Author: Detik.com

  • Israel Serang Rumah Sakit di Gaza, 500 Orang Dilaporkan Tewas

    Israel Serang Rumah Sakit di Gaza, 500 Orang Dilaporkan Tewas

    Jakarta

    Pasukan militer Israel melakukan serangan di kompleks rumah sakit di jalur Gaza. Serangan mendadak itu disebut menewaskan 500 orang di lokasi.

    Dilansir AFP, Rabu (18/10/2023) dini hari, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 200 orang tewas di lokasi Rumah Sakit Al-Ahli Arab. Jumlah tersebut diperkirakan masih bisa bertambah.

    “200 hingga 300 pengungsi tewas dalam serangan pendudukan (Israel) di halaman rumah sakit Al-Ahli Arab di Gaza Tengah,” bunyi keterangan Kementerian Kesehatan Palestina.

    Dalam laporan tersebut pihak Kementerian Kesehatan menyebut ratusan korban masih berada di rerentuhan.

    “Ratusan korban masih berada di bawah rerentuhan,” katanya.

    Kantor media pemerintah Hamas di Gaza menggambarkan serangan Israel ke kompleks rumah sakit sebagai kejahatan perang. Lokasi tersebut merupakan tempat ratusan orang yang terluka dan harus mengungsi imbas dari serangan Israel ke Palestina dalam sepekan terakhir.

    “Rumah sakit itu menampung ratusan orang yang sakit dan terluka, dan orang-orang yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena serangan lainnya,” katanya.

    “Kami akan memeriksanya. Serangan itu terjadi beberapa saat yang lalu,” kata Daniel Hagari.

    (ygs/ygs)

  • Kala Biden Hendak ke Israel dan Putin Melawat ke China

    Kala Biden Hendak ke Israel dan Putin Melawat ke China

    Jakarta

    Perang berkecamuk di Jalur Gaza, Palestina. Israel bersiap melancarkan serangan darat. Di tengah situasi ini, dua pemimpin negara besar berkekuatan militer signifikan bakal melawat ke luar negeri.

    Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, akan mengunjungi Isral dan Yordania pekan ini. Dua negara tersebut memang bertetangga dengan batas darat yang menempel. Adapun AS merupakan negara ‘bestie’ alias ‘konco kenthel’ Israel.

    Seperti dilansir AFP dan Al Arabiya News, Selasa (17/10/2023), Gedung Putih mengungkapkan bahwa Biden akan mengunjungi Israel pada Rabu (18/10) waktu setempat untuk menunjukkan ‘dukungan teguh’ bagi sekutunya tersebut.

    Disebutkan Gedung Putih bahwa Biden dan para pejabat Israel juga akan ‘berkonsultasi mengenai langkah selanjutnya’.

    Dari Israel, Biden akan melanjutkan kunjungan ke Amman, ibu kota Yordania, untuk bertemu dengan Raja Abdullah. Dalam kunjungan ke Yordania, sebut Gedung Putih, Biden juga akan bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari yang sama.

    “Dia (Biden-red) akan menegaskan kembali bahwa Hamas tidak membela hak rakyat Palestina atas martabat dan penentuan nasib sendiri, serta membahas kebutuhan kemanusiaan warga sipil di Gaza,” demikian pernyataan Gedung Putih.

    Negara-negara Arab dan Teluk berada di garis depan dalam menekan AS untuk mendorong Israel agar tidak menargetkan warga sipil dalam serangannya dan memastikan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan sungguh-sungguh bisa sampai ke tangan warga sipil Jalur Gaza.

    Ilustrasi: Tentara Israel (HAZEM BADER/AFP)

    Seperti dilansir Al Arabiya News dan CNN, Selasa (17/10/2023), juru bicara Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Letnan Kolonel Jonathan Conricus menyatakan bahwa dirinya meyakini Biden mendukung operasi Israel untuk mengalahkan Hamas. Israel tak akan mengurungkan niat melancarkan serangan darat ke Gaza meski Biden datang.

    “Saya pikir presiden juga mengatakan bahwa ‘Hamas perlu dihancurkan’, dan itulah tujuan militer kami,” ucap Conricus.

