Kecam Penindasan di Teheran, Kanselir Jerman: Kepemimpinan Iran Lemah

Kecam Penindasan di Teheran, Kanselir Jerman: Kepemimpinan Iran Lemah

Jakarta

Setelah bungkam selama beberapa hari, Kanselir Jerman Friedrich Merz akhirnya angkat bicara mengenai protes di Iran. Selama kunjungan resmi ke India, Merz menyebut kekerasan yang digunakan oleh pasukan keamanan terhadap demonstran di Iran sebagai tindakan brutal dan tidak proporsional.

“Saya mendesak para pemimpin Iran untuk melindungi rakyatnya, bukan mengancam mereka,” ujar Merz, sambil menegaskan bahwa sikap pejabat di Teheran merupakan tanda kelemahan, bukan kekuatan.

Desakan masukkan Garda Revolusi ke daftar teroris Uni Eropa

Sejumlah politisi Jerman mendesak agar Garda Revolusi Iran dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris Uni Eropa. Dengan perkiraan 150.000 tentara, Garda Revolusi merupakan pilar utama rezim dan juga berperan besar secara ekonomi.

Politisi Partai Hijau sekaligus Wakil Presiden Bundestag Omid Nouripour mengatakan kepada stasiun televisi publik ARD bahwa pemerintah Jerman harus menjalin kontak dengan perwakilan oposisi Iran serta masyarakat sipil.

Ia menilai pendekatan “diam dan menunggu” terhadap situasi di Teheran dan kota-kota lain harus segera diakhiri.

Para pakar kebijakan luar negeri Jerman mendesak agar Garda Revolusi dimasukkan ke dalam daftar teroris Uni Eropa dan rekening bank pejabat Iran di Uni Eropa diblokir.

Ketua Komisi Urusan Luar Negeri Bundestag dari partai CDU, Armin Laschet, mengatakan kepada Funke Media Group: “Sanksi terhadap elit rezim harus diperketat agar mereka paham siapa pun yang menindas rakyatnya dengan kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan akan menghadapi konsekuensi.”

Pernyataan bersama tanpa langkah konkret

Partai Sosial Demokrat (SPD) berhaluan kiri-tengah adalah mitra koalisi kecil dari blok konservatif Uni Demokrat Kristen dan Uni Sosial Kristen (CDU/CSU) di pemerintah federal.

Ahmetovic mengkritik respons resmi Jerman terhadap gerakan protes di Iran dengan menyebutnya “terlalu lembek.” Ia secara khusus menyoroti pernyataan bersama yang dikeluarkan pada Jumat (09/01) lalu oleh Kanselir Merz, bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Ketiganya tidak mengumumkan langkah konkret, melainkan menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia: “Kami mendesak otoritas Iran untuk menahan diri, menghentikan kekerasan, dan menghormati hak asasi warga Iran,” bunyi pernyataan tersebut.

Pada konferensi pers rutin pemerintah Jerman pada Senin (12/01) pagi, Wakil Juru Bicara Pemerintah Sebastian Hille juga merespons dengan hati-hati terkait tanggapan terhadap Iran.

Ia mengatakan bahwa pemerintah Jerman telah lama mendukung klasifikasi Garda Revolusi sebagai kelompok teroris, tetapi keputusan tingkat Uni Eropa belum diambil.

Duta Besar Iran di Berlin juga belum dipanggil untuk menyampaikan ketidakpuasan Jerman terhadap kekerasan di Iran.

Solidaritas untuk para demonstran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, setelah rezim Iran memblokir internet, para demonstran kemungkinan akan mengakses jaringan satelit Starlink.

Langkah ini disambut positif pemerintah Jerman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Martin Giese, menyatakan setiap upaya yang memungkinkan akses internet tanpa melalui rezim Iran akan diterima dengan baik.

Ribuan orang turun ke jalan di Berlin dan Frankfurt am Main selama akhir pekan untuk memprotes rezim di Iran. Sekitar 300.000 orang keturunan Iran tinggal di Jerman.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Hani Anggraini

Lihat juga Video ‘Pemandangan Ngeri Mayat-mayat Berjejeran di Pinggir Jalan Iran’:

(ita/ita)