Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah budaya serba cepat, produktivitas sering dipuja sebagai tolok ukur keberhasilan. Sibuk dianggap keren, sementara istirahat kerap dipandang sebagai kemalasan. Tanpa disadari, pola pikir ini bisa menjerumuskan seseorang ke dalam toxic productivity, yaitu kondisi ketika dorongan untuk terus produktif justru menjadi sumber tekanan. Seseorang merasa bersalah saat berhenti, cemas ketika tidak mengerjakan apa pun, dan terus memaksakan diri meski sudah lelah. Padahal, produktivitas yang sehat seharusnya berjalan seimbang dengan kondisi fisik dan mental.
Memahami Apa Itu Toxic Productivity
Toxic productivity adalah kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja atau melakukan sesuatu agar merasa berharga. Ciri-cirinya antara lain sulit menikmati waktu luang, merasa tidak pernah cukup produktif, dan terus menambah target meski energi sudah menurun. Memahami konsep ini penting agar kita menyadari bahwa rasa lelah yang terus-menerus bukan tanda kurang usaha, melainkan sinyal bahwa ada pola yang perlu diperbaiki.
Mengubah Pola Pikir tentang Produktivitas
Produktif tidak selalu berarti melakukan banyak hal dalam satu waktu. Produktivitas yang sehat lebih menekankan pada ketepatan dan keberlanjutan. Melakukan satu tugas dengan fokus dan hasil yang baik jauh lebih bermakna daripada mengerjakan banyak hal tetapi kelelahan. Dengan mengubah pola pikir ini, tekanan untuk selalu sibuk bisa perlahan berkurang.
Menyadari Batas Energi Diri
Setiap orang memiliki kapasitas energi yang berbeda, baik secara fisik maupun mental. Memaksakan diri bekerja terus-menerus justru dapat menurunkan kualitas hasil dan memicu kelelahan berkepanjangan. Menyadari batas energi membantu kita lebih bijak dalam mengatur ritme aktivitas tanpa merasa harus selalu maksimal.
Belajar Memberi Ruang untuk Istirahat
Istirahat bukan hadiah yang hanya boleh dinikmati setelah menyelesaikan semua pekerjaan. Istirahat adalah kebutuhan dasar agar tubuh dan pikiran bisa pulih. Memberi ruang untuk berhenti sejenak justru membantu kita kembali bekerja dengan fokus dan semangat yang lebih baik.
Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial sering menampilkan pencapaian orang lain secara sepihak, tanpa menunjukkan proses dan kelelahan di baliknya. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu rasa tidak pernah cukup dan mendorong toxic productivity. Fokus pada perkembangan diri sendiri jauh lebih sehat daripada terus mengejar standar orang lain.
Menentukan Prioritas secara Realistis
Tidak semua hal harus dikerjakan sekaligus. Menyusun prioritas membantu kita menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditunda. Dengan prioritas yang jelas, beban pikiran berkurang dan pekerjaan terasa lebih terarah.
Menerima Bahwa Tidak Harus Selalu Maksimal
Ada hari-hari ketika energi penuh, ada pula saat tubuh dan pikiran membutuhkan lebih banyak jeda. Menerima kondisi ini membantu kita terhindar dari tuntutan berlebihan. Konsistensi dalam jangka panjang jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk selalu sempurna.
Menghindari toxic productivity bukan berarti menurunkan standar atau kehilangan ambisi. Justru, ini adalah upaya membangun hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan dan diri sendiri. Produktivitas yang seimbang memberi ruang bagi istirahat, refleksi, dan kehidupan yang lebih bermakna. Mulailah bersikap lebih ramah pada diri sendiri, karena produktif tidak harus selalu berarti lelah. [Nazala Habibah Fathyadin]
