Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia alias World Bank merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026, di tengah tren perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas. Lembaga yang bermarkas di Washington D.C. tersebut memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) RI mampu tumbuh 5,0% pada tahun ini.
Dalam laporan terbaru bertajuk Global Economic Prospects edisi Januari 2026, Bank Dunia menyoroti bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang lebih kuat dibandingkan sejumlah negara berkembang atau emerging market lainnya.
Proyeksi pertumbuhan 5,0% untuk 2026 ini mencerminkan revisi ke atas sebesar 0,3 poin persentase dibandingkan perkiraan sebelumnya pada Juni lalu. Sementara itu, untuk tahun 2027, Bank Dunia mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terakselerasi ke level 5,2%, atau direvisi naik 0,2 poin persentase.
Meski demikian, proyeksi Bank Dunia notabenenya masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah dan DPR. Dalam UU APBN 2026, pertumbuhan ekonomi 2026 ditetapkan sebesar 5,4% atau 0,4 poin persentase lebih tinggi dari proyeksi Bank Dunia.
“Pertumbuhan di Indonesia [5,0% pada 2025 dan 2026] didukung oleh investasi yang dipimpin negara [state-led investment] dan stimulus fiskal,” tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip Rabu (14/1/2026).
Optimisme ini kontras dengan prospek ekonomi global yang diprediksi melambat dari 2,7% pada 2025 menjadi 2,6% pada 2026, akibat hambatan perdagangan yang makin ketat dan ketidakpastian kebijakan global. Bahkan, ekonomi China—mitra dagang utama Indonesia—diproyeksikan melambat signifikan ke level 4,4% pada 2026 dari posisi 4,9% pada 2025.
Bank Dunia mencatat bahwa investasi swasta di Indonesia masih menunjukkan tren yang relatif kuat dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Bersama Malaysia, Indonesia dinilai berhasil menjaga momentum investasi swasta yang didukung oleh berbagai inisiatif pemerintah.
Selain itu, diversifikasi rantai pasok global memberikan keuntungan tersendiri bagi kawasan Asean seiring dengan meningkatnya permintaan produk elektronik terkait akal imitasi (AI-related electronics).
Kendati prospek pertumbuhan tampak solid, Bank Dunia memberikan catatan khusus terkait stabilitas sektor eksternal. Laporan tersebut menyoroti adanya gejolak jangka pendek yang sempat terjadi akibat ketidakpastian politik dan pelonggaran kebijakan moneter yang agresif.
Kondisi tersebut sempat memicu arus modal keluar dan depresiasi nilai tukar Rupiah, yang memaksa Bank Indonesia melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Di sisi lain, harga minyak mentah yang diproyeksikan turun drastis ke rata-rata US$60 per barel pada 2026 dari level rata-rata US$69 per barel pada 2025.
Perkembangan tersebut dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini meringankan beban subsidi energi dalam APBN, namun di sisi lain dapat menekan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas.
