Author: Detik.com

  • Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Minneapolis

    Seorang perempuan di kota Minneapolis ditembak mati oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01). Kejadian ini tak jauh dari lokasi kematian laki-laki bernama George Floyd pada 2020 di tangan empat polisi pada tahun 2020.

    Penembakan ini dikecam berbagai kalangan, termasuk Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, yang menuntut agar aparat imigrasi federal (biasa disebut agen ICE) segera meninggalkan kota itu.

    Korban penembakan telah diidentifikasi keluarganya. Dia adalah Renee Nicole Good, warga negara AS berusia 37 tahun. Pemerintah kota Minneapolis menyebut Renee ditembak saat sedang dalam perjalanan untuk merawat sejumlah tetangganya.

    Penembakan ini terjadi tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, memulai apa yang dia sebut sebagai “operasi penegakan hukum imigrasi besar-besaran” di Minneapolis. Trump mengirim lebih dari 2.000 agen ICE ke kota itu.

    Para petugas imigrasi inilah yang diminta Wali Kota Jacob Frey untuk segera pergi dari Minneapolis. “Pergi dari Minneapolis!” kata Jacob saat konferensi pers. “Kami tidak menginginkan kalian di sini.”

    Potret anggota FBI di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Getty Images)

    Hal yang sama dikatakan Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang mengklaim penembakan terjadi ketika seorang “perusuh yang melakukan kekerasan” diduga mencoba menabrak seorang petugas imigrasi.

    Kristi Noem, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, menyebut petugas tersebut “menembak untuk membela diri”.

    Di tengah kecaman, Noem menyebut para petugas imigrasi akan terus melanjutkan operasi mereka mencari imigran di Minneapolis.

    Bagaimana kronologi penembakan ini?

    Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, menyatakan perempuan bernama Renee Nicole Good tewas dengan luka tembak di kepala. Setelah ditembak, mobil yang dikendarai Renee menabrak kendaraan lainnya.

    O’Hara berkata, personal kepolisiannya dikontak untuk segera tiba di lokasi penembakan. Sejumlah polisi, kata dia, lalu melakukan prosedur pertolongan darurat sebelum melarikan Renee ke Hennepin County Medical Center.

    Di rumah sakit inilah Renee dinyatakan meninggal dunia.

    Agen Patroli Perbatasan AS menahan seseorang di dekat Sekolah Menengah Atas Roosevelt saat jam pulang sekolah, tak lama setelah kejadian penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Menurut penelusuran polisi, mobil yang dikendarai Renee menutup akses lalu lintas antara dua jalan di Portland Avenue.

    “Seorang petugas penegak hukum federal mendekatinya dengan berjalan kaki, dan kendaraan itu mulai melaju,” kata O’Hara.

    “Setidaknya dua tembakan lalu dilepaskan,” katanya, menambahkan bahwa mobil itu kemudian menabrak pinggir jalan.

    BBC Verify memantau media sosial dan melihat sejumlah video yang menunjukkan penembakan tersebut.

    Sebuah lubang bekas peluru terlihat di kaca depan kendaraan yang ada dalam lokasi penembakan oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01), di Minneapolis, Minnesota. (Getty Images)

    Kami telah memverifikasi tiga video insiden tersebut, semuanya direkam dari Portland Avenue. Kami memastikan bahwa tiga video itu direkam di lokasi yang sama dengan lokasi penembakan.

    Salah satu video yang telah kami verifikasi menunjukkan seorang petugas imigrasi AS di depan sebuah mobil, beberapa saat sebelum mereka melepaskan tembakan.

    Kami mengkonfirmasi bahwa video-video tersebut pertama kali muncul secara online hari ini.

    Dalam rekaman tersebut, sebuah mobil berwarna merah marun bergerak saat tiga tembakan terdengar.

    Beberapa detik kemudian, mobil tersebut menabrak dua mobil yang diparkir.

    Agen ICE berdiri di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Anadolu via Getty Images)

    Pada video lainnya, terlihat puluhan petugas dari berbagai lembaga penegak hukum berkerumun di jalan perumahan yang tertutup salju.

    Penegak hukum memasang pita kuning penanda TKP di jalan tersebut, yang dipenuhi rumah-rumah.

    Puluhan warga dan penonton berkerumun di dekat pita polisi, beberapa berteriak kepada petugas penegak hukum.

    Video lain dari media berita lokal menunjukkan barisan polisi mengelilingi sebuah SUV berwarna merah marun, dengan pintunya sedikit terbuka.

    Kendaraan tersebut tampaknya menabrak kendaraan putih di dekat tumpukan salju di sisi jalan. Barang-barang tergantung di pintu yang sedikit terbuka.

    Bagian belakang kendaraan putih tersebut hancur, dengan spatbornya terlepas.

    Siapa korban sebenarnya?

    Dewan Kota Minneapolis mengonfirmasi identitas perempuan yang tewas sebagai Renee Nicole Good.

    “Renee adalah warga kota kami yang sedang merawat tetangganya pagi ini dan nyawanya diambil di tangan pemerintah federal,” begitu bunyi pernyataan dewan kota.

    “Siapa pun yang membunuh seseorang di kota kami pantas ditangkap, diselidiki, dan dituntut hingga batas maksimal hukum,” tulis mereka.

    Adu klaim pejabat AS

    Di tengah kecaman dari pejabat kota Minneapolis, seorang juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebut Renee adalah “salah satu perusuh yang melakukan kekerasan dengan mempersenjatai kendaraannya”.

