Digitalisasi, Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Desa

Digitalisasi, Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Desa

Jakarta: Transformasi ekonomi di wilayah perdesaan Indonesia kini menemukan momentum baru lewat digitalisasi. Bukan lagi sekadar infrastruktur fisik, masuknya teknologi video pendek mulai mengubah wajah ekonomi akar rumput dengan membuka akses pasar, meningkatkan literasi digital petani, hingga menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

Langkah ini terlihat melalui Program Desa Sejahtera. Berbeda dengan pendekatan platform digital yang umumnya berfokus pada trafik di perkotaan, inisiatif ini justru masuk ke jantung produksi ekonomi nasional, sektor pertanian dan usaha mikro di 13 desa dari berbagai provinsi.

Salah satu pilar utama yang didorong adalah pengembangan pertanian berkelanjutan. Di lapangan, intervensi dilakukan lewat pemberian bantuan peralatan dan pelatihan keterampilan digital. Tujuannya jelas, memangkas kesenjangan informasi yang selama ini menjadi penghambat utama petani desa dalam mengakses pasar yang lebih luas.

Melalui konten video, petani kini mampu mendokumentasikan proses tanam hingga panen secara autentik. Hal ini tidak hanya membangun kepercayaan konsumen, tetapi juga memposisikan petani sebagai produsen yang memiliki daya tawar lebih tinggi. Dampaknya, ekonomi desa tidak lagi bergantung pada perantara konvensional, melainkan terkoneksi langsung dengan audiens nasional.
 

 

Kreator Desa sebagai Penggerak Ekonomi

Fenomena ‘Stayer’, seorang pemuda dari wilayah perdesaan, menjadi studi kasus menarik bagaimana konten jujur tanpa polesan dapat menjadi aset ekonomi. Dengan merekam aktivitas harian dan keterampilan lokal, ia berhasil membangun basis pengikut loyal yang bertransformasi menjadi sumber penghasilan tetap bagi keluarganya.

Data menunjukkan bahwa konten yang lahir secara organik dari pelosok daerah justru memiliki tingkat keterikatan (engagement) yang tinggi karena faktor keaslian cerita. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi baru di mana kreativitas digital menjadi solusi atas keterbatasan lapangan kerja di daerah.

Selain pertanian, sektor ekonomi kreatif berbasis budaya turut mendapatkan panggung. Program “Batik Masuk Desa” misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai strategi pemasaran produk lokal. Edukasi teknik batik yang ditonton jutaan orang secara tidak langsung membuka peluang ekspor dan perdagangan antardaerah bagi para perajin di pelosok.

Direktur Operasional SnackVideo Indonesia Yugo Prabowo, mengatakan bahwa kehadiran teknologi ini bertujuan agar manfaatnya dirasakan secara konkret di lapangan. “Kami berupaya mendekatkan teknologi dengan kebutuhan nyata, sekaligus memperkuat peran komunitas sebagai penggerak perubahan ekonomi,” ujarnya.

Keberhasilan digitalisasi ekonomi desa ini tidak lepas dari dukungan regulasi. Keterlibatan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan dalam inisiatif ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat platform digital sebagai mitra strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi rural.

Dengan hampir 50 desa yang kini terjangkau melalui Partner Program, digitalisasi bukan lagi menjadi kemewahan milik warga kota. Jika konsistensi ini terjaga, narasi dari desa-desa Indonesia diprediksi akan menjadi tulang punggung baru dalam peta ekonomi digital nasional di masa depan.

Jakarta: Transformasi ekonomi di wilayah perdesaan Indonesia kini menemukan momentum baru lewat digitalisasi. Bukan lagi sekadar infrastruktur fisik, masuknya teknologi video pendek mulai mengubah wajah ekonomi akar rumput dengan membuka akses pasar, meningkatkan literasi digital petani, hingga menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.
 
Langkah ini terlihat melalui Program Desa Sejahtera. Berbeda dengan pendekatan platform digital yang umumnya berfokus pada trafik di perkotaan, inisiatif ini justru masuk ke jantung produksi ekonomi nasional, sektor pertanian dan usaha mikro di 13 desa dari berbagai provinsi.
 
Salah satu pilar utama yang didorong adalah pengembangan pertanian berkelanjutan. Di lapangan, intervensi dilakukan lewat pemberian bantuan peralatan dan pelatihan keterampilan digital. Tujuannya jelas, memangkas kesenjangan informasi yang selama ini menjadi penghambat utama petani desa dalam mengakses pasar yang lebih luas.

Melalui konten video, petani kini mampu mendokumentasikan proses tanam hingga panen secara autentik. Hal ini tidak hanya membangun kepercayaan konsumen, tetapi juga memposisikan petani sebagai produsen yang memiliki daya tawar lebih tinggi. Dampaknya, ekonomi desa tidak lagi bergantung pada perantara konvensional, melainkan terkoneksi langsung dengan audiens nasional.
 

 

Kreator Desa sebagai Penggerak Ekonomi

Fenomena ‘Stayer’, seorang pemuda dari wilayah perdesaan, menjadi studi kasus menarik bagaimana konten jujur tanpa polesan dapat menjadi aset ekonomi. Dengan merekam aktivitas harian dan keterampilan lokal, ia berhasil membangun basis pengikut loyal yang bertransformasi menjadi sumber penghasilan tetap bagi keluarganya.
 
Data menunjukkan bahwa konten yang lahir secara organik dari pelosok daerah justru memiliki tingkat keterikatan (engagement) yang tinggi karena faktor keaslian cerita. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi baru di mana kreativitas digital menjadi solusi atas keterbatasan lapangan kerja di daerah.
 
Selain pertanian, sektor ekonomi kreatif berbasis budaya turut mendapatkan panggung. Program “Batik Masuk Desa” misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai strategi pemasaran produk lokal. Edukasi teknik batik yang ditonton jutaan orang secara tidak langsung membuka peluang ekspor dan perdagangan antardaerah bagi para perajin di pelosok.
 
Direktur Operasional SnackVideo Indonesia Yugo Prabowo, mengatakan bahwa kehadiran teknologi ini bertujuan agar manfaatnya dirasakan secara konkret di lapangan. “Kami berupaya mendekatkan teknologi dengan kebutuhan nyata, sekaligus memperkuat peran komunitas sebagai penggerak perubahan ekonomi,” ujarnya.
 
Keberhasilan digitalisasi ekonomi desa ini tidak lepas dari dukungan regulasi. Keterlibatan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan dalam inisiatif ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat platform digital sebagai mitra strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi rural.
 
Dengan hampir 50 desa yang kini terjangkau melalui Partner Program, digitalisasi bukan lagi menjadi kemewahan milik warga kota. Jika konsistensi ini terjaga, narasi dari desa-desa Indonesia diprediksi akan menjadi tulang punggung baru dalam peta ekonomi digital nasional di masa depan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di

Google News

(PRI)