9 Mens Rea Pandji Singgung Mata Gibran, Mahfud: Bilang "Ngantuk" Bukan Pidana Nasional

9
                    
                        Mens Rea Pandji Singgung Mata Gibran, Mahfud: Bilang "Ngantuk" Bukan Pidana
                        Nasional

Mens Rea Pandji Singgung Mata Gibran, Mahfud: Bilang “Ngantuk” Bukan Pidana
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyoroti sejumlah pihak yang menyebut komika Pandji Pragiwaksono menghina Wapres Gibran Rakabuming Raka karena ‘mengantuk’.
Pada materi
Mens Rea
yang ditayangkan di Netflix, Pandji memang menyinggung mata Gibran yang terlihat seperti orang mengantuk.
Mahfud menekankan, menyebut seseorang mengantuk bukanlah hinaan.
Hal tersebut Mahfud sampaikan dalam siniar bertajuk ‘
Mahfud MD
Buka Suara: Kasus Pandji, Yaqut & Korupsi Pajak’ melalui akun YouTube pribadinya. Kompas.com telah meminta izin untuk mengutip pernyataan Mahfud.
“Mari kita kembangkan ini. Karena di TV saya lihat tuh, ada anggota DPR yang berdebat bahwa orang bilang ngantuk itu menghina orang. Loh masa orang bilang ngantuk menghina?” ujar Mahfud.
Mahfud pun mencoba bertanya kepada host siniar tersebut, apakah dia tersinggung atau tidak jika disebut mengantuk. Host tersebut pun menyatakan dirinya tidak merasa dihina oleh Mahfud karena mengantuk.
Sebab, Mahfud mengingatkan, mengantuk adalah kondisi manusiawi, yang mana semua manusia bisa ngantuk.
“Ngantuk itu bukan perbuatan jelek, bukan situasi jelek. Sehingga seumpama Anda tersinggung pun dibilang ngantuk, kan saya bukan menghina. Wong itu masalah keadaan biasa ngantuk,” ucapnya.
Selanjutnya, Mahfud menyinggung pihak yang menafsirkan kondisi mata Gibran sebagai penyakit
ptosis
.
Menurutnya, ptosis disebabkan oleh kelelahan, banyak pikiran, hingga ada juga yang berkaitan dengan masalah kejiwaan.
Kalaupun Gibran memang betul mengalami ptosis, Mahfud menilai Pandji tidak bisa dibilang menghina anak Presiden ke-7 Joko Widodo itu.
“Kalau betul ptosis seperti itu, berarti Pandji tidak menghina. Karena Pandji hanya bilang ngantuk. Yang menjelaskan arti ptosis itu yang menghina. Kalau itu dikaitkan dengan masalah kejiwaan, masalah penyakit yang tidak boleh diketahui orang, wong Pandji hanya bilang ngantuk,” jelas Mahfud.
“Misalnya orang ngantuk, lalu disamakan dengan orang gila. Orang ngantuk disamakan dengan orang pencandu narkoba. Orang ngantuk disamakan dengan orang pemabuk. Enggak bisa. Substansinya harus jelas. Itu prinsip dalam hukum pidana. Sehingga kalau dalam hal itu enggak bisa juga si Pandji ini dikatakan telah menghina misalnya Gibran atau Muhammadiyah, NU gitu,” imbuhnya.
Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik Tompi mengkritik materi
stand-up comedy

Pandji Pragiwaksono
dalam pertunjukan Mens Rea yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden
Gibran Rakabuming Raka
, karena dinilai menertawakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis.
Kritik tersebut disampaikan Tompi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, setelah Pandji melontarkan guyonan tentang mata Gibran yang terlihat sayu dan dianggap seperti orang mengantuk dalam materi komedinya yang tayang di Netflix.
Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” bukan persoalan estetika atau ekspresi, melainkan kondisi medis yang memiliki penjelasan ilmiah.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai Ptosis, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, seperti dikutip Kompas.com, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan bahwa kritik, satire, dan humor sah dalam demokrasi, tetapi menyerang kondisi fisik yang tidak bisa dipilih oleh seseorang menunjukkan kemalasan berpikir.
“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjut Tompi.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.