Setahun Rusak Tak Tertangani, Jembatan Wonoboyo Bondowoso Kembali Ambrol

Setahun Rusak Tak Tertangani, Jembatan Wonoboyo Bondowoso Kembali Ambrol

Bondowoso (beritajatim.com) – Jembatan penghubung di Dusun Leprak, Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, kembali ambrol setelah diguyur hujan deras sejak siang hingga sore hari.

Kondisi ini memperparah kerusakan jembatan lama yang sudah rusak sejak tahun lalu akibat banjir dan longsor, namun hingga kini belum mendapat penanganan permanen.

Akibat ambrolnya jembatan tersebut, akses utama warga Wonoboyo menuju Kecamatan Klabang lumpuh total. Warga terpaksa memutar melalui Kabupaten Situbondo dengan waktu tempuh mencapai dua jam, padahal jalur normal biasanya hanya sekitar 30 menit.

Muhammad Idrus, warga Desa Wonoboyo, mengatakan jembatan tersebut sebenarnya sudah lama roboh dan hanya diperbaiki secara darurat menggunakan besi rel hasil sumbangan PG Pradjekan. Ia menyebut, jembatan itu dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum sekitar 20 tahun lalu.

“Jembatan lama sudah roboh. Perbaikannya cuma pakai besi rel, itu pun sumbangan dari PG Pradjekan. Sudah hampir satu tahun tidak ada respon,” ujar Idrus, Selasa, 13 Januari 2026.

Menurutnya, kerusakan jembatan bermula saat diterjang banjir pada tahun lalu, kemudian diperparah longsor dan hujan deras yang kembali mengguyur wilayah tersebut. Bahkan, ambrolnya jembatan pada sore hari ini diduga akibat struktur yang sudah lemah dan terus dilalui kendaraan berat.

“Dampaknya besar sekali. Kalau ada pasien kritis, ambulans tidak bisa lewat dan harus memutar lewat Kendit, Situbondo. Mau periksa ke Bondowoso juga harus mutar jauh,” katanya.

Idrus menambahkan, selain menghambat layanan kesehatan, kerusakan jembatan juga berdampak pada sektor perekonomian warga. Pengangkutan hasil pertanian menjadi terhambat, termasuk aktivitas perdagangan ternak.

“Pedagang sapi yang mau ke Pasar Hewan Selasaan di Kecamatan Kademangan, Bondowoso, harus memutar lewat Situbondo. Kasihan masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bondowoso segera memberikan perhatian serius dan mempercepat perbaikan jembatan tersebut. “Harapannya jembatan ini cepat diperbaiki. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto, mengatakan pihaknya telah melakukan penanganan sementara sebagai langkah awal pengurangan risiko kecelakaan di lokasi kejadian.

“Kami lakukan penanganan sementara untuk mengurangi risiko kecelakaan di tahap awal. Hasil asesmen akan kami laporkan ke pimpinan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” kata Kristianto.

Ia menambahkan, BPBD Bondowoso akan segera menggelar rapat lanjutan untuk membahas penanganan jembatan tersebut. Menurutnya, kerusakan awal jembatan terjadi sekitar Februari 2025.

“Pasca kejadian itu, kami sudah mengusulkan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi ke BNPB. Prosesnya sudah berjalan dan tinggal menunggu verifikasi lapangan,” jelasnya.

Namun demikian, verifikasi lapangan dari BNPB sempat tertunda karena adanya penanganan bencana di daerah lain. Meski begitu, Kristianto menegaskan bahwa proses pengusulan masih berjalan sesuai tahapan. “Sebenarnya sudah on the track, tinggal menunggu verlap,” pungkasnya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, turut menegaskan bahwa pemenuhan akses infrastruktur dasar merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Ia mengingatkan, keterbatasan akses pernah menjadi persoalan serius bagi warga Wonoboyo di masa lalu.

“Dulu akses ke Wonoboyo sangat sulit, bahkan hanya bisa dilalui pejalan kaki atau naik kuda. Pembangunan jalan akhirnya menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan jembatan Wonoboyo harus segera mendapat perhatian bersama. “Bukan karena alasan lain, tetapi karena ini tanggung jawab kita untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, terutama infrastruktur,” tutupnya. (awi/ted)