Author: Beritajatim.com

  • Kades Taji Magetan Ajukan Mundur, BPD dan Perangkat Desa Kompak Meminta Bertahan

    Kades Taji Magetan Ajukan Mundur, BPD dan Perangkat Desa Kompak Meminta Bertahan

    Magetan (beritajatim.com) – Proses pengunduran diri Kepala Desa Taji, Sigit Supriyadi, dipastikan belum masuk ke tahap formal meski surat permohonan telah diterima pihak kecamatan. Pelaksana Tugas (Plt) Camat Karas, Eka Radityo, menyatakan bahwa saat ini pihaknya masih mengupayakan langkah tabayun atau klarifikasi untuk memastikan stabilitas pemerintahan di desa tersebut.

    Langkah klarifikasi ini dilakukan melalui pertemuan antara pihak kecamatan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan perangkat Desa Taji di Balai Desa Taji pada Senin (22/12/2025). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari salinan surat pengunduran diri yang masuk ke meja Camat pada Jumat (19/12/2025) lalu.

    “Secara prinsip, pengunduran diri kepala desa diusulkan oleh BPD kepada Bupati melalui Camat, dilampiri surat pernyataan pengunduran diri. Tapi sebelum ke sana, kami klarifikasi dulu,” ujar Eka Radityo.

    Dalam forum tersebut, mayoritas anggota BPD dan perangkat desa secara terbuka menyampaikan aspirasi agar Sigit Supriyadi tetap memimpin desa. Alasan utamanya adalah masa jabatan Sigit yang baru akan berakhir pada tahun 2027, sehingga keberlanjutan program pembangunan dinilai sangat krusial.

    “Semua menyampaikan pendapat agar Mbah Kades tetap bertahan menyelesaikan masa jabatannya. Pertimbangan-pertimbangan itu kami serahkan kembali kepada Mbah Kades,” jelas Eka.

    Meski mendapatkan dukungan penuh dari internal perangkat desa, Sigit Supriyadi atau yang akrab disapa Mbah Sigit, belum memberikan jawaban pasti. Ia mengaku masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan desakan dari para kolega dan stafnya sebelum mengambil keputusan final.

    Kondisi ini membuat kepastian administratif menjadi menggantung. Eka Radityo pun mendesak agar ada pertemuan lanjutan internal guna memberikan kepastian hukum dan sosial bagi warga Desa Taji.

    “Saya sebenarnya berharap ada jawaban hari ini, tapi beliau masih membutuhkan waktu. Saya minta setelah ini segera ada pertemuan antara BPD dan Mbah Kades untuk memastikan apakah proses ini dilanjutkan atau tidak,” tambah Eka.

    Secara regulasi, jika Sigit tetap pada pendiriannya untuk mundur, BPD wajib mengajukan usulan pemberhentian kepada Bupati Magetan melalui Camat dengan lampiran surat pernyataan bermaterai. Sebaliknya, jika ia memilih bertahan, maka surat yang sudah dikirimkan sebelumnya akan dianulir dan diklarifikasi kepada publik.

    Di tengah ketidakpastian ini, Plt Camat Karas menekankan bahwa fungsi pemerintahan tidak boleh lumpuh. Terlebih, Desa Taji memiliki tenggat waktu yang sangat sempit untuk menyelesaikan penetapan APBDes Tahun Anggaran 2026.

    “Selama belum ada SK pemberhentian dari Bupati, Mbah Sigit tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab sebagai kepala desa. Pelayanan tidak boleh terganggu dan masyarakat tidak perlu resah,” tegasnya.

    Terkait motif di balik pengunduran diri tersebut, Sigit Supriyadi hanya menuliskan alasan merasa tidak mampu mengemban tugas dalam surat resminya. Namun, detail mengenai ketidakmampuan yang dimaksud belum disampaikan secara gamblang dalam forum klarifikasi.

