Donald Trump Pangkas Tarif, Taiwan Bakal Investasi di AS Rp 4.220 Triliun

Donald Trump Pangkas Tarif, Taiwan Bakal Investasi di AS Rp 4.220 Triliun

Liputan6.com, Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Taiwan resmi mencapai kesepakatan perdagangan strategis yang menempatkan industri semikonduktor sebagai pilar utama kerja sama kedua negara.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (17/1/2026),  dalam kesepakatan tersebut, perusahaan chip dan teknologi asal Taiwan akan menginvestasikan sedikitnya USD 250 miliar, sekitar Rp 4.220 triliun (kurs USD 1=Rp 16.880) untuk membangun dan memperluas kapasitas produksi chip di wilayah Amerika Serikat. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Departemen Perdagangan AS pada Kamis waktu setempat.

Tak hanya itu, pemerintah Taiwan juga akan menjamin kredit hingga USD 250 miliar, sekitar Ro 4.220 triliun guna mendukung ekspansi perusahaan-perusahaan semikonduktor nasionalnya di AS.

Langkah ini menegaskan keseriusan Taiwan dalam memperkuat kehadiran industrinya di pasar Amerika, sekaligus merespons dorongan Washington untuk memindahkan sebagian besar rantai pasok chip global ke dalam negeri.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif “timbal balik” atas produk Taiwan menjadi 15 persen, dari sebelumnya 20 persen. AS juga berkomitmen untuk tidak mengenakan tarif timbal balik terhadap sejumlah sektor strategis, termasuk obat-obatan generik, bahan baku farmasi, komponen pesawat terbang, serta beberapa sumber daya alam.

Kesepakatan ini dinilai menjadi titik terang bagi industri teknologi yang selama setahun terakhir dibayangi ketidakpastian kebijakan tarif di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengungkapkan bahwa Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) telah membeli ratusan hektare lahan di Arizona sebagai bagian dari rencana ekspansi besar-besaran di AS. Menurut Lutnick, TSMC akan melanjutkan proses internal dengan dewan direksi sebelum mengumumkan detail investasi lanjutan.

“Mereka baru saja membeli ratusan hektar lahan yang berdekatan dengan properti mereka,” kata Lutnick. “Saya akan membiarkan mereka melanjutkan prosesnya dengan dewan pengurus dan memberi mereka waktu,” tambahnya.

TSMC sendiri menyatakan bahwa keputusan investasinya didasarkan pada permintaan pasar global yang kuat terhadap teknologi chip canggih. Perusahaan menegaskan akan terus berinvestasi di Taiwan sekaligus memperluas jejak produksinya ke luar negeri, termasuk Amerika Serikat.