    Lembaga ini menuding Renee berusaha menabrak petugas imigrasi.

    Oleh karena itulah, klaim lembaga ini, seorang agen ICE “melepaskan tembakan untuk membela diri”.

    Warga berdemonstrasi menentang otoritas imigrasi federal AS di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Namun Wali Kota Minneapolis Jaboc Frey menuduh pihak federal berusaha memutarbalikkan fakta.

    Jaboc membantah pernyataan sejumlah pejabat federal, termasuk klaim petugas imigrasi yang membela diri. Jacob berkata, dia telah melihat sendiri video kejadian itu.

    “Ini adalah tindakan seorang agen yang secara sembrono menggunakan kekuasaan yang mengakibatkan seseorang meninggal,” katanya.

    Peristiwa ini dikecam berbagai kalangan. Tina Smith, senator dari Minneapolis dari Partai Demokrat, meminta agen ICE untuk meninggalkan negara bagian itu “demi keselamatan semua orang”.

    “Semoga Minneapolis tetap aman,” ujarnya.

    Sementara itu, warga Minneapolis saat ini juga turun ke jalanan untuk berdemonstrasi mengutuk penembakan ini.

    “Saya merasakan kemarahan Anda. Saya juga marah,” kata Gubernur Negara Bagian Minnesota, Tim Walz.

    Walz meminta seluruh komunitas di AS untuk bersolidaritas kepada warga Minnesota.

    Sebuah titik peringatan yang didirikan warga Minneapolis untuk korban penembakan Renee Nicole Good. (Bloomberg via Getty Images)

    Mengapa agen ICE berada di Minneapolis?

    Trump mengerahkan tambahan 2.000 agen federal ke wilayah Minneapolis dalam beberapa pekan terakhir.

    Pengerahan agen ICE yang dimulai awal tahun ini merupakan salah satu pengerahan personel Departemen Keamanan Dalam Negeri terbesar di sebuah kota di AS dalam beberapa tahun terakhir.

    Sejak akhir 2025, imigrasi AS mengincar orang-orang di Minneapolis yang telah menerima perintah deportasi, termasuk anggota komunitas Somalia di kota tersebut.

    Komunitas Somalia itu sering diolok oleh Presiden AS Donald Trump dengan istilah “sampah”.

    “Saya tidak menginginkan mereka di negara kita. Jujur saja,” kata presiden. “Negara mereka tidak baik karena suatu alasan. Negara mereka bau.”

    Trump kemudian mempertegas pernyataannya setelah sebuah video YouTube oleh seorang kreator konten konservatif menuduh pusat penitipan anak yang dikelola warga Somalia melakukan penipuan.

    “Usir mereka dari sini,” tulis Trump di Truth Social pada bulan Desember. Ia juga menahan dana penitipan anak federal untuk negara bagian Minnesota sebagai tanggapan.

    Pemerintahan Trump juga telah mengirim agen ICE ke kota-kota lain, semuanya sebagai bagian dari penindakan luas terhadap apa yang mereka sebut sebagai imigrasi ilegal di AS.

    Lihat juga Video: Penembakan Massal di Gereja Salt Lake City AS, 2 Orang Tewas

    (nvc/nvc)

  • Video Pecahkan Rekor Dunia, Lifter Rizki Naik Pangkat Jadi Kapten

    Video Pecahkan Rekor Dunia, Lifter Rizki Naik Pangkat Jadi Kapten

    Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi Lifter Indonesia Rizki Juniansyah karena berhasil memecahkan rekor dunia kategori angkat besi pada SEA Games 2025. Prabowo menyebut pangkat Rizki dinaikkan dua tingkat, dari letnan dua menjadi kapten oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

    Pernyataan ini Prabowo sampaikan dalam pidato acara Pemberian Penghargaan Atlet SEA Games ke-33 Thailand 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat pada Kamis (8/1).

  • Wajah Baru Mitsubishi Triton, Harga Rp 300 Jutaan

    Wajah Baru Mitsubishi Triton, Harga Rp 300 Jutaan

    Jakarta

    Mitsubishi Triton anyar meluncur. Hadir dengan nama Mitsubishi Triton Street, mobil ini tampil beda dengan desain wajah baru.

    Menariknya, ubahan “wajah” ini sementara hanya tersedia untuk pasar Thailand dan khusus untuk model Mega Cab (ekstra kabin).

    Grilnya kini memiliki lekukan yang lebih tegas dengan dominasi warna hitam. Banyak yang menyebut tampilannya mirip dengan helm Stormtrooper dari film Star Wars.

    Sebagai varian entry-level, Triton Street dibekali dengan lampu depan halogen dan belum memiliki lampu kabut. Kesan sporty diperkuat dengan penggunaan velg alloy 17 inci berwarna hitam dan skid plate yang lebih besar di bagian bawah bumper.

    Di balik kap mesinnya, Mitsubishi masih menyematkan mesin turbodiesel 2.4 liter 4-silinder. Mesin ini mampu menyemburkan tenaga sebesar 148 hp (150 PS) dengan torsi puncak 330 Nm.

    Tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang (RWD) melalui transmisi manual 6-percepatan. Meski tidak dibekali sistem 4WD, Mitsubishi tetap menyematkan fitur Active Limited-Slip Differential yang membantu traksi saat mobil melibas jalanan licin.

