Author: Detik.com

  • Pesan Menkes di Arus Libur Nataru: Tidur Cukup-Tak Bawa Beban Berlebihan

    Pesan Menkes di Arus Libur Nataru: Tidur Cukup-Tak Bawa Beban Berlebihan

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat, khususnya pemudik pengguna sepeda motor, untuk lebih waspada selama arus mudik dan balik libur Natal Tahun Baru 2026 (Nataru). Ia menekankan pentingnya kondisi fisik yang prima, terutama tidur cukup, mengingat tingginya angka kecelakaan di jalur non-tol.

    Berdasarkan data kecelakaan pada 2024, pemudik sepeda motor menjadi penyumbang angka kematian tertinggi dibandingkan pengguna kendaraan roda empat.

    “Data kematian naik dari angka 400-an ke sekitar 480-an. Dan kematian ini terjadi karena kecelakaan motor. Lebih dari 70 persen yang wafat itu pengguna kendaraan roda dua,” kata Budi kepada wartawan, usai meninjau kesiapan Operasi Lilin 2025 di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Senin (22/12/2025).

    Ia menjelaskan mayoritas kecelakaan fatal tersebut terjadi di jalan non-tol yang banyak dilalui pemudik sepeda motor. Kondisi ini diperparah oleh kelelahan, rasa kantuk, serta beban bawaan yang berlebihan.

    “Ke masyarakat terutama yang memakai motor dan menggunakan jalan biasa atau non-tol agar lebih berhati-hati. Tidur yang cukup dan jangan membawa barang berlebihan,” ujarnya.

    Berdasarkan evaluasi Kementerian Kesehatan, sekitar 95 persen kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan non-tol. Karena itu, keluarga yang memilih berlibur atau mudik menggunakan sepeda motor diminta benar-benar mempertimbangkan keselamatan.

    “Jangan memaksakan perjalanan kalau sudah lelah atau mengantuk. Risiko di jalan non-tol jauh lebih tinggi,” tegasnya.

    Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kesiapan pengamanan selama Operasi Lilin 2025. Polri menyiapkan ribuan posko di sepanjang jalur mudik dan destinasi liburan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas.

    “Operasi Nataru dilaksanakan hampir 14 hari. Ada 2.800 pos yang kita siapkan di seluruh Indonesia. Khusus di Banten, ada 50 posko yang terbagi dalam pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu,” kata Listyo.

    Ia menambahkan, sejumlah titik di Provinsi Banten menjadi fokus pengamanan, terutama jalur penyeberangan, kawasan wisata, serta ruas-ruas jalan rawan kecelakaan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat menikmati libur Natal dan Tahun Baru dengan aman dan kondusif.

    (naf/naf)

  • Kota Betlehem Kembali Rayakan Natal Sejak Perang Gaza

    Kota Betlehem Kembali Rayakan Natal Sejak Perang Gaza

    Betlehem

    Kota Betlehem, Palestina, kembali menyambut Natal meriah setelah lebih dari dua tahun absen sejak perang di Gaza. Ratusan jemaat misa Gereja berkumpul di Betlehem.

    Dilansir AFP, Kamis (25/12/2025), selama perang Hamas dan Israel di Gaza pada Oktober 2023, tidak ada perayaan Natal di sana. Namun, perayaan kembali meriah pada hari ini dengan parade yang ramai dan musik di kota Tepi Barat yang diduduki, sementara gencatan senjata yang rapuh berlangsung di Gaza, tempat ratusan ribu orang menghadapi musim dingin di tenda-tenda darurat.

    Saat ibadah, banyak jemaat yang berdiri atau duduk di lantai untuk misa tradisional dalam menyambut Hari Natal. Pada pukul 23.15 waktu setempat, Rabu (24/12), musik organ terdengar saat prosesi puluhan pendeta masuk, diikuti oleh Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang memberkati kerumunan.

    Dalam khotbahnya, Pizzaballa menyerukan perdamaian, harapan, dan kelahiran kembali, dengan mengatakan bahwa kisah Kelahiran Yesus masih relevan di tengah gejolak zaman modern.

    “Natal… mengajak kita untuk melihat melampaui logika dominasi, untuk menemukan kembali kekuatan cinta, solidaritas, dan keadilan,” katanya kepada jemaat.

