Jakarta (ANTARA) – Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyebutkan kolaborasi multisektor merupakan fondasi utama bagi penguatan ekosistem inovasi yang berkelanjutan di Indonesia.
Dalam seminar internasional inovasi daerah pada rangkaian Innovation Government Award (IGA) 2025 di Jakarta, Senin (8/12), Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo mengatakan dinamika pembangunan daerah yang semakin cepat, tekanan global, serta tingginya harapan masyarakat terhadap pelayanan publik menuntut pemerintah daerah melakukan lompatan besar dalam inovasi.
“Dalam konteks tersebut, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 memberikan ruang luas bagi pemerintah daerah untuk berkreasi dan menghadirkan model tata kelola yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik di wilayahnya,” ujar Yusharto, seperti dikutip dari keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, Yusharto tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi sejumlah daerah, seperti keterbatasan kapasitas kelembagaan, pendanaan, hingga koordinasi lintas sektor.
Karena itu, BSKDN terus mendorong penguatan ekosistem inovasi melalui pembinaan, sosialisasi, dan asistensi kepada daerah dengan nilai indeks inovasi yang rendah maupun stagnan.
“Kami bersama kementerian dan lembaga pemerintah serta nonpemerintah terus menekankan pentingnya sinkronisasi dalam pembinaan inovasi. Begitu pun terkait mereplikasi praktik baik dari daerah lain,” ucap dia.
Ia menjelaskan seminar internasional IGA 2025 menghadirkan enam sub-tema strategis, mulai dari transformasi digital, inovasi berbasis masyarakat, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), pengendalian inflasi, pembangunan ekosistem inovasi lokal global, hingga inovasi tata kelola perkotaan.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran lintas negara dan lintas daerah untuk melahirkan berbagai ide segar serta rencana kolaboratif dalam memperkuat daya saing daerah.
Tidak hanya itu, Yusharto juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum itu sebagai ruang diskusi dan kolaborasi.
“Saya mengajak seluruh peserta untuk aktif mengikuti seluruh rangkaian diskusi, bertanya, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring. Inovasi tidak lahir dari satu pemikiran, tetapi dari kolaborasi,” kata Yusharto menambahkan.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber seminar dari dalam dan luar negeri meliputi perwakilan dari Jepang, Turki, Amerika Serikat, Program Pembangunan PBB (UNDP), hingga lembaga internasional lainnya yang turut hadir untuk berbagi pengalaman dalam forum tersebut.
Menurutnya, keikutsertaan para ahli dari berbagai negara menunjukkan inovasi tidak bisa berjalan sendiri. Ekosistem hanya dapat tumbuh jika dibangun melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
“Seminar ini kami selenggarakan dengan harapan dapat menjadi ruang pembelajaran bersama untuk menggali praktik terbaik dari berbagai negara dan daerah,” ungkapnya.
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