    Walaupun diposisikan sebagai model terjangkau, fitur yang disematkan tidak pelit. Di bagian interior, konsumen sudah mendapatkan:

    Layar infotainment sentuh 10 inci.Sistem keselamatan Forward Collision Mitigation (FCM).Hill-start Assist (HSA).3 buah airbag.

    Di Thailand, Mitsubishi Triton Street dibanderol mulai dari 649.000 Baht, atau jika dikonversi sekitar Rp 346 jutaan.

    Hingga saat ini, belum ada informasi resmi apakah desain wajah “Stormtrooper” ini akan dibawa ke Indonesia atau akan menjadi standar baru untuk facelift Triton versi Double Cab di masa mendatang.

    (riar/dry)

  • Ini Pasal yang Digugat Terkait Berkendara Sambil Merokok, SIM Diminta Dicabut

    Ini Pasal yang Digugat Terkait Berkendara Sambil Merokok, SIM Diminta Dicabut

    Jakarta

    Seorang warga bernama Syah Wardi mengajukan permohonan pengujian materiil (uji konstitusionalitas) terhadap ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Syah Wardi menggugat dua pasal di dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009, khususnya yang berkaitan dengan berkendara sambil merokok.

    Syah Wardi menggugat Pasal 106 ayat (1) dan pasal 283 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Menurutnya, pasal tersebut tidak memberikan kejelasan dan kepastian hukum.

    “Khususnya Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283, yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa ketentuan a quo mengatur kewajiban pengemudi untuk mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi serta sanksi pidana bagi pengemudi yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Namun dalam praktik, norma tersebut tidak memberikan kejelasan dan kepastian hukum, khususnya terkait perbuatan yang secara nyata mengganggu konsentrasi dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, termasuk aktivitas merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor,” tulisnya dalam permohonan kepada MK.

    Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 itu berbunyi, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan Kendaraan Bermotor tersebut dengan wajar dan penuh konsentrasi.” Sedangkan Pasal 283 UU LLAJ, berbunyi, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

    Syah Wardi menilai, pasal-pasal tersebut bersifat kabur, lemah atau multitafsir. Setiap kekaburan norma dalam bidang lalu lintas berpotensi menimbulkan akibat yang fatal dan irreversibel, berupa hilangnya nyawa manusia atau cacat permanen.

    “Bahwa frasa ‘penuh konsentrasi’ dalam Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ merupakan norma yang bersifat abstrak, terbuka, dan tidak disertai penjelasan limitatif, sehingga tidak memberikan kepastian hukum mengenai perbuatan apa saja yang dianggap mengganggu konsentrasi;tingkat gangguan konsentrasi yang dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran hukum; parameter objektif yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum dalam menilai pelanggaran,” katanya.

    Dalam praktiknya, kekaburan frasa “penuh konsentrasi” menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Syah Wardi menilai, perbuatan yang secara nyata berbahaya, seperti merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor, sering kali tidak dikenai sanksi hukum secara konsisten karena tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang.

    Menurutnya, merokok saat berkendara adalah tindakan berbahaya. Soalnya, secara faktual dan rasional, merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor mengharuskan pengemudi melepaskan salah satu tangan dari kemudi; mengalihkan fokus visual dan kognitif; berpotensi menimbulkan reaksi refleks berbahaya (abu jatuh, bara api, puntung rokok); serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

    Sanksi pada pasal 283 UU LLAJ juga dinilai terlalu ringan dan tidak proporsional dibandingkan dengan tingkat bahaya yang ditimbulkan. Menurutnya, sanksi yang diatur dalam pasal itu tidak menimbulkan efek jera, tidak mencerminkan nilai perlindungan terhadap hak hidup, dan tidak sejalan dengan tujuan hukum lalu lintas, yaitu menciptakan keamanan dan keselamatan berlalu lintas.

    Untuk itu, Syah Wardi meminta MK untuk mengabulkan permohonannya dalam pengujian materiil UU LLAJ. Syah Wardi juga memohon kepada MK agar pengendara yang merokok mendapat sanksi tambahan, termasuk pencabutan SIM.

    “Terhadap pelanggar yang merokok saat berkendara wajib dikenakan Sanksi Tambahan berupa kerja sosial pembersihan jalan raya atau pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk jangka waktu tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas risiko bahaya yang ditimbulkan bagi publik,” tulisnya.

    “Menegaskan bahwa pemberian Sanksi Tambahan dan penerapan Pemaknaan Maksimal dalam penegakan Pasal 283 tersebut merupakan instrumen perlindungan hukum yang adil bagi warga negara untuk mendapatkan lingkungan jalan raya yang aman, sehat, dan bebas dari ancaman fisik akibat residu pembakaran rokok (abu dan bara),” sambungnya dalam permohonan kepada MK.

    (rgr/dry)

  • Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Minneapolis

    Agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada Rabu (07/01) menembak mati seorang perempuan yang disebut mencoba menabrakkan kendaraannya ke arah petugas ICE, menurut keterangan otoritas Amerika Serikat (AS).

    Dalam unggahan di X, Department of Homeland Security (DHS) atau Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa para agen ICE sedang melakukan penggerebekan di Minneapolis ketika “kerusuhan mulai menghalangi” pergerakan para agen.

    “Salah satu perusuh yang bertindak brutal menjadikan kendaraannya sebagai senjata, mencoba melindas aparat penegak hukum kami dengan tujuan membunuh mereka, sebuah tindakan terorisme domestik,” kata DHS.

    Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, dengan tegas menolak klaim pemerintah federal bahwa para agen ICE bertindak untuk membela diri.

    Frey mengatakan ia telah melihat video kejadian tersebut, di mana sebuah SUV Honda tampak menghalangi kendaraan tanpa tanda yang digunakan oleh aparat penegak hukum.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan ini sebagai tindakan pembelaan diri,” ujar Frey. “Setelah saya sendiri melihat videonya, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Sementara itu, Gubernur Minnesota Tim Walz meminta publik agar tidak mempercayai “mesin propaganda” DHS terkait respons lembaga itu atas penembakan mematikan tersebut.

    Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penembakan fatal tersebut tampaknya merupakan tindakan membela diri. Ia juga menuduh korban telah dengan kejam menabrak agen ICE.

    “Perempuan yang mengemudikan mobil itu bertindak sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, lalu dengan keras, sengaja, dan kejam menabrak Petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri,” tulis Trump di Truth Social.

    Terjadi di tengah aksi protes

    Dalam rekaman video yang belum diverifikasi dan beredar di media sosial, terlihat para agen ICE mendekati kendaraan tersebut dan mencoba membuka pintunya. Saat perempuan berusia 37 tahun itu berusaha melarikan diri dengan mengemudi, seorang agen melepaskan tembakan sebanyak tiga kali, sebelum mobil itu akhirnya menabrak sesuatu di dekat lokasi.

    Peristiwa ini terjadi saat berlangsungnya aksi protes terhadap penggerebekan ICE di bagian selatan kota terbesar di Minnesota, menurut media lokal.

    Frey mengatakan, “kami telah mengkhawatirkan momen ini sejak awal kehadiran ICE di Minneapolis.”

    Wali Kota Minneapolis itu juga menyerukan agar otoritas imigrasi “angkat kaki dari kota ini,” dan menuduh para agen ICE menyebabkan kekacauan dan ketidakpercayaan.

    Kawasan Twin Cities, yaitu Minneapolis dan St. Paul, diliputi suasana mencekam sejak Departemen Keamanan Dalam Negeri pada Selasa (06/01) mengumumkan rencana operasi dengan mengerahkan 2.000 agen dan petugas federal ke wilayah Minneapolis sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi.

    Pada akhir bulan lalu, seorang influencer sayap kanan mengunggah video yang mengklaim bahwa sebuah pusat penitipan anak di Minneapolis yang dikelola warga Somalia telah melakukan penipuan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,7 triliun).

    Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dan Direktur FBI Kash Patel kemudian mengumumkan peningkatan operasi di kota tersebut melalui media sosial. Patel menyatakan bahwa operasi itu sebagian akan menargetkan “skema penipuan berskala besar.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Hani Anggraini

    Editor: Melisa Ester Lolindu

    Lihat Video: Petugas Imigrasi AS Tembak Mati Wanita 37 Tahun Berujung Demo Warga

    (nvc/nvc)

  • Badai Salju Terjang Eropa, Kemlu Minta WNI Tingkatkan Kewaspadaan

    Badai Salju Terjang Eropa, Kemlu Minta WNI Tingkatkan Kewaspadaan

    Jakarta

    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus berkoordinasi dengan KBRI setempat terkait badai salju yang terjadi di Eropa. Hingga saat ini, tidak ada laporan WNI menjadi korban.

    “Hingga saat ini KBRI Den Haag dan KBRI Paris kita belum menerima laporan adanya WNI yang terkena dampak (badai salju),” kata Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang di gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

    Yvonne menegaskan Kemlu terus memonitor perkembangan situasi cuaca di Eropa. Menurutnya, Belanda dan Prancis merupakan negara yang paling terdampak badai salju.

    “Kami sudah koordinasi juga kemarin in close contact dengan KBRI Den Haag dan KBRI Paris, memang kita terus monitor perkembangan situasi negara-negara yang paling terdampak situasi cuaca dingin bersalju seperti di Belanda dan di Prancis,” ujarnya.

    Yvonne mengungkap adanya transportasi yang terganggu di Eropa. Ia mengimbau seluruh WNI di Eropa tetap waspada.

    “Memang pelayanan transportasi publik, penerbangan semua, kereta, itu kan mengalami gangguan. Untuk itu memang KBRI Den Haag dan KBRI Paris telah meng-invoke kepada seluruh WNI untuk tetap waspada dan terus memantau perkembangan informasi cuaca,” katanya.

    (eva/eva)

  • Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Berikut sejumlah informasi pilihan dari sejumlah negara yang berlangsung selama 24 terakhir yang telah kami rangkum untuk Anda.

    Berita dari Australia menjadi pembuka Dunia Hari Ini edisi Kamis, 8 Januari 2026.

    Kebakaran hutan diperkirakan terjadi besok

    Gelombang panas yang melanda benua Australia sudah memasuki hari kedua, dengan suhu tinggi diperkirakan akan kembali terjadi di Victoria, Australia Selatan, dan New South Wales.

    Pihak berwenang pemadam kebakaran tetap siaga tinggi karena dikhawatirkan banyak rumah-rumah yang hancur akibat kebakaran yang tak terkendali di Victoria tengah.

    Kepala Petugas CFA, Jason Heffernan, memberikan informasi terbaru tentang cuaca yang diperkirakan akan terjadi di Victoria besok.

    “Suhu akan berada di kisaran 40 derajat Celcius, terutama di bagian utara negara bagian,” kata Jason, yang juga memperingatkan angin akan menyebabkan kebakaran hutan yang “sangat mengerikan”.