    “Luka-lukanya dalam, namun saya harus mengatakan, di sini juga, di sana juga, seruan Natal mereka bergema,” katanya.

    “Ketika saya bertemu mereka, saya terkesan oleh kekuatan dan keinginan mereka untuk memulai kembali,” imbuhnya.

    (zap/idh)

  • Motor Bebek Yamaha Masih Ramai Peminat di RI, Segini Penjualannya

    Motor Bebek Yamaha Masih Ramai Peminat di RI, Segini Penjualannya

    Jakarta

    Bagi Yamaha, motor bebek belum sepenuhnya punah. Bahkan, meski tak terlalu besar, namun kontribusi kendaraan itu terhadap penjualan mereka masih terhitung lumayan. Itulah mengapa, mereka terus memberikan penyegaran di segmen tersebut.

    Rifki Maulana selaku Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) mengatakan, kontribusi motor bebek memang tak sampai 20 persen dari total penjualan Yamaha di Tanah Air. Namun, kata dia, angkanya stabil dari tahun ke tahun.

    “Angkanya di bawah 20 persen tapi penjualannya cukup stabil, terutama di daerah-daerah seperti Sumatera, Kalimantan, atau luar Pulau Jawa,” ujar Rifki Maulana saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat.

    Yamaha Jupiter Z1 Foto: Dok. Yamaha

    Bukan hanya penjualan secara personal, penjualan secara fleed ke instansi-instansi tertentu juga masih stabil. Hal tersebut membuktikan, motor bebek Yamaha masih diminati konsumen di Indonesia.

    “Ya, sektor fleed salah satu yang menyumbang dari demand yang stabil itu,” ungkapnya.

    Secara umum, penjualan Yamaha di Indonesia masih ditopang motor-motor Maxi, seperti NMax, Aerox dan XMax. Sayangnya, Rifki tak mau mengurai angka atau persentasenya.

    “Main volume-nya sekarang masih Maxi. Angkanya cukup banyak. NMax paling banyak, kedua Aerox dan ketiga XMax. Sekarang NMax masih tulang punggung,” kata dia.

    Dikutip dari laman resminya, Yamaha Indonesia saat ini menjual empat model motor bebek, yakni Yamaha Vega Force, Yamaha Jupiter Z dan Yamaha MX King. Ketiganya masih rutin mendapat penyegaran minor.

    (sfn/din)

  • Momen Perdana Paus Leo Pimpin Misa Malam Natal

    Momen Perdana Paus Leo Pimpin Misa Malam Natal

    Inilah momen perdana Paus Leo memimpin Misa pada malam Natal, Rabu (24/12). Paus Leo pun sempat mengutip kalimat dari Paus Benediktus XVI.

    “Selama kegelapan kesesatan menutupi kebenaran ilahi ini maka ‘tidak ada tempat bagi orang lain, bagi anak-anak, bagi orang miskin, bagi orang asing’,” kata Paus Leo dalam khotbahnya. “Kata-kata Paus Benediktus XVI ini tetap menjadi pengingat yang tepat.”

    Tonton video lainnya di sini!

  • BGN Khawatir Gizi Anak Menurun Saat Libur Sekolah, dr Tan Pertanyakan Studinya

    BGN Khawatir Gizi Anak Menurun Saat Libur Sekolah, dr Tan Pertanyakan Studinya

    Jakarta

    Program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap berjalan selama libur sekolah menuai pro dan kontra. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut kebijakan ini dilandasi kekhawatiran penurunan status gizi anak karena pola makan keluarga dinilai tidak terpantau selama masa liburan. Namun alasan tersebut dipertanyakan oleh ahli gizi dr Tan Shot Yen, yang menilai kebijakan BGN tidak berbasis bukti ilmiah.

    Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati sebelumnya menyatakan layanan MBG tetap diberikan saat libur sekolah untuk mencegah risiko kekurangan gizi pada anak dan ibu.

    “Kami ingin memastikan bahwa masa liburan bukan periode berisiko bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu, tapi tetap menjadi fase yang aman karena dukungan gizi tetap berjalan,” kata Khairul Hidayati, dikutip dari laman resmi BGN.

