Author: Beritajatim.com

  • Menyamar Jadi Kuli Panggul, Pria Gondol Satu Karung Beras di Pasar Besar Ngawi

    Menyamar Jadi Kuli Panggul, Pria Gondol Satu Karung Beras di Pasar Besar Ngawi

    Ngawi (beritajatim.com) – Aksi pencurian dengan modus penyamaran terjadi di Pasar Besar Ngawi. Seorang pria nekat menyamar sebagai kuli panggul untuk mencuri satu karung beras milik pedagang. Seluruh aksi pelaku terekam kamera pengawas atau CCTV pasar.

    Dalam rekaman CCTV yang beredar, pelaku terlihat memanggul satu karung beras dan berjalan santai memasuki area pasar. Pria tersebut mengenakan kaos lengan panjang berwarna merah serta celana pendek, sehingga sekilas tampak seperti kuli panggul yang tengah bekerja mengangkut barang dagangan.

    Setelah berada di dalam pasar beberapa saat, pelaku terlihat keluar melalui pintu samping menuju area parkir. Ia kemudian meletakkan karung beras berwarna putih itu di bagian depan sepeda motornya sebelum meninggalkan lokasi.

    Peristiwa pencurian tersebut terjadi pada Jumat, 26 Desember 2025, sekitar pukul 08.00 WIB. Pelaku diduga sengaja menyamar sebagai kuli panggul untuk menghindari kecurigaan pedagang maupun petugas pasar. Karung beras yang dicuri diketahui memiliki berat sekitar 25 kilogram.

    Pemilik beras, Maidi (55), seorang pedagang di Pasar Besar Ngawi, mengaku baru menyadari barang dagangannya hilang saat hendak mengantarkan pesanan ke pelanggan. Ia kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas pasar.

    “Beras itu mau saya antar ke pelanggan. Pas saya balik, sudah tidak ada. Lalu saya lapor ke petugas. Di CCTV terlihat orang itu mondar-mandir,” ujar Maidi.

    Petugas Pasar Besar Ngawi, Narto, membenarkan adanya pencurian tersebut. Menurutnya, pelaku terlihat cukup rapi menjalankan aksinya dengan berpura-pura sebagai kuli panggul agar tidak menimbulkan kecurigaan.

    “Kelihatannya menyamar jadi kuli panggul untuk menghindari kecurigaan. Beras dibawa masuk, lalu keluar dan pergi menggunakan sepeda motor,” jelas Narto.

    Akibat kejadian itu, Maidi mengalami kerugian lebih dari Rp300 ribu. Kasus pencurian satu karung beras tersebut telah dilaporkan ke Polres Ngawi pada Jumat sore. Laporan dibuat agar pelaku dapat segera ditangkap dan kejadian serupa tidak kembali terulang di Pasar Besar Ngawi. [fiq/suf]

  • Satu Keluarga di Situbondo Tewas Dibantai, Polisi Masih Dalami Kasusnya

    Satu Keluarga di Situbondo Tewas Dibantai, Polisi Masih Dalami Kasusnya

    Situbondo (beritajatim.com) – Sebuah tragedi mengerikan terjadi di Dusun Watuketu, Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, pada Minggu, 28 Desember 2025. Satu keluarga yang terdiri dari tiga orang ditemukan tewas mengenaskan akibat dibantai di rumah mereka sekitar pukul 09.15 WIB.

    Korban terdiri dari kepala keluarga berinisial K, istrinya S, dan anak remaja perempuan mereka, N.

    Kapolres Situbondo, AKBP Rezi Darmawan, membenarkan kejadian tersebut saat dihubungi oleh beritajatim.com. “Iya benar. Tiga orang (korbannya). Anggota sudah berada di TKP,” katanya singkat.

    Setelah peristiwa tragis ini, situasi di lokasi kejadian menjadi sorotan publik. Beberapa akun media sosial bahkan melakukan live streaming dari TKP. Dalam rekaman yang beredar, terlihat petugas polisi sedang memasang garis polisi di sekitar rumah korban.