    Selanjutnya, Putin melawat ke China:

  • Turki dan Hamas Bahas Pembebasan Ratusan Sandera

    Turki dan Hamas Bahas Pembebasan Ratusan Sandera

    Jakarta

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan mengatakan bahwa negaranya tengah menjalin kontak dengan Hamas mengenai sekitar 200 sandera Israel dan warga asing yang ditahan di Gaza. Hal ini dilakukan menyusul permintaan dari beberapa negara.

    “Sejauh ini kami telah menerima permintaan dari berbagai negara untuk pembebasan warganya. Hasilnya, kami mulai membicarakan masalah ini, terutama dengan sayap politik Hamas,” kata Hakan Fidan pada konferensi pers di Beirut, Lebanon bersama rekannya dari Lebanon, Menlu Abdallah Bou Habib, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, Selasa (17/10/2023).

    Komentar Fidan ini disampaikan sehari setelah dia berbicara dengan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh melalui telepon tentang kemungkinan pembebasan sandera.

    Ratusan orang disandera dalam serangan Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, ketika para militan menembak, menikam atau membakar hingga tewas lebih dari 1.400 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

    “Upaya kami terus berlanjut, terutama untuk pembebasan orang asing, warga sipil, dan anak-anak. Kami akan melanjutkan upaya kami untuk menjamin perdamaian abadi,” kata Fidan, Selasa (17/10).

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, seorang pendukung vokal perjuangan Palestina, telah meningkatkan kontak diplomatik dengan negara-negara Barat dan regional setelah ia menawarkan diri untuk menjadi penengah guna memulihkan perdamaian.

    Sebelumnya, Hamas mengumumkan pihaknya saat ini menyandera sekitar 200-250 orang. Hamas juga mengatakan bahwa semua warga negara asing (WNA) yang disandera akan dibebaskan jika ‘kondisinya memungkinkan’.

  • Apa Itu Perbatasan Rafah? Mengapa Jadi Jalur Penyelamat Warga Gaza?

    Apa Itu Perbatasan Rafah? Mengapa Jadi Jalur Penyelamat Warga Gaza?

    Jakarta

    Warga Palestina telah berkumpul di pintu perbatasan Rafah yang membatasi Mesir dan Gaza selatan. Mereka semua berharap dapat meninggalkan Gaza sebelum serangan darat Israel terjadi.

    Media AS telah melaporkan bahwa Mesir akan membuka perbatasan itu bagi warga dengan kewarganegaraan ganda keluar dari Gaza dan memberikan izin masuk bagi bantuan kemanusiaan, tanpa memberikan batasan waktunya.

    Namun, pos perbatasan tetap ditutup pada Senin (16/10) pagi.

    Apa itu perbatasan Rafah?

    Ini adalah pos perbatasan paling selatan dari Gaza dan berbatasan dengan semenanjung Sinai di Mesir .

    Hanya ada dua perlintasan perbatasan lain dari dan ke Jalur Gaza Erez, pos perbatasan bagi orang-orang dengan Israel di Gaza utara, dan Kerem Shalom, satu-satunya pos perbatasan untuk akses barang komersial dengan Israel di Gaza selatan. Keduanya ditutup.

    Mengapa ini penting sekarang?

    Kelompok milisi Palestina, Hamas, yang menguasai Gaza, menyerang Israel dengan melintasi perbatasan Erez di Gaza utara pada 7 Oktober.

    Serangan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya itu menewaskan lebih dari 1.300 warga Israel.

    Baca juga:

    Rafah kini juga menjadi satu-satunya akses untuk bantuan kemanusiaan.

    Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan pihaknya mengarahkan penerbangan bantuan internasional umtuk Gaza ke bandara El-Arish di Sinai bagian utara.

    Sementara puluhan truk yang membawa bahan bakar dan barang-barang kemanusiaan diparkir di sisi penyeberangan Rafah di Mesir, menunggu untuk diizinkan lewat.

    BBC

    Apa yang terjadi di perbatasan?

    Sejak dimulainya serangan Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, laporan yang berlainan mengenai situasi di perbatasan Rafah banyak beredar.

    Hamas dan Mesir memegang kendali atas siapa yang dapat melewatinya, namun serangan udara Israel di sekitar wilayah tersebut telah mengganggu operasi di pos perbatasan.

    Media Mesir mengatakan penyeberangan tersebut ditutup menyusul tiga serangan Israel di Rafah pada tanggal 9 dan 10 Oktober, yang menurut media tersebut menyebabkan korban luka di sisi perbatasan Mesir dan Palestina.