    BGN menilai, ketika anak tidak berada di sekolah, pola makan mereka sepenuhnya bergantung pada keluarga, sehingga dikhawatirkan tidak terjaga kualitas dan kecukupan gizinya. Atas dasar itu, distribusi MBG tetap dilanjutkan meski kegiatan belajar mengajar libur di periode Natal dan Tahun Baru.

    Alasan tersebut mendapat sorotan tajam dari dr Tan. Ia mempertanyakan data dan kajian ilmiah yang digunakan BGN untuk menyimpulkan risiko kekurangan gizi justru meningkat saat libur sekolah.

    “Kalau ini alasannya, jujur saya marah. Ada data studi yang menyatakan kekurangan gizi meningkat saat libur?” kata dr Tan saat dihubungi, Rabu (24/12/2025).

    Menurut dr Tan, kebijakan publik, terutama yang menyangkut gizi anak semestinya berbasis bukti, bukan asumsi. Ia menilai BGN gagal menjalankan fungsi edukasi gizi kepada keluarga, padahal libur sekolah seharusnya menjadi momentum penguatan peran orang tua dalam menyediakan makanan sehat di rumah.

    “Kalau betul khawatir, seharusnya yang diperkuat itu edukasi keluarga tentang pola makan bergizi, bukan sekadar membagi makanan,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti jenis makanan yang dibagikan dalam program MBG selama libur sekolah. Berdasarkan sejumlah aduan yang ia terima melalui akun Instagram pribadinya, menu MBG yang diberikan didominasi produk ultra processed food (UPF).

    “Banyak ibu-ibu mengirimkan foto MBG berisi biskuit, snack, roti, bahkan diberikan ke bayi usia 15 bulan. Ini jelas bermasalah,” kata dr Tan.

    dr Tan menegaskan MBG seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, tetapi juga menjadi contoh ideal pola makan sehat masyarakat Indonesia.

    “MBG semestinya menjadi template, acuan, rujukan makanan sehat Indonesia. Itu sebabnya free school meal di negara lain bagus-bagus. Di dalamnya ada edukasi, ada literasi, di balik makanan ada nilai,” ujarnya.

    Ia menyayangkan jika program sebesar MBG hanya dipahami sebatas distribusi makanan tanpa nilai pendidikan.

    “Setiap kunyahan seharusnya ada rasa syukur yang sesungguhnya. Bukan sekadar, ‘syukur sudah dikasih makan’, tapi isinya cuma perut, bukan otak,” tutup dr Tan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Makanan UPF Jadi Aduan Terbanyak yang Diterima MBG Watch”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/naf)

  • Insentif Otomotif Bakal Dicabut: Bye-bye Mobil Listrik Murah?

    Insentif Otomotif Bakal Dicabut: Bye-bye Mobil Listrik Murah?

    Jakarta

    Pemerintah berencana mencabut insentif industri otomotif tahun depan. Belum jelas insentif mana yang bakal dihilangkan.

    Yang pasti, pemerintah bilang dana yang sebelumnya dipakai sebagai insentif otomotif bakal digunakan mengembangkan proyek mobil nasional. Rencana ini muncul saat industri otomotif butuh dukungan dari pemerintah. Penjualan mobil masih turun tahun ini, padahal kontribusi sektor otomotif terhadap PDB negara tak bisa dibilang kecil. Belum lagi jika bicara jumlah tenaga kerja yang diserap.

    Penghapusan insentif juga akan membuat harga mobil listrik, hybrid, dan juga LCGC sangat mungkin naik.

    Kalau ini terjadi, pemerintah bukannya menggelontorkan subsidi ke pasar tapi malah seperti menunjuk satu pemenang dan mengarahkan seluruh anggaran ke sana. Mirip MBG enggak, sih?

    (din/sfn)

  • Dokter Wanti-wanti Risiko Neurologis yang Bisa Muncul saat Mudik Nataru

    Dokter Wanti-wanti Risiko Neurologis yang Bisa Muncul saat Mudik Nataru

    Jakarta

    Mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) identik dengan perjalanan panjang, terutama bagi masyarakat yang pergi berlibur dengan menempuh jalur darat. Berjam-jam duduk di dalam kendaraan, baik sebagai pengemudi maupun penumpang, kerap dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini tidak hanya memicu pegal dan kaku otot, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan saraf, terutama pada tulang belakang.

