Berburu Durian Lokal Ngebel Ponorogo, Sensasi Manis-Pahit yang Bikin Nagih

Berburu Durian Lokal Ngebel Ponorogo, Sensasi Manis-Pahit yang Bikin Nagih

Ponorogo (beritajatim.com) – Panorama indah Telaga Ngebel dan udara sejuk pegunungan, telah lama menjadi daya tarik wisata di Ponorogo. Namun selain anugrah alam itu, Ngebel juga menyimpan kekayaan lain yang tak kalah menggoda. Yakni, durian, sang raja buah yang tumbuh subur di kawasan ini.

Sejak bulan Desember tahun 2025 lalu, durian lokal ngebel mulai panen. Puncaknya, diperkirakan akan terjadi pada pertengahan bulan Februari nanti. Masyarakat di sana pun menatap panen raya itu, sebagai peluang untuk mencari cuan. Banyak yang akhirnya menjadi pedagang buah durian musiman, di sepanjang jalan menunju Telaga Ngebel.

“Sudah mulai panen sejak bulan Desember tahun lalu, tetapi puncaknya nanti bulan Februari pas saat puasa Ramadhan,” kata Bikan, pedagang durian di seputaran Telaga Ngebel, Selasa (20/1/2026).

Bikan mengaku sudah belasan tahun berdagang buah di seputaran Telaga Ngebel, tepatnya di sisi utara dekat pintu keluar telaga yang menuju arah Kabupaten Madiun. Tak hanya durian, Dia juga menjual buah manggis, nanas, nangka dan nanas. Laki-laki yang sudah berumur 63 tahun tersebut, menjual buah duren lokal, mulai dari duren Kanjeng, Bawor dan durian khas Ngebel.

“Ya yang dijual ini duren lokal, duren yang ditanam di wilayah Ngebel dan sekitarnya,” katanya.

Dari pengalamannya bertahun-tahun, Bikan mengaku harga durian lokal Ngebel selalu stabil. Bahkan saat panen raya, saat jumlah durian sangat banyak, harganya pun tak turun drastis. Ada penurunan harga, namun tak signifikan.

“Saat panen raya pun harganya tak anjlok, standar. Apalagi di tempat wisata seperti ini, selalu saja ada pembelinya,” ungkap Bikan.

Saat dagangannya over stok karena panen raya, Bikan pun tak khawatir. Dia akan mengirimkan buah-buah durian khas Ngebel itu, ke luar daerah. Semarang, Demak dan Blora, menjadi tujuan dirinya memasarakan buah durian jika saat panen raya.

“Durian lokal Ngebel itu menang rasa, banyak yang suka. Kalau dagangan banyak saat panen raya, ya bisa kirim ke Semarang, Demak dan Blora. Ada juga pedagang daerah lain yang mengambil ke sini (Ngebel-red),” jelas Bikan.

Eny Puspita Sari, pedagang durian lainnya mengungkapkan durian lokal Ngebel mempunyai daya tarik tersendiri di hati masyarakat. Rasanya yang manis legit dan ada pahitnya, malah banyak yang suka dari pada duren impor yang terkesan rasanya terlalu manis. Selain rasa, harga durian lokal yang lebih miring juga sebagai pertimbangan pembeli, memilih buah duren lokal.

“Sejak tahun 2016 jualan duren, kalau di sini duren lokal lebih laku dari pada duren impor,” ungkap Eny.

Eny berjualan buah duren bukan di tempat wisata Telaga Ngebel, melainkan di Kecamatan Sooko. Sehingga tak heran jika pembelinya pun hanya masyarkat di sekitaran kecamatan tersebut. Dia mengaku pernah menjual duren impor seperti Musang King dan Montong, namun ternyata dagangannya itu tidak laku.

“Durian lokal lebih ekonomis, kalau durian impor harganya mahal. Pernah jual yang impor, tidak laku. Ya akhirnya dimakan sendiri dengan keluarga,” kata Eny sambil tertawa.

Sementara itu, Hilda Ayu Rahmawati, penikmat durian asal Ponorogo, mengaku gemar berburu durian lokal. Baru-baru ini, ia sengaja ke Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, karena penasaran setelah viral di media sosial.

“Kemarin ke Segulung karena viral di TikTok. Di sana ramai sekali. Saya makan dua buah dan bawa pulang tujuh buah,” kata Hilda.

Meski tersedia durian premium, Hilda lebih memilih durian lokal. Menurutnya, rasa durian lokal lebih bervariasi.

“Kalau durian premium dagingnya tebal. Tapi durian lokal rasanya lebih medok. Ada manis, legit, dan pahit. Kalau premium cenderung manis saja,” ujarnya.

Biasanya, Hilda memilih membeli durian langsung ke Ngebel. Awalnya ke pedagang di sekitar Telaga. Kini, ia lebih sering mampir ke rumah-rumah warga di sepanjang jalur Ngebel.

“Awalnya beli ke pengepul. Pas pulang, mampir ke rumah-rumah yang jual durian. Harganya lebih terjangkau,” katanya.

Hal senada disampaikan Fitria Fatkhul Huda, warga asal Ponorogo yang kini menetap di Samarinda, Kalimantan Timur. Setiap pulang kampung, ia menyempatkan diri ke Telaga Ngebel. Selain menikmati udara sejuk, ia juga melepas rindu pada durian lokal.

“Durian lokal Ngebel mantap. Dagingnya memang tidak selalu tebal, tapi kalau pintar memilih, bisa dapat yang bagus,” ujarnya.

Menurut Huda, selera durian setiap orang berbeda. Ia membagi rasa durian menjadi tiga, yakni manis creamy, manis legit, dan manis pahit.

“Kalau soal rasa itu selera. Durian impor lebih ke manis. Saya makan Montong sedikit saja sudah enek. Durian lokal lebih cocok, harganya juga lebih murah,” pungkasnya.

Pada akhirnya, durian lokal Ngebel tumbuh dan bertahan dengan caranya sendiri. Ia tidak bergantung pada tampilan atau label premium. Konsistensi rasa manis dan pahit membuatnya tetap dicari, dari musim ke musim. (end/but)