Kartu Nusuk Jamaah Haji Akan Dibagikan Sebelum Keberangkatan dari Indonesia

Kartu Nusuk Jamaah Haji Akan Dibagikan Sebelum Keberangkatan dari Indonesia

Kartu Nusuk Jamaah Haji Akan Dibagikan Sebelum Keberangkatan dari Indonesia
Editor
KOMPAS.com
– Kartu pintar atau
smart card
yang dikenal sebagai kartu nusuk direncanakan akan dibagikan kepada jamaah haji Indonesia sejak masih berada di Tanah Air.
Hal ini disampaikan Staf Teknis Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Hasyim Hilaby, dalam pelatihan dan pendidikan calon Petugas Penyelenggara
Ibadah Haji
(PPIH) 1447 H/2026 M di Jakarta, Sabtu malam.
“Kebijakan ini diambil untuk memberikan ketenangan psikologis bagi jamaah sebelum berangkat,” ujar Hasyim, dikutip dari Antara, pada Kamis (15/1/2026).
Dengan telah memegang
kartu nusuk
sejak dari Indonesia, jamaah dipastikan memiliki akses legal untuk memasuki wilayah-wilayah utama peribadatan, seperti Makkah, Madinah, serta area Arafah saat puncak pelaksanaan haji.
“Pentingnya nusuk bagi haji adalah sebagai akses legalitas jamaah Indonesia. Kartu ini menjadi simbol dan filter agar tidak ada orang-orang ilegal yang masuk dan mengganggu rotasi perjalanan jamaah haji resmi saat beribadah,” kata Hasyim.
Kartu nusuk bukan sekadar identitas, melainkan “kunci” masuk ke Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna).
Distribusi kartu sejak di Indonesia dinilai lebih efektif untuk mencegah persoalan teknis yang kerap muncul apabila pembagian dilakukan setelah jamaah tiba di
Arab Saudi
.
Harapannya, setibanya di Tanah Suci, jamaah bisa langsung fokus pada ibadah tanpa kekhawatiran administratif.
Pihak KJRI juga memastikan bahwa aktivasi kartu akan dilakukan sejak dini di Indonesia.
Namun, jika terjadi kendala teknis atau gangguan sistem setelah tiba di Arab Saudi, tim teknis di lapangan telah siap memberikan bantuan.
Selain itu, persaingan antarsyarikah atau perusahaan penyedia layanan haji di Arab Saudi dinilai memberikan dampak positif bagi jamaah.
Masing-masing berlomba meningkatkan kualitas layanan, termasuk dalam integrasi sistem kartu nusuk.
Di sisi lain, digitalisasi layanan haji oleh Pemerintah Arab Saudi melalui platform nusuk sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan jamaah, terutama bagi jamaah lansia yang tidak akrab dengan gawai.
Selain itu, muncul juga pertanyaan apakah setiap jamaah wajib menginstal dan mengoperasikan aplikasi nusuk di ponsel mereka.
Menanggapi keresahan tersebut, pihak KJRI Jeddah memberikan penegasan bahwa penggunaan aplikasi nusuk di ponsel tidak bersifat wajib bagi jamaah haji reguler.
Prioritas utama tetap pada kepemilikan kartu nusuk fisik.
“Tidak, tidak diharuskan. Aplikasi yang di HP itu ibaratnya hanya sebagai
backup
saja,” ujar Hasyim.
Kebijakan ini diambil untuk memberikan ketenangan psikologis bagi jamaah sebelum berangkat. Fungsi aplikasi lebih sebagai cadangan darurat.
Misalnya, jika seorang jamaah tertinggal dari rombongan, tersasar keluar dari area hotel, atau lupa membawa kartu fisiknya saat berjalan-jalan ringan di sekitar pemondokan, aplikasi tersebut bisa menjadi bukti identitas pengganti.
Namun, untuk akses utama peribadatan dan mobilitas, kartu fisik adalah instrumen utama.
Hasyim juga menambahkan bahwa jamaah
haji Indonesia
pada dasarnya mudah dikenali, bahkan tanpa aplikasi.
Seragam batik haji Indonesia yang khas telah menjadi identitas visual yang dikenal luas oleh petugas keamanan Arab Saudi maupun masyarakat setempat.
“Orang-orang Indonesia ini sudah jelas dengan seragam batiknya, mereka (petugas Saudi) sudah tahu bahwa itu
jemaah haji
. Yang kita khawatirkan justru jika ada orang yang masuk hotel tapi bukan jemaah haji,” kata Hasyim.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.