    Spesialis bedah saraf dr Dimas Rahman Setiawan, SpBS, menjelaskan salah satu masalah yang sering muncul saat perjalanan jauh adalah saraf terjepit. Kondisi ini umumnya dipicu oleh posisi duduk yang kurang tepat dan dilakukan dalam waktu lama.

    “Kelamaan duduk, baik pinggang maupun leher, itu risiko sarang kejepit. Karena pada saat duduk kalau kita nggak sadar, kadang-kadang posisi kita sebenarnya sedang membungkuk,” ucap dr Dimas ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (11/12/2025).

    Saat duduk terlalu lama, banyak orang tanpa sadar berada dalam posisi membungkuk, baik di area pinggang maupun leher. Posisi tersebut dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang belakang. Dalam kondisi tertentu, bantalan antartulang belakang bisa terdorong ke arah belakang dan menekan saraf di sekitarnya.

    Akibatnya, seseorang dapat mengalami keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri leher, hingga rasa nyeri yang menjalar ke area lain. Risiko ini bisa meningkat jika perjalanan dilakukan tanpa jeda istirahat yang cukup atau jika posisi duduk tidak pernah diperbaiki selama perjalanan.

    “Nah kalau posisi kita membungkuk itu, mau nggak mau si bantahan tulang kedorong ke belakang,” lanjutnya.

    “Dan akhirnya menekan ke saraf. Jadi risikonya adalah memang terjadi saraf kejepit, nyeri pinggang, nyeri leher. Itu sangat mungkin terjadi,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (rfd/up)

  • Suzuki Baleno Dites Tabrak, Hasilnya Tak Sesuai Ekspektasi?

    Suzuki Baleno Dites Tabrak, Hasilnya Tak Sesuai Ekspektasi?

    Jakarta

    Suzuki Baleno memang sudah pamit dari pasar Indonesia. Namun model ini masih eksis di pasar global dan baru saja menuntaskan tes tabrak atau crash test.

    Baleno Hatchback yang diproduksi oleh Suzuki Maruti India ini baru saja menuntaskan uji tabrak independen Latin NCAP.

    Latin NCAP menguji Suzuki Baleno dengan spesifikasi yang sudah dilengkapi enam airbag, electronic stability control (ESC), serta fitur keselamatan standar lainnya.

    Dari hasil pengujian tersebut, Baleno memperoleh rating keseluruhan dua bintang, sebuah angka yang terbilang moderat untuk mobil modern di kelasnya.

    Secara lebih rinci, perlindungan terhadap penumpang dewasa tercatat 79 persen, sementara perlindungan anak-anak berada di angka 65 persen.

    Untuk aspek perlindungan pejalan kaki, nilainya lebih rendah yakni 48 persen, sedangkan kategori Safety Assist atau yang mencakup fitur-fitur keselamatan aktif mencapai 58 persen.

    Suzuki Baleno mendapatkan bintang 2 dites tabrak Latin NCAP. Foto: dok. Latin NCAP

    Latin NCAP mencatat struktur bodi Baleno masih dinilai stabil dalam beberapa pengujian benturan. Namun, perlindungan pada area tubuh tertentu seperti dada dan leher pengemudi maupun penumpang dinilai belum optimal pada skenario tabrakan tertentu.

    Inilah yang membuat rating keseluruhan Baleno belum bisa menembus angka yang lebih tinggi.

    Perlu dipahami, sistem penilaian NCAP dirancang untuk memberikan gambaran realistis tentang kemampuan mobil melindungi penghuninya, bukan sekadar memenuhi regulasi minimum.

    Dua bintang menandakan mobil tersebut masih memiliki celah dalam hal keselamatan jika dibandingkan dengan kendaraan yang sudah meraih empat atau lima bintang.

    Menariknya, hasil ini juga menunjukkan bahwa standar keselamatan bisa berbeda tergantung program uji yang digunakan.

    Di India, Baleno pernah diuji dengan protokol berbeda dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Hal ini menegaskan bahwa angka rating tidak bisa dilepaskan dari metode pengujian, konfigurasi kendaraan, serta regulasi di masing-masing wilayah.

    Bagi pasar Indonesia, informasi ini tetap relevan meski Baleno sudah discontinue. Pasalnya, unit Baleno bekas masih banyak beredar dan digunakan sehari-hari.

