Teheran –
Jumlah korban tewas dalam unjuk rasa antipemerintah besar-besaran di Iran dilaporkan telah bertambah menjadi sedikitnya 646 orang. Unjuk rasa ini diwarnai penindakan keras oleh otoritas Teheran terhadap para demonstran.
Iran diguncang gelombang protes sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.
Beberapa hari terakhir, unjuk rasa di Iran marak diwarnai kerusuhan dan kekerasan. Namun sejauh ini, pemerintah Iran belum memberikan angka resmi untuk korban jiwa secara keseluruhan.
Data terbaru dari kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Human Rights Activists News Agency (HRANA), seperti dilansir Associated Press, Selasa (13/1/2026), menyebutkan sedikitnya 646 orang tewas akibat penindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran.
Jumlah korban tewas itu mencakup 512 demonstran dan 134 anggota pasukan keamanan Iran. Lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
HRANA juga melaporkan bahwa lebih dari 10.700 orang telah ditahan selama unjuk rasa berlangsung dua pekan terakhir. Penahanan disebut berlangsung di sebanyak 585 lokasi di berbagai wilayah Iran, termasuk 186 kota di semua 31 provinsi.
Data yang dilaporkan HRANA terbukti akurat dalam kerusuhan sebelumnya yang melanda Iran beberapa tahun terakhir. Data terbaru HRANA itu dilaporkan pada Selasa (13/1) pagi, dengan mendasarkan pelaporan dari para pendukungnya di Iran untuk memeriksa silang informasi yang diberikan.
Dengan layanan internet dimatikan dan saluran telepon terputus di Iran sejak pekan lalu, mengukur unjuk rasa yang terjadi di negara Syiah tersebut dari luar negeri menjadi lebih sulit. Associated Press sejauh ini belum dapat secara independen menaksir jumlah korban.
Mereka yang berada di luar negeri mengkhawatirkan pemadaman informasi ini mendorong kelompok garis keras di dalam dinas keamanan Iran untuk melancarkan tindak kekerasan. Sejumlah video online menunjukkan lebih banyak unjuk rasa berlangsung pada Minggu (11/1) malam hingga Senin (12/1) waktu setempat, dengan seorang pejabat Teheran mengakui masih berlangsungnya unjuk rasa dalam pernyataan di media pemerintah.
Namun Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, saat berbicara kepada para diplomat asing di Teheran, menegaskan bahwa “situasi telah sepenuhnya terkendali”. Dia menyalahkan AS dan Israel, tanpa memberikan bukti, atas tindak kekerasan yang terjadi selama unjuk rasa.
Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)
