Jatuhnya Pesawat ATR di Maros Bukan Hanya karena Cuaca

Jatuhnya Pesawat ATR di Maros Bukan Hanya karena Cuaca

Liputan6.com, Jakarta – Insiden hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, dinilai tidak bisa langsung disimpulkan disebabkan oleh faktor cuaca.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menegaskan kondisi cuaca pada saat kejadian tidak menunjukkan gangguan ekstrem, karena penerbangan lain yang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (UPG) tetap dapat mendarat tanpa kendala berarti.

Gerry menjelaskan, apabila cuaca benar-benar menjadi penyebab utama kecelakaan, seharusnya pesawat lain yang mendarat di bandara yang sama dan pada waktu berdekatan juga mengalami masalah. Namun faktanya, penerbangan lain tetap berjalan normal. 

“Cuaca dengan sendirinya tidak mungkin jadi penyebab. Pesawat-pesawat lain masuk ke UPG di jam tersebut tidak mengalami kendala,” ujar Gerry kepada Liputan6.com, Sabtu (17/1/2026).

Menurut dia, cuaca buruk bersifat relatif dan harus dilihat dalam konteks operasional penerbangan secara keseluruhan. Ia menilai, jika kondisi cuaca benar-benar ekstrem, dampaknya akan dirasakan oleh lebih dari satu pesawat. 

“Kalau cuacanya ekstrem, pasti akan ada pesawat lain yang mengalami gangguan saat pendaratan. Apakah ada? Tidak,” katanya.

Selain cuaca, Gerry juga menyoroti faktor komunikasi dan sistem penerbangan. Ia menyebutkan, alat komunikasi pada saat itu dinilai memadai dan tidak ada laporan gangguan dari penerbangan lain. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa penyebab kecelakaan tidak berdiri pada satu faktor saja. 

“Alat komunikasinya memadai, dan penerbangan lain tidak bermasalah. Kalau cuaca disebut jadi masalah, kembali lagi, harus dilihat apakah memang ekstrem atau tidak,” ujar dia.

Gerry menekankan, dalam setiap kecelakaan pesawat, biasanya terdapat lebih dari satu faktor yang saling berkaitan. Karena itu, ia meminta agar publik menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas terkait untuk mengetahui penyebab pasti jatuhnya pesawat ATR di Maros.