Dengan semangat militansi, Hasto menyampaikan bahwa para pelestari Tosan Aji siap menjaga kedaulatan bangsa. Dia pun hanya sebagai fasilitator dalam paguyuban ini.
Kekuatan sebenarnya, menurutnya, justru datang dari para anggota yang bergerak mandiri.
“Mereka memang tumbuh dan berkembang dengan semangat berdiri di atas kaki sendiri karena mereka punya etos,” kata dia.
Etos tersebut, ditegaskan Hasto, digerakkan oleh nilai-nilai spiritual dan semangat dedication of life atau pengabdian hidup, sebagaimana dicontohkan Bung Karno dan para pendiri bangsa.
Semangat ini pula yang tercermin dalam keputusan heroik Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan keraton bergabung dengan Republik dan menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota penyelamat.
“Maka Senopati Nusantara harus juga mewarisi semangat darma bakti, dedication of life bagi bangsa dan negara. Dan sekali lagi ini tercermin dari paguyuban ini yang anggotanya semua berdikari, semua bergotong-royong, dan muncullah persaudaraan yang luar biasa,” tuturnya.
Hasto menegaskan bahwa Rapat Kerja Agung ini bukan sekadar forum perumusan sikap, tetapi juga momentum untuk merancang program strategis dan, yang terpenting, memperkuat ikatan persaudaraan sebagai keluarga besar Senapati Nusantara.
“Sehingga paguyuban ini betul-betul hidup dan terus menggelorakan suatu semangat keagungan terhadap karya kebudayaan kita,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Panitia RKA Senapati Nusantara, Nurjianto menyampaikan Rapat Kerja Agung bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang musyawarah agung untuk menyatukan gagasan, menyelaraskan visi, serta merumuskan langkah-langkah nyata demi penguatan peran Senapati Nusantara sebagai garda pelestari Tosan Aji dan kebudayaan Nusantara.
“Di sini semangat perserikatan diuji dan diperkuat agar Senapati Nusantara tetap kokoh dan solid, dan berdaya guna bagi masyarakat serta bangsa,” katanya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476316/original/014579100_1768728051-32d5072c-d050-49fe-812c-f66b5adec46b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)