Jakarta –
Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan bertemu dengan para penasihat seniornya pada hari Selasa (13/1) untuk membahas opsi-opsi soal Iran, yang tengah dilanda aksi demo besar-besaran.
Rencana pertemuan Trump itu diungkapkan seorang pejabat AS pada Minggu (11/1) waktu setempat, seperti dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Senin (12/1/2026).
Menurut sebuah kelompok hak asasi manusia, aksi demo yang diwarnai kerusuhan di Iran itu telah menewaskan lebih dari 500 orang. Sementara pemerintah Iran mengancam akan menargetkan pangkalan militer AS, jika Presiden Donald Trump melaksanakan ancamannya untuk campur tangan demi membela para demonstran.
Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.
Media Wall Street Journal melaporkan bahwa opsi-opsi yang dipertimbangkan Trump termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, dan pemberian bantuan daring kepada sumber-sumber anti-pemerintah.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, telah memperingatkan Washington agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan.”
“Biar kami perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf yang merupakan mantan komandan di Garda Revolusi Iran.
Berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, lebih dari 100 anggota pasukan keamanan Iran tewas sejak protes dimulai. Dalam periode 15 hari terakhir, 500 demonstran juga dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 10.000 orang ditangkap.
Dilansir AFP, pemerintah Iran turut meminta rakyatnya untuk terus melawan AS dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengajak warga turun ke jalan pada Senin (12/1) dalam aksi demo nasional untuk mengecam kekerasan, yang menurut Iran didalangi kedua negara tersebut.
“Presiden Masoud Pezeshkian mendesak masyarakat untuk ikut serta dalam “aksi perlawanan nasional” berupa demonstrasi nasional pada hari Senin untuk mengecam kekerasan tersebut, yang menurut pemerintah dilakukan oleh “penjahat teroris perkotaan”, menurut televisi pemerintah.
Demonstrasi di Iran diketahui mulai terjadi pada akhir Desember sebagai respons terhadap krisis mata uang. Seiring waktu, aksi tersebut membesar dan meluas, dengan semakin banyak warga menyerukan perubahan besar-besaran terhadap pemerintahan otoriter negara itu.
Para pejabat Iran telah mengancam akan menindak tegas para demonstran.
Halaman 2 dari 2
(ita/ita)