    Hasil uji tabrak terbaru setidaknya memberi gambaran objektif mengenai level perlindungan yang dimiliki mobil ini, terutama jika dibandingkan dengan hatchback generasi baru yang kini semakin agresif mengusung fitur keselamatan aktif.

    Suzuki sendiri telah mengonfirmasi bahwa Baleno tidak lagi dipasarkan di Tanah Air dan fokus pada model-model lain yang dianggap lebih sesuai dengan arah pasar.

    (mhg/rgr)

  • Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Jakarta

    Seorang wanita bernama Rajula (38) yang tengah hamil besar, harus dievakuasi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (29/11/2025) lantaran rumah sakit tersebut tak mampu melayani persalinannya.

    RSUD Tanjung Pura menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang terdampak bencana yang terjadi di Sumatera. Mobil ambulans milik rumah sakit tersebut bahkan tak bisa digunakan. Imbas hal tersebut, pihak rumah sakit menghubungi Puskesmas Stabat Lama untuk segera membawa Rajula dengan ambulans ke rumah sakit lain.

    “Pada saat bencana banjir kemarin, ada ibu hamil di Rumah Sakit Umum Tanjung Pura, kebetulan rumah sakit itu terdampak banjir sehingga mereka tidak bisa memberikan pelayanan. Dan ambulans mereka juga terhalang untuk beroperasi. Jadi dari sana menghubungi kami ke Puskesmas Stabat Lama untuk membantu mengevakuasi ibu hamil tersebut,” kata dokter umum Puskesmas Stabat Lama, dr Afriza Amelia dikutip dari Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (24/12).

    Petugas Puskesmas lantas langsung merespons panggilan darurat itu dan datang ke rumah sakit. dr Afriza menjadi salah satu dokter yang ditugaskan pada saat itu. Ia dan tim puskesmas membawa Rajula dengan ambulans menuju RS Putri Bidadari. Rumah sakit tersebut disebutnya tak terdampak, sehingga masih bisa beroperasi seperti biasa.

    Namun, lanjut Afriza, pasien tersebut sudah mengalami kontraksi yang cukup panjang dengan intensitas kuat. Rajula tak bisa lagi menahannya, sehingga melahirkan bayi di dalam ambulans. Afriza yang ada di dalam ambulans itu membantu proses persalinan Rajula.

    “Sebelum sampai di Rumah Sakit Putri Bidadari ibunya sudah melahirkan. Kebetulan saya memang ada di situ. Ibunya mungkin sudah tidak tahan karena sudah kontraksi di jalan, akhirnya ibunya melahirkan di dalam ambulans,” katanya.

    dr Afriza mengatakan ibu tersebut melahirkan dua bayi perempuan kembar dengan sehat dan selamat. Dua bayi tersebut diberi nama Hana dan Hani. Hana lahir dengan berat 2,3 kg, sementara Hani lahir dengan berat 2,1 kg.

    “Anaknya kembar. Ibunya sehat, anaknya juga sehat,” ucap dia.

    (suc/suc)

  • Fakta-fakta Wanita Asal Surabaya Idap Diabetes Tipe 1,5 di Usia 29

    Fakta-fakta Wanita Asal Surabaya Idap Diabetes Tipe 1,5 di Usia 29

    Jakarta

    Wanita asal Surabaya, Lilla Syifa (Cipa), yang didiagnosis diabetes tipe 1,5 di usia 29 tahun mendadak menyita perhatian publik. Bukan karena memiliki riwayat keluarga diabetes, juga bukan karena obesitas berat. Justru sebaliknya, ia merasa dirinya “baik-baik saja”. Aktivitas jalan terus, kerja lancar, dan keluhan tubuh yang muncul selama ini dianggap hal wajar karena lelah dan kurang tidur.

    Sampai akhirnya tubuh memberi sinyal yang lebih keras. Gula darah melonjak tinggi, kondisi tubuh drop, dan sempat mengalami koma selama belasan hari. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter mengatakan ia mengidap LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Dari sinilah banyak yang mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin diabetes bisa datang secepat itu, di usia yang masih tergolong muda, dan tanpa disadari sebelumnya.