    Pada tanggal 12 Oktober, pemerintah Mesir meminta Israel untuk menghentikan serangan udara di dekat perbatasan Rafah sehingga dapat berfungsi sebagai “jalur bantuan” bagi orang-orang di Gaza.

    Pemerintah Mesir juga menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka jalur tersebut sampai ada jaminan keamanan bagi petugas perbatasan.

    Baca juga:

    Negara-negara Barat juga turut terlibat dalam upaya memastikan bahwa Rafah adalah jalur yang aman bagi pemegang paspor asing di Gaza dan bantuan kemanusiaan.

    Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan mereka bekerja sama dengan Israel, Mesir, dan “pihak politik lainnya di kawasan untuk membuka perbatasan tersebut.

    Pekan lalu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa warganya diminta untuk pindah ke Rafah karena “mungkin hanya ada sedikit pemberitahuan jika penyeberangan dibuka dan mungkin hanya dibuka untuk waktu yang terbatas”.

    Desas-desus bahwa perbatasan itu mungkin akan dibuka membuat warga Gaza melakukan perjalanan ke sana dengan harapan bisa diizinkan lewat.

    Pada hari Senin, kerumunan orang berkumpul menyusul laporan yang menyatakan bahwa Rafah dapat dibuka kembali untuk sementara setelah adanya perjanjian gencatan senjata, namun baik Israel dan Hamas dengan cepat membantahnya.

    Mengapa perbatasan ditutup?

    Israel ingin mencegah kelompok milisi Hamas meninggalkan Gaza dan ingin memeriksa semua truk yang menuju Gaza untuk memastikan mereka tidak membawa senjata.

    Sementara itu, meskipun Mesir tampak bekerja sama dengan negara lain dalam merundingkan pembukaan kembali perbatasan bagi pemegang paspor asing dan bantuan kemanusiaan, pemerintah Mesir khawatir dengan potensi eksodus warga Palestina ke Sinai.

    Mesir kemungkinan besar tidak ingin membuka perbatasan kepada setiap dan seluruh warga Gaza yang ingin mengungsi.

    Mereka juga khawatir dengan kemungkinan masuknya milisi Hamas ke negara tersebut.

    Bagaimana biasanya perbatasan Rafah digunakan?

    Pos perbatasan Rafah tidak mengizinkan warga Palestina keluar dari Gaza dengan mudah.

    Warga Palestina yang ingin menggunakan melintasi perbatasan harus mendaftar ke otoritas Palestina setempat dua hingga empat minggu sebelumnya dan mungkin ditolak oleh otoritas Palestina atau Mesir tanpa peringatan atau penjelasan.

    Menurut PBB, pada Agustus 2023, pemerintah Mesir mengizinkan 19.608 orang keluar dari Gaza dan menolak masuk 314 orang.

    (ita/ita)

  • Mahasiswi RI di Israel Ini Pernah Tinggal di Ruang Perlindungan Ancaman Perang

    Mahasiswi RI di Israel Ini Pernah Tinggal di Ruang Perlindungan Ancaman Perang

    Jakarta

    Tak terbayangkan tingginya eskalasi seperti sekarang ini, ketika Sandra (Nama disamarkan atas permohonan narasumber) menandatangani kontrak kamar yang ia sewa, saat menjadi mahasiswi di sebuah kota di Israel. Jika memilih menyewa kamar di “shelter” atau ruang perlindungan dari ancaman perang, maka penyewa harus menandatangani protokol keamanan yang telah ditetapkan. ia pun demikian.

    Sandra menjelaskan bahwa di Israel, sesuai protokol keamanan, shelter dan bunker bawah tanah memiliki fungsi yang sama tingkat keamanannya. Yang disarankan oleh aparat keamanan pada warga jika terjadi ancaman adalah mencari tempat perlindungan yang terdekat. Mereka bisa memilih shelter jika memang lokasinya lebih dekat ketimbang harus ke ruang bawah tanah yang lebih jauh.

    Sebagai penanggung jawab shelter, Sandra harus menyediakan stok makanan agar jika situasi masih kacau, mereka yang lari ke shelter dapat bertahan di dalamnya.

