Bisnis.com, JAKARTA — Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menilai eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela dinilai dapat memperbesar ketidakpastian pasar internasional, terutama melalui dampaknya terhadap harga energi dan biaya logistik yang menjadi komponen penting dalam industri baja.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara mengatakan kondisi tersebut berisiko mendorong kenaikan harga minyak dunia dan dapat berimbas pada meningkatnya biaya energi, transportasi, dan logistik, sehingga menambah tekanan terhadap biaya produksi industri baja nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Meskipun, dia menyebut dampaknya terhadap industri baja Indonesia bersifat tidak langsung, tetapi volatilitas harga energi tetap perlu diantisipasi sejak dini.
“Eskalasi geopolitik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela, berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar serta mendorong kenaikan harga energi,” ujar Harry kepada Bisnis, Minggu (11/2025).
Menurut IISIA, industri baja nasional masih memiliki ketahanan yang cukup baik, tetapi ketidakpastian global dapat memengaruhi perencanaan bisnis dan aktivitas ekspor. Situasi tersebut menuntut pelaku usaha untuk lebih cermat dalam mengelola biaya dan menjaga keberlanjutan produksi.
Di tengah dinamika tersebut, pelaku industri didorong untuk memperkuat efisiensi operasional serta pengelolaan risiko biaya. Upaya ini dinilai penting agar industri baja tetap mampu bersaing dan mempertahankan pangsa pasar ekspor di tengah fluktuasi ekonomi global.
“Penguatan efisiensi, pengelolaan risiko biaya, serta strategi menjaga daya saing perlu terus dilakukan agar industri baja nasional tetap resilien,” katanya.
Sementara itu, kinerja ekspor besi dan baja Indonesia secara kumulatif masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor besi dan baja dengan kode HS 72 pada periode Januari hingga November 2025 tercatat mencapai 21,18 juta ton.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 19,04 juta ton. Peningkatan disebut mencerminkan bahwa permintaan terhadap produk baja Indonesia masih terjaga, meskipun dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
“Produk turunan nikel, termasuk ferronikel, masih menunjukkan kinerja yang relatif baik dan menjadi penopang utama ekspor besi dan baja nasional,” tuturnya.
Namun demikian, secara bulanan tercatat adanya penurunan volume ekspor pada November 2025. Volume ekspor besi dan baja tercatat turun dari sekitar 2,18 juta ton pada Oktober menjadi 1,68 juta ton pada November.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fluktuasi permintaan dan pengapalan, penyesuaian jadwal ekspor menjelang akhir tahun, hingga dinamika pasar global yang masih berlangsung. Kondisi ini dinilai sebagai fenomena yang lazim dalam perdagangan internasional.
“Fluktuasi bulanan merupakan hal yang wajar dan tidak mencerminkan kondisi fundamental, selama tren kumulatif ekspor masih menunjukkan peningkatan,” pungkasnya.
