Kita sedang Menyaksikan Hari-hari Terakhir Rezim Iran

Kita sedang Menyaksikan Hari-hari Terakhir Rezim Iran

New Delhi

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengatakan bahwa rezim Iran sedang menjalani hari-hari terakhir, seiring meningkatnya tekanan terhadap negara Syiah tersebut atas gelombang unjuk rasa, yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.

“Ketika sebuah rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan, maka rezim itu pada dasarnya telah berakhir,” tegas Merz saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Bengaluru, India, seperti dilansir AFP, Selasa (13/1/2026).

“Saya percaya bahwa kita sekarang sedang menyaksikan hari-hari terakhir dan minggu-minggu terakhir rezim ini,” ujarnya.

Setelah bungkam selama beberapa hari, Merz akhirnya angkat bicara mengenai unjuk rasa antipemerintah yang berlangsung secara besar-besaran di Iran.

Selama kunjungan resmi ke India, Merz menyebut kekerasan yang digunakan oleh pasukan keamanan Iran terhadap para demonstran sebagai tindakan brutal dan tidak proporsional.

“Saya mendesak para pemimpin Iran untuk melindungi rakyatnya, bukan mengancam mereka,” ujar Merz, seperti dilansir kantor berita DW.

Merz juga menegaskan bahwa sikap pejabat di Teheran merupakan tanda kelemahan, bukan kekuatan.

Gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.

Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.

Beberapa hari terakhir, unjuk rasa di Iran marak diwarnai kerusuhan dan kekerasan. Namun sejauh ini, pemerintah Iran belum memberikan angka resmi untuk korban jiwa secara keseluruhan.

Data terbaru dari kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan sedikitnya 646 orang tewas akibat penindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran.

Jumlah korban tewas itu mencakup 512 demonstran dan 134 anggota pasukan keamanan Iran. Lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

HRANA juga melaporkan bahwa lebih dari 10.700 orang telah ditahan selama unjuk rasa berlangsung dua pekan terakhir.

Otoritas Iran memanggil para diplomat yang mewakili Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris pada Senin (12/1) waktu setempat. Pemanggilan ini dimaksudkan untuk memprotes dukungan negara-negara Eropa tersebut terhadap unjuk rasa antipemerintah.

Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dilansir AFP, mengatakan bahwa para diplomat Eropa itu diperlihatkan sebuah video yang menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh “para perusuh” dan diberitahu bahwa pemerintah mereka harus “menarik pernyataan resmi yang mendukung para demonstran”.

Halaman 2 dari 2

(nvc/ita)