Jakarta –
Pemerintah Amerika Serikat mengutuk penggunaan rudal balistik berkemampuan nuklir, Oreshnik, oleh Rusia di Ukraina. Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin (12/1) waktu setempat, Washington menyebut serangan rudal itu sebagai “eskalasi berbahaya”.
Penggunaan rudal jarak menengah oleh Rusia pada hari Jumat lalu itu, yang tidak membawa hulu ledak nuklir, “merupakan eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan dalam perang ini, bahkan ketika Amerika Serikat sedang bekerja sama secara mendesak dengan Kyiv, mitra-mitra lainnya, dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui penyelesaian yang dinegosiasikan,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce.
“Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya,” imbuh Bruce, dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).
Pemerintah Rusia mengatakan rudal itu mengenai pabrik perbaikan aviasi di wilayah Lviv, Ukraina barat. Moskow menyebut rudal itu ditembakkan sebagai tanggapan atas upaya Ukraina untuk menyerang salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin – sebuah klaim yang dibantah oleh Ukraina.
Ukraina mengkonfirmasi bahwa rudal itu ditembakkan ke wilayah Lviv, dekat perbatasan dengan Polandia, tetapi tidak mengatakan apakah pabrik tersebut terkena.
Pelaksana tugas Duta Besar Inggris, James Kariuki, menyebut serangan itu “ceroboh.”. Dia menambahkan bahwa “serangan itu mengancam keamanan regional dan internasional serta membawa risiko eskalasi dan kesalahan perhitungan yang signifikan.”
Selain mengerahkan rudal Oreshnik pada hari Jumat lalu, Rusia juga membombardir ibu kota Ukraina, Kyiv dengan serangan-serangan udara. Rentetan serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan separuh bangunan tempat tinggal di kota itu tanpa pemanas di tengah suhu musim dingin yang membekukan.
Halaman 2 dari 2
(ita/ita)
