Fasilitas RFCC Complex, Jantung Modernisasi RDMP Balikpapan

Fasilitas RFCC Complex, Jantung Modernisasi RDMP Balikpapan

Fasilitas RFCC Complex, Jantung Modernisasi RDMP Balikpapan
Tim Redaksi
 
KOMPAS.com
– Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP)
Balikpapan
.
Proyek tersebut juga menandai lompatan besar modernisasi kilang
Pertamina
menuju standar kilang kelas dunia yang efisien, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.
Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lain, bahan bakar yang diproduksi Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm. Ini berarti, bahan bakar yang dihasilkan lebih bersih dan rendah emisi.
Baron melanjutkan, RFCC Complex pun menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
“(Keberadaan fasilitas) ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional dengan kapasitas kilang mencapai 360.000 barrel per hari serta mendukung program hilirisasi,” ujar Baron dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (11/1/2026).
Proyek
RDMP Balikpapan
, lanjut Baron, merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.
Pengoperasian fasilitas RFCC Complex tidak hanya membuat RDMP Balikpapan mampu memproduksi bensin dan solar, tetapi juga menambah produksi LPG. Pasalnya, kilang ini juga mampu menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan.
“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336.000 ton per tahun. Ini dapat memperkuat pasokan LPG domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor secara bertahap,” tuturnya.
Selain meningkatkan diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi, seperti nafta dan
propylene
.
Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang serta memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan. Hal ini tecermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Semakin tinggi angkanya, kilang mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.
Sementara itu,
yield valuable product
(YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen atau naik 16 persen. Hal ini menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin tinggi.
“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina dalam menyongsong era baru pengolahan kilang modern. Fasilitas ini juga menjadi wujud nyata dukungan Pertamina terhadap swasembada energi nasional sesuai amanat Asta Cita pemerintah,” ujar Baron.
Sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, Pertamina berkomitmen dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060. Dukungan diberikan lewat program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan sesuai prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina. Perseroan juga senantiasa berkoordinasi dengan Danantara.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.