    Kepala Pemadam Kebakaran FFMVic Chris Hardman mengatakan warga tidak aman untuk berada di daerah semak belukar dengan hutan dan rumput yang akan mudah terbakar, dan sangat kecil kemungkinan petugas pemadam kebakaran dapat mengendalikan api.

    AS menghadang lebih banyak kapal tanker

    Militer Amerika Serikat sudah menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara, yang mencoba menghindari blokade AS selama berminggu-minggu.

    Ini adalah salah satu dari dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela, yang dicegat oleh Amerika Serikat dalam beberapa jam, karena pemerintahan presiden Trump berjanji untuk mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak negara itu secara ketat tanpa batas waktu.

    Inggris memberikan “dukungan” dalam penyitaan kapal tanker tersebut, termasuk pesawat pengintai dan kapal.

    Rusia dilaporkan mengirimkan kapal selam dan kapal angkatan laut lainnya ke lokasi kejadian, menyatakan kapal tanker itu adalah “kapal kami”.

    Rusia juga menuntut pembebasan warga negaranya, yang menurut mereka berada di atas kapal, tetapi Amerika Serikat mengatakan mereka dapat dibawa ke Amerika dan diadili.

    Agen ICE tembak mati seorang perempuan

    Di tengah menegakkan hukum imigrasi yang ketat, seorang agen imigrasi AS menembak dan membunuh seorang perempuan berusia 37 tahun di dalam mobilnya di Minneapolis.

    Rabu kemarin, Renee Nicole Good ditembak di kepala di depan anggota keluarganya dalam operasi nasional di bawah kebijakan Presiden Donald Trump terhadap imigran.

    Para pejabat federal mengatakan penembakan dilakukan sebagai tindakan otoritas yang membela diri, tetapi Walikota Minneapolis Jacob Frey mengatakannya sebagai “narasi sampah” pemerintah.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan fakta bahwa ini adalah tindakan membela diri,” kata Jacob dalam konferensi pers.

    “Setelah melihat videonya sendiri, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Israel akan mulai bangun permukiman di Tepi Barat

    Israel dilaporkan sudah melewati rintangan terakhir sebelum memulai pembangunan proyek pemukiman kontroversial di dekat Yerusalem, yang secara efektif akan membelah Tepi Barat menjadi dua, menurut tender pemerintah.

    Organisasi anti-permukiman ‘Peace Now’ pertama kali melaporkan tender tersebut , yang mencari penawaran dari pengembang untuk membuka jalan untuk memulai pembangunan proyek E1.

    Yoni Mizrahi, yang menjalankan divisi pengawasan pemukiman dari kelompok tersebut, mengatakan pekerjaan awal dapat dimulai dalam bulan ini.

    Pengembangan pemukiman di E1, sebidang tanah terbuka di sebelah timur Yerusalem, telah dipertimbangkan selama lebih dari dua dekade, tetapi dibekukan karena tekanan AS selama pemerintahan sebelumnya.

    Komunitas internasional secara mayoritas menganggap pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat sebagai tindakan ilegal dan penghalang perdamaian.

    Lihat juga Video: Raja Juli Pamer Angka Kebakaran Hutan Turun di ISF 2025

  • Kasus Kanker Diprediksi Bakal Meroket, Apa Pemicunya?

    Kasus Kanker Diprediksi Bakal Meroket, Apa Pemicunya?

    Jakarta

    Sebuah peringatan serius muncul dari laporan terbaru Global Burden of Disease yang dipublikasikan jurnal The Lancet. Kasus kanker di seluruh dunia tercatat meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990, dan diprediksi akan terus melonjak hingga menembus angka 30 juta kasus baru per tahun pada 2050.

    Data menunjukkan sebuah fakta yang mengejutkan. Sekitar 42 persen kematian akibat kanker (atau sekitar 4,3 juta jiwa pada tahun 2023) ternyata berkaitan erat dengan faktor risiko yang sebenarnya bisa kita ubah.

    Para peneliti mengidentifikasi 44 faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dengan beberapa pemicu utama sebagai berikut:

    Penggunaan Tembakau: Masih menjadi musuh nomor satu, menyumbang 21 persen dari total kematian kanker global.Pola Makan Tidak Sehat dan Gula Darah Tinggi: Menjadi pemicu dominan di negara-negara dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.Obesitas dan Polusi Udara: Dua faktor yang terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern dan urbanisasi.Perilaku Seks Tidak Aman: Menjadi faktor risiko utama di negara-negara berpenghasilan rendah, terutama terkait penularan virus pemicu kanker seperti HPV.

    Kanker Payudara dan Paru-paru Mendominasi

    Hingga tahun 2023, kanker payudara tercatat sebagai jenis yang paling sering didiagnosis. Sementara itu, kanker saluran pernapasan (trakea, bronkus, dan paru-paru) tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.

    Hal ini memperkuat bukti bahwa faktor lingkungan dan kebiasaan merokok masih memiliki dampak yang sangat mematikan.

    Dr Lisa Force dari University of Washington menekankan bahwa data ini harus menjadi alarm bagi pemerintah di seluruh dunia. Mengandalkan pengobatan saja tidak akan cukup untuk membendung “tsunami” kanker di masa depan.

    Walau pertumbuhan populasi dan penuaan menjadi faktor alami kenaikan kasus, gaya hidup tetap memegang peran krusial. Dengan memperbaiki pola makan, menjaga berat badan, dan menjauhi rokok, kita sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan paling kuat untuk melawan ancaman kanker di masa depan.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Serangan Rusia Bikin 1 Juta Orang di Ukraina Hidup Tanpa Air-Pemanas

    Serangan Rusia Bikin 1 Juta Orang di Ukraina Hidup Tanpa Air-Pemanas

    Kyiv

    Rentetan serangan Rusia terhadap Ukraina dalam semalam telah menyebabkan lebih dari satu juta orang di wilayah Dnipropetrovsk harus hidup tanpa pasokan atau pemanas selama musim dingin, dengan suhu turun di bawah titik beku.

    Sama seperti musim dingin sebelumnya, Rusia telah mengintensifkan serangannya terhadap fasilitas-fasilitas energi Ukraina, yang memicu pemadaman pasokan pemanas dan air, dalam apa yang disebut oleh Kyiv dan sekutunya sebagai strategi yang disengaja untuk melemahkan penduduk sipil.

    Laporan operator jaringan listrik negara, Ukrenergo, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2025), menyebut serangan drone Rusia dalam skala besar telah melumpuhkan aliran listrik di wilayah Zaporizhzhia, yang menyebabkan ribuan orang tanpa listrik atau pemanas.

    “Pekerjaan perbaikan terus berlanjut di wilayah Dnipropetrovsk untuk memulihkan pasokan pemanas dan air bagi lebih dari satu juta pelanggan,” ucap Menteri Restorasi Oleksiy Kuleba dalam pernyataan via media sosial.

    Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa serangan Rusia melibatkan 97 drone, dengan 70 drone di antaranya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara. Namun 27 drone lainnya, sebut Angkatan Udara Ukraina, menghantam berbagai lokasi, yang tidak dijelaskan lebih lanjut.

    Otoritas Rusia belum menanggapi laporan serangan drone tersebut.

    Kepala otoritas militer di wilayah Dnipropetrovsk, Vladyslav Gaivanenko, mengatakan bahwa infrastruktur energi penting di Dnipropetrovsk mengalamai kerusakan akibat serangan Rusia tersebut.

    “Situasinya sulit. Namun, segera setelah situasi keamanan memungkinkan, para pekerja energi akan memulai pekerjaan pemulihan,” ucapnya via Telegram.

    Di Zaporizhzhia, menurut gubernur setempat, Ivan Fedorov, pasokan listrik telah dipulihkan ke “fasilitas-fasilitas utama”, tetapi sebagian besar warga masih hidup tanpa pasokan listrik.

    Ukraina telah membalas serangan-serangan Moskow terhadap jaringan energinya, yang telah berlangsung lama, dengan menggempur depot dan kilang minyak di wilayah Rusia.

    Serangan balasan itu dimaksudkan untuk memutus ekspor energi vital Rusia dan memicu kekurangan bahan bakar.

    Lihat juga Video Serangan Skala Besar Rusia ke Kyiv Jelang Natal, 3 Orang Tewas

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Washington DC

    Ketika Nicolas Maduro diseret pemerintah AS ke pengadilan di New York, Senin (05/01), Presiden Venezuela itu bukanlah satu-satunya figur yang menarik perhatian media.

    Di sampingnya ada orang yang akan memimpin pembelaannya seorang pengacara Amerika yang dikenal karena memenangkan kasus-kasus luar biasa dan kompleks, seperti yang tengah dihadapi Maduro.

    Pengacara itu bernama Barry Pollack. Dia adalah pengacara pribadi Maduro.

    Pollack akan mendampingi Maduro menghadapi tuduhan memperdagangkan narkotik, mengimpor kokain, dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.

    Dalam sidang perdana itu, Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah atas semua tuduhan. Maduro bilang telah diculik pemerintah AS dan menegaskan bahwa dia tetap berstatus Presiden Venezuela.

    Pollack kini berusia 61 tahun. Dia merupakan pimpinan di firma hukum Wall Street Harris St. Laurent & Wechsler, yang kantornya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari gedung pengadilan tempat Maduro diadili.

    Pollack juga berstatus sebagai profesor ilmu hukum di Universitas Georgetown.

    Ilustrasi Pollack di ruang sidang New York bersama Maduro (Reuters)

    ‘Teliti dan bijaksana’

    Menurut website firma hukum Harris St. Laurent & Wechsler, Pollack secara luas diakui sebagai salah satu pengacara litigasi paling terkemuka di negara AS.

    Pollack juga disebut sebagai mantan Presiden Asosiasi Pengacara Pembela Kriminal Nasional.

    Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Pollack dikenal karena menangani “persidangan dan investigasi yang sensitif dan seringkali berprofil tinggi.”

    Di antara kasus-kasus penting yang dia tangani, Pollack berhasil membebaskan Julian Assange, jurnalis dan aktivis asal Australia yang mendirikan WikiLeaks, pada tahun 2024.

    Situs Chambers USA, yang menyusun peringkat firma hukum dan pengacara terbaik di AS, menggambarkan Pollack sebagai “pengacara yang teliti dan bijaksana”.

    Lembaga ini menyebut Pollack “hidup dan bernapas dalam persidangannya” dan “memiliki cara alami untuk tampil di hadapan juri.”

    Dalam wawancara dengan Law Dragon, April 2025,, sebuah media massa yang didedikasikan untuk para profesional hukum, dan dikutip oleh surat kabar Inggris The Guardian, Pollack menyebut beberapa refleksi tentang pekerjaannya.

    “Biasanya, ketika saya bertemu dengan klien, mereka sedang menghadapi krisis terburuk dalam hidup mereka,” kata Pollack.

    “Membimbing mereka melalui proses itu sangatlah memuaskan. Sulit membayangkan melakukan sesuatu yang memiliki dampak lebih besar pada kehidupan orang yang Anda bantu.”

    Pollack juga menyebutkan kekuatan yang dimilikinya.

    “Saya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan juri,” katanya.

    “Dalam arti tertentu, saya adalah seorang penerjemah. Saya mengambil banyak informasi yang sangat teknis dari industri yang mungkin tidak dikenal oleh juri dan mengkomunikasikannya dengan cara yang mudah dipahami.”

    Pollack bersama Julian Assange, pada hari pembebasan jurnalis asal Australia tersebut pada 2024 (Getty Images)

    Kasus-kasus penting

    Pollack menegosiasikan kesepakatan pembelaan dalam kasus Jullian Assange, yang dia sebut akhirnya membebaskan jurnalis tersebut.

    Assange menghadapi dakwaan berdasarkan Undang-Undang Spionase AS karena mengungkap secara besar-besaran dokumen rahasia AS ke situs WikiLeaks. Assange membeberkan kabel diplomatik dan laporan tindakan militer di Irak dan Afghanistan.

    Setelah berbulan-bulan negosiasi, Assange mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi untuk memperoleh dan mengungkapkan informasi pertahanan rahasia.

    Sebagai imbalannya, Assange dijatuhi hukuman penjara di Inggris, meski AS berupaya keras mengekstradisinya.

    Assange menghabiskan lima tahun di penjara keamanan maksimum Belmarsh di London dan tujuh tahun melarikan diri dari penegak hukum Inggris dan AS di kedutaan Ekuador di Inggris.

    Dalam kasus ini, kesepakatan yang tidak biasa yang dicapai oleh Pollack pada tahun 2024.

    Kesepakatan itu memungkinkan Assange untuk meninggalkan penjara di Inggris, serta bisa memberikan kesaksian di wilayah AS di Kepulauan Mariana Utara sebelum kembali ke negara asalnya, Australia.

    Di antara kasus-kasus penting lainnya, Pollack juga membebaskan mantan eksekutif Enron Corp., Michael Krautz, dari tuduhan penipuan kriminal.

    Kasus Krautz ini hanyalah satu dari dua kasus yang berakhir dengan putusan bebas dalam rentetan skandal kebangkrutan Enron.

    Pollack juga berhasil membebaskan orang-orang yang telah dipenjara secara tidak adil, seperti Martin Tankleff, yang menghabiskan 17 tahun di penjara setelah dituduh secara tidak adil membunuh orang tuanya saat masih remaja.

    Pollack dipotret di London selama sidang kasus Assange (Getty Images)

    “Penangkapan Maduro jelas ilegal”

    Selama di persidangan Maduro, Pollack menyatakan akan mengantisipasi pertarungan hukum yang panjang tentang apa yang disebutnya sebagai “penculikan Maduro oleh militer AS”.

    Artinya, Pollack akan berkeras dengan argumentasi bahwa operasi AS di Venezuela ilegal, seperti yang dilaporkan Reuters.

    Alonso Gurmendi, seorang ahli hukum internasional dan profesor di London School of Economics di London, mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional, operasi untuk menangkap Maduro “secara jelas, mutlak, dan tak terbantahkan ilegal dan tidak sah.”

    Hukum internasional melarang penggunaan kekuatan lintas batas antarnegara kecuali dalam tiga situasi, kata Gurmendi.

    “Skenario pertama, Dewan Keamanan PBB memberi Anda izin, tapi itu tidak terjadi dalam kasus Maduro. Skenario kedua, negara lain menyerang Anda terlebih dahulu dan Anda membela diri. Itu juga tidak terjadi karena Venezuela tidak menyerang AS berdasarkan interpretasi terluas dari pembelaan diri. Tidak ada serangan bersenjata oleh Venezuela terhadap Amerika Serikat.

    “Skenario ketiga, persetujuan Negara. Artinya, Venezuela harus memberi tahu AS bahwa ‘Anda dapat masuk dan menangkap Maduro,’ sesuatu yang juga tidak terjadi,” ujar Gurmendi.

    “Tidak satu pun dari tiga izin tersebut ada, oleh karena itu operasi tersebut merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional, merupakan tindakan agresi, dan sebagai tindakan agresi, melanggar hak-hak fundamental orang-orang yang terlibat, dalam hal ini Maduro,” ujar Gurmendi.

    Potret Maduro dan istrinya saat tiba di AS usai ditangkap militer AS (Getty Images)

    Profesor William Shabas mengatakan, “pertanyaan tentang ilegalitas penculikan Maduro adalah argumen yang sangat sah.”

    Shabas mencontohkan salah satu kasus yang paling terkenal yakni pada tahun 1960, Adolf Eichmann diculik di Argentina, lantas dibawa ke Israel. Pengadilan Israel menerima dalil penangkapan terhadap mata-mata Mossad itu, tapi pengadilan di Inggris tak sependapat.

    “Dari perspektif hak asasi manusia fundamental, ini adalah argumen yang sangat bagus, tetapi mungkin tidak akan terlalu berhasil di pengadilan AS,” ujarnya.

