Isu deforestasi dan emisi menjadikan sebuah praktik berkelanjutan sebagai arus utamanya, tidak lagi hanya sekedar pilihan. Melalui Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan adopsi standar internasjonal seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Keberlanjutan tersebut menjadi syarat utama akses pasar, terutama juga ditengah regulasi global seperti EU Deforestation Regulation yang tuntutannya jaminan bebas deforestai.
Karena itu, penguatan pada praktik di lapangan mulai dari zero burning, pembatasan ekspansi ke hutan primer, hingga rehabilitasi lahan yang menjadi kunci, serta membuka ruang bagi komoditas berkeunggulan ekologis dan penerapan ekonomi sirkular berbasis pemanfaatan limbah perkebunan.
Keberlanjutan juga berhubungan erat dengan mutu dan keamanan pangan. Standar global terkait residu pestisida, mikotoskin, dan kualitas produk semakin ketat tercermin dari penolakan pala Indonesia akibat aflatoksin.
Hal ini menegaskan betapa pentingnya pembenahan praktik pascapanen, sertifikasi organik, dan juga skema fair trade agar produk perkebunan mampu menembus pasar premium.
Disisi lain, penguatan ekspor menuntut strategi pemasaran dan diversifikasi pasar yang lebih agresif. Ketergantungannya pada ekspor bahan mentah perlu dikurangi melalui inovasi produk, penguatan branding, dan peetrasi pasar non tradisional seperti Tiongkok dan Timur Tengah.
Diplomasi ekonomi, pemanfaatan FTA, serta promosi terpadu dalam pameran, misi dagang, dan gastrodiplomasi, menjadi instrumen penting.
Tren pangan sehat, plant-based, dan produk permium membuka peluang besar bagi kelapa, kopi, spesialti, mete, dan cokelat olahan.
Kebangkitan ekspor lada beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perbaikan hulu-hilir mampu mengembalikan kejayaan komoditas, serta memperkuat juga daya saing ekspor secara berkelanjutan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4759496/original/025601600_1709363956-Tandan_Buah_Segar__TBS__di_Pabrik_Pengolahan_Kelapa_Sawit.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)