Bahas Banjir Jakarta, Geisz Chalifah Beber Kebohongan Survei Nasional dan Fakta Lokal

Bahas Banjir Jakarta, Geisz Chalifah Beber Kebohongan Survei Nasional dan Fakta Lokal

Fajar.co.id, Jakarta — Banjir di Jakarta kembali terjadi. Hanya saja, riuhnya tidak seperti saat Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI.

Bahkan, saat banjir di zaman Anies, muncul hasil survei yang disebut-sebut sebagai upaya mendiskreditkan kepemimpinan Anies di Jakarta.

Hal itu diungkap eks Komisaris Ancol, Geisz Chalifah melalui akun media sosialnya. Dia juga memposting kembali video dialog yang dipandu Karni Ilyas.

“Saat Qodari bicara banjir Jakarta dengan survei nasional Indo Barometer, yang ia lakukan bukan analisis kebijakan publik; melainkan manipulasi konteks. Banjir Jakarta bukan isu persepsi nasional. Ia peristiwa lokal dengan data kejadian yang tercatat, rinci, dan bisa diverifikasi di BPBD DKI Jakarta,” tulis Geisz dalam postingannya, dikutip Selasa (13/1/2026).

Mengukur banjir Jakarta dengan survei nasional, lanjut dia, sama kelirunya dengan mengukur tinggi air Ciliwung lewat jajak pendapat di luar Jakarta.

Data BPBD menunjukkan banjir di era Anies Baswedan tidak bisa dipukul rata sebagai kegagalan total. Fakta justru berkata lain. Pada masa Basuki Tjkahaja Purnama, terutama banjir besar 2015, genangan bertahan empat hingga tujuh hari, ratusan RW terdampak, dan puluhan ribu warga mengungsi. Luasan besar; waktu surut lama.

Pada sejumlah banjir besar di era Anies, genangan umumnya surut lebih cepat, satu hingga dua hari, dengan jumlah RW terdampak lebih kecil secara agregat. Banjir tetap terjadi karena Jakarta kota dataran rendah dengan kiriman air dari hulu; namun durasi dan luasan dampaknya menunjukkan perbaikan pada beberapa peristiwa, bukan kemunduran absolut seperti yang disugestikan survei nasional.