Author: Beritajatim.com

  • Pembunuhan Tragis di Situbondo, Keluarga Tunggu Kedatangan Ayah Kandung Korban

    Pembunuhan Tragis di Situbondo, Keluarga Tunggu Kedatangan Ayah Kandung Korban

    Situbondo (beritajatim.com) – Keluarga korban pembunuhan satu keluarga di Dusun Watuketu, Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, saat ini tengah menunggu kedatangan B, ayah kandung salah satu korban, yang sedang berada di Maluku.

    B, melalui sepupunya Pangki, meminta agar jenazah anaknya, UR alias N, tidak dimakamkan terlebih dahulu sampai ia tiba di Situbondo. “aya tinggal di Desa Besuki. Saya masih sepupu bapaknya korban UR alias N,” kata Pangki, saat ditemui di RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, Minggu, 28 Desember 2025.

    Pangki menceritakan bahwa ia pertama kali mendengar kabar tragis ini dari tetangga korban melalui telepon. Ia segera menghubungi B yang saat itu sedang bekerja di Maluku. “Dia bilang jenazah jangan dikebumikan dulu. Sekarang dia masih dalam perjalanan ke Situbondo, kemungkinan baru sampai besok siang, untuk melihat anaknya untuk terakhir kalinya,” ujar Pangki.

    Selain itu, B juga meminta agar jenazah UR alias N dimakamkan di wilayah Besuki. Namun, mengenai kronologi pembunuhan ini, Pangki mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia hanya mendapat kabar bahwa ayah tiri korban diduga membunuh istri dan anak tirinya, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di kamar mandi.

    Namun, Pangki menegaskan bahwa informasi ini masih sebatas kabar yang diterimanya, bukan hasil penyelidikan resmi. “Saya tidak tahu apakah sebelumnya ada cekcok atau masalah rumah tangga, karena saya tinggalnya jauh. Saya kaget dengar kabar ini, benar-benar nggak nyangka,” ungkap Pangki.

    Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif terkait pembunuhan tersebut. Polisi belum memberikan kesimpulan resmi terkait pelaku, motif, maupun kronologi kejadian, dan masih menunggu hasil penyidikan serta autopsi.

    Polres Situbondo mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi lebih lanjut dan menunggu keterangan resmi dari aparat penegak hukum. [awi/suf]

  • Kondisi Psikologis dan Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Satu Keluarga di Situbondo

    Kondisi Psikologis dan Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Satu Keluarga di Situbondo

    Situbondo (beritajatim.com) – Peristiwa tragis terjadi di Dusun Watuketu, Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang merenggut nyawa tiga orang dalam satu keluarga, Minggu (28/12/2025).

    Pembunuhan ini masih dalam penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian, yang kini berfokus pada olah tempat kejadian perkara dan pengumpulan bukti-bukti.

    Kepala Desa Demung, Aguk Prayogi, membenarkan adanya pembunuhan di wilayahnya. Tiga jenazah yang ditemukan di rumah korban masing-masing bernama MH (58), H sebagai ayah tiri, S (38) yang merupakan istri, dan UR (20) alias N, anak perempuan.

    Aguk Prayogi menyampaikan bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti kronologi maupun cara pembunuhan tersebut. “Ketiga jenazah telah dievakuasi dan dibawa ke RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo,” ungkapnya.

    Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, menambahkan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan olah TKP untuk mengungkap kasus ini. “Masih lidik dan olah TKP. Sebentar lagi akan kami umumkan secara resmi,” ujarnya.

    Sementara itu, warga sekitar mulai membicarakan peristiwa tersebut, meskipun berbagai informasi simpang siur beredar di masyarakat. Salah satu tetangga korban, YZ (35), warga Desa Demung, mengungkapkan bahwa ada dugaan faktor ekonomi dan kondisi psikologis sebagai pemicu tragedi tersebut.

    “Katanya bapak itu (MH) pendatang dari Madura. Sempat gagal nyalon kepala desa di sana dan sering bertengkar dengan istrinya. Bahkan sebelum kejadian, mereka sudah lama pisah ranjang,” ujar YZ.

