband seiring rencana pemerintah untuk merilis spektrum frekuensi baru dalam waktu dekat. Namun demikian, dia menekankan bahwa kesiapan kebijakan menjadi kunci agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

    “Dari sisi pemerintah harus mempersiapkan reserve price yang memungkinkan price recovery terjadi. Desain lelang juga harus mempertimbangkan kesehatan dan sustainable industri,” ungkapnya.

    Sementara itu, di sektor fixed broadband, tantangan terbesar masih berkaitan dengan keterjangkauan harga layanan. Ian menilai harga layanan fixed broadband saat ini relatif tinggi sehingga belum mampu menjangkau masyarakat secara luas.

    Selain itu, apabila layanan tersedia, pilihan masyarakat kerap jatuh pada paket dengan kualitas yang kurang optimal, seperti kecepatan rendah dan tingkat latency yang tidak terjaga dengan baik.

    Ian mengakui teknologi Fixed Wireless Access (FWA) dapat membantu menekan biaya penyediaan layanan. Namun, dalam jangka panjang, kualitas layanan fixed broadband tetap sangat bergantung pada pembangunan jaringan serat optik atau fiberisasi.

    Oleh karena itu, lanjut dia, fiberisasi membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar sehingga untuk memperluas jangkauan layanan diperlukan biaya yang tidak sedikit. Menurut Ian, manfaat fiberisasi tidak hanya terbatas pada layanan fixed broadband, tetapi juga menjadi fondasi bagi berbagai layanan digital lainnya, seperti mobile broadband, pusat data (data center), hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    Di sisi lain, layanan satelit juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam mendukung target cakupan layanan nasional secara efisien dari sisi biaya.

    “Di satelit tantangan ada pada bagaimana mengoptimalkan penggunaan satelit untuk meningkatkan target coverage RPJMN secara cost effective,” kata Ian.

    Selain itu, tantangan lain terletak pada koordinasi penggunaan satelit agar tidak tumpang tindih dengan jaringan terestrial. Wilayah yang telah tercakup jaringan terestrial dinilai tidak perlu lagi menjadi target layanan satelit. Sebaliknya, satelit dapat difokuskan untuk melayani daerah yang benar-benar sulit dijangkau.

    Ian menambahkan, pemanfaatan satelit di wilayah komersial sebaiknya lebih diarahkan sebagai penopang ketahanan digital nasional. 

    “Terutama sebagai backup ketika terjadi bencana seperti Sumatera kemarin,” kata Ian.

  • Komdigi Siagakan Balmon Pantau Kualitas Layanan Komunikasi saat Nataru

    Komdigi Siagakan Balmon Pantau Kualitas Layanan Komunikasi saat Nataru

    Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menugaskan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR) di sejumlah daerah untuk bersiaga selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

    Langkah tersebut dilakukan guna mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat dan meningkatnya kebutuhan akses komunikasi di berbagai wilayah, sekaligus memastikan layanan komunikasi tetap terjaga selama libur akhir tahun.

    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pengawalan layanan komunikasi tetap dilakukan meskipun bertepatan dengan masa libur.

    “Meskipun ini waktu libur, teman-teman terus bekerja untuk mendukung dan memberikan pelayanan bagi masyarakat,” kata Meutya dalam keterangan pada Selasa (30/12/2025).

    Dalam pelaksanaannya, Balmon SFR melakukan pemantauan spektrum frekuensi radio sejak 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Pemantauan tersebut difokuskan pada jalur perjalanan, kawasan wisata, serta titik-titik aktivitas publik yang diperkirakan ramai selama libur akhir tahun.

    Upaya ini bertujuan menjaga kualitas layanan komunikasi agar tetap optimal dan andal, sehingga masyarakat dapat tetap terhubung selama melakukan perjalanan maupun beraktivitas.

    Selain itu, Meutya menegaskan Balmon juga melakukan pemantauan tambahan di wilayah yang menghadapi bencana, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan. Pemantauan tersebut membantu masyarakat tetap terhubung untuk mengakses informasi dan berkomunikasi, khususnya dalam kondisi darurat.

    “Masyarakat dapat berlibur dengan tetap terhubung, tetap terkoneksi, sehingga dapat melakukan perjalanan dan liburan bersama keluarga dengan tenang dan nyaman,” kata Meutya.