    Pada sisi lain, Gurmendi menyebut penangkapan dengan cara yang bertentangan dengan hukum tidak membatalkan proses hukum di Amerika Serikat. Hal ini tidak berlaku di banyak negara Amerika Latin.

    “Menurut pola pikir Amerika Latin, itu tidak masuk akal karena penangkapan ilegal berarti Anda merusak yurisdiksi pengadilan dan juga hukum internasional karena perlu perjanjian ekstradisi untuk itu,” ujarnya.

    “Hukum internasional tidak dimulai dari premis bahwa Anda dapat memasuki suatu negara dan melakukan apa pun yang Anda inginkan,” tuturnya.

    Menurut Gurmendi, argumentasi ini menunjukkan sesuatu yang mendasar yang harus dipertimbangkan pengadilan AS.

    “Meskipun Konstitusi Amerika Serikat menyatakan bahwa perjanjian internasional (dan hukum federal) adalah hukum tertinggi di negara itu, dalam tradisi konstitusional Amerika, hukum domestik lebih diutamakan daripada hukum internasional.”

    “Ketika kita berbicara tentang legalitas operasi tersebut, orang-orang di AS akan bertanya apakah presiden memiliki kekuasaan berdasarkan Konstitusi untuk melakukan ini dan membahas, misalnya, apakah Trump membutuhkan otorisasi dari Kongres atau tidak.”

    Potret Demonstrasi di Caracas setelah penangkapan Maduro (Getty Images)

    Argumen kekebalan hukum bagi kepala negara

    Pembelaan lain yang mungkin diajukan untuk Maduro adalah bahwa, sebagai kepala negara, dia menikmati kekebalan hukum.

    “Saya pikir ini adalah argumen dengan potensi yang jauh lebih besar, karena ini sangat jelas dalam hukum internasional,” kata Shabas.

    “Ada putusan dari Mahkamah Internasional yang menetapkan bahwa kepala negara, negara bagian, atau pemerintah menikmati kekebalan hukum di hadapan pengadilan negara lain.”

    Ada preseden di mana pemerintah AS menangkap pemimpin sebuah negara di Amerika Latin, yaitu Jenderal Panama Manuel Noriega, pada Januari 1990.

    Dalam memerintahkan penangkapan Noriega, Gedung Putih mengandalkan pendapat hukum tahun 1989 oleh Wakil Jaksa Agung saat itu, Bill Barr, yang dikeluarkan enam bulan sebelum invasi AS ke Panama.

    Barr kala itu berpendapat, larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, yang diabadikan dalam Piagam PBB, tidak bisa mencegah AS untuk melakukan penangkapan di luar negeri demi menegakkan hukum domestik.

    Noriega adalah pemimpin de facto Panama pada saat itu dan tidak pernah memegang jabatan presiden secara resmi. Negara itu saat itu berada dalam kekacauan akibat protes dan upaya pemberontakan militer.

    Kasus Noriega “adalah satu-satunya preseden yang menurut saya dapat dijadikan acuan oleh pihak penuntut,” menurut Shabas.

    “Tetapi saya pikir ada beberapa perbedaan penting antara kasus itu dan situasi Maduro. Dan karena itu, saya pikir Maduro memiliki argumen yang jauh lebih kuat dalam hal itu.”

    Amerika Serikat menangkap pemimpin de facto Panama, Jenderal Manuel Noriega, pada tahun 1990 (Getty Images)

    Beberapa pakar hukum berpendapat, jaksa AS kemungkinan akan berargumen bahwa mereka tidak mengakui Maduro sebagai kepala negara yang sah.

    Sebagai konteks, AS mendeklarasikan pemimpin oposisi Juan Guaid sebagai presiden sementara pada tahun 2019.

    Namun menurut Shabas, “intinya adalah Amerika Serikat mengakui Venezuela. Dan pertanyaannya kemudian sederhana: siapa kepala negara di Venezuela? Dan jika bukan Maduro, mengapa dia diculik? Jelas, dia adalah kepala negara dalam arti objektif, bahkan jika mereka keberatan, jika mereka tidak menyukainya, jika mereka mengklaim dia merebut kekuasaan secara tidak sah.”

    “Lagipula, Donald Trump mengatakan bahwa Joe Biden adalah kepala negara yang tidak sah selama empat tahun karena dia mengklaim telah memenangkan pemilihan. Jadi ini tidak mengubah apa pun dari perspektif hukum internasional,” ujarnya.

    Menurut Gurmendi, kegagalan pemerintah AS untuk mengakui Maduro “tidak berarti bahwa ia tidak memiliki kendali efektif atas negara tersebut dan oleh karena itu, berdasarkan hukum internasional, ia adalah orang yang harus dilindungi oleh kekebalan hukum.”

    Gurmendi bilang, fakta bahwa argumen kekebalan hukum tidak berhasil dalam kasus Noriega sekali lagi menunjukkan bahwa “kita berada dalam realitas di mana terdapat dua sistem normatif yang saling bertentangan, hukum nasional Amerika Serikat dan hukum internasional.”

    “Di Amerika Latin, misalnya, ada banyak negara yang mengatakan bahwa ketika terjadi konflik antara hukum internasional dan hukum domestik, hukum internasional yang berlaku.

    “Itulah yang terjadi di Peru dan beberapa negara lain di kawasan ini, tetapi tidak demikian halnya di Amerika Serikat,” kata Gurmendi.

    (nvc/nvc)