    Apa Itu Diabetes Tipe 1,5 atau LADA

    Ketika mendengar kata diabetes, banyak yang hanya mengenal dua jenis diabetes yaitu tipe 1 dan tipe 2. Padahal, ada satu jenis yang jarang diketahui, yaitu diabetes tipe 1,5 atau dikenal secara medis sebagai LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults).

    Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh secara perlahan merusak sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Prosesnya menyerupai diabetes tipe 1, tetapi muncul pada usia dewasa dan berkembang secara perlahan.

    Pada tahap awal, kadar gula darah pada diabetes tipe 1,5 seringkali masih bisa dikontrol tanpa insulin. Banyak pengidapnya terlihat seperti mengalami diabetes tipe 2 karena masih merespons obat minum dan belum membutuhkan suntikan insulin. Situasi ini membuat diagnosis awal sering terlewat, terutama bila pemeriksaan lanjutan tidak dilakukan.

    Seiring waktu, kerusakan sel pankreas terus berlangsung. Produksi insulin semakin menurun hingga akhirnya tubuh tidak lagi mampu mengontrol gula darah dengan baik. Pada fase inilah penderita diabetes tipe 1,5 biasanya mulai memerlukan terapi insulin, meskipun sebelumnya merasa kondisi kesehatannya baik-baik saja.

    Diabetes tipe 1,5 dapat terjadi pada orang dengan berat badan normal dan tanpa riwayat diabetes dalam keluarga. Faktor gaya hidup seperti konsumsi gula berlebihan, kurang aktivitas fisik, dan stres berkepanjangan tidak menjadi penyebab utama gangguan autoimun ini, tetapi dapat mempercepat munculnya gejala dan memperburuk lonjakan gula darah yang sudah tidak stabil.

    Apa Itu Pemeriksaan HbA1c?

    Pemeriksaan HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Angka ini menggambarkan seberapa sering dan seberapa lama gula darah berada di level tinggi, bukan hanya kondisi sesaat. Semakin tinggi nilainya, semakin besar risiko paparan gula darah terhadap pembuluh darah dan organ tubuh.

    Banyak yang merasa sudah aman dari diabetes karena hasil cek gula darahnya sesekali masih terlihat normal. Padahal, kadar gula darah bisa naik dan turun tergantung waktu makan, aktivitas, bahkan kondisi stres. Karena itu, pemeriksaan HbA1c menjadi salah satu indikator yang paling penting untuk menilai risiko diabetes.

    Nilai HbA1c yang normal itu di bawah 5,7 persen. Jika hasil pemeriksaan HbA1c berada di kisaran 5,7 hingga 6,4 persen, kondisi ini dikenal sebagai prediabetes. Artinya, gula darah sudah mulai sulit dikendalikan dan risiko berkembang menjadi diabetes semakin besar, terutama bila pola hidup tidak berubah.

    Sementara itu, nilai HbA1c 6,5 persen atau lebih sudah masuk kriteria diabetes. Pada level ini, gula darah tidak satu atau dua kali tinggi, melainkan menetap dalam jangka waktu lama. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko kerusakan saraf, pembuluh darah, ginjal, mata, hingga jantung.

    Mengaku Memiliki Pola Hidup Tidak Sehat

    Dalam ceritanya, wanita Surabaya ini mengakui kegemarannya pada jajanan atau dessert manis yang viral. Kebiasaan ini terasa wajar, bahkan dianggap sebagai bentuk self-reward setelah stres bekerja seharian. Jajanan manis yang sering dimakan Cipa yaitu brownies, donat, minuman matcha, serta makanan dan minuman manis lainnya. Cipa mengaku bisa makan jajanan manis tersebut 3 kali sehari dan hampir setiap hari.

    Kurang tidur, jarang olahraga, dan stres yang tidak terkelola turut memperparah kondisi. Saat tubuh kurang istirahat, sensitivitas insulin menurun. Saat stres, hormon kortisol meningkat dan mendorong gula darah naik. Kombinasi ini membuat pankreas bekerja lebih keras, sampai akhirnya tidak mampu lagi mengimbangi kebutuhan insulin.

    Menurut dokter yang menanganinya, diabetes yang Cipa idap disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat tadi.

    Berapa Batas Konsumsi Gula Sehari?

    Kementerian Kesehatan menetapkan anjuran asupan gula tambahan tidak melebihi sekitar 50 gram per hari, dan akan jauh lebih baik bila dibatasi hingga sekitar 25 gram. Angka ini bukan hanya menghitung gula yang ditambahkan sendiri, tetapi juga seluruh gula tambahan yang masuk dari berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari.

    Masih banyak yang tanpa sadar melewati batas konsumsi gula harian. Satu porsi minuman kekinian atau dessert manis saja bisa menyumbang sebagian besar kebutuhan gula harian. Contohnya 1 porsi Red Velvet Cake mengandung 36 gr gula, 1 buah donat mengandung 20 gr gula, dan segelas matcha mengandung 30 gr gula. Ketika dikombinasikan dengan makan utama dan camilan lain, gula darah cenderung melonjak lebih sering dan lebih tinggi, membuat tubuh bekerja ekstra untuk mengendalikannya dari hari ke hari.

    Gejala Diabetes atau Hiperglikemia yang sering diabaikan

    Hiperglikemia, atau kondisi ketika kadar gula darah terlalu tinggi, jarang datang dengan gejala yang langsung terasa berbahaya. Tanda-tandanya muncul perlahan dan kerap dianggap sebagai bagian dari rasa cape karena rutinitas harian. Tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal, hanya saja sering dianggap ‘tidak jelas’.

    Rasa haus yang terus-menerus menjadi salah satu gejala awal yang paling sering muncul. Mulut terasa kering, tenggorokan tidak nyaman, dan keinginan minum muncul berulang kali. Bersamaan dengan itu, frekuensi buang air kecil biasanya meningkat, terutama pada malam hari. Kondisi ini terjadi karena ginjal berusaha membuang kelebihan gula melalui urine, sehingga tubuh kehilangan lebih banyak cairan.

    Gejala lain yang kerap muncul adalah tubuh terasa mudah lelah, lemas, dan kurang bertenaga meski tidak melakukan aktivitas berat. Konsentrasi menurun, kepala terasa ringan, dan sering merasa ngantuk, terutama setelah makan. Pada sebagian orang, kondisi ini disangka sebagai efek kurang tidur, masuk angin, atau stres setelah kerja, sehingga tidak langsung dicurigai sebagai gejala diabetes.

    Gejala juga bisa muncul pada otot dan saraf. Kram pada kaki, rasa kesemutan, atau sensasi tidak nyaman pada tangan dan kaki mulai terasa, terutama saat malam hari. Luka kecil yang sulit sembuh dan kulit yang terasa lebih kering dari biasanya juga bisa menjadi tanda bahwa kadar gula darah sudah mengganggu proses pemulihan jaringan.

    Pada tahap yang lebih berat, hiperglikemia dapat memicu mual, penglihatan kabur, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Jika kondisi ini dibiarkan, gula darah bisa meningkat drastis dan menyebabkan keadaan darurat seperti penurunan kesadaran atau koma, sebagaimana yang terjadi pada Cipa yang baru terdeteksi saat sudah parah.

    Gejala-gejala ini sering kali muncul bersamaan dengan kebiasaan konsumsi gula yang tinggi dan gaya hidup yang tidak sehat. Karena terasa biasa dan tidak spesifik, banyak orang memilih menunda pemeriksaan. Padahal, mengenali tanda-tanda hiperglikemia atau diabetes sejak dini dapat menjadi langkah penting untuk mencegah diabetes berkembang lebih jauh dan menimbulkan komplikasi serius.

    Bisakah Diabetes Menyebabkan Hilang Ingatan dan Lumpuh?

    Pada kondisi gula darah yang sangat tinggi dan tidak terkontrol, risiko komplikasi serius memang bisa terjadi. Hiperglikemia kronis dapat merusak pembuluh darah kecil di otak dan saraf, meningkatkan risiko stroke, gangguan saraf, hingga penurunan fungsi kognitif.

    Dalam kondisi ekstrem, diabetes dapat menyebabkan koma, gangguan organ, bahkan kelumpuhan bila terjadi kerusakan saraf pada fungsi motorik akibat gula darah yang tidak terkendali. Jadi, ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko medis yang nyata bila diabetes tidak ditangani dengan serius.

    Halaman 2 dari 5

    Simak Video “Video: Bencana Sumatera Picu Kelangkaan Obat, IDAI Soroti Dampaknya”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)