JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani mengungkapkan sederet proyek bernilai besar yang siap menggelar groundbreaking pada Februari 2026.
Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi hingga pangan.
Rosan menyebut terdapat enam proyek hilirisasi yang akan memulai konstruksi. Total investasi yang digelontorkan mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp100,8 triliun (asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS).
“Itu ada bauksit, aluminium di Balikpapan, kemudian ada bioavtur, kemudian ada refinery juga. Kemudian ada unggas di lima tempat,” ujar Rosan kepada wartawan, di Jakarta, Rabu, 14 Januari.
Kata Rosan, rangkaian investasi itu disebut menjadi bagian dari strategi besar Danantara untuk mempercepat industrialisasi dan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, terutama di sektor yang selama ini masih bergantung pada impor.
Rosan turut menyinggung proyek konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), yang juga disiapkan sebagai substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Kata dia, tim teknis Danantara saat ini sedang memfinalisasi pemilihan teknologi terbaik untuk mengolah batu bara menjadi DME.
“Kalau enggak salah itu Februari (Groundbreaking). Kalau teknologinya kita dianaliasa oleh Chief Teknologi Officer kita Pak Sigit. Jadi kita baru mau meeting sih hari ini,” katanya.
Sekadar informasi, sebelumnya Satgas Hilirisasi yang dipimpin Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah menyerahkan 18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) proyek hilirisasi kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Berikut rincian 18 proyek yang akan didanai oleh Danantara:
1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit) Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp60 triliun.
2. Industri DME (batu bara) di Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, Banyuasin dengan nilai investasi Rp164 triliun.
3. Industri aspal di Buton, Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi Rp1,49 triliun.
4. Industri Mangan Sulfat di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nilai investasi Rp3,05 triliun.
5. Industri Stainless Steel Slab (Nikel) di Kawasan Indutri Morowali, Sulawesi Tengah dengan nilai investasi Rp38,4 Triliun.
6. Industri Cooper Rod, WIre & Tube (katoda tembaga) di Gesik, Jawa Timur dengan nilai investasi Rp19,2 triliun.
7. Industri Besi Baja (Pasir Besi) di Kabupaten Sarmi, Papua dengan nilai investasi Rp19 triliun.
8. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit) di Kendawangan, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp17,3 triliun.
9. Industri Olresin (Pala), di Kabupaten Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi Rp1,8 triliun.
10. Industri Oleofood (Kelapa Sawit) di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK) Rp3 triliun.
11. Industri Nata de Coco, Medium-Chain Triglycerides (MTC), Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa) di Kawasan Industri Tenayan, Riau dengan nilai investasi Rp2,3 triliun.
12. Industri Chlor Alkali Plant (Garam) di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, Banten, dan NTT dengan nilai transaksi Rp16 triliun.
13. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia) di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan nilai investasi Rp1 triliun.
14. Industri Carrageenan (Rumput Laut) di Kupang, NTT dengan nilai investasi sebesar Rp212 miliar.
15. Oil Refinery di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak dengan nilai investasi sebesar Rp160 Triliun.
16. Oil Storage Tanks di 15. Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak dengan nilai investasi sebesar Rp72 triliun.
17. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika) di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah dengan nilai investasi Rp24 triliun.
18. Industri Boavtur (Used Cooking Oil) di KBN Marunda, Kawasan Industri Cikarang dan Kawasan Industri Karawang dengan nilai investasi Rp16 triliun.
