Banjir Bengawan Jero Meluas, Pemkab Lamongan Tetapkan Status Tanggap Darurat

Banjir Bengawan Jero Meluas, Pemkab Lamongan Tetapkan Status Tanggap Darurat

Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan resmi memberlakukan status tanggap darurat bencana menyusul banjir yang melanda kawasan Bengawan Jero. Keputusan ini diambil seiring meluasnya dampak banjir di sejumlah kecamatan.

Data terbaru menunjukkan jumlah rumah yang tergenang terus bertambah. Jika pada 11 Januari tercatat sebanyak 2.105 rumah terdampak, kini angkanya meningkat menjadi 2.736 rumah yang tersebar di 29 desa pada lima kecamatan, yakni Kalitengah, Deket, Turi, Karangbinangun, dan Glagah.

Selain merendam permukiman warga dan akses jalan, banjir juga berdampak pada sektor pendidikan. Sebanyak 63 lembaga pendidikan dari berbagai jenjang dilaporkan ikut tergenang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lamongan, Mohammad Nalikan, mengatakan penetapan status tanggap darurat dilakukan setelah elevasi air di Bendungan Blawi terus meningkat.

“Tanggap darurat itu kita berlakukan dengan naiknya Bendungan Blawi yang sekarang sudah 78. Itu sudah banyak menggenangi di beberapa kecamatan, sehingga pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat,” ujar Nalikan, Rabu (14/1/2026).

Nalikan menyebutkan, pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah penanganan. Salah satunya dengan melakukan penyisiran dan pembersihan seluruh sungai pembuang guna memperlancar aliran air.

Selain itu, Pemkab Lamongan menginstruksikan setiap desa terdampak untuk mendirikan posko kesehatan yang beroperasi selama 24 jam penuh.

“Posko di masing-masing desa wajib dibuat, baik oleh puskesmas, pustu, maupun bidan desa. Mereka harus siaga 24 jam untuk melayani kesehatan masyarakat yang terdampak,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, bantuan sembako didistribusikan secara bertahap, termasuk ke wilayah Kecamatan Turi, Kalitengah, dan Weduni. Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah pusat guna mendatangkan bantuan tambahan.

“Bantuan makanan cepat saji dari BPBD Provinsi sudah mulai berangsur datang. Kami juga mengajukan bantuan 22 ton beras cadangan pangan pemerintah ke Badan Ketahanan Pangan Nasional. Saat ini tinggal menunggu persetujuan untuk pencairan melalui Bulog,” ujarnya.

Terkait mobilitas dan pendidikan, Nalikan menyampaikan bahwa siswa dari sekolah terdampak diarahkan mengikuti pembelajaran secara daring. Sementara itu, untuk membantu mobilitas warga menuju pusat kota Lamongan, pemerintah telah menyiagakan armada truk.

“Transportasi anak sekolah yang ke arah Lamongan akan kita siapkan truk untuk membantu mereka melintasi wilayah-wilayah yang tergenang air,” pungkasnya. [fak/beq]