    Salah satu streamer yang ikut meliput kejadian, melalui akun TikTok @Senopati_agull, mengatakan bahwa tidak ada barang-barang yang hilang dari rumah korban. “Jadi bukan perampokan ya,” ujar streamer tersebut.

    Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Polres Situbondo masih mendalami kasus tersebut. Motif pembantaian dan siapa pelaku yang bertanggung jawab masih belum terungkap. “Nanti ya. Kami masih mendalami,” tambah Kapolres Rezi Darmawan.

    Peristiwa ini mengundang tanda tanya besar di masyarakat, karena belum ada penjelasan pasti mengenai penyebab dan pelaku pembunuhan tersebut. Pihak kepolisian berjanji akan mengungkapnya segera. [awi/suf]

  • Tak Mudah Basi, Berikut Tips Bikin Manisan Buah yang Awet

    Tak Mudah Basi, Berikut Tips Bikin Manisan Buah yang Awet

    Surabaya (beritajatim.com)- Manisan buah jadi salah satu camilan tradisional yang digemari banyak orang karena rasanya yang manis, segar, dan cocok dijadikan stok camilan atau oleh-oleh. Namun, proses pembuatannya sering dianggap sepele sehingga manisan cepat berair, berjamur, atau basi sebelum waktunya. Maka dari itu, penting untuk mengetahui Teknik pembuatan dan penyimpanan yang tepat agar manisan buah bisa lebih awet tanpa mengurangi rasa dan kualitasnya. Berikut ini beberapa tips penting yang perlu diperhatikan agar manisan buah tahan lama.

    Memilih Buah yang Tepat dan Berkualitas
    Untuk membuat manisan, hal pertama yang harus diperhatikan adalah memilih buah yang masih segar, tidak memar, dan belum terlalu matang. Buah yang terlalu matang cenderung mengandung kadar air dan gula alami yang lebih tinggi sehingga lebih mudah basi. Misalnya, pilih mangga yang masih muda dibandingkan mangga yang sudah matang untuk dijadikan manisan. Mangga yang masih muda cenderung lebih keras dan punya kadar air yang rendah sehingga cocok dijadikan manisan agar rasanya seimbang.

    Proses Pencucian dan Perendaman yang Benar
    Setelah memilih buah yang tepat, Anda harus mengetahui proses pencucian dan perendaman yang benar agar manisan lebih tahan lama. Kebersihan menjadi faktor utama untuk menentukan keawetan manisan. Cuci buah menggunakan air mengalir hingga benar-benar bersih untuk menghilangkan sisa kotoran dan mikroorganisme. Buah yang sudah dipotong sebaiknya direndam dalam air garam atau air kapur sirih sesuai kebutuhan. Perendaman ini berfungsi untuk menjaga tekstur buah tetap renyah sekaligus membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pembusukan.

    Takaran Gula yang Pas dan Merata
    Fungsi gula bukan hanya sebagai pemanis, tetapi juga sebagai pengawet alami. Gunakan gula dengan jumlah yang cukup agar dapat menarik air dari dalam buah dan menekan pertumbuhan mikroba. Pastikan gula larut dan meresap secara merata dengan cara merendam buah dalam larutan gula atau merebusnya secara perlahan. Jika takaran gula terlalu sedikit, manisan akan lebih cepat basi, sedangkan gula berlebihan bisa membuat rasa terlalu enek.

    Teknik Perebusan atau Pengeringan yang Tepat
    Proses perebusan dan pengeringan juga perlu diperhatikan. Jika manisan dibuat dengan cara direbus, gunakan api sedang agar buah tidak terlalu matang karena akan membuat tekstur buah jadi lembek. Perebusan yang tepat dapat membantu mensterilkan bahan dan memperpanjang masa simpan. Sementara itu, untuk manisan kering, proses penjemuran atau pengeringan harus dilakukan supaya kadar air di dalam buah benar-benar berkurang. Semakin sedikit kandungan air, semakin kecil risiko manisan cepat basi.

