Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) memasang target pertumbuhan produksi sebesar 5% pada tahun ini. Meski begitu, terdapat tantangan pasokan energi dan waswas risiko gejolak geopolitik global.
Ketua Umum APGI Henry T. Susanto mengatakan, industri gelas kaca mencatat peningkatan dari sisi produksi dan penjualan sekitar 10% pada tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut didukung permintaan domestik dan ekspor.
“Kami mencoba bersikap optimistis dengan mengharapkan industri gelas akan tumbuh sekitar 5% akan tetapi tantangan akan banyak,” kata Henry kepada Bisnis, Selasa (13/1/2025).
Adapun, 80% dari produksi gelas kaca dalam negeri dijual untuk domestik, sisanya diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara, Amerika Latin, Eropa, hingga Afrika Selatan. Produk yang dipasarkan utamanya untuk kemasan minuman hingga tableware atau alat rumah tangga.
Kendati demikian, Henry mengkhawatirkan situasi dunia masih panas tahun ini. Pihaknya berharap ketegangan dan perang dagang akan mereda pada 2026 ini. Di samping itu, tantangan yang paling disoroti yaitu ketersediaan gas dengan harga yang kompetitif.
“Dengan pembatasan pemakaian gas yang apabila pemakaian melebihi dari kuota harus membayar 2 kali lipat maka banyak pabrik gelas anggota kami membatasi produksinya hingga sebatas gas yang tersedia karena apabila memakai gas lebih maka biaya produksi akan naik banyak,” jelasnya.
Adapun, dia menerangkan bahwa hingga saat ini penyaluran gas murah lewat program harga gas bumi tertentu (HGBT) masih mengalami kendala. Untuk wilayah Jawa bagian barat, alokasi gas industri tertentu (AGIT) rata-rata sekitar 65%. Masalahnya, ketersediaan LNG di Jawa bagian barat terbatas sehingga industri harus memakai gas LNG yang harganya sekitar US$15 per MMBtu atau lebih dari 2 kali lipat harga HGBT US$7 per MMBtu.
Sementara itu, untuk wilayah Jawa bagian timur AGIT yang dikenakan lebih rendah yakni 55%. Namun, pasokan gas di wilayah tersebut masih mencukupi sehingga pemakaian gas LNG tidak diperlukan dan tidak dikenakan harga gas regasifikasi.
“Supply gas [di Jawa bagian timur] mencukupi tetapi bukan gas HGBT sehingga industri harus membayar harga gas biasa atau US$9,16 per MMBtu, bukan harga US$7 per MMBtu seperti yang tercantum dalam HGBT,” jelasnya.
Industri membutuhkan harga energi yang kompetitif untuk dapat bersaing di pasar. Apalagi, ada banyak negara yang mengalami kesulitan ekonomi sehingga mengurangi pasar produk gelas.
“Ditambah lagi kondisi geopolitik sekarang ini di mana terjadi gesekan antara negara besar yang menyebabkan terjadinya gangguan transportasi gas dan menaikkan biaya transportasi kapal,” pungkasnya.