    Selama masa Posko Nataru, koordinasi antar-Balmon dilakukan secara nasional. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesiapan layanan komunikasi pada periode libur besar berikutnya agar manfaatnya terus dirasakan oleh publik.

  • Telkomsel Fokus Kembangkan AI, Jaga Kinerja Bisnis Ritel dan Enterprise 2026

    Telkomsel Fokus Kembangkan AI, Jaga Kinerja Bisnis Ritel dan Enterprise 2026

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) meyakini akan meraup pertumbuhan positif pada tahun depan dengan strategi yang berfokus pada beyond connectivity atau di atas layanan jaringan internet guna menghadapi industri telekomunikasi yang makin menantang.

    Strategi berfokus pada bisnis tidak hanya memanfaatkan potensi pertumbuhan lewat layanan data, namun aplikasi yang dihadirkan dari konektivitas yang tersedia.  

    VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi mengatakan, strategi utama perusahaan mencakup optimalisasi portofolio produk, penguatan monetisasi data, serta pengembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    “Serta ekspansi bisnis beyond connectivity di segmen consumer dan enterprise,” kata Fahmi kepada Bisnis pada Selasa (30/12/2025).

    Hingga akhir 2025, Fahmi menyebut kinerja Telkomsel menunjukkan tren yang positif. Hal ini tercermin dari kontribusi bisnis digital yang terus meningkat, diiringi dengan penerapan disiplin efisiensi biaya guna menjaga profitabilitas jangka panjang.

    Berdasarkan laporan keuangan terakhir perusahaan, pendapatan Telkomsel tercatat masih tertekan 4,5% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp81,37 triliun pada kuartal III/2025. Meski demikian, trafik data Telkomsel justru melonjak 17,2% YoY hingga mencapai 17,47 juta terabyte (TB).

    Sepanjang Januari–September 2025, Telkomsel melayani 157,6 juta pelanggan seluler. Pada saat yang sama, jumlah pelanggan internet tetap IndiHome segmen ritel tumbuh 9,4% YoY menjadi 10,26 juta pelanggan. Jika digabungkan dengan pelanggan korporasi, total pelanggan IndiHome mencapai 11,5 juta atau meningkat 7,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Seiring dengan pertumbuhan jumlah pelanggan, pendapatan IndiHome turut meningkat 0,5% YoY menjadi Rp19,73 triliun. Kontribusi tersebut setara dengan 18% dari total pendapatan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) pada sembilan bulan pertama 2025.

    Telkomsel juga terus memperluas layanan IndiHome secara agresif sepanjang sembilan bulan pertama 2025. 

    Ekspansi ini didukung oleh strategi pembangunan jaringan baru (greenfield), simplifikasi produk, serta penyesuaian harga yang lebih relevan dengan kebutuhan pelanggan saat ini. 

    Beragam paket fleksibel nasional, peningkatan kecepatan internet, serta penawaran upsell menjadi andalan untuk meningkatkan relevansi IndiHome di segmen rumah tangga.

    Di tengah sentimen konsumen yang moderat dan tekanan keterjangkauan (affordability), Telkomsel tetap mengedepankan disiplin komersial serta pertumbuhan yang terarah di segmen broadband. 

    Meskipun rerata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) IndiHome terkoreksi menjadi Rp217.000 seiring perubahan perilaku dan preferensi pelanggan, Telkomsel mampu menyiasati kondisi tersebut melalui penyederhanaan produk dan penyempurnaan paket nasional.

    “Basis pelanggan konvergensi Telkomsel-IndiHome terus berkembang, menandakan strategi bundling dan up-selling berhasil menguatkan keterikatan pelanggan rumah tangga serta meningkatkan nilai jangka panjang pelanggan,” tulis manajemen dalam laporan Info Memo.

    Dengan strategi tersebut, Telkomsel memantapkan posisi IndiHome sebagai solusi broadband yang andal melalui perluasan jaringan, inovasi produk, serta program loyalitas konsumen yang relevan untuk menjawab dinamika pasar dan kebutuhan digital keluarga Indonesia.

    Sementara itu, dari total 157,6 juta pelanggan Telkomsel, sebanyak 94% merupakan pelanggan prabayar. Adapun 6% sisanya adalah pelanggan pascabayar, yang pada periode Januari–September 2025 meningkat 6,3% YoY menjadi 8,16 juta pelanggan.

  • Pengamat Wanti-wanti 3 Tantangan Utama Industri Telekomunikasi pada 2026

    Pengamat Wanti-wanti 3 Tantangan Utama Industri Telekomunikasi pada 2026

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan telekomunikasi diperkirakan menghadapi tiga tantangan besar tahun depan. Inovasi menjadi langkah tegas yang harus diambil. 

    Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Harsoyo mengatakan tantangan pertama terkait tekanan terhadap profitabilitas. 

    Menurut Agung, trafik data terus meningkat, namun Average Revenue Per User (ARPU) atau Pendapatan Rata-Rata Per Pengguna relatif stagnan. 

    Di sisi lain, kebutuhan belanja modal untuk pengembangan jaringan, termasuk serat optik (fiber optik) dan teknologi generasi kelima (5G), tetap tinggi.

    “Ini menuntut operator lebih efisien dan kreatif dalam monetisasi layanan,” kata Agung saat dihubungi Bisnis pada Selasa (30/12/2025).

    Tantangan kedua berasal dari struktur pasar industri telekomunikasi yang semakin kompetitif. Persaingan tidak lagi hanya terjadi antaroperator seluler, tetapi juga melibatkan pemain over-the-top (OTT) hingga penyedia infrastruktur independen.

    “Nilai tambah operator tidak lagi cukup hanya menjual konektivitas,” imbuhnya.

    Selain itu, faktor regulasi pemerintah juga masih memegang peran krusial dalam memengaruhi keputusan investasi jangka panjang. 

    Hal ini mencakup penataan spektrum frekuensi, biaya hak penggunaan, serta kepastian peta jalan (roadmap) pita frekuensi. 

    Terkait implementasi 5G, Agung memperkirakan operator seluler akan bersikap selektif dalam melakukan penggelaran jaringan.

    “Pada wilayah-wilayah dengan demand tinggi dan aplikasi yang memiliki nilai ekonomi relatif bagus di kawasan industri, pelabuhan, manufaktur, dan sejenisnya,” ujarnya.

    Di balik berbagai tantangan tersebut, Agung menilai peluang industri telekomunikasi masih terbuka lebar, seiring pertumbuhan ekonomi digital nasional. 

    Menurutnya, peluang tersebut antara lain datang dari pengembangan Internet of Things (IoT), komputasi awan (cloud), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga pusat data (data center).

    Kondisi ini menjadi kesempatan bagi operator telekomunikasi untuk memperluas layanan ke segmen business-to-business (B2B), menyediakan solusi enterprise, serta menjalin kolaborasi dengan berbagai platform digital. 

    Peluang lain juga muncul dari mulai berkembangnya model bisnis infrastruktur terbuka dan kebijakan berbagi jaringan (network sharing).

    “Akhir tahun ini nampak adanya model bisnis infrastruktur terbuka/netral seperti fiber optik open access serta diizinkannya secara regulasi untuk network sharing. Hal ini peluang untuk efisiensi biaya sekaligus pemerataan layanan,” kata Agung.

    Dia juga menekankan meningkatnya kebutuhan akan layanan yang andal dan aman sebagai ruang bagi operator telekomunikasi untuk mengambil peran yang lebih strategis di masa depan.

    Fase Penuh Gejolak

    Sementara itu, Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menilai periode mendatang akan menjadi fase yang penuh gejolak bagi industri telekomunikasi.

    Menurutnya, tantangan utama datang dari risiko yang semakin kompleks dan volatil, termasuk meningkatnya ancaman serangan siber serta disrupsi dari pendatang baru, seperti layanan broadband satelit berbiaya rendah dan internet rakyat.

    “Untuk itu, perusahaan telekomunikasi harus berinovasi cepat atau kehilangan pasar,” kata Heru saat dihubungi Bisnis pada Selasa (30/12/2025).

    Selain tekanan kompetisi dan risiko teknologi, Heru menambahkan isu keberlanjutan juga mulai menjadi perhatian serius industri. Meski demikian, dia melihat peluang besar yang muncul dari integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk otomatisasi jaringan, konvergensi embedded Subscriber Identity Module (eSIM), serta rencana pembukaan lelang 5G pada pita frekuensi 700 megahertz (MHz) dan 2,6 gigahertz (GHz) guna memperluas dan meningkatkan layanan broadband di Indonesia.

    Menurut Heru, penguatan infrastruktur digital yang mencakup 5G, serat optik, satelit, dan pusat data akan mendorong konektivitas yang lebih andal dan merata. 

    Dia menilai digitalisasi tidak lagi bersifat urban-centric, tetapi mulai menjangkau sektor-sektor produktif di daerah serta komunitas masyarakat yang lebih luas.

    Dia berharap pengembangan 5G pada 2026 semakin pesat, menjadi standar global dengan ekspansi infrastruktur yang lebih luas dan integrasi multi-band untuk menjaga keseimbangan antara cakupan (coverage) dan kapasitas.

    “Dengan 5G ini juga akan mendukung inovasi seperti AI dan transisi menuju 6G. Yang pada gilirannya membuat konektivitas lebih andal dan inklusif. Sehingga, tahun 2026 adalah tahun krusial untuk adopsi massal 5G,” ungkap Heru.

  • Penjahat Dunia Maya Suap Mantan Karyawan Kripto Coinbase Demi Dapat Data Pengguna

    Penjahat Dunia Maya Suap Mantan Karyawan Kripto Coinbase Demi Dapat Data Pengguna

    Bisnis.com, JAKARTA — Beberapa pegawai layanan pelanggan perusahaan jual beli mata uang kripto Coinbase diduga menerima suap dari penjahat siber. Mereka memberikan data pribadi pelanggan dengan total 70.000 data pelanggan bocor.

    CEO Coinbase Brian Armstrong mengatakan polisi Hyderabad telah menangkap mantan agen layanan pelanggan Coinbase. Penangkapan ini bukan yang terakhir, perusahaan akan terus mengejar pelaku lainnya sampai mereka menerima hukuman.

    “Satu lagi berhasil dikalahkan, dan masih akan ada lagi,” kata Armstrong mengutip The Register, Selasa (30/12/2025).

    Walaupun data yang bocor cukup banyak, seperti nama, alamat, nomor telepon, email, hingga data identitas, namun akses penting seperti kata sandi, kode keamanan (2FA), dan dompet kripto tidak ikut bocor.

    Namun demikian, perlu diwaspadai karena penjahat memanfaatkan data tersebut untuk menipu pelanggan, dengan cara menyamar sebagai pegawai Coinbase, lalu membujuk korban agar menyerahkan kripto mereka. Selain itu, para penjahat juga memeras Coinbase dan meminta uang tebusan senilai US$20 juta atau Rp334 miliar.

    Coinbase menolak membayar tebusan tersebut. sebagai gantinya, mereka menyediakan US$20 juga atau Rp334 miliar bagi siapapun yang membantu menangkap para pelaku kejahatan tersebut.

    Kasus ini memicu kritik dari publik, terutama karena Coinbase mengalihdayakan layanan pelanggan ke luar negeri, yang dianggap membuka celah terjadinya suap dan kebocoran data. Coinbase sendiri memang sudah sering dikritik sebelumnya karena layanan pelanggan yang dinilai buruk.

    Selain itu, Coinbase bekerja sama dengan kejaksaan Distrik Brooklyn untuk membantu penyelidikan dan proses hukum terhadap seorang pria asal Brooklyn. Pria bernama Ronald Spektor (23) dituduh menyamar sebagai petugas layanan pelanggan Coinbase.

    Dengan cara itu Spektor berhasil menipu sekitar 100 pengguna dengan modus mengatakan akun mereka terancam diretas. Korban dibujuk untuk menyerahkan aset kripto mereka kemudian aset tersebut akan dipindahkan ke dompet kripto milik Spektor.

    Total kerugian mencapai US$16 juta atau Rp267 miliar. Saat ini penegak hukum berhasil menyita US$600 ribu atau sekitar Rp10 miliar dari hasil kejahatan tersebut.