    Namun demikian, polisi menegaskan bahwa semua informasi yang beredar masih dalam tahap verifikasi dan belum bisa dijadikan fakta hukum yang pasti. Penyidik terus mendalami motif serta kronologi kejadian ini, termasuk memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap lebih lanjut siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini.

    Pihak kepolisian Situbondo mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu cepat menyebarkan informasi yang belum diverifikasi dan akan segera memberikan keterangan lebih lanjut setelah proses penyelidikan selesai dilakukan. [awi/suf]

  • Hujan Disertai Angin, Pohon Trembesi Tumbang Timpa Pengendara Motor di Dlanggu Mojokerto

    Hujan Disertai Angin, Pohon Trembesi Tumbang Timpa Pengendara Motor di Dlanggu Mojokerto

    Mojokerto (beritajatim.com) – Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan sebuah pohon tumbang dan menimpa pengendara sepeda motor di Jalan Raya Desa Sroyo, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (28/12/2025). Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang pelajar mengalami luka ringan.

    Pohon jenis trembesi tersebut tumbang menimpa sepeda motor nopol S 5719 NAI yang dikendarai RR (17), pelajar SMAN 1 Kutorejo, warga Desa Sroyo, Kecamatan Dlanggu. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka lecet di bagian lengan dan pelipis karena tertimpa dahan dan ranting pohon.

    Kapolsek Dlanggu AKP Aminun menjelaskan, peristiwa pohon tumbang terjadi sekitar pukul 15.15 WIB saat wilayah tersebut diguyur hujan deras disertai angin kencang. “Saat kejadian, pohon tumbang menimpa sepeda motor yang sedang melintas di lokasi,” ungkapnya.

    Diduga pohon tumbang karena sudah tua dan lapuk. Beruntung, korban hanya mengalami luka ringan di bagian kening dan segera mendapatkan penanganan medis. Korban langsung dibawa ke Puskesmas Dlanggu untuk mendapatkan perawatan. Ia mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat berkendara.

    “Terutama ketika hujan deras disertai angin kencang. Kami mengimbau masyarakat untuk berteduh dan tidak nekat melanjutkan perjalanan saat hujan angin. Hujan angin sangat berbahaya bagi pengendara sepeda motor maupun mobil,” ujarnya.

    Dalam kejadian tersebut, lanjutnya, hanya terdapat satu pohon yang dilaporkan tumbang. Pihaknya berharap tidak ada pohon lain yang berpotensi tumbang, khususnya di wilayah hukum Polsek Dlanggu. Sementara petugas dan warga mengevakuasi pohon tumbang. [tin/suf]

  • Tiga Korban Pembunuhan di Besuki Situbondo Alami Luka Sayat Bagian Leher

    Tiga Korban Pembunuhan di Besuki Situbondo Alami Luka Sayat Bagian Leher

    Situbondo (beritajatim.com) – Polres Situbondo menyelidiki kasus dugaan pembunuhan yang menewaskan tiga orang dalam satu keluarga di Dusun Watuketu, Desa Demung, Kecamatan Besuki, Minggu, 28 Desember 2025.

    Peristiwa tragis tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 07.00 WIB dan dilaporkan ke pihak kepolisian pada pukul 08.30 WIB. Petugas gabungan dari Polres Situbondo dan Polsek Besuki segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

    Kasatreskrim Polres Situbondo AKP Agung Hartawan mengatakan, dari hasil pemeriksaan awal di TKP, polisi menemukan tiga korban meninggal dunia di dalam rumah dengan lokasi berbeda.
    “Benar, petugas menemukan tiga orang dalam kondisi meninggal. Ketiganya merupakan satu keluarga,” ujar AKP Agung.