    “Sampai tadi belum disampaikan secara detail, karena semua pihak justru meminta beliau tetap bertahan. Maka kami minta keputusannya tidak terlalu lama agar ada kepastian,” pungkas Eka Radityo. [fiq/beq]

  • Hari Jadi Banyuwangi ke-254, Tantri Kotak Perform dengan Kostum Penari Gandrung

    Hari Jadi Banyuwangi ke-254, Tantri Kotak Perform dengan Kostum Penari Gandrung

    Banyuwangi (beritajatim.com) – Panggung perayaan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 menjadi saksi sebuah pertunjukan yang tidak biasa.

    Untuk pertama kalinya dalam sejarah karier musiknya, vokalis band Kotak Tantri Syalindri, tampil dengan transformasi yang mengejutkan.

    Ia memadukan gaya rockstar ikoniknya dan muncul di atas panggung dengan mengenakan Omprog (mahkota) penari Gandrung.

    Tantri tampil membawakan lagu bertajuk “Satu Indonesia”. Perpaduan antara kemegahan busana tradisional dengan suara powerful khas Tantri menciptakan atmosfer yang begitu emosional.

    Penonton yang memadati lokasi acara tampak terkesima melihat sang vokalis berdiri anggun dalam balutan identitas budaya lokal.

    Penampilan fantastis ini ternyata tidak datang secara tiba-tiba. Band Kotak diketahui telah mempersiapkan konsep kolaborasi ini dengan sangat matang sejak dua bulan sebelumnya.

    Mereka bekerja sama dengan seniman lokal, Komunitas Damar Art, untuk memastikan setiap detail budaya yang ditampilkan tetap autentik namun selaras dengan energi musik rock.

    Bagi Tantri, pengalaman ini memberikan kesan batin yang sangat kuat. Ia mengaku merasakan getaran yang berbeda saat berdiri di atas panggung malam itu.

    “Saya sangat merinding ketika tampil dengan konsep kolaborasi tarian dan musik tradisional Banyuwangi. Garapan yang sangat luar biasa,” ujar Tantri.

    Sinergi antara instrumen modern dan alunan musik tradisional Banyuwangi menciptakan harmoni yang magis. Kolaborasi ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk apresiasi seni yang melampaui batas genre.

    Kotak band berhasil membuktikan bahwa musik rock bisa menyatu dengan indah bersama kearifan lokal jika digarap dengan sepenuh hati.

    Bagi Tantri, Banyuwangi sebenarnya bukanlah hal baru. Band yang digawangi oleh Tantri, Chua, dan Cella ini selalu konsisten menyisipkan unsur budaya Banyuwangi dalam setiap pembukaan konser mereka di berbagai kota.

    Hal ini menunjukkan komitmen mereka dalam mempromosikan kekayaan daerah ke kancah nasional.

    Salah satu elemen kunci yang selalu ada dalam pertunjukan mereka adalah suara sinden Sang Maestro Gandrung legendaris, Mak Temu.

    Suara emas Mak Temu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas panggung Kotak dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran suara tersebut selalu berhasil memberikan nyawa tersendiri pada setiap lagu yang dibawakan.

    “Setiap kami konser selalu membawakan sinden Gandrung yang diisi suara oleh Mak Temu. Kesan magis pun sangat terasa di setiap pertunjukan,” jelas Tantri.

    Acara Harjaba ke-254 ini pun menjadi puncak dari perjalanan cinta Kotak terhadap budaya Banyuwangi. Dengan tampil berkolaborasi dengan budaya lokal, Tantri tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah gempuran zaman modern. (ayu/ted)

  • Operasi Lilin Semeru 2025, Polda Jatim Utamakan Pengamanan Humanis Sambut Natal dan Tahun Baru

    Operasi Lilin Semeru 2025, Polda Jatim Utamakan Pengamanan Humanis Sambut Natal dan Tahun Baru

    Surabaya (beritajatim.com) — Polda Jawa Timur (Jatim) berkomitmen memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam merayakan Natal 2025 serta pergantian Tahun Baru 2026.

    Melalui operasi dengan sandi Lilin Semeru, Polda Jatim tidak hanya berfokus pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada pemberian pelayanan yang humanis dan penuh keramahan kepada masyarakat.

    Hal itu seperti disampaikan oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, Senin (21/12/2025).

    Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan, Operasi Lilin kali ini memiliki perbedaan paradigma dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    “Tujuan Operasi Lilin adalah agar pengamanan Nataru mampu memberikan pelayanan terbaik dan rasa nyaman bagi masyarakat yang melaksanakan ibadah Natal, pemudik, ataupun wisatawan yang datang ke Jawa Timur,” kata Kombes Pol J. Abast.

    Selain itu, lanjut Kombes Pol Abast, Polda Jatim juga memaksimalkan patroli dialogis sebagai langkah preventif guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap aman dan kondusif.

    Patroli ini dilaksanakan oleh personel preventif Polri jajaran Polda Jatim dengan menyasar sejumlah lokasi yang berpotensi mengalami peningkatan aktivitas masyarakat selama momentum Nataru.

    Sasaran patroli meliputi tempat ibadah, khususnya gereja, objek wisata, pusat perbelanjaan, terminal, pelabuhan, bandara, kawasan perhotelan, serta objek vital nasional dan objek vital tertentu.

    “Patroli proaktif dialogis merupakan bagian dari upaya Polri dalam hal ini Polda Jatim dan jajarannya untuk mencegah potensi gangguan keamanan sejak dini,” kata Kombes Pol Abast.

    Dalam pelaksanaan patroli tersebut, petugas melakukan pengecekan kesiapan pengamanan, pendataan jam operasional, estimasi jumlah pengunjung, serta pengawasan arus lalu lintas dan parkir.

    Selain itu, petugas juga mengidentifikasi potensi kerawanan seperti kepadatan massa, gangguan kamtibmas, maupun risiko keselamatan.

    “Kita sampaikan juga imbauan kamtibmas, memperkuat pola pengamanan internal, memastikan kesiapan jalur evakuasi, serta menyepakati mekanisme komunikasi dan respons cepat apabila terjadi gangguan keamanan,” pungkasnya. [uci/kun]

  • PT Agrinas Tinjau Progres Koperasi Merah Putih Ponorogo, Pembangunan Gedung Dikebut

    PT Agrinas Tinjau Progres Koperasi Merah Putih Ponorogo, Pembangunan Gedung Dikebut

    Ponorogo (beritajatim.com) – PT Agrinas Pangan Nusantara meninjau langsung progres pembangunan Gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Ponorogo sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi berbasis koperasi. Kunjungan lapangan tersebut dipimpin Wakil Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Mayjen TNI Trenggono.

    Peninjauan dilakukan untuk memastikan pembangunan Koperasi Merah Putih Ponorogo berjalan sesuai rencana dan target waktu. Hingga saat ini, pembangunan gedung koperasi di sejumlah titik strategis di Ponorogo masih berlangsung dan terus dikebut.

    Tercatat ada tiga lokasi yang menjadi fokus pengecekan progres pembangunan, yakni Kelurahan Singosaren, Kecamatan Jenangan, serta Desa Sukorejo dan Desa Serangan di Kecamatan Sukorejo. Di setiap lokasi, rombongan memantau langsung tahapan pekerjaan fisik sekaligus kesiapan pendampingan di lapangan.

    Dari hasil peninjauan tersebut, Mayjen TNI Trenggono menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pembangunan KDKMP di wilayah Ponorogo. Ia menilai proses pembangunan berjalan optimal berkat dukungan dan pengawalan jajaran teritorial.

    “Terimakasih Kodim 0802 Ponorogo atas dukungannya terhadap pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih,” kata Mayjen TNI Trenggono, Senin (22/12/2025).

    Komandan Kodim 0802/Ponorogo Letkol Arh Farauk Saputra yang mendampingi langsung kunjungan kerja tersebut mengatakan kehadiran pimpinan PT Agrinas Pangan Nusantara memberikan dorongan moral bagi personel di lapangan, khususnya para Babinsa yang terlibat dalam pendampingan program.

    “Bangga dan sangat berterimakasih atas kunjungan Beliau dan tentunya ini benar benar memberikan motivasi dan semangat atas kinerja kami termasuk para Babinsa yang terus melakukan pendampingan dan pengawalan program KDKMP di wilayah Kodim 0802/Ponorogo,” ungkap Dandim Ponorogo.

    Menurutnya, pendampingan yang dilakukan Kodim 0802/Ponorogo bertujuan memastikan pembangunan gedung koperasi berjalan lancar dan sesuai dengan harapan komando atas, sehingga dapat segera dimanfaatkan untuk penguatan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan.

    Peninjauan progres pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat lintas sektor. Di antaranya Kapolsek Sukorejo Iptu Agus Tri Wiyono, Kasiterrem 081/Dsj Letkol Inf Subagya Pujianto, Kasdim 0802/Ponorogo Mayor Inf Agus Budi Cahyono, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Ponorogo Toni Sumarsono.

    Hadir pula Camat Sukorejo Drs. Setyo Harry Sujatmiko serta Staf Agrinas wilayah Ponorogo–Pacitan Rifqi yang ikut mendampingi rangkaian peninjauan lapangan tersebut. [end/beq]

  • Pimpin Upacara Hari Bela Negara dan Hari Ibu, Mbak Wali: Indonesia Kuat dari Semangat Bela Negara dan Perempuan Berdaya

    Pimpin Upacara Hari Bela Negara dan Hari Ibu, Mbak Wali: Indonesia Kuat dari Semangat Bela Negara dan Perempuan Berdaya

    Kediri (beritajatim.com) – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memimpin upacara peringatan Hari Bela Negara ke-77 dan Hari Ibu ke-97 yang digelar di Halaman Balai Kota Kediri, Senin (22/12/2025). Dalam momentum tersebut, Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali menegaskan bahwa Indonesia yang kuat lahir dari semangat bela negara dan pemberdayaan perempuan.

    Dalam amanatnya, Mbak Wali menyampaikan bahwa 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara untuk mengenang peristiwa bersejarah berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi pada tahun 1948.

    “Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat bela negara, keberanian, serta persatuan rakyat mampu menjaga Republik Indonesia tetap berdiri di tengah ancaman agresi dan krisis,” ujarnya.

    Tahun ini, Hari Bela Negara mengusung tema “Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju”. Tema tersebut menegaskan bahwa bela negara bukan hanya tugas aparat pertahanan, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, ancaman siber, radikalisme, bencana alam, hingga derasnya arus informasi yang rawan disalahgunakan.

    Dalam konteks itu, Mbak Wali menekankan pentingnya implementasi nilai bela negara dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga persatuan, memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi, membantu masyarakat terdampak bencana, serta berkontribusi aktif sesuai peran dan profesi masing-masing.

    Pada hari yang sama, Pemerintah Kota Kediri juga memperingati Hari Ibu ke-97. Momentum ini berakar dari Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 dan ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

    Menurut Mbak Wali, Hari Ibu merupakan bentuk penghormatan bangsa terhadap perjuangan dan kontribusi perempuan Indonesia dalam keluarga, masyarakat, dan negara, serta bukan sekadar peringatan seremonial.

    Tahun 2025, peringatan Hari Ibu mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”. Wali Kota Kediri menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga agen perubahan dan pilar penting kemajuan bangsa.

    Di akhir sambutannya, Mbak Wali menegaskan bahwa sinergi antara semangat bela negara dan pemberdayaan perempuan merupakan fondasi bagi Indonesia yang tangguh.

    “Indonesia yang tangguh adalah Indonesia yang rakyatnya memiliki cinta tanah air, kepedulian sosial, serta komitmen untuk saling melindungi dan memberdayakan. Mari jadikan momentum peringatan ini sebagai penguat tekad untuk menjaga persatuan, memperkuat ketahanan bangsa, serta memastikan setiap warga negara baik laki-laki maupun perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi secara bermakna bagi Indonesia,” tegasnya.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh perempuan Indonesia atas ketangguhan, pengabdian, dan karya nyata yang telah dan terus diberikan bagi bangsa dan negara.

    Dalam rangkaian upacara tersebut, Pemerintah Kota Kediri menyerahkan paket sembako kepada 46 perempuan kepala keluarga di Kota Kediri. Selain itu, dilakukan pula penyerahan motor patroli untuk pengawalan kepala daerah.

    Upacara dihadiri oleh Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Forkopimda Kota Kediri, Ketua TP PKK Kota Kediri Faiqoh Azizah Muhammad, Pj Sekretaris Daerah M. Ferry Djatmiko, para asisten, staf ahli, kepala OPD Pemerintah Kota Kediri, serta peserta upacara dari unsur TNI, Polri, ASN, dan Gabungan Organisasi Wanita.

    Jika Mas Nanang ingin versi lebih pendek untuk Google News/Top Stories, atau dipecah jadi dua angle berita (Hari Bela Negara & Hari Ibu), tinggal bilang. [nm/ted]

  • MH Said Abdullah Perkuat Ideologi Pemuda Sumenep, Empat Pilar Jadi Tameng Hadapi Arus Digital

    MH Said Abdullah Perkuat Ideologi Pemuda Sumenep, Empat Pilar Jadi Tameng Hadapi Arus Digital

    Sumenep (beritajatim.com) – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur XI (Madura), MH. Said Abdullah, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bagi pemuda dan mahasiswa Kabupaten Sumenep pada Senin (22/12/2025).

    Sosialisasi tersebut dirasa perlu guna penguatan ideologi kebangsaan bagi generasi muda, mengingat saat ini tengah deras arus informasi digital dan menguatnya narasi transnasional yang kerap mengaburkan jati diri bangsa.

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, Hotel de Baghraf, Sumenep tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang dialog kritis untuk meneguhkan kembali makna berbangsa dan bernegara di tengah perubahan sosial yang cepat.

    Sosialisasi menitikberatkan pada pemahaman Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi utama kehidupan kebangsaan. Dua tenaga ahli MH. Said Abdullah, Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H., hadir mendampingi jalannya kegiatan.

    Narasumber dalam kegiatan tersebut, Amir Syarifuddin, menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Ia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah bangunan besar yang hanya akan kokoh apabila seluruh pilarnya dirawat dan dijaga secara bersamaan.

    “Berpancasila tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dihidupkan. Kesadaran dan kecintaan terhadap negara menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang merusak persatuan,” paparnya.

    Ia juga menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan menurutnya, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan yang terkandung dalam Pancasila sejalan dengan prinsip-prinsip universal agama.

    “Dalam sejarahnya, para ulama telah menerima Pancasila sebagai dasar negara. Sejak 1983, ditegaskan bahwa Pancasila sejalan dengan nilai keagamaan dan menjadi perekat kehidupan berbangsa di Indonesia,” ujarnya.

    Sementara narasumber lain, Khoirussoleh, menyoroti Pancasila sebagai hasil ijtihad para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara yang mampu merangkul kemajemukan Indonesia. Menurutnya, Pancasila lahir dari musyawarah panjang yang mempertimbangkan realitas sosial, budaya, dan keagamaan bangsa.

    “Pancasila adalah identitas dan karakter bangsa Indonesia. Di dalamnya terdapat nilai moderasi yang relevan untuk menjawab tantangan global hari ini,” tandasnya.

    Khoirussoleh juga mengajak generasi muda untuk tidak memandang Empat Pilar Kebangsaan sebagai konsep normatif semata, melainkan sebagai pedoman sikap dalam kehidupan sehari-hari, baik di ruang publik maupun di dunia digital.

    Ia menambahkan, kecintaan terhadap negara dapat diukur dari keterlibatan aktif warga negara dalam menjaga demokrasi, menghormati perbedaan, serta berpartisipasi dalam proses pembangunan.

    “Keberagaman adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Justru dari perbedaan itulah persatuan dibangun, sebagaimana semangat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

    Melalui sosialisasi ini, pemuda dan mahasiswa Sumenep diharapkan memiliki daya tangkal ideologis yang kuat, mampu berpikir kritis, serta berperan aktif menjaga persatuan dan keutuhan NKRI di tengah tantangan zaman. (tem/kun)

  • Harga Sayur di Dataran Tinggi Pasuruan Berangsur Pulih, Petani Mulai Tersenyum

    Harga Sayur di Dataran Tinggi Pasuruan Berangsur Pulih, Petani Mulai Tersenyum

    Pasuruan (beritajatim.com) – Harga sayur-mayur di wilayah dataran tinggi Kabupaten Pasuruan kini mulai menunjukkan tren positif setelah sempat mengalami penurunan harga yang cukup tajam. Meski sebelumnya petani mengeluh, saat ini nilai jual komoditas sayur di tingkat petani dilaporkan sudah berangsur normal kembali.

    Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Setiya Wardana, memastikan bahwa fluktuasi harga yang terjadi pekan lalu dipicu oleh puncak musim panen dan gangguan distribusi akibat banjir di wilayah lain. Agus juga menepis kekhawatiran terkait isu impor kentang asal China yang sempat meresahkan para petani lokal.

    “Isu impor kentang dari China itu sebenarnya untuk industri bahan baku snack, bukan untuk konsumsi sayur di pasar,” jelas Agus Wardana, Senin (22/12/2024).

    Mengenai ketersediaan sarana produksi, pihak legislatif menegaskan bahwa distribusi pupuk bagi petani di wilayah atas saat ini sudah berjalan lancar tanpa ada kelangkaan. Hal ini sekaligus menjawab keresahan warga pegunungan yang sebelumnya sempat kesulitan mendapatkan asupan nutrisi untuk tanaman mereka.

    Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), masyarakat diimbau untuk tidak panik terhadap ketersediaan bahan pangan di pasar. Stok sayur-mayur di wilayah Pasuruan dipastikan melimpah karena bertepatan dengan masa panen raya di berbagai sentra pertanian.

    “Hari ini karena musim panen, maka tidak akan terjadi kenaikan harga yang signifikan dan stok sayuran di Kabupaten Pasuruan aman,” pungkas Wardana.

    Menurut data dari Siskaperbapo, harga kentang saat ini sudah mencapai Rp14.000, sementara harga kol mencapai Rp7.000. Meski harga naik, namun kenaikannya tergolong lambat, yakni sekitar 0,5 persen hingga 0,8 persen. (ada/kun)

  • Kasus Asusila Anak Marak di Gresik, Diduga Dipicu Kurangnya Pengawasan

    Kasus Asusila Anak Marak di Gresik, Diduga Dipicu Kurangnya Pengawasan

    Gresik (beritajatim.com) – Maraknya kasus asusila anak di Gresik kembali memicu kekhawatiran publik setelah seorang siswi kelas satu SD berinisial NK (8) di Kecamatan Panceng menjadi korban kekerasan seksual. Minimnya pengawasan orang tua serta rendahnya edukasi perlindungan diri pada anak disebut menjadi faktor pemicu utama yang membuat pelaku dengan mudah melancarkan aksinya.

    Terbaru, Unit PPA Satreskrim Polres Gresik menangkap AR (28), seorang pria asal Pasuruan yang tinggal di kontrakan wilayah Panceng. Pelaku diduga melakukan tindakan tak senonoh terhadap NK dengan memanfaatkan bujuk rayu dan iming-iming barang sepele.

    “Penyebab kasus tersebut terjadi lagi karena anak mudah dibujuk rayu dengan iming-iming, dan pelakunya biasanya orang terdekat,” ujar Kepala Dinas Keluarga Berencana Perlindungan Perempuan dan Anak (KBPPA) Gresik, dr. Titik Ernawati, Senin (22/12/2025).

    Kasus asusila anak di Gresik kali ini bermula saat korban sedang berjalan pulang ke rumah. AR yang sudah memantau situasi kemudian memanggil korban dan mengajaknya ke dalam kamar kontrakan dengan janji akan diberikan uang dan susu.

    Di dalam kamar, korban dipaksa menuruti kemauan pelaku. Tak hanya itu, AR juga menggunakan intimidasi agar korban tidak melaporkan kejadian tersebut kepada siapa pun.

    “Pelaku mengancam akan memukul korban apabila menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun,” jelas Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP Arya Widjaya. Namun, korban akhirnya berani melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya hingga pelaku berhasil diringkus di tempat kontrakannya.

    Menanggapi fenomena ini, dr. Titik Ernawati menegaskan bahwa peran pemerintah melalui sekolah ramah anak tidak akan cukup tanpa dukungan penuh dari lingkungan keluarga. KBPPA Gresik pun berencana untuk semakin masif menggelar forum edukasi bagi para orang tua.

    “Kami sudah menginisiasi sekolah ramah anak, sekolah orang tua hebat, dan sekolah perempuan bunda puspa. Namun, peran orang tua serta lingkungan juga turut mempengaruhi asusila terhadap anak,” tegasnya.

    Pihak kepolisian kini memastikan AR akan diproses hukum secara maksimal untuk memberikan efek jera. Pelaku dijerat pasal berlapis, yakni UU Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara serta UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). [dny/beq]

  • Kasus Begal di Sampang Ternyata Rekayasa: Menantu Bohongi Mertua demi Tutupi Uang Bangunan

    Kasus Begal di Sampang Ternyata Rekayasa: Menantu Bohongi Mertua demi Tutupi Uang Bangunan

    Sampang (beritajatim.com) – Kasus begal di Sampang yang sempat menggemparkan warga Kecamatan Kedungdung beberapa hari lalu resmi dinyatakan sebagai rekayasa. Fakta mengejutkan ini terungkap setelah terduga korban, Haminuddin, mengakui bahwa cerita pencurian dengan kekerasan tersebut hanyalah karangan untuk menutupi perbuatannya sendiri.

    Kepalsuan cerita ini diklarifikasi langsung oleh mertua pelaku, H. Hajari (60), di Mapolsek Kedungdung. Ia memastikan bahwa insiden yang menimpa menantunya di Desa Rabasan tersebut tidak pernah terjadi dalam dunia nyata.

    “Atas nama keluarga kami menyampaikan permohonan maaf, khususnya kepada warga Kecamatan Kedungdung, karena telah menimbulkan keresahan,” ujar H. Hajari saat memberikan klarifikasi resmi, Senin (21/12/2025).

    Kapolsek Kedungdung, Iptu Syafriwanto, mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah mengakui rekayasa tersebut secara terbuka. Selain memberikan keterangan di kantor polisi, pihak keluarga juga telah merilis video permohonan maaf untuk meredam keresahan publik.

    “Kejadian yang sebelumnya dilaporkan sebagai kasus pencurian dengan kekerasan ternyata tidak pernah terjadi. Pihak keluarga juga telah membuat video klarifikasi dan permohonan maaf kepada publik,” jelas Syafri.

    Penyelidikan mendalam dari Polres Sampang juga menemukan bukti teknis yang tidak terbantahkan. Plh Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, menjelaskan adanya ketidaksinkronan data terkait klaim uang yang hilang.