    “Ruang shelter saya itu seperti kamar biasa, dan kebetulan kamar saya sebenarnya salah satu dari ruangan shelter tersebut. Meski ada bunker, orang-orang berlarian ke kamar saya. Kalau kita tinggal di shelter, kita harus tanggung jawab buat menutup jendela karena jendela untuk shelter itu ada bagiannya luarnya yang khusus dari besi. Jadi harus ditarik karena itu anti rudal. Kaca jendelanya juga khusus dan harus ditutup. Pintu yang di sebelah sini itu, pintunya sangat berat, seperti pintu “freezer”. Jadi misalkan orang-orang sudah masuk kamar saya, saya harus menutupnya. Di sini dibilangnya shelter dan bunker sama saja tingkat keamanannya. Jadi menurut protokol, cari yang paling dekat saja,” paparnya.

    Akhir pekan lalu setelah melewati masa yang menegangkan di mana konflik Hamas-Israel berkecamuk, Sandra dan beberapa warga Indonesia lainnya sudah diterbangkan kembali ke tanah air, dengan bermalam sebelumnya di Amman, Yordania. Namun Sandra sempat menceritakan masa-masa menegangkan sebelum kepulangannya ke Ibu Pertiwi. Ia bercerita sebenarnya tidak terlalu takut dengan situasi di kota tempat ia bermukim di Israel, “Tapi kesehatan mental, saya terganggu. Karena saya yang harus tutup jendela dan lain-lain, tidur saya tidak bisa nyenyak,” tuturnya lirih.

    Sandra mengaku perasaannya campur aduk. Sebelumnya ia pernah merasakan serangan yang berlangsung selama satu hari, namun skala serangannya tidak seperti yang terjadi saat ini. Biasanya, jika akan terjadi serangan, warga diberi pengumuman, misalnya melalui e-mail bahwa akan ada serangan di hari tersebut dan disarankan untuk pergi bersembunyi ke dalam bunker. Namun, serangan yang terjadi Sabtu (07/10) lalu, sungguh membuatnya dan orang-orang di Israel terkejut.

    Sandra bercerita di hari Sabtu (07/10) sekitar pukul 06.30 pagi, mereka semua terbangun karena bunyi sirene, agar warga pergi ke bunker. Ini termasuk sebuah protokol keamanan, jika mendengar sirene, warga harus segera masuk ke dalam bunker atau shelter dalam durasi waktu 15 detik.

    Karena Israel merupakan wilayah konflik, di setiap gedung biasanya terdapat bunker di bawah tanah. Terkadang di setiap lantai gedung, biasanya terdapat ruangan khusus yang dijadikan sebagai “shelter” sebagaimana kamar yang ditempati Sandra.

    Sandra bercerita saking kecilnya Israel, banyak di antara mereka saling mengenal satu sama lain. “Mereka mengatakan bahwa serangan yang saat ini terjadi cukup berat dibanding yang sebelumnya,” ujar Sandra. “Saya tidak takut, namun terkadang saya terbawa suasana orang-orang di sekitar, terutama teman-teman saya asal Israel. Mereka terlihat sangat menderita sekali dengan adanya situasi saat ini karena jika kita membuka laman berita, orang-orang yang berada di daerah konflik sangat mengenaskan. Kesehatan mental,saya terganggu dengan adanya situasi saat ini. Dan terkadang di malam hari saya menjadi susah untuk tidur karena banyak serangan yang terjadi di malam hari.”

    Kini Sandra telah kembali berkumpul dengan keluarganya di Indonesia dan belum menyiapkan rencana selanjutnya. Ia hanya berharap agar konflik segera berakhir dan tercapai perdamaian,

    Di Gaza, warga Indonesia panjatkan harapan serupa

    Harapan serupa disuarakan warga Indonesia di Gaza, Abdillah Onim. Aktivis kemanusiaan dari Nusantara Palestina Center itu juga berharap perdamaian akan segera terwujud. Pria asal Hallmahera yang menikahi perempuan Palestina ini sudah menetap lebih dari 12 tahun di kawasan konflik Gaza.

    Bagi Onim, selama ia tinggal di Gaza, ini adalah peperangan yang paling besar, “Yang kekuatannya paling luar biasa ya, itu baru kali ini. Kebetulan saya di Gaza itu sudah lebih dari 12 tahun dan sampai dengan saat ini situasinya belum kondusif alias masih saling tembak rudal roket antara Gaza dengan pihak Israel,” ujar ayah tiga anak ini.

