Jakarta: Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di era digital kini mulai berdampak signifikan pada pola konsumsi generasi muda di Indonesia. Banjir informasi dari konten unboxing, haul video, hingga promosi flash sale di media sosial memicu lonjakan pembelian barang secara impulsif, termasuk produk gaya hidup seperti tumbler.
Salah satu pelaku industri kreatif sekaligus Co-founder Domma, Grittie Chelsey, menyoroti pergeseran nilai tumbler yang kini bukan lagi sekadar alat pemenuh kebutuhan hidrasi, melainkan telah menjadi simbol identitas sosial.
Menurutnya, konsumen perlu memiliki literasi produk agar tidak terjebak dalam tren sesaat yang merugikan secara finansial.
“Penting bagi konsumen untuk memilih ukuran botol yang sesuai dengan ritme harian agar fungsi hidrasinya optimal. Misalnya, ukuran 350 ml untuk kopi, 700 ml untuk aktivitas harian, hingga 1 liter untuk kebutuhan fisik yang berat,” ujar Grittie dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 20 Januari 2026.
Selain faktor ukuran, aspek teknis material menjadi poin krusial yang sering terabaikan oleh pembeli impulsif. Penggunaan material stainless steel SUS 304 dan teknologi double-wall vacuum insulation menjadi standar keamanan dan ketahanan suhu yang harus diperhatikan untuk penggunaan jangka panjang.
Tren personalisasi melalui custom engraving atau grafir nama juga tercatat terus meningkat. Fitur ini dinilai efektif meningkatkan hubungan emosional antara pemilik dan barangnya, sehingga menekan keinginan untuk terus-menerus membeli produk baru hanya karena mengikuti tren yang sedang viral.
Data menunjukkan bahwa generasi muda saat ini mulai berupaya lebih selektif dengan menilai relevansi produk terhadap aktivitas mereka. Kesadaran akan kualitas dan fungsionalitas diharapkan mampu membendung perilaku konsumtif berlebihan.
Jakarta: Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di era digital kini mulai berdampak signifikan pada pola konsumsi generasi muda di Indonesia. Banjir informasi dari konten unboxing, haul video, hingga promosi flash sale di media sosial memicu lonjakan pembelian barang secara impulsif, termasuk produk gaya hidup seperti tumbler.
Salah satu pelaku industri kreatif sekaligus Co-founder Domma, Grittie Chelsey, menyoroti pergeseran nilai tumbler yang kini bukan lagi sekadar alat pemenuh kebutuhan hidrasi, melainkan telah menjadi simbol identitas sosial.
Menurutnya, konsumen perlu memiliki literasi produk agar tidak terjebak dalam tren sesaat yang merugikan secara finansial.
“Penting bagi konsumen untuk memilih ukuran botol yang sesuai dengan ritme harian agar fungsi hidrasinya optimal. Misalnya, ukuran 350 ml untuk kopi, 700 ml untuk aktivitas harian, hingga 1 liter untuk kebutuhan fisik yang berat,” ujar Grittie dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 20 Januari 2026.
Selain faktor ukuran, aspek teknis material menjadi poin krusial yang sering terabaikan oleh pembeli impulsif. Penggunaan material stainless steel SUS 304 dan teknologi double-wall vacuum insulation menjadi standar keamanan dan ketahanan suhu yang harus diperhatikan untuk penggunaan jangka panjang.
Tren personalisasi melalui custom engraving atau grafir nama juga tercatat terus meningkat. Fitur ini dinilai efektif meningkatkan hubungan emosional antara pemilik dan barangnya, sehingga menekan keinginan untuk terus-menerus membeli produk baru hanya karena mengikuti tren yang sedang viral.
Data menunjukkan bahwa generasi muda saat ini mulai berupaya lebih selektif dengan menilai relevansi produk terhadap aktivitas mereka. Kesadaran akan kualitas dan fungsionalitas diharapkan mampu membendung perilaku konsumtif berlebihan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)