    Ketiga korban masing-masing berinisial MH (58), laki-laki selaku ayah, SS (38), perempuan selaku istri, dan UR (20) alias N, perempuan selaku anak. Dua korban perempuan ditemukan di dalam kamar, sedangkan korban laki-laki ditemukan di area kamar mandi dapur.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, para korban diduga mengalami luka sayat di bagian leher. Di lokasi kejadian, petugas juga menemukan sebilah pisau yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Namun demikian, seluruh temuan masih dalam proses pendalaman.

    “Untuk penyebab pasti kematian dan jenis luka, kami masih menunggu hasil autopsi dari RSUD Abdoer Rahem Situbondo,” jelasnya.

    AKP Agung menambahkan, dari hasil olah TKP sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kehilangan barang milik korban. Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di area rumah juga sedang diperiksa, meski diduga tidak aktif atau dalam kondisi mati saat kejadian.

    Saat ini, Satreskrim Polres Situbondo masih melakukan penyelidikan intensif guna mengungkap pelaku dan motif di balik peristiwa tersebut. Sejumlah saksi telah dan masih dimintai keterangan, sementara garis polisi dipasang di sekitar lokasi kejadian.

    “Kami mohon kepada masyarakat untuk bersabar. Proses penyelidikan masih berjalan dan perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan sesuai hasil penyidikan,” pungkasnya. [awi/suf]

  • Kecelakaan Lalu Lintas di Kedungdung Sampang, Satu Orang Meninggal

    Kecelakaan Lalu Lintas di Kedungdung Sampang, Satu Orang Meninggal

    Sampang (beritajatim.com) – Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, tepatnya di depan kantor Koramil, Sabtu malam (27/12/2025). Insiden tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

    Kecelakaan melibatkan dua sepeda motor, yakni Honda Supra warna merah hitam dengan nomor polisi M 6843 PF dan Honda Mega Pro warna hitam nomor polisi M 5612 NP.

    Sepeda motor Honda Supra dikendarai oleh Ma’un (71), warga Dusun Tarjan, Desa Rabasan, Kecamatan Kedungdung, yang berboncengan dengan istrinya, Nurwati (45), warga Dusun Cak Ancak, Desa Moktesareh, Kecamatan Kedungdung.

    Sementara itu, sepeda motor Honda Mega Pro dikendarai oleh Samsul (19), warga Dusun Teporo, Desa Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, dengan penumpang Ahmad Rahmandani (17), warga desa setempat.

    Menurut Plh Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, kecelakaan bermula saat sepeda motor Honda Supra melaju dari arah selatan menuju utara dan hendak berbelok ke kanan menuju Desa Rabasan.

    Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan, sepeda motor Honda Mega Pro melaju dengan kecepatan tinggi. Karena jarak yang sudah terlalu dekat dan tidak ada ruang untuk menghindar, tabrakan pun tidak dapat dihindari.

    Akibatnya, pengendara sepeda motor Honda Supra, Ma’un, mengalami luka berat berupa patah tulang dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Istrinya, Nurwati, mengalami luka di bagian kepala dan segera dirujuk ke Rumah Sakit Sampang untuk mendapatkan perawatan medis.

    Pengendara sepeda motor Honda Mega Pro, Samsul, mengalami luka di sekujur tubuh dan saat ini dirawat di Puskesmas Kedungdung. Penumpang sepeda motor tersebut, Ahmad Rahmandani, juga mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di Puskesmas yang sama.

    Dalam insiden ini, tercatat satu korban meninggal dunia, satu korban luka berat, dan dua korban luka ringan. “Saat ini, kasus kecelakaan lalu lintas tersebut telah ditangani oleh Unit Laka Lantas Polres Sampang untuk dilakukan penyelidikan dan penanganan lebih lanjut,” ujar AKP Eko Puji Waluyo. [sar/suf]

  • Nenek Elina Diperiksa Polda Jatim, Ceritakan Bagaimana Dia Diusir dari Rumahnya Sendiri

    Nenek Elina Diperiksa Polda Jatim, Ceritakan Bagaimana Dia Diusir dari Rumahnya Sendiri

    Surabaya (beritajatim.com) – Elina Widjajanti, seorang nenek berusia 80 tahun yang tinggal di Surabaya, tengah menjalani pemeriksaan oleh penyidik Polda Jawa Timur terkait insiden pengusiran paksa yang dialaminya.

