Mojokerto (beritajatim.com) – Sebanyak 152 santri dan pelajar di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut saat ini masih dalam proses pendalaman oleh pihak terkait.
Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Mojokerto, Rosidian Prasetyo mengatakan program MBG di wilayah tersebut menjangkau total 2.679 penerima manfaat yang tersebar di 20 sekolah. Dari jumlah itu, sebanyak tujuh sekolah dilaporkan terdampak kejadian dugaan keracunan.
“Terkait penerima manfaat akan kami sampaikan ke pimpinan, apakah ke depan bisa dialihkan karena program ini sudah berjalan. Apakah boleh dialihkan ke SPPG yang lain,” ungkapnya, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan, setelah kejadian tersebut, sejumlah pihak langsung diterjunkan ke lapangan. Kepala dapur dan petugas alih gizi telah diminta keterangan, sementara Dinas Kesehatan (Dinkes) dan kepolisian juga melakukan penelusuran sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
“Sesuai SOP dan juknis yang telah ditentukan, terkait kejadian ini kami dari perwakilan BGN akan mendalami dengan menunggu hasil yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan dan kepolisian,” katanya.
Rosidian menegaskan, hingga saat ini belum dapat disimpulkan secara pasti penyebab dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, jarak waktu antara penyajian makanan Progam MBG pada Jumat dengan munculnya gejala pada Sabtu pagi menjadi salah satu pertimbangan dalam proses investigasi.
“Indikasi belum bisa kami simpulkan karena penyajian hari Jumat, sementara kejadian Sabtu pagi. Jarak waktunya cukup jauh, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan dari makanan MBG,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebut para santri dan pelajar juga masih mengonsumsi makanan tambahan di luar program MBG, baik di rumah maupun di pondok pada siang hingga malam hari. Meski beberapa santri maupun pelajar mulai ada yang mengalami gejala mual, muntah, diare, demam dan pusing mulai Jumat sore.
“Anak-anak juga masih makan di rumah maupun pondok, jadi kami mohon kesabaran semua pihak. Dalam waktu dekat hasilnya akan keluar dan akan disampaikan oleh Dinas Kesehatan dan kepolisian,” pungