Mojokerto (beritajatim.com) – Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung ratusan santri, pelajar serta tenaga pendidik yang menjadi korban dugaan keracunan massal dari menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Hingga Minggu (11/1/2026), total korban mencapai 261 korban.
Emil menjenguk para korban yang masih menjalani perawatan di Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, serta di RSUD Prof dr Soekandar di Kecamatan Mojosari. Para korban diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu soto ayam MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1/2026).
Kasus keracunan massal tersebut disinyalir berasal dari makanan MBG yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Kecamatan Kutorejo. Hingga Minggu siang, jumlah peserta didik dan tenaga pendidik yang terdampak terus bertambah.
“Terdata terdampak sejauh ini ada 261 orang. Data yang masuk ini berasal dari tujuh lembaga penerima manfaat. Ada yang datang ke posko di Pondok An Nur, ada juga yang langsung ke rumah sakit,” ungkapnya usai meninjau korban di RSUD Prof Dr Soekandar, Minggu (11/1/2026).
Wagub Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat meninjau korban keracunan massal si RSUD Prof dr Soekandar Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]Menurut Emil, penanganan medis dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sedikitnya 13 fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas. Fasilitas tersebut antara lain RS Mawaddah Medika, RSI Arofah, RS Sumberglagah, RS Kartini, RSUD Prof dr Soekandar, RS Sidowaras.
RS Dian Husada, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, RSI Sakinah, RS Lapangan Ponpes An Nur, serta Puskesmas Pacet, Gondang, dan Kutorejo. Namun, lanjutnya, dari 261 korban keracunan massal, terbanyak dirawat di RSUD Prof Dr Soekandar yakni sebanyak 37 korban.
“Jumlah korban ini tersebar di beberapa faskes, namun yang paling banyak berada di RSUD Prof dr Soekandar, yakni sebanyak 37 orang. Yang paling praktis bagi siapapun dan sesuai kebutuhan penanganan medisnya. Di pondok juga sudah tersedia infus,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto dalam menangani kasus tersebut. Menurut Emil, respons cepat sangat penting untuk memastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak mendapatkan penanganan kesehatan secara maksimal.
“Kami mengapresiasi Pemkab Mojokerto yang bergerak dengan cekatan dalam memberikan pengobatan kepada seluruh penerima manfaat yang terdampak,” pungkasnya. [tin/but]