    Mengingat bahaya situasi saat ini, Onim dan keluarganya berniat untuk mengungsi. “Kemungkinan besar saya akan membawa anak istri untuk keluar dari Gaza dan menuju Mesir. Untuk sementara, dalam waktu dekat akan menuju Mesir. Itu sudah saya koordinasikan dengan teman-teman Kedutaan Indonesia di Kairo dan Kedutaan Indonesia di Amman, Yordania,” tuturnya sedih.

    Namun untuk keluar dari wilayah konflik, masih banyak kendala. “Sampai dengan saat ini situasi belum kondusif, dengan demikian saya dan anak istri tidak bisa keluar rumah untuk naik kendaraan, karena risikonya sangat tinggi. Nah, kenapa tidak mau naik kendaraan, itu kendaraan yang ada di sana itu mereka dijadikan korban rudal juga. Jadi semua kendaraan mayoritasnya itu kalau melintasi jalan itu dijadikan sasaran tembak dan itu yang membuat saya belum bisa untuk pergi ke perbatasan antara Gaza dan juga Israel,” ujarnya.

    Bukan hanya karena memikirkan keselamatan keluarga, ia juga mengaku tidak bisa berbuat banyak sebagaimana biasanya di tengah kecamuk perang kali ini. “Karena saya sendiri tidak bisa beraktivitas di lapangan. Yang biasanya harus distribusi bantuan sekarang tidak bisa karena rudal di sana-sini,” paparnya.

    Taman Kanak-kanak Yatim Nurani Indonesia, salah satu program dari lembaga yang ia bentuk Nusantara Palestina Center, kini ikut lumpuh. “Memang sejak awal terjadi peperangan, semua aktivitas sekolah termasuk TK Nurani Indonesia pun ditiadakan, karena berkaitan dengan keselamatan dari anak-anak dan juga siswa-siswi di sekolah di TK Yatim,” ujarnya.

    TK Yatim Nurani adalah sekolah gratis bantuan dari Indonesia untuk anak-anak di Palestina. Istrinya yang merupakan warga Palestina mengelola TK tersebut dari tahun 2016. Sekolah tersebut menampung anak-anak yatim dan juga kaum dhuafa di Gaza.

    Sejak perang berkecamuk, pasar ditutup, perkantoran diliburkan, para petani dan nelayan pun tidak bisa beraktivitas. Menurut Onim, rata-rata mereka hanya punya pasokan makanan yang mungkin cukup untuk dua hari.

    Onim mengisahkan, warga Gaza menanti uluran tangan dari lembaga internasional. “Jadi memang pada saat terjadi peperangan itu ya mereka sudah terbiasa dalam hal perut kosong atau lapar. Dan ini karena memang situasi seperti ini ya mereka sudah terbiasa dari generasi ke generasi. Akan tetapi memang biasanya peperangan berlangsung selama empat, lima hari, satu pekan itu bantuan dari negara lain termasuk Indonesia itu akan kembali mereka terima,” ujar Onim.

    Saat ini, warga Gaza sangat memerlukan bantuan berupa gandum dan air bersih. Onim menuturkan, Gaza sedang dilanda krisis air minum, obat-obatan, dan juga bahan bakar.

    (ita/ita)

  • Guru Prancis Tewas Ditikam, Pelaku Ngaku Bertindak untuk ISIS

    Guru Prancis Tewas Ditikam, Pelaku Ngaku Bertindak untuk ISIS

    Paris

    Seorang pria yang menikam seorang guru Prancis hingga tewas pekan lalu mengatakan dirinya bertindak untuk kelompok radikal Islamic State (ISIS). Penyerangan brutal itu membuat pemerintah Prancis menaikkan level keamanan negara dan memicu pengerahan 7.000 tentara untuk menjaga keamanan.

    Seperti dilansir AFP, Selasa (17/10/2023), Mohammed Moguchkov yang berusia 20 tahun menyebut dirinya bertindak untuk ISIS dalam dalam sebuah video yang direkam sebelum serangan terjadi pada Jumat (13/10) lalu.

    Seorang sumber yang memahami kasus ini mengatakan, Moguchkov juga menyampaikan referensi yang ‘sangat marginal’ soal serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober lalu dalam video yang sama, sebelum dia menikam seorang guru hingga tewas di sebuah sekolah di Arras, Prancis bagian utara.