    Penggunaan Wadah dan Cara Penyimpanan
    Cara penyimpanan juga perlu diperhatikan karena penyimpanan memiliki peran besar dalam menjaga keawetan manisan. Manisan buah sebaiknya disimpan dalam wadah bersih dan kedap udara, seperti toples kaca atau plastik food grade. Tidak disarankan menggunakan wadah yang lembap atau mudah terbuka karena dapat memicu pertumbuhan jamur. Jika ingin masa simpan lebih lama, simpan manisan di dalam lemari pendingin. Selain itu, biasakan mengambil manisan dengan sendok kering agar tidak ada air atau kotoran yang masuk ke dalam wadah.

    Dengan memperhatikan pemilihan buah, proses pengolahan, hingga cara penyimpanan yang tepat, manisan buah buatan sendiri dapat bertahan lebih lama dan tetap lezat. Selain lebih hemat, membuat manisan sendiri juga memungkinkan kita mengontrol bahan yang digunakan sehingga lebih aman dikonsumsi. Jadi, tidak ada salahnya mencoba membuat manisan buah di rumah sebagai camilan praktis yang awet dan menggugah selera. [Nazala Habibah Fathyadin]

  • Ular Piton Mangsa Burung Peliharaan, Warga Perum GKB Gresik Diliputi Ketakutan

    Ular Piton Mangsa Burung Peliharaan, Warga Perum GKB Gresik Diliputi Ketakutan

    Gresik (beritajatim.com)– Warga Perum Gresik Kota Baru (GKB) Gresik tepatnya di Jalan Blitar III/32 dibuat resah setelah seekor ular piton berukuran besar memangsa burung peliharaan milik Rani. Peristiwa ini terjadi pagi hari pukul 09.30 WIB.

    Saat itu, pemilik burung mendapati kandang burungnya semula tiga ekor. Namun, sewaktu dilihat tinggal dua. Setelah ditelusuri, Rani menemukan ular piton berada di dekat lokasi kandang, diduga baru saja memangsa burung tersebut. Karena ketakutan ibu satu anak ini langsung melaporkan kejadian ini ke  Damkarla Gresik.

    “Saya kaget saat bersih-bersih rumah dibagian atas melihat kandang burung terbuka. Sewaktu dilihat tinggal dua ekor. Ternyata yang satu habis dimangsa ular piton yang bersembunyi di kandang,” ujarnya, Minggu (28/12/2025).

    Keberadaan ular piton yang masuk rumah membuat warga setempat khawatir akan keselamatan anak-anak dan hewan peliharaan lainnya.

    Usai melapor ke petugas Damkarla Gresik. sebanyak 7 personel dikerahkan untuk mengevakuasi ular piton dengan menggunakan penjepit ular. Petugas tanpa kesulitan mengeluarkan ular tersebut yang sedang bersembunyi.

    “Ular pitonnya memiliki panjang 1 meter, sewaktu dievakuasi tanpa ada kendala karena kekenyangan habis memangsa burung peliharaan,” Aditya.R, salah satu petugas Damkarla Gresik.

    Terkait dengan kejadian ini, dirinya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan kandang hewan peliharaan tertutup rapat. “Jika melihat ular berukuran besar, warga diminta tidak bertindak sendiri dan segera melapor ke petugas,” ungkapnya.

    Ada sejumlah tips menghindari ular masuk permukiman. Pertama, membersihkan semak-semak di sekitar rumah. Kedua, tutup lubang atau celah yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular, dan ketiga pastikan kandang hewan peliharaan tertutup rapat. Terakhir segera melapor jika melihat ular besar.

    Kejadian ular piton mangsa burung peliharaan di Gresik ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan warga terhadap satwa liar yang masuk ke permukiman. [dny/suf]

  • Pantai Dalegan Jadi Tujuan Favorit Libur Nataru, Satpolair Polres Gresik Perkuat Pengamanan

    Pantai Dalegan Jadi Tujuan Favorit Libur Nataru, Satpolair Polres Gresik Perkuat Pengamanan

    Gresik (beritajatim.com) – Selama libur natal dan tahun baru (Nataru), Pantai Dalegan Gresik menjadi tujuan favorit bagi wisatawan. Pantai yang memiliki pasir putih tersebut, sejak pagi hingga sore hari ramai dipadati pengunjung.

