Sumedang — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan Keraton Sumedang Larang tidak boleh lagi sekadar menjadi lokasi singgah, melainkan harus diposisikan sebagai destinasi budaya utama Jawa Barat. Penegasan itu disampaikan saat meninjau kompleks Keraton Sumedang Larang, Sabtu 17 Januari, sekaligus membuka peluang kolaborasi konkret lintas sektor dalam revitalisasi keraton-keraton Nusantara.
Menurut Menbud Fadli, Sumedang memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai pusat kebudayaan Sunda. Keraton, situs sejarah, hingga tradisi yang masih hidup dinilai bisa menjadi penggerak ekonomi berbasis budaya jika dikelola serius dan berkelanjutan.
“Sumedang harus menjadi tujuan, bukan persinggahan. Potensinya lengkap, dari budaya, sejarah, hingga wisata religi dan kuliner. Dampaknya langsung ke masyarakat,” kata Fadli.
Ia mendorong Keraton Sumedang Larang berperan sebagai episentrum pemajuan budaya Sunda melalui transfer pengetahuan antargenerasi. Keberlanjutan ekosistem budaya, kata Menbud, hanya bisa dijaga jika generasi muda dilibatkan sebagai agen kebudayaan baru.
Sorotan khusus diberikan pada Mahkota Binokasih yang tersimpan di Museum Pusaka. Fadli menilai pusaka tersebut layak diposisikan sebagai daya tarik utama.
“Mahkota Binokasih bisa menjadi masterpiece. Seperti Mona Lisa di Louvre, orang datang ke Sumedang untuk melihat ini,” ujarnya.
Sri Radya Keraton Sumedang Larang, H.R.I. Lukman Soemadisoeria, menyatakan kesiapan keraton mendukung percepatan revitalisasi. Ia berharap program pemugaran keraton Nusantara dapat segera direalisasikan secara nyata, bukan sekadar wacana.
Keraton Sumedang Larang merupakan pusat pemerintahan bersejarah Kerajaan Sumedang Larang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kini kawasan tersebut menjadi Museum Prabu Geusan Ulun yang menyimpan pusaka sakral, naskah kuno, gamelan, hingga kereta kencana—menegaskan posisi strategis Sumedang dalam sejarah budaya Jawa Barat.
Mengakhiri kunjungan, Fadli menekankan pentingnya sinergi Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, dan pengelola keraton agar potensi besar Sumedang tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar hidup sebagai destinasi budaya nasional.