    Moguchkov yang merupakan warga Rusia dari wilayah Kaukasus utara yang mayoritas penduduknya Muslim, dijadwalkan akan dihadirkan di hadapan hakim setempat pada Selasa (17/10) untuk didakwa.

    Aksi penyerangan brutal itu terjadi nyaris tiga tahun setelah pembunuhan mengerikan lainnya terjadi pada seorang guru di dekat Paris, yang membuat geger publik Prancis dan memicu respons keamanan besar-besaran.

    Menyusul penikaman yang terjadi di Arras, otoritas Prancis kembali menaikkan level keamanannya dan mengerahkan 7.000 tentara untuk menjaga keamanan.

    Semakin menambah ketegangan, sekolah yang sama harus dievakuasi pada Senin (16/10) waktu setempat karena ada ancaman bom, yang kemudian terungkap sebagai ancaman palsu.

  • Israel Sebut Perang Vs Hamas Akan Berlangsung Lama, Tapi Yakin Menang

    Israel Sebut Perang Vs Hamas Akan Berlangsung Lama, Tapi Yakin Menang

    Tel Aviv

    Pemerintah Israel menyatakan bahwa perang melawan Hamas akan berlangsung lama, namun meyakini pihaknya akan menang. Hal ini disampaikan saat Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken sedang mengunjungi Israel untuk kedua kalinya sejak pecahnya perang Hamas-Israel.

    Seperti dilansir AFP, Selasa (17/10/2023), Blinken kembali ke Israel setelah mengunjungi enam negara Arab untuk mencegah perang antara Israel dan Hamas semakin meluas. Dia menyaksikan secara langsung konflik yang semakin intensif ketika sirene serangan udara berbunyi saat dirinya bertemu kabinet keamanan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu di kompleks Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv pada Senin (16/10) waktu setempat.

    Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menuturkan bahwa Netanyahu, Blinken dan para ajudan mereka segera dievakuasi ke dalam bungker demi keselamatan mereka selama lima menit hingga semuanya aman.

    Para wartawan, yang diantar menuruni tangga menuju ke bungker, mendengar bunyi dentuman yang berasal dari sistem pertahanan udara Iron Dome yang mencegat roket di langit Israel.

    Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant mengatakan bahwa Israel dan seluruh dunia bisa ‘melihat dengan mata mereka sendiri’ dukungan kuat AS — melalui dua kunjungan Blinken, satu kunjungan Menhan AS Lloyd Austin dan pengerahan dua kapal induk AS ke Mediterania bagian timur.

    “Izinkan saya memberitahu Anda, Bapak Menteri, ini akan menjadi perang yang lama, dampaknya akan tinggi, tetapi kami akan menang — untuk Israel, untuk orang-orang Yahudi, dan untuk nilai-nilai yang diyakini kedua negara,” cetus Gallant kepada Blinken setelah keduanya melakukan pembicaraan.

    Blinken merespons dengan menyatakan bahwa AS ‘sangat berkomitmen terhadap hak Israel — bahkan kewajibannya — untuk membela diri’.

  • Israel Gagalkan Upaya Penyusupan dari Lebanon, Tewaskan 4 Orang

    Israel Gagalkan Upaya Penyusupan dari Lebanon, Tewaskan 4 Orang

    Jakarta

    Militer Israel menyatakan pasukannya menewaskan empat militan yang mencoba menyusup dari Lebanon. Insiden ini terjadi seiring ketegangan meningkat di sepanjang perbatasan antara kedua negara.

    “Pasukan pengawas melihat sebuah skuad teroris berusaha menyusup lewat pagar keamanan Lebanon dan memasang alat peledak,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, dikutip kantor berita AFP, Selasa (17/10/2023).

    Militer Israel menambahkan bahwa empat orang tewas dalam insiden.

    Sebelumnya militer Israel mengatakan pihaknya telah menargetkan kelompok Hizbullah asal Lebanon dengan serangan udara di Lebanon selatan.

    Sejak dimulainya perang yang dipicu oleh serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh sekutu Hizbullah di Palestina, Hamas, terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, bentrokan di perbatasan Israel-Lebanon telah menyebabkan lebih dari 10 orang tewas di pihak Lebanon.

    Sebagian besar korban tewas adalah kombatan, namun mereka juga termasuk seorang jurnalis Reuters dan dua warga sipil.