    Guna memastikan pengawasan dan pengamanan, Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolair) Polres Gresik melakukan patroli berkeliling di sekitar pantai.

    Kasatpolair Polres Gresik, AKP I Nyoman Ardita mengatakan, dirinya bersama sejumlah personel lainnya memfokuskan pengamanan mengingat banyak aktivitas wisatawan yang memadati kawasan pantai.

    “Selama masa libur panjang nataru. Kami melakukan pemantauan secara intensif, khususnya terhadap pengunjung yang beraktivitas mandi di laut,” katanya, Minggu (28/12/2025).

    Pama Polri ini menambahkan, langkah yang dilakukan ini sebagai upaya antisipasi terhadap potensi kecelakaan laut, mengingat tingginya jumlah wisatawan yang datang saat libur nataru.

    “Selain pengawasan, personel Satpolair juga aktif memberikan imbauan kepada wisatawan agar selalu waspada, mengutamakan keselamatan diri, serta mematuhi batas aman pantai yang telah ditetapkan dan diberi tanda oleh pengelola wisata,” imbuhnya.

    AKP I Nyoman Ardita juga menghimbau kepada orang tua agar senantiasa mengawasi anak-anaknya saat beraktivitas di area pantai. Tak hanya itu, perhatian juga diberikan kepada pengelola perahu wisata dengan menegaskan pentingnya penerapan standar keselamatan pelayaran, termasuk kewajiban penggunaan life jacket bagi seluruh penumpang.

    “Melalui pengamanan yang intensif ini, Polres Gresik berharap seluruh rangkaian kegiatan wisata selama libur di Pantai Dalegan dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif, tanpa ada kendala yang tak diinginkan,” tuturnya. [dny/suf]

  • Pemkab Banyuwangi Angkat 4.888 Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu

    Pemkab Banyuwangi Angkat 4.888 Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu

    Banyuwangi (beritajatim.com) – Setelah pengabdian bertahun-tahun sebanyak 4.888 honorer di Kabupaten Banyuwangi akhirnya resmi diangkat PPPK Paruh Waktu.

    Senyum dan tangis haru turut menyelimuti ribuan tenaga honorer saat penyerahan SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Penyerahan SK dilaksanakan di Kawasan GOR Tawangalun, Banyuwangi, Minggu (28/12/2025).

    Penyerahan SK PPPK Paruh Waktu turut disaksikan langsung oleh keluarga para honorer. Dengan pengangkatan ini, para honorer resmi berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

    Banyak dari mereka tak kuasa menahan tangis. Kebahagiaan juga terlihat pada anak, istri, dan orang tua memeluk para penerima SK penuh haru, karena tidak sedikit dari mereka yang tak lagi muda.

    “Hari ini saya sangat bahagia, anak-anak saya juga. Terima kasih Emakku Bupati Ipuk,” ujar Mislatin, dengan mata berkaca-kaca.

    Mislatin yang kini berusia 57 tahun merupakan tenaga administrasi di Puskesmas Singotrunan yang telah mengabdikan diri lebih dari 28 tahun.

    Wanita yang akrab disapa Mbok Rehana ini tak kuasa menahan tangis haru usai menerima SK pengangkatan yang selama ini dinantikan.

    Hal serupa disampaikan Nandang Prihatining Tyas (32), bidan Tenaga Latihan Kerja (TLK) di Puskesmas Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. Dia mengaku bersyukur akhirnya mendapat kepastian status setelah bertahun-tahun mengabdi di wilayah pelosok ujung selatan Banyuwangi.

    Bupati Ipuk mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada tenaga honorer yang telah bertahun-tahun mengabdi dan berkontribusi besar dalam mendukung pelayanan publik dan pembangunan di Banyuwangi.

    Ribuan tenaga honorer mendapat SK PPPK paruh waktu

    “Pemkab telah memutuskan honorer yang tersisa sebanyak 4.888 orang kita angkat menjadi PPPK Paruh Waktu. Ini merupakan bentuk kepastian kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Selamat kepada bapak dan ibu semua,” ujar Ipuk di hadapan ribuan PPPK Paruh Waktu yang baru saja terima SK.

    Dari total 4.888 PPPK Paruh Waktu yang diangkat, terdiri atas 1.539 tenaga guru, 259 tenaga kesehatan, serta 3.090 tenaga teknis dan administrasi yang tersebar di berbagai perangkat daerah.

    Bupati Ipuk menjelaskan, saat ini total ASN di Kabupaten Banyuwangi mencapai 15. 411 orang, terdiri dari 6.218 PNS, 4.305 PPPK dan 4.888 PPPK Paruh Waktu.

    Meski menghadapi tantangan fiskal pada 2026, di mana dana transfer pusat ke daerah dipangkas hingga Rp 665 miliar, Ipuk menegaskan Pemkab Banyuwangi tetap memprioritaskan pengangkatan PPPK Paruh Waktu. “Pembangunan tidak boleh meninggalkan satu pun manusianya, termasuk para PPPK,” ujarnya.

    Ia menambahkan, mulai 1 Januari 2026, para PPPK Paruh Waktu akan menerima penghasilan bulanan tetap dengan besaran yang jelas, setelah sebelumnya banyak honorer hanya menerima honor sukarela tanpa kepastian. “Semoga ini membawa berkah bagi Bapak Ibu sekalian dan keluarga,” katanya.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ipuk menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Layanan Tabungan dan Asuransi Pensiun (TASPEN) Jember sebagai penyelenggara Jaminan Sosial Aparatur Sipil Negara (ASN), untuk menjamin perlindungan sosial dan jaminan hari tua bagi PPPK.

    “Kami ingin Bapak Ibu bekerja dengan tenang, mengabdi dengan rasa aman, dan menatap masa depan dengan harapan,” ungkap Ipuk. [alr/suf]

  • Soal Ormas Madas di Surabaya, Akademisi Minta Pemkot Cegah Balas Dendam

    Soal Ormas Madas di Surabaya, Akademisi Minta Pemkot Cegah Balas Dendam

    Surabaya (beritajatim.com) – Sentimen warga Surabaya terhadap organisasi Madas kian tajam pasca-kejadian lansia 80 tahun di Dukuh Kuwukan 27, Sambikerep yang diseret keluar dari rumahnya sendiri pada 6 Agustus 2025.

    Diketahui, Lansia bernama Elina itu mendapat aksi kekerasan dari sekelompok orang yang diduga merupakan anggota Madas (Masyarakat Madura asli).

    Selain mendapat aksi kekerasan, barang-barang Elina dan keluarga juga hilang. Bahkan, rumah yang sudah menjadi tempat berlindung Elina dan keluarga sejak tahun 2011 itu dibongkar paksa. Peristiwa ini lantas dilaporkan ke Polda Jatim dan masih dalam tahap penyelidikan.

    Peristiwa naas yang dialami Elina lantas viral di media sosial. Berbagai kalimat kecaman dan hinaan dilontarkan oleh netizen kepada anggota Madas. Puncaknya ratusan orang mengatasnamakan Arek Surabaya mendatangi kantor organisasi Madas di Jalan Marmoyo, Wonokromo, Jumat (26/12/2025). Mereka menuntut agar organisasi yang meresahkan warga agar dibubarkan.

    Dosen Hukum Universitas Negeri Malang, Adinda Dwi Larasati mengatakan, peristiwa demo oleh ratusan arek Surabaya ke kantor organisasi Madas itu merupakan sinyal adanya rasa tidak puas dari warga kepada Pemerintah dalam menangani dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh para oknum anggota ormas.