    Kejadian ini berlangsung pada 6 Agustus 2025, ketika Elina diusir dari rumahnya oleh sejumlah orang yang mengaku berasal dari sebuah ormas kesukuan.

    Dalam pengakuannya, Elina menceritakan bahwa pada saat itu, puluhan orang berseragam merah mendatangi rumahnya. Mereka mengklaim memiliki surat kepemilikan rumah dan meminta Elina keluar.

    Namun, saat Elina meminta untuk melihat surat tersebut, Samuel, salah satu dari kelompok tersebut, tidak dapat menunjukkannya.

    “Saya diminta surat. Saya tanyakan suratnya. Nyatanya Samuel yang gak bisa memperlihatkan suratnya. Mana suratnya, dia meneng (diam) lalu jalan. Suratnya itu ya Letter C (yang saya punya). Tapi ngakunya dia yang punya surat,” ujar Elina.

    Menurut Elina, orang-orang tersebut mengangkatnya secara paksa, dua orang memegang kaki dan dua lainnya memegang tangannya. Meskipun berusaha melawan, Elina tidak dapat berbuat banyak dan akhirnya diangkat keluar dari rumahnya.

    “Saya tunjukkan yang Letter C-nya. Saya tanya, kamu janjikan mana suratnya. Saya ada dua surat. Dia katanya cuma 1 (suratnya). Dia diam aja, map-nya di-kempit aja, terus pergi,” tambah Elina.

    Kuasa hukum Elina, Wellem Mintarja, menjelaskan bahwa ada empat orang yang diperiksa dalam kasus ini, yakni Elina, Iwan, Maria, dan Muslimah. Mereka adalah penghuni rumah yang menjadi korban pengusiran tersebut.

    Wellem juga mengungkapkan bahwa Elina tidak pernah mengenal Samuel sebelumnya dan baru pertama kali mendengar nama tersebut pada malam kejadian. “Klien kami baru mengetahui orang yang bernama Samuel waktu malam kejadian,” kata Wellem.

    Wellem juga menambahkan bahwa rumah yang ditempati oleh Elina dan kakaknya, Elisa, sejak 2011. Pada 2017 Elisa meninggal dunia. Namun, pada 5 Agustus 2025, seseorang mengklaim telah membeli rumah itu dari Elisa pada tahun 2014, meskipun selama 11 tahun tidak pernah menunjukkan bukti apapun.

    “Kemudian 2017 Bu Elisa meninggal dunia. Pada 5 Agustus 2025 itu ada yang mengklaim katanya seolah-olah pernah membeli dari Bu Elisa tahun 2014,” ungkap Wellem.

    Pada 6 Agustus 2025, pengusiran paksa tersebut terjadi. Wellem mengungkapkan bahwa surat jual beli yang digunakan Samuel tertanggal 24 September 2025, yang menunjukkan bahwa akta jual beli tersebut baru dibuat setelah pengusiran. “Akta itu baru dibuat, penjualnya ya dia (Samuel), pembelinya ya dia (Samuel),” jelasnya.

    Lebih lanjut, Wellem mengatakan bahwa rumah tersebut masih tercatat atas nama Elisa Irawati, seperti yang tercantum dalam Letter C desa. Namun, setelah kejadian tersebut, pihaknya menemukan bahwa Letter C yang sebelumnya tercatat atas nama Elisa telah tercoret, yang seharusnya membutuhkan persetujuan ahli waris.

    “Pencoretan itu mengajak ahli waris untuk ke sana. Karena kita sama sekali tidak pernah menjual baik Bu Elisa sama Bu Eliana maupun ahli waris lainnya enggak pernah menjual sama sekali,” tambah Wellem.

    Selain itu, beberapa dokumen penting milik kliennya, seperti Letter C tanah dan sertifikat, juga hilang, yang menjadi alasan pihaknya melaporkan kehilangan dokumen-dokumen tersebut.

