Jakarta –
Biji-bijian yang dikonsumsi jutaan warga Eropa — dari roti hingga sereal sarapan — ternyata tercemar bahan kimia berbahaya yang nyaris tak bisa diurai. Kesimpulan itu muncul dari laporan terbaru PAN-Europe, jaringan organisasi nonpemerintah yang selama ini mendorong pengetatan regulasi pestisida di Uni Eropa.
Dalam penelitian tersebut, PAN-Europe menguji 66 produk berbahan gandum dan serealia dari 16 negara Eropa. Sampelnya mencakup mi, roti, permen, roti, tepung, hingga sereal sarapan. Hasilnya mencolok: 54 sampel mengandung kadar tinggi asam trifluoroasetat (TFA), zat yang dikenal sebagai turunan dari bahan kimia industri dan pestisida.
TFA dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk gangguan perkembangan janin. Zat ini sangat mudah larut dalam air, sehingga menyebar luas melalui hujan dan limbah domestik. Instalasi pengolahan air limbah hanya mampu menyaringnya dengan teknologi yang mahal dan kompleks. Menurut Badan Lingkungan Hidup Jerman (UBA), jumlah senyawa kimia yang dapat terurai menjadi TFA terus bertambah.
TFA mempengaruhi kesuburan dan sistem kekebalan tubuh
TFA termasuk kelompok PFAS — per- dan polyfluoroalkyl substances — yang kerap dijuluki “kimia abadi”. Kelompok ini mencakup lebih dari 10.000 senyawa yang digunakan secara luas di industri otomotif, kertas, logam, kimia, hingga plastik. Jejaknya ada hampir di semua benda sehari-hari: dari wajan anti lengket, kemasan pizza, hingga jaket hujan.
Masalahnya, PFAS nyaris tidak dapat terurai secara alami. Akibatnya, residunya kini ditemukan di hampir setiap ekosistem — air, tanah, udara, dan makanan. Penelitian medis menunjukkan hampir setiap orang memiliki PFAS dalam darahnya. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan sistem imun, diabetes, penurunan kesuburan, gangguan perkembangan bayi baru lahir, serta dugaan peningkatan risiko kanker.
Dalam studi PAN-Europe, gandum menjadi komoditas yang paling tinggi tercemar TFA. Rata-rata konsentrasi TFA dalam biji-bijian tercatat lebih dari 100 kali lipat dibandingkan kadar dalam air minum. Produk dari pertanian konvensional menunjukkan tingkat pencemaran lebih dari dua kali lipat dibandingkan produk organik.
“Manusia terpapar TFA terutama melalui makanan dan air minum yang tercemar pestisida PFAS,” ujar Peter Clausing, toksikolog dari PAN-Germany.
Peringatan dari otoritas lingkungan
Hingga kini, setidaknya 27 bahan aktif pestisida berbasis PFAS masih diizinkan di Jerman. “Temuan ini menegaskan urgensi pelarangan segera pestisida PFAS, baik di Jerman maupun di seluruh Uni Eropa,” kata Clausing.
Awal tahun 2025, Umweltbundesamt mengusulkan peningkatan klasifikasi risiko TFA. Lembaga ini menilai zat tersebut berpotensi merusak perkembangan janin dan kemungkinan mempengaruhi kesuburan. Namun, UBA menegaskan bahwa klasifikasi ini dimaksudkan untuk menggambarkan potensi bahaya, bukan risiko konkret dalam konsumsi sehari-hari yang sangat bergantung pada dosis.
Presiden Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (BfR), Andreas Hensel, menyatakan bahwa efek toksik TFA baru terbukti pada uji hewan dengan konsentrasi jauh lebih tinggi dari yang ditemukan di lingkungan. Karena itu, menurutnya, konsumsi makanan atau air dengan kandungan TFA saat ini belum diperkirakan menimbulkan dampak kesehatan. Namun, dia menyebut klasifikasi baru tersebut sebagai langkah penting untuk mencegah risiko di masa depan.
Bersama Belanda, Denmark, Swedia, dan Norwegia, Jerman kini mendorong regulasi PFAS yang lebih ketat di tingkat Uni Eropa.
Di atas ambang batas
Dalam aturan Uni Eropa, kadar TFA di atas 0,01 miligram per kilogram sudah melampaui batas standar residu pestisida. PAN-Europe menilai kadar yang lebih tinggi dari itu seharusnya tidak dapat diterima. Dalam penelitian mereka, mayoritas produk justru menunjukkan angka yang jauh melampaui ambang tersebut.
Uni Eropa sendiri baru pada Oktober 2025 menetapkan batas PFAS untuk busa pemadam kebakaran, yang akan berlaku mulai 2030. Sejumlah senyawa PFAS memang telah lama diawasi ketat, namun LSM dan beberapa negara anggota mendesak agar regulasi mencakup seluruh kelompok PFAS, bukan hanya zat tertentu.
Saat ini, Badan Kimia Eropa dan Komite Penilaian Risiko tengah menyusun kajian ilmiah yang akan menjadi dasar proposal undang-undang Komisi Eropa pada 2027. Target jangka panjangnya ambisius: larangan total PFAS dalam produk konsumen, kemungkinan mulai berlaku pada 2030 — tentu dengan syarat mendapat persetujuan Parlemen Eropa dan negara-negara anggota.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
(ita/ita)
