Jelajah UMKM 2025: Kisah Trendy Bangkit dari Pandemi

Jelajah UMKM 2025: Kisah Trendy Bangkit dari Pandemi

Bisnis.com, SURABAYA — Di sebuah wilayah industri di Gerongan, Pasuruan, Jawa Timur, berdiri sebuah pabrik kasur legendaris yang telah beroperasi sejak awal 1990-an.
 
Berangkat dari keyakinan sederhana bahwa tidur atau istirahat adalah salah satu kebutuhan yang utama bagi setiap orang, PT Gerongan Surajaya kemudian menjelma menjadi salah satu produsen kasur pegas yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
 
Business Development Director PT Gerongan Surajaya Vincentius Leonardo, menuturkan bahwa ide usaha tersebut lahir dari kegelisahan sang ayah, Irwan yang juga menjabat sebagai CEO perusahaan itu, di mana pada 1990-an kasur pegas disebutnya masih tergolong sebagai barang mewah.
 
Menurut sang ayah, kasur pegas masih menjadi satu dari sekian barang mewah, dan banderolnya berada jauh di atas kasur kapuk atau busa yang terjangkau dan dapat dibeli oleh seluruh kalangan masyarakat saat itu.
 
“Pada awalnya, papa berpikir spring bed itu keperluan yang mutlak. Tiap orang pasti tidur. Enggak mungkin enggak istirahat. Nah, di tahun 90-an itu kan harganya masih relatif mahal. Jadi papa berpikir bagaimana cara produksi dengan harga yang terjangkau,” ucap Leo sapaan akrabnya kepada Bisnis.
 
Pemikiran itu kemudian diwujudkan dengan membeli lahan di Gerongan hingga produksi awal pada 1991. Kala itu, fasilitas produksi masih sangat terbatas. Sebagian proses pembuatan bahkan masih dikerjakan dengan tenaga manusia, sebagian lainnya menggunakan mesin sederhana.
 
Strategi pemasarannya pun dilakukan dari nol, dengan mendatangi satu lapak ke lapak lainnya dan menitipkan produk untuk dicoba pasar. Perjalanan bisnis tersebut tak selalu mulus.
 
Leo mengakui bahwa pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat perusahaannya. Selama tujuh bulan lamanya pada awal tahun 2020, hampir seluruh pesanan dibatalkan oleh berbagai pelanggan, baik pemerintah maupun swasta. Produksi nyaris berhenti dan perusahaan berada di ambang pintu kebangkrutan.
 
“Tujuh bulan enggak ada order-an. Semua PO [pre order/pemesanan awal] di-cancel. Satu hari bahkan enggak sampai 10 unit. Waktu itu benar-benar pusing,” ungkapnya.
 
Namun, di tengah krisis itu PT Gerongan Surajaya justru menemukan pasar baru. Permintaan kasur untuk rumah sakit darurat bagi pasien Covid-19 melonjak tajam. Perusahaan sempat menerima permintaan hingga 2.000 unit per pekan, termasuk untuk kebutuhan pemerintah dan ekspor ke luar negeri. Kerugian selama tujuh bulan pada masa awal pandemi pun tertutup hanya dalam kurun waktu 3 bulan.

 
Pascapandemi, perusahaan kembali melakukan transformasi besar-besaran. Struktur rantai pasok yang sebelumnya bertumpu pada distributor dan retail konvensional mulai ditinggalkan.
 
PT Gerongan Surajaya pun bertransformasi kepada model pemasaran digital, dengan memanfaatkan e-commerce, live streaming, hingga telemarketing.
 
Transformasi itu juga diiringi dengan mekanisasi produksi. Jika sebelumnya rasio tenaga kerja mencapai 80 orang untuk setiap 100 kasur, kini kapasitas produksi meningkat hingga 3,5 kali lipat dengan jumlah tenaga kerja yang justru turun hampir separuh. Sebagian besar sumber daya manusia dialihkan untuk mempromosikan produk lewat divisi pemasaran digital.
 
“Kita tekan biaya produksi lewat mekanisasi. Dari manual ke mesin, sistem proses jadi lebih efisien. Orang-orang yang dulu di lapangan, kita pindahkan ke marketing digital,” jelas Leo.
 
Dalam usaha ekspansi tersebut, dukungan perbankan menjadi faktor krusial. Leo menyatakan peran SMBC Indonesia dalam memperkuat modal kerja sekaligus mendigitalisasi sistem pembayaran perusahaan.
 
“SMBC Indonesia itu membantu kita di dua hal utama. Pertama di sistem modal kerja. Dengan dukungan dari SMBC Indonesia, tahun ini saja hampir 30 mesin kita tambah, belum termasuk pembangunan kawasan pabrik baru,” tuturnya.
 
Menurutnya, strategi perusahaan adalah untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan kapasitas. Ketika utilisasi produksi menyentuh 95% dalam periode tertentu, perusahaan segera menambah kapasitas agar kembali ke level ideal.
 
Dengan dukungan pembiayaan dari SMBC Indonesia, selama berulang kali dalam dua tahun terakhir, Leo menyebut perusahaan berhasil membukukan lonjakan omset yang disebutnya hampir sebesar empat kali lipat.
 
Dukungan kedua dari SMBC Indonesia datang dalam bentuk layanan digital TOUCHBIZ dari SMBC Indonesia. PT Gerongan Surajaya saat ini telah mengintegrasikan seluruh transaksi melalui dashboard payment link, virtual account hingga QRIS, menggantikan sistem EDC yang dinilai kurang efisien.
 
“Sekarang pembayarannya terintegrasi. Customer bisa bayar dari rumah, enggak perlu ke outlet. Itu jauh lebih efisien, apalagi sekarang orang malas ke mal,” ujarnya.
 
Proses digitalisasi tersebut, lanjut Leo, tidak hanya mempermudah konsumen, tetapi juga memperkuat arus kas (cash flow) dan pengelolaan outlet. Seluruh pesanan dan pembayaran kini dapat dipantau secara real-time melalui sistem dashboard perusahaan.
 
Baginya, perjalanan dari perusahaan yang dirintis ayahnya tersebut pada akhirnya bukan semata tentang produk atau permodalan, melainkan tentang ketepatan model bisnis dalam menghadapi tantangan dan perkembangan zaman yang semakin dinamis.
 
“Intinya bisnis itu bisnis model. Kalau modelnya tepat, sistemnya tepat, uang itu akan mengikuti sendiri,” pungkasnya.
 
Kisah dari PT Gerongan Surajaya menjadi potret bagaimana UMKM manufaktur dapat tumbuh berkelanjutan melalui inovasi, adaptasi digital, serta kolaborasi strategis dengan SMBC Indonesia dalam memperkuat produksi dan memperluas pangsa pasar.