    “ATM yang digunakan adalah ATM BCA dengan batas maksimal penarikan Rp10 juta. Dengan demikian, keterangan penarikan uang sebesar Rp23 juta tidak sesuai,” tegas Eko.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan, uang puluhan juta milik H. Hajari tersebut awalnya dialokasikan untuk membeli material bangunan. Namun, Haminuddin justru menggunakan dana tersebut untuk keperluan pribadinya tanpa sepengetahuan sang mertua.

    Karena takut perbuatannya terbongkar, ia memilih merekayasa cerita seolah-olah menjadi korban pembegalan yang sadis. Saat ini, kepolisian telah melimpahkan berkas perkara ke Satreskrim untuk ditindaklanjuti secara hukum.

    “Saat ini terduga korban telah dilimpahkan ke Satreskrim Polres Sampang beserta barang buktinya untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait dugaan pemberian keterangan palsu,” pungkas Eko. [sar/beq]

  • Kasus Begal di Sampang Ternyata Rekayasa: Menantu Bohongi Mertua demi Tutupi Uang Bangunan

    Kasus Begal di Sampang Ternyata Rekayasa: Menantu Bohongi Mertua demi Tutupi Uang Bangunan

    Sampang (beritajatim.com) – Kasus begal di Sampang yang sempat menggemparkan warga Kecamatan Kedungdung beberapa hari lalu resmi dinyatakan sebagai rekayasa. Fakta mengejutkan ini terungkap setelah terduga korban, Haminuddin, mengakui bahwa cerita pencurian dengan kekerasan tersebut hanyalah karangan untuk menutupi perbuatannya sendiri.

    Kepalsuan cerita ini diklarifikasi langsung oleh mertua pelaku, H. Hajari (60), di Mapolsek Kedungdung. Ia memastikan bahwa insiden yang menimpa menantunya di Desa Rabasan tersebut tidak pernah terjadi dalam dunia nyata.

    “Atas nama keluarga kami menyampaikan permohonan maaf, khususnya kepada warga Kecamatan Kedungdung, karena telah menimbulkan keresahan,” ujar H. Hajari saat memberikan klarifikasi resmi, Senin (21/12/2025).

    Kapolsek Kedungdung, Iptu Syafriwanto, mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah mengakui rekayasa tersebut secara terbuka. Selain memberikan keterangan di kantor polisi, pihak keluarga juga telah merilis video permohonan maaf untuk meredam keresahan publik.

    “Kejadian yang sebelumnya dilaporkan sebagai kasus pencurian dengan kekerasan ternyata tidak pernah terjadi. Pihak keluarga juga telah membuat video klarifikasi dan permohonan maaf kepada publik,” jelas Syafri.

    Penyelidikan mendalam dari Polres Sampang juga menemukan bukti teknis yang tidak terbantahkan. Plh Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, menjelaskan adanya ketidaksinkronan data terkait klaim uang yang hilang.

    “ATM yang digunakan adalah ATM BCA dengan batas maksimal penarikan Rp10 juta. Dengan demikian, keterangan penarikan uang sebesar Rp23 juta tidak sesuai,” tegas Eko.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan, uang puluhan juta milik H. Hajari tersebut awalnya dialokasikan untuk membeli material bangunan. Namun, Haminuddin justru menggunakan dana tersebut untuk keperluan pribadinya tanpa sepengetahuan sang mertua.

    Karena takut perbuatannya terbongkar, ia memilih merekayasa cerita seolah-olah menjadi korban pembegalan yang sadis. Saat ini, kepolisian telah melimpahkan berkas perkara ke Satreskrim untuk ditindaklanjuti secara hukum.

    “Saat ini terduga korban telah dilimpahkan ke Satreskrim Polres Sampang beserta barang buktinya untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait dugaan pemberian keterangan palsu,” pungkas Eko. [sar/beq]