JAKARTA – Momen tahun baru sering disambut dengan semangat dan harapan baru. Meski demikian, sebagian orang justru merasakan kesedihan atau sendu pada bulan Januari.
Kondisi tersebut dikenal dengan January Blues. Dikutip dari Independent UK, pada Kamis, 8 Januari 2026, January Blues umumnya muncul setelah euforia liburan Natal dan Tahun Baru berakhir.
“January Blues merujuk pada perasaan sedih, kurangnya motivasi, kesepian, dan energi rendah yang sering muncul setelah musim perayaan,” kata psikolog, Dr. Lalitaa Suglani.
Adapun beberapa penyebab terjadinya January Blues adalah sebagai berikut ini.
1. Peralihan rutinitas
Rasa sendu yang muncul umum terjadi ketika kita harus beralih dari suasana penuh kegembiraan, kehangatan, dan meriah liburan menuju awal tahun yang kembali disibukkan dengan berbagai kegiatan yang sudah terstruktur sebelum memulai liburan.
“Rutinitas liburan, seperti begadang dan pola makan yang tidak teratur, mengganggu ritme sirkadian kita, sehingga lebih sulit untuk kembali ke rutinitas yang terstruktur,” tuturnya.
2. Penurunan dopamin
Penurunan dopamin secara drastis juga terjadi di awal tahun, sehingga menyebabkan January Blues. Musim perayaan sering kali membawa peningkatan dopamin, yang memberi kebahagiaan, dan saat Januari tiba, maka kebahagiaan tersebut seakan hilang begitu saja.
“Ketika rangsangan ini berakhir, kadar dopamin dapat turun drastis, membuat orang merasa lesu,” kata Suglani.
3. Perasaan tidak mampu
Tekanan yang dirasakan di tahun yang baru juga menyebabkan perasaan tidak mampu, sehingga merasa sendu. Contohnya seperti di tahun baru biasanya orang akan dihadapkan dengan target-target baru dalam pekerjaan.
Bagi Anda yang mengalami berbagai gejala tersebut, maka sebaiknya segera mengatasi January Blues yang dirasakan agar tidak berlarut. Pertama yang dapat dilakukan adalah hadapi Januari dengan lebih santai, dan jangan terburu-buru mengejar resolusi yang besar.
Usahakan juga untuk mendapat paparan sinar matahari setiap hari. Ini karena cahaya alami dapat meningkatkan serotonin dan memperbaiki suasana hari.
Selain itu, perbaiki pola tidur dengan menjaga jadwal tidur konsisten untuk menjaga ritme sirkadian tubuh tetap stabil. Alih-alih membuat resolusi yang terlalu ambisius, fokuslah pada niat yang lebih realistis dan sesuai dengan nilai hidup agar tidak terlalu membebani dan membuat diri sedih saat harapan tidak tercapai.