    Di pihak Israel, setidaknya dua orang tewas.

    Rumah-rumah di Desa Dhayra terkena dampaknya, sehingga menimbulkan korban jiwa, NNA melaporkan, tanpa merinci berapa banyak penduduk desa yang terluka atau apakah ada yang terbunuh.

  • Israel Tegaskan Kunjungan Biden Tak Akan Tunda Invasi ke Gaza

    Israel Tegaskan Kunjungan Biden Tak Akan Tunda Invasi ke Gaza

    Tel Aviv

    Militer Israel menegaskan bahwa kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden ke wilayahnya tidak akan menunda atau memperumit rencana invasi darat ke Jalur Gaza. Biden dijadwalkan akan mengunjungi Israel pada Rabu (18/10) besok, saat perang masih berlangsung antara Israel dengan Hamas.

    Seperti dilansir Al Arabiya News dan CNN, Selasa (17/10/2023), juru bicara Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Letnan Kolonel Jonathan Conricus menyatakan bahwa dirinya meyakini Biden mendukung operasi Israel untuk mengalahkan Hamas.

    “Saya pikir presiden juga mengatakan bahwa ‘Hamas perlu dihancurkan’, dan itulah tujuan militer kami,” ucap Conricus.

    Gedung Putih mengumumkan bahwa Biden dijadwalkan mengunjungi Israel pada Rabu (18/10) besok untuk ‘menunjukkan dukungan teguh kepada Israel dalam menghadapi serangan teroris brutal Hamas dan untuk berkonsultasi mengenai langkah-langkah selanjutnya’.

    Biden juga akan berkunjung ke Amman, ibu kota Yordania, di mana dia akan bertemu dengan Raja Yordania, Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

    “Dia (Biden-red) akan menegaskan kembali bahwa Hamas tidak membela hak rakyat Palestina atas martabat dan penentuan nasib sendiri, serta membahas kebutuhan kemanusiaan warga sipil di Gaza,” demikian pernyataan Gedung Putih.

    Militer Israel, seperti dikutip The Times of Israel, menyatakan bahwa mereka akan melancarkan operasi darat besar-besaran ke Jalur Gaza dalam beberapa hari mendatang — berpotensi menjadi operasi terbesar dalam empat dekade terakhir.

    Saksikan juga ‘Trump Sebut Perang Israel-Hamas Terjadi Karena Kelalaian Biden’:

  • Putin Tiba di China untuk Bertemu Xi Jinping

    Putin Tiba di China untuk Bertemu Xi Jinping

    Beijing

    Presiden Rusia Vladimir Putin telah tiba di Beijing, China, untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping pekan ini. Kunjungan Putin yang dipantau secara luas ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa saling percaya dan kemitraan ‘tanpa batas’ antara Moskow dan Beijing saat perang masih berkecamuk di Ukraina.

    Seperti dilansir Reuters, Selasa (17/10/2023), Putin disambut oleh Menteri Perdagangan China Wang Wentao setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Internasional Beijing pada Selasa (17/10) pagi waktu setempat.

    Ini menjadi kunjungan kedua Putin ke luar negeri sejak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang berkantor di Den Haag, Belanda, mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya pada Maret lalu.

    Kunjungan ini juga menjadi perjalanan resmi pertama Putin ke luar negara bekas Uni Soviet sepanjang tahun ini, setelah dia mengunjungi Kyrgyzstan awal bulan ini.

    ICC yang menuduh Putin telah secara ilegal mendeportasi anak-anak dari Ukraina, mewajibkan 123 negara anggotanya untuk menangkap Putin dan memindahkannya ke Den Haag untuk diadili jika dia menginjakkan kaki di wilayah mereka. Baik Kyrgyzstan maupun China bukan anggota ICC.

    Putin terakhir kali bertemu Xi, yang menyebutnya sebagai ‘sahabat’, di Moskow beberapa hari setelah perintah penangkapan diterbitkan. Dalam pertemuan pada saat itu, Xi mengundang Putin untuk menghadiri forum kerja sama internasional Belt and Road ketiga yang digelar di Beijing.

    Dalam kunjungannya ke Beijing, Putin dijadwalkan bertemu dengan Xi pada Rabu (18/10) waktu setempat.

    Saksikan juga ‘Putin: Rusia Dapat Berkontribusi Terhadap Perdamaian Palestina-Israel’: