JAKARTA – Sebuah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu 17 Januari. Informasi hilangnya kontak pesawat diterima oleh otoritas penerbangan sekitar pukul 13.17 WITA, ketika pesawat tengah memasuki wilayah udara Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data awal yang diterima, pesawat diduga berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan perkiraan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur. Hingga berita ini diturunkan, proses koordinasi dan pemantauan masih terus dilakukan oleh pihak terkait.
Pesawat yang dilaporkan hilang kontak tersebut adalah ATR 42-500, sebuah pesawat penumpang bermesin turboprop yang banyak digunakan di rute regional atau jarak pendek hingga menengah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tipe ini dikenal luas karena kemampuannya beroperasi di bandara-bandara kecil serta landasan pacu pendek, kondisi yang umum ditemui di wilayah kepulauan.
Dirancang Khusus untuk Penerbangan Regional
ATR 42-500 diproduksi oleh Avions de Transport Régional (ATR), perusahaan hasil kerja sama antara industri penerbangan Prancis dan Italia. Pesawat ini merupakan pengembangan dari keluarga ATR 42 yang pertama kali diperkenalkan pada dekade 1980-an dan menjadi salah satu tulang punggung penerbangan regional di dunia.
Secara desain, ATR 42-500 dirancang untuk efisiensi operasional tinggi, terutama pada rute-rute dengan frekuensi padat namun jarak relatif pendek. Pesawat ini memiliki kapasitas sekitar 46 hingga 48 penumpang, tergantung konfigurasi kabin yang digunakan operator.
Mesin dan Performa Penerbangan
Pesawat ATR 42-500 ditenagai oleh dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW127. Mesin ini dikenal memiliki keseimbangan antara efisiensi bahan bakar dan performa stabil, khususnya untuk penerbangan regional yang membutuhkan banyak fase naik dan turun.
Dari sisi performa, ATR 42-500 memiliki kecepatan jelajah sekitar 556 kilometer per jam, atau setara dengan 300 knot. Ketinggian terbang maksimal pesawat ini mencapai sekitar 7.620 meter atau 25.000 kaki, yang umum digunakan pada penerbangan regional untuk menjaga efisiensi bahan bakar dan kenyamanan.
Untuk jarak tempuh, ATR 42-500 mampu menjangkau hingga sekitar 2.000 kilometer, tergantung beban penumpang, kondisi cuaca, serta konfigurasi operasional. Kemampuan ini membuatnya ideal untuk rute seperti Yogyakarta–Makassar, yang termasuk kategori jarak menengah.
Keunggulan Operasi di Bandara Kecil
Salah satu keunggulan utama ATR 42-500 adalah kemampuannya lepas landas dan mendarat di landasan pendek. Dengan panjang landasan yang relatif terbatas, pesawat ini tetap mampu beroperasi secara optimal, menjadikannya pilihan utama maskapai untuk wilayah dengan infrastruktur bandara yang terbatas.
Selain itu, sistem avionik pada ATR 42-500 telah menggunakan teknologi digital yang membantu pilot dalam navigasi, pemantauan mesin, serta pengelolaan penerbangan, terutama saat beroperasi di wilayah dengan kondisi geografis menantang.
Riwayat Produksi dan Penggunaan
Varian ATR 42-500 mulai diperkenalkan pada pertengahan 1990-an sebagai versi peningkatan dari seri sebelumnya, dengan mesin yang lebih bertenaga dan baling-baling enam bilah yang lebih senyap. Secara global, ratusan unit ATR 42 dari berbagai varian telah diproduksi dan digunakan oleh maskapai regional di Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika Latin.
Di Indonesia, pesawat tipe ATR dikenal luas karena cocok dengan karakteristik wilayah kepulauan dan kebutuhan konektivitas antardaerah.
Proses Pemantauan Masih Berlangsung
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi terkait hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 tersebut. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan posisi terakhir pesawat dan langkah penanganan selanjutnya.
Perkembangan terbaru terkait insiden ini masih dinantikan, sementara publik berharap proses pencarian dan penelusuran dapat segera memberikan kejelasan mengenai kondisi pesawat dan seluruh penumpang serta awak di dalamnya.
ProdusenATR (Prancis & Italia)Mesin2× Pratt & Whitney PW127Pertama terbang16 Agu 1984Kecelakaan terdataBeberapa insiden di berbagai varianBiaya operasional4.874 dolar AS/jam