    Wellem juga membantah pernyataan Samuel yang mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah menggunakan pendekatan humanis untuk mengeluarkan Elina. Ia menegaskan bahwa klaim Samuel tentang transaksi jual beli pada tahun 2014 sangat meragukan karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa transaksi tersebut benar-benar terjadi.

    “Kalau kita membeli sesuatu, membeli rumah, membeli tanah tahun 2014 terus kemudian 11 tahun kemudian baru mengklaim, itu ya kalian bisa nilai sendirilah. Apakah itu benar-benar terjadi transaksi jual-beli atau enggak. Iya itu sepihak,” jelas Wellem. [uci/suf]

  • Pikap Tabrak Motor dan Mobil, Lalu Nyelonong Masuk Teras Rumah Warga di Pacet Mojokerto

    Pikap Tabrak Motor dan Mobil, Lalu Nyelonong Masuk Teras Rumah Warga di Pacet Mojokerto

    Mojokerto (beritajatim.com) – Kecelakaan karambol melibatkan mobil pikap, sepeda motor Honda Vario, dan mobil Honda Brio terjadi di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu (28/12/2025). Insiden tersebut mengakibatkan satu orang korban luka dan teras rumah warga rusak.

    Kecelakaan bermula saat mobil pikap nopol W 9224 CA yang dikemudian pelajar kelas X warga Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang melaju dari arah selatan atau kawasan wisata pemandian air panas Pacet menuju Jombang. Namun kendaraan tersebut melintas di jalur yang seharusnya diberlakukan satu arah.

    Akibat kehilangan kendali, pikap menabrak sepeda motor Honda Vario nopol L 1514 SH, kemudian menyenggol mobil Honda Brio, sebelum akhirnya nyolonong masuk teras rumah warga. Petugas dari Unit Gakkum Satlantas Polres Mojokerto langsung ke lokasi guna melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

    “Saya dari arah Pacet mau pulang ke Jombang. Pedal gas nyantol di sandal jepit lalu nabrak sepeda motor, kalau mobilnya tidak tahu saya, terus menabrak rumah ini,” ungkap korban, PF Minggu (28/12/2025).

    Salah seorang saksi mata mengatakan, dalam peristiwa tersebut satu penumpang sepeda motor Honda Vario mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke Puskesmas Pacet untuk mendapatkan perawatan medis. “Yang cewek luka. Pegendara Vario. Mobil pikap terus nabrak rumah Pak Edi,” katanya.

    Menurutnya, pikap berjalan tidak ngebut, namun gasnya nyantol. Beruntung sopir pikap tidak mengalami luka yang berarti. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penanganan dan pendataan terkait penyebab serta kerugian akibat kecelakaan tersebut. [tin/suf]

  • Pertemuan PBNU di Kediaman KH Miftahul Akhyar Surabaya Bahas Persiapan Muktamar ke-35 NU

    Pertemuan PBNU di Kediaman KH Miftahul Akhyar Surabaya Bahas Persiapan Muktamar ke-35 NU

    Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar pertemuan penting di kediaman Rais Aam KH Miftahul Akhyar, yang terletak di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/12/2025). Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PBNU serta sejumlah pengurus lainnya.

    Acara yang dimulai sekitar pukul 12.40 WIB itu ditandai dengan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf beserta rombongan. Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), serta Pj (Penjabat) Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.

    Pantauan beritajatim.com di lokasi, acara berlangsung secara tertutup dengan penjagaan ketat dari anggota Banser yang menjaga luar pagar kediaman Rais Aam PBNU. Hingga saat ini, pertemuan masih berlangsung dengan sejumlah undangan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang masih dalam perjalanan.

    Salah seorang anggota Banser yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh pengurus PBNU, termasuk Pj Ketua Umum PBNU. “Banyak yang turut hadir diundang dari jajaran pengurus PBNU, termasuk Pj Ketua Umum. Saat ini masih berlangsung sambil menunggu undangan yang belum hadir dari Jawa Tengah,” ungkapnya.