    Menurut Adinda, warga Surabaya saat ini tengah jengah oleh perilaku premanisme yang dibungkus dengan baju ormas. Berbagai oknum anggota ormas kerap menggunakan organisasi untuk melakukan perbuatan yang meresahkan. Seperti pungutan liar, arogansi untuk melumpuhkan Surabaya, penolakan parkir digital di tempat usaha hingga peristiwa nenek Elina.

    “Ormas juga kerap digunakan bagi para penguasa dan pengusaha untuk mengamankan kepentingan pribadi dengan instan. Dengan cara menakut-nakuti, menindas, hingga mengintimidasi. Seperti yang terjadi di peristiwa Nenek Elina,” kata perempuan yang akrab dipanggil Dinda ini.

    Dinda menjelaskan, dalam peristiwa Nenek Alina, sengketa hak tanah atau bangunan seharusnya diselesaikan di ranah hukum privat dengan melewati sistem peradilan secara perdata. Namun, Dinda menyadari jika proses hukum yang sesuai aturan tidak semudah mengerahkan anggota ormas untuk tujuan yang sama.

    Massa dari Arek Surabaya berdemo di depan kantor Madas di Jalan Marmoyo, Wonokromo

    “Menggunakan ormas sebagai eksekutor lapangan itu sama seperti mengangkangi kewenangan Pengadilan Negeri,” imbuh Dinda.

    Menurut Adinda, Peristiwa Nenek Elina bisa menjadi gerbang konflik antar suku yang semakin besar. Dalam situasi yang kian memanas, Adinda menyarankan agar pihak kepolisian segera bertindak cepat menangkap pelaku pengrusakan rumah dan kekerasan kepada Nenek Elina. Termasuk juga menangkap aktor intelektualnya.

    “Sekarang isunya membesar, dari urusan sengketa hak menjadi urusan antar suku. Jangan sampai kita terjebak pada politik adu domba. Kembalikan ke asal muasalnya, ini sengketa hak. Bukan sengketa antar suku,” jelasnya.

    Sebagai praktisi hukum, Adinda menilai ketegasan aparat dan negara dalam menegakan aturan bisa melokalisir dan memperkecil konflik di kalangan arus bawah, terutama ormas kesukuan lain.

    “Pemkot Surabaya juga harus tegas. Jangan biarkan ada gerakan balas dendam dari ormas lain yang mengatasnamakan suku tertentu. Pihak kepolisian juga harus tepat dalam melakukan proses hukum. Sehingga isu kesukuan tidak semakin melebar dan bisa redam,” tuturnya.

    Dosen Universitas Negeri Malang itu juga mengingatkan kedepan ormas harus mematuhi Peraturan Daerah (Perda) Jawa Timur No 11 tahun 2022 tentang pemberdayaan organisasi kemasyarakatan. Supaya peraturan tersebut berjalan maksimal, peran Bakesbangpol sebagai leading sector harus diperkuat. Terutama dalam bidang pembinaan.

    Jadi kedepan memang harus ada perbaikan. Dari Pemerintah Daerah lewat Bakesbangpol, pihak kepolisian yang menegakan aturan, juga masyarakatnya sendiri. Sehingga kedepan tidak ada lagi sentimen isu tertentu di Surabaya maupun di Indonesia,” pungkas Adinda. [ang/suf]

  • Perkuat Nilai Sejarah, Stadion Gajayana Kota Malang Bakal Dilengkapi Museum

    Perkuat Nilai Sejarah, Stadion Gajayana Kota Malang Bakal Dilengkapi Museum

    Malang(beritajatim.com) – Stadion Gajayana, Kota Malang menjadi stadion tertua di Indonesia. Stadion Gajayana kini telah berusia 1 abad. Ini adalah stadion pertama yang dibangun pada masa Hindia Belanda.

    Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin beberapa waktu lalu turut menghadiri launching buku Satu Abad Stadion Gajayana yang ditulis oleh 40 penulis. Buku ini ditulis dari kolaborasi sejarawan, budayawan, akademisi, arsitek hingga praktisi olahraga.

    “Sejarah stadion ini penting untuk dijaga, dipertahankan dan tak dialihfungsikan sebagai pusat bisnis. Stadion Gajayana adalah stadion tertua yang dibangun pada masa Hindia Belanda,” kata Ali, Minggu, (28/12/2025).

    Buku sejarah Stadion Gajayana yang ditulis dalam buku setebal 550 halaman tersebut tak hanya bernilai intelektual belaka, tetapi juga akan menjadi literasi yang dapat diwariskan untuk generasi selanjutnya dalam pembangunan peradaban ke depan.

    Sejalan dengan itu, Pemerintah Kota Malang berencana membangun museum sebagai penguat sejarah stadion yang berada di pusat jantung Kota Malang itu. Sebab, sejumlah pemain Timnas Indonesia lahir dan besar di Stadion Gajayana Kota Malang. Seperti Aji Santoso hingga Ahmad Bustomi.

    “Ke depan, museum itu bisa menjadikan Stadion Gajayana sebagai pusat literasi, sejarah sekaligus menegaskan keberadaan stadion tertua dan pertama di Indonesia ini,” ujar Sam Ali sapaan akrabnya.

    Stadion yang dibangun pada 1924-2026 ini pernah menjadi lokasi penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 1942, markas militer rakyat Malang saat Agresi Militer Belanda I, hingga arena pidato Bung Tomo yang membakar semangat perjuangan. Stadion Gajayana adalah saksi bisu perjalanan sepak bola tanah air. [luc/aje]

  • Istri Mau Lahiran, Pria Surabaya Nekat Jambret Kalung Emak-Emak

    Istri Mau Lahiran, Pria Surabaya Nekat Jambret Kalung Emak-Emak

    Surabaya (beritajatim.com) Gegara tidak punya uang untuk istri lahiran, seorang pria asal Dupak Masigit, Bubutan, Surabaya nekat menjambret kalung emak-emak di Jalan Dukuh Kupang tepatnya di depan kantor Kelurahan Putat Jaya, Kamis (25/12/2025) malam.

    Kanit Reskrim Polsek Sawahan, AKP Agus Tri Subagjo mengatakan, pelaku bernama Yogi (27). Saat beraksi di Jalan Dukuh Kupang, Yogi mengendarai sepeda motor Honda PCX warna merah sendirian.

    “Pelaku beraksi sendirian. Ia nekat menjambret karena butuh uang untuk lahiran,” kata Agus, Minggu (28/12/2025).

    Saat beraksi pelaku yang mengendarai Honda PCX memepet korban dan langsung menarik paksa kalung seberat tujuh gram dari leher. Korban berinisial IN lantas berteriak meminta pertolongan. Teriakan itu memicu warga sekitar untuk mengejar pelaku.

    “Pelaku sempat terjatuh dari sepeda motornya dan diamankan warga sekitar. Anggota kami yang kebetulan patroli lantas membawa pelaku ke Polsek untuk diperiksa lebih lanjut,” imbuh Agus.

    Dari hasil pemeriksaan, Yogi sudah beraksi dua kali. Sebelum tertangkap warga di Jalan Dukuh Kupang, Yogi sempat menjambret kalung emas di Jalan Petemon Barat, Minggu (7/12/2025) bersama dengan rekannya berinisial A.

    Aksi dua jambret itu terekam kamera CCTV dan diunggah ke media sosial. Peristiwa itu pun viral di media sosial.

    “Saat beraksi pertama, Yogi berperan sebagai eksekutor. Sementara rekannya berinisial A sebagai pengemudi. Keduanya berhasil mejambret kalung emas seberat dua gram lebih,” jelas Agus.

    Dari aksi pertama, kalung emas hasil kejahatan itu dijual oleh A yang saat ini ditetapkan sebagai buron. Yogi mengaku mendapatkan bagian uang sebesar Rp 500 ribu. [ang/aje]

  • Refleksi Akhir Tahun Perumda Pasar Joyoboyo, Mbak Wali Kediri: Tingkatkan Kinerja dan Layanan Pasar

    Refleksi Akhir Tahun Perumda Pasar Joyoboyo, Mbak Wali Kediri: Tingkatkan Kinerja dan Layanan Pasar

    Kediri (beritajatim.com) – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menekankan pentingnya peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan pasar dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun 2025 Perumda Pasar Joyoboyo yang digelar di Pasar Setono Betek, Kota Kediri, Sabtu (27/12/2025).

