Saksikan Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak, Sutiyoso: Jujur, Hati Lega Sekali

Saksikan Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak, Sutiyoso: Jujur, Hati Lega Sekali

JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku lega menyaksikan langsung dimulainya pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said. Pembongkaran tersebut diresmikan oleh Gubernur Pramono Anung hari ini.

Sutiyoso mengatakan, kepastian pembongkaran menjadi hal yang selama ini ia tunggu. Tiang-tiang monorel yang berdiri tanpa fungsi selama sekitar dua dekade ini dinilainya telah lama mengganggu estetika kota.

“Jujur, saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan ya oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini gitu,” kata Sutiyoso di lokasi pembongkaran tiang monorel Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari.

Sutiyoso mengaku kerap merasa sedih setiap melintasi Jalan Rasuna Said dan melihat proyek yang dulu digagas pada masa kepemimpinannya berakhir menjadi besi tua.

“Mudah-mudahan, kalau saya lewat (Jalan Rasuna Said), ini enggak sakit mata lagi. Yang selama ini terus terpikir, sedih aja gitu,” ujarnya.

Sutiyoso bercerita monorel menjadi bagian dari konsep besar penataan transportasi massal untuk mengatasi kemacetan Ibu Kota. Sutiyoso menyebut, jaringan transportasi Jakarta dirancang terdiri dari empat moda utama yakni MRT, monorel layang, Transjakarta, dan waterway.

“Jadi, akhirnya saya putuskan jaringan transportasi ibu kota itu terdiri dari empat moda ya,” ujar Sutiyoso.

Pembangunan monorel kemudian dicanangkan secara resmi pada 2004. Saat itu, proyek disebut telah memiliki rencana dan investor. Namun, masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007. Setelah itu, proyek tidak berlanjut secara konsisten dan akhirnya berhenti total.

Pada periode kepemimpinan Fauzi Bowo, proyek monorel tidak dilanjutkan hingga akhirnya benar-benar mandek. Di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), proyek monorel resmi dihentikan.

Moda transportasi pada jalur di Jalan Rasuna Said kini digantikan dengan proyek LRT Jabodebek. Akhirnya, tiang-tiang monorel yang terlanjur berdiri dibiarkan terbengkalai tanpa kejelasan. “Sejak itulah mangkrak total ini, jadi besi tua, jadi apa namanya barang seperti ini yang merusak estetika kota gitu,” ujar Sutiyoso.

Menurut Sutiyoso, kondisi tersebut menuntut adanya keputusan tegas. Ia menilai, pembongkaran merupakan pilihan yang berat, tetapi tidak terhindarkan karena proyek tidak mungkin lagi dilanjutkan.

“Hanya ada dua pilihan, lanjutkan atau bongkar. Tidak bisa melanjutkan, ya dibongkar. Itu pilihan yang paling buruk, tetapi harus kita lakukan itu,” ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi langkah Pemprov DKI Jakarta yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Wakil Gubernur DKI, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam proses penataan Jalan Rasuna Said.

Sutiyoso berharap penataan tidak berhenti di Rasuna Said, tetapi juga menyasar ruas-ruas lain yang masih menyisakan infrastruktur mangkrak.

“Saya minta masyarakat mendukung kelanjutan daripada penataan Rasuna Said ini, dan saya berharap juga sampai di Senayan nanti juga ditertibkan gitu,” urai Sutiyoso.

Pemprov DKI Jakarta resmi memulai pembongkaran tiang monorel mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Pembongkaran ini ditandai dengan pemotongan salah satu tiang monorel yang telah terbengkalai selama lebih dari dua dekade.

Proses tersebut dilakukan bersama sejumlah pihak, mulai dari mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Patris Yusrian Jaya, hingga perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Secara total, Pemprov DKI mengalokasikan sekitar Rp102 miliar dalam pekerjaan ini. Sementara, biaya khusus untuk pemotongan tiang monorel hanya sebesar Rp254 juta. Lalu, sisanya digunakan untuk penataan kawasan secara menyeluruh. Penataan itu meliputi perbaikan badan jalan, saluran air, trotoar, taman, penerangan jalan umum, serta sarana pendukung lainnya di sepanjang Jalan Rasuna Said.