    Pertemuan ini merupakan lanjutan dari silaturahmi yang dilakukan sebelumnya antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Kamis (25/12/2025).

    Dalam pertemuan tersebut, salah satu keputusan penting yang diambil adalah penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU yang segera dilaksanakan.

    Sebagaimana diumumkan, Muktamar ke-35 akan diselenggarakan dalam waktu yang secepat-cepatnya. Hal ini akan melibatkan Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU, serta Mustasyar PBNU, para sesepuh, dan pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar.

    Keputusan ini semakin mempertegas komitmen PBNU untuk mempersiapkan Muktamar yang sangat dinantikan oleh seluruh warga Nahdliyin.

    “Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar,” demikian bunyi keputusan pertemuan di Lirboyo Kediri. [rma/suf]

  • Kapolres Magetan Patroli Dialogis di Stasiun, Pastikan Keamanan Arus Penumpang Nataru

    Kapolres Magetan Patroli Dialogis di Stasiun, Pastikan Keamanan Arus Penumpang Nataru

    Magetan (beritajatim.com) – Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa turun langsung ke Stasiun Magetan untuk memastikan keamanan dan kelancaran arus penumpang selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kegiatan tersebut dilakukan melalui patroli dialogis pada Minggu (28/12/2025).

    Patroli ini menjadi bagian dari pengamanan Operasi Lilin Semeru 2025, sekaligus bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat. Fokus pengamanan difokuskan pada fasilitas transportasi publik yang mengalami peningkatan mobilitas penumpang selama periode libur akhir tahun.

    Saat berada di stasiun, Kapolres Magetan berdialog langsung dengan Kepala Stasiun Magetan serta petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Pembahasan meliputi kesiapan operasional, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api, hingga perkembangan jumlah penumpang selama masa libur Nataru 2025. Total ada 88 perjalanan kereta yang melintas di jalur tersebut.

    AKBP Raden Erik Bangun Prakasa menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan adanya lonjakan penumpang dibandingkan hari normal.

    “Selama libur Natal dan Tahun Baru, tercatat peningkatan jumlah penumpang yang datang maupun berangkat melalui Stasiun Magetan. Kondisi ini harus diantisipasi dengan pengamanan maksimal agar masyarakat merasa aman dan nyaman,” jelasnya.

    Tidak hanya berkoordinasi dengan petugas stasiun, Kapolres Magetan juga menyempatkan diri menyapa para penumpang. Ia memberikan imbauan kamtibmas agar masyarakat tetap waspada terhadap barang bawaan, menjaga keselamatan diri, serta mematuhi aturan di lingkungan stasiun.

    Polres Magetan, lanjut Kapolres, terus mengintensifkan patroli dan pengamanan selama Operasi Lilin Semeru 2025. Masyarakat juga diimbau memanfaatkan layanan Call Center Polri 110 atau mendatangi pos pengamanan yang telah disiagakan apabila membutuhkan bantuan kepolisian.

    Sementara itu, Kepala Stasiun Magetan, Diaz, mengapresiasi kehadiran Kapolres Magetan dan jajaran dalam kegiatan pemantauan tersebut. Menurutnya, sinergi antara kepolisian dan pihak stasiun sangat membantu menjaga kelancaran pelayanan kepada penumpang.

    “Pada libur Nataru 2025 memang terjadi peningkatan jumlah penumpang. Koordinasi dengan Polres Magetan sangat membantu dalam memastikan keamanan, kenyamanan, dan kelancaran operasional kereta api,” ungkap Diaz.