    Coinbase menegaskan bahwa kasus Spektor ini tidak ada kaitannya dengan kasus lain yang melibatkan pegawai layanan pelanggan Coinbase di luar negeri yang menerima suap dan membocorkan data pelanggan, meskipun modusnya sama-sama mengaku sebagai petugas Coinbase. (Nur Amalina)

  • 5G, AI, Internet Rumah, dan Pengalaman Pelanggan

    5G, AI, Internet Rumah, dan Pengalaman Pelanggan

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mengungkapkan arah bisnis perusahaan pada tahun depan dengan menegaskan fokus pada tiga prioritas strategis utama.

    VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi mengatakan Telkomsel akan melanjutkan kepemimpinan industrinya dengan berfokus pada tiga prioritas strategis, yakni connectivity, digital ecosystem, dan customer experience pada 2026.

    Fahmi menjelaskan, dari sisi connectivity, Telkomsel akan memperkuat jaringan broadband yang andal dan berkualitas melalui pengembangan autonomous network, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan Fixed Mobile Convergence (FMC).

    “Fokus kami tidak hanya pada perluasan cakupan, tetapi memastikan konektivitas yang tangguh dan konsisten bagi individu, rumah, dan bisnis di seluruh Indonesia, termasuk melalui pengembangan ekosistem 5G,” kata Fahmi kepada Bisnis pada Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, pada pilar digital ecosystem, Telkomsel akan mengembangkan bisnis digital yang scalable dan profitable melalui strategi beyond connectivity, solusi Business to Business to Consumer (B2B2C) dan enterprise, serta kolaborasi dalam ekosistem digital yang saling terhubung. 

    Adapun pada aspek customer experience, Fahmi mengatakan Telkomsel menjadikan pengalaman pelanggan sebagai fondasi utama, dengan menghadirkan personalisasi berbasis AI serta perjalanan pelanggan (customer journey) yang lebih sederhana, relevan, dan bernilai di setiap interaksi.

    “Arah ini sejalan dengan komitmen Telkomsel untuk mendukung transformasi digital nasional dan menciptakan ekosistem telekomunikasi yang sehat,” kata Fahmi.

    Dari sisi pengembangan jaringan 5G, Fahmi menyampaikan Telkomsel akan melanjutkan ekspansi secara bertahap dan terukur. 

    Fokus pengembangan diarahkan ke wilayah perkotaan, kawasan industri, serta area dengan potensi adopsi teknologi yang tinggi.

    Dia menambahkan, target penambahan base transceiver station (BTS) akan disesuaikan dengan roadmap jaringan, kesiapan ekosistem perangkat, serta kebutuhan pasar agar investasi tetap optimal dan berkelanjutan. 

    Hingga akhir November 2025, Telkomsel telah mengoperasikan 5.000 BTS 5G di berbagai kota utama di Indonesia.

    “Jaringan 5G Telkomsel menghadirkan kecepatan tinggi, latensi rendah, dan kapasitas yang lebih besar, dengan cakupan yang terus diperluas untuk mendukung kebutuhan pelanggan consumer maupun enterprise, serta membuka peluang use case baru di berbagai sektor industri,” kata Fahmi.

    Pada 2026, Telkomsel juga akan memperkuat penetrasi pasar melalui inovasi di segmen consumer dan enterprise. 

    Di segmen B2C, Telkomsel mendorong ekosistem digital yang semakin seamless melalui MyTelkomsel, layanan digital lifestyle, serta penguatan proposisi SIMPATI, by.U, dan Halo sesuai karakter masing-masing segmen untuk mendukung inklusi digital dan produktivitas masyarakat.

    Sementara itu, di segmen B2B dan enterprise, fokus diarahkan pada pengembangan solusi berbasis cloud, IoT, AI, serta layanan konvergensi untuk mendukung transformasi digital bernilai tambah dan mengakselerasi kemajuan di berbagai lini industri.

    Terakhir, Telkomsel berharap kebijakan pemerintah dapat terus mendukung ketersediaan spektrum yang memadai bagi pengembangan 5G. Selain itu, perusahaan juga mengharapkan regulasi dan insentif yang mendorong efisiensi infrastruktur, termasuk skema berbagi jaringan, serta terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat dan berkelanjutan.

    “Dukungan kebijakan yang konsisten akan memperkuat investasi jangka panjang, mendorong inovasi, serta mempercepat transformasi digital nasional demi manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas,” ungkap Fahmi.