    Kegiatan refleksi akhir tahun tersebut menjadi momentum evaluasi menyeluruh atas capaian, tantangan, serta penyusunan langkah strategis Perumda Pasar Joyoboyo ke depan dalam mengelola pasar tradisional di Kota Kediri.

    “Saya menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Perumda Pasar Joyoboyo. Kegiatan refleksi ini menjadi momen penting. Selain kita bisa melihat capaian kita juga melakukan evaluasi,” ujar Vinanda Prameswati.

    Dalam arahannya, Mbak Wali menegaskan bahwa pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, tetapi juga denyut nadi kehidupan sosial masyarakat serta penggerak ekonomi kerakyatan. Menurutnya, refleksi akhir tahun harus menjadi penyemangat bagi jajaran Perumda Pasar Joyoboyo untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan.

    “Saya mengingatkan meskipun capaian-capaian Perumda Pasar Joyoboyo sudah bagus jangan cepat berpuas diri. Saya percaya jajaran Perumda Pasar Joyoboyo sudah melakukan pembenahan dari tata kelola, pelayanan, sarana prasarana sehingga muncul beragam inovasi. Salah satunya di Pasar Setono Betek ni sekarang tidak hanya tempat berbelanja tapi juga ada cafe yang ramai dikunjungi,” ungkapnya.

    Wali kota termuda tersebut juga menekankan bahwa tantangan pengelolaan pasar ke depan semakin kompleks, terutama dengan perubahan pola belanja masyarakat yang kini cenderung beralih ke platform digital dan belanja daring.

    “Hal-hal semacam ini harus kita sadari dan tidak menutup kemungkinan kita harus mengikuti trend. Kita harus paham apa yang dibutuhkan masyarakat. Saya harap Perumda Pasar Joyoboyo terus meningkatkan pelayanannya,” tegasnya.

    Sementara itu, Direktur Perumda Pasar Joyoboyo Djauhari Luthfi menjelaskan bahwa Perumda Pasar Joyoboyo saat ini mengelola sembilan pasar tradisional di Kota Kediri dengan tantangan utama berupa persaingan pasar modern dan belanja online.

    Menurutnya, berbagai pembenahan terus dilakukan agar pasar tradisional tetap nyaman dan menjadi ruang belanja yang dirindukan masyarakat.

    “Kompetitor dari pasar ini adalah pasar modern yang telah menjamur dan belanja online. Namun Perumda Pasar Joyoboyo terus berbenah agar pasar ini memberi kenyamanan bagi masyarakat saat berbelanja dan menjadi pasar yang ngangeni,” jelasnya.

    Djauhari Luthfi menyampaikan bahwa hingga 31 Desember 2025, Perumda Pasar Joyoboyo mencatat proyeksi kenaikan kinerja sebesar 104 persen dibandingkan tahun 2024. Tingkat kesehatan perusahaan juga dinilai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dengan predikat A atau sehat, serta telah meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sejak 2024.

    “Kami mohon dukungan di tahun 2026 kami rencanakan seluruh jasa layanan di perumda akan didigitalisasi. Lalu di tahun 2025 kami sudah menyalurkan CSR sebesar 80 juta. Untuk masyarakat kota dan sekitar pasar dimana datanya kami kokrdinasi dengan Dinas Sosial,” jelasnya.

    Kegiatan Refleksi Akhir Tahun 2025 Perumda Pasar Joyoboyo tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Penjabat Sekda Kota Kediri M. Ferry Djatmiko, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Hery Purnomo, Dewan Pengawas Perumda Pasar Joyoboyo Edi Darmasto, kepala OPD terkait, serta tamu undangan lainnya. [nm/aje]