    Melalui patroli dialogis dan kerja sama lintas sektor ini, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Stasiun Magetan diharapkan tetap terjaga. Pengamanan optimal tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 bagi para pengguna jasa transportasi kereta api di Kabupaten Magetan. [fiq/suf]

  • Wagub Emil Dardak Hadiri BRB 2025 di Ponorogo, Sebut Pencak Silat Kebanggaan Warisan Leluhur

    Wagub Emil Dardak Hadiri BRB 2025 di Ponorogo, Sebut Pencak Silat Kebanggaan Warisan Leluhur

    Ponorogo (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak hadir dalam gelaran Bumi Reog Berdzikir (BRB) 2025 di Alun-alun Ponorogo. Mengenakan seragam sakral Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun, Emil menyampaikan pesan kuat bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan warisan luhur leluhur yang harus dimuliakan dan dibanggakan, baik di Jawa Timur maupun di mata dunia.

    Emil tidak datang sebagai tamu biasa. Dia mengenakan seragam sakral SH Terate, simbol persaudaraan dan nilai luhur pencak silat. Di hadapan ribuan warga PSHT Pusat Madiun yang datang dari Ponorogo maupun luar daerah, Emil menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan jalan pengabdian.

    “Pencak silat, tapi semua yang ada di sini siap menggunakannya untuk kebaikan,” kata Emil membuka refleksinya saat memberikan sambutan, Minggu (28/12/2025).

    Kegiatan BRB 2025 sendiri diinisiasi oleh Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo Pusat Madiun, dan menjadi ruang spiritual sekaligus sosial bagi warga SH Terate lintas daerah. Kehadiran Wagub Jatim mempertegas bahwa kegiatan ini, tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memiliki pesan kebudayaan dan kebangsaan yang kuat.

    Di hadapan massa, Emil menyampaikan harapannya agar insan pencak silat, khususnya warga SH Terate, menjadi wajah Jawa Timur di mana pun berada. “Saya ingin kalau ke mana-mana, orang Jawa Timur itu diingat karena hal-hal yang baik. Diingat karena jiwa kesatria dari insan pencak silat,” tuturnya.

    Menurut Emil, pencak silat adalah warisan luhur yang tak hanya layak dijaga, tetapi juga dimuliakan. Jawa Timur, kata dia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi provinsi yang nyengkuyung (mendukung sepenuh hati) tumbuhnya pencak silat sebagai kebanggaan bersama.

    “Kita ingin pencak silat mendunia. Kita ingin Jawa Timur jadi provinsi yang mendukung dan memuliakan seni pencak silat sebagai kebanggaan yang diwariskan leluhur kita,” tegasnya.

    Emil juga menyinggung dinamika di ruang publik, termasuk media sosial, yang kerap memunculkan stigma negatif terhadap pencak silat. Dia mengajak seluruh warga SH Terate untuk menjawab stigma itu bukan dengan amarah, melainkan dengan teladan.

    “Kalau ada satu orang yang membuat masyarakat kurang berkenan, mari kita buktikan bahwa ada seribu saudara-saudari yang justru membawa kebaikan di tengah masyarakat,” katanya.

    Pesan konkret pun disampaikan. Menurut Emil, menjaga kebersihan, ketertiban, dan aktif membawa manfaat sosial adalah langkah sederhana, namun berdampak besar dalam merawat marwah pencak silat.

    “Kita mulai dengan menjaga kebersihan, ketertiban, dan membawa manfaat serta prestasi di bidang pencak silat. Menolong mereka yang kesulitan,” katanya.

    Dia mengaku merasakan energi persaudaraan yang kuat saat memasuki Ponorogo dengan mengenakan seragam SH Terate. Bagi Emil, itu bukan sekadar pakaian, melainkan simbol doa dan harapan.

    “Inilah semangat yang saya rasakan saat masuk Ponorogo, semua pakai seragam SH Terate. Mudah-mudahan memperoleh doa yang baik dari masyarakat, ” ungkapnya.

    Di penghujung sambutan, Emil mengajak seluruh warga SH Terate untuk terus menjaga api persaudaraan, melampaui ruang dan waktu. Sebuah ajakan yang disampaikan dengan nada lirih namun penuh makna.

    “Mari kita gelorakan bersama. Selama matahari masih bersinar, selama bumi dihuni manusia, Persaudaraan Setia Hati Terate tetap kekal, jaya, abadi selamanya,” pungkasnya. [end/suf]