Trump Panggil Para Bos Minyak Minta Garap Harta Karun di Venezuela

Trump Panggil Para Bos Minyak Minta Garap Harta Karun di Venezuela

Jakarta

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan para petinggi dari beberapa perusahaan minyak terbesar di dunia di Gedung Putih pada Jumat (9/1) untuk membahas harta karun di Venezuela. Ada keinginan untuk menginvestasikan US$ 100 miliar atau Rp 1.620 triliun (kurs Rp 16.200) di negara itu untuk memperluas produksi minyaknya secara besar-besaran.

Trump menyebut, minyak adalah prioritas strategi untuk Venezuela setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026.

“Perusahaan-perusahaan AS akan memiliki kesempatan untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang ‘membusuk’, dan pada akhirnya meningkatkan produksi minyak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita akan membuat keputusan tentang perusahaan minyak mana yang akan masuk,” kata Trump dikutip dari Reuters, Sabtu (10/1/2026).

Trump didampingi oleh para pimpinan dari Exxon Mobil, ConocoPhillips, Chevron Corp, dan lainnya. Ia memuji kesepakatan dengan para pemimpin sementara Venezuela untuk menyediakan 50 juta barel minyak mentah ke AS. Trump mengatakan, ia mengharapkan pengiriman minyak akan berlanjut tanpa batas waktu.

“Salah satu hal yang akan didapatkan Amerika Serikat dari ini adalah harga energi yang lebih rendah,” katanya.

Pasukan AS terus menyita kapal tanker minyak Venezuela di laut untuk melakukan embargo. Penyitaan kelima kapal juga telah dilakukan per kemarin.

Para pejabat pemerintahan AS mengatakan mereka perlu mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu untuk memastikan negara tersebut bertindak demi kepentingan AS, termasuk dengan mengurangi korupsi dan perdagangan narkoba.

Tuntutan Bos Minyak AS

Trump dijadwalkan bertemu dengan para petinggi perusahaan minyak besar pada Jumat (9/1) untuk membujuk perusahaan energi terbesar AS agar kembali ke Venezuela. Namun, industri minyak ragu untuk berinvestasi puluhan miliar dolar AS selama satu dekade untuk memulihkan infrastruktur minyak di Venezuela.

Para bos perusahaan minyak AS enggan berkomitmen dengan pasti mengenai investasi karena kondisi di Venezuela tidak stabil. Sejauh ini, kata orang-orang tersebut, Trump belum menawarkan strategi yang meyakinkan untuk membangun kembali infrastruktur energi di Venezuela dan memastikan stabilitas jangka panjangnya.

Sejumlah perusahaan minyak bakal mempertimbangkan kembali jika kondisinya tepat. Ada banyak uang yang bisa dihasilkan dari cadangan minyak negara yang sangat besar. Aturan hukum Militer Venezuela telah mengambil peran aktif dalam perusahaan minyak milik negara Petróleos de Venezuela, SA, yang lebih dikenal sebagai PDVSA.

Infrastruktur energi Venezuela telah menjadi sasaran pencurian yang merajalela. Para petinggi perusahaan minyak sebelumnya telah mencatat kepada pejabat pemerintahan AS, negara tersebut memiliki sejarah penyanderaan, dan penduduk setempat mungkin tidak akan menyukai perusahaan asing yang mengambil sumber daya alam mereka.

“Akan ada parameter yang harus ditetapkan sebelum ada investasi signifikan di Venezuela. Pertama, kita harus menegakkan supremasi hukum,” kata Mike Summers, CEO American Petroleum Institute, mengutip dari CNN, Sabtu (10/1/2026).

Dalam pertemuan dengan para pejabat Trump, para bos perusahaan minyak mendesak untuk mengetahui cara AS memastikan karyawan dan peralatan yang dikirim ke daerah terpencil di Venezuela tetap aman. Jawaban dari pemerintah AS sejauh ini tidak memuaskan, kata orang-orang yang mengetahui percakapan tersebut, meskipun Menteri Energi AS, Chris Wright telah mengakui skala tantangan tersebut.

“Untuk melakukan investasi jangka panjang yang sangat besar, kita harus menempatkan pemerintah pada posisi yang lebih baik di mana mereka memiliki supremasi hukum yang aman, keamanan nasional, dan itu adalah sebuah proses,” kata Wright.

Halaman 2 dari 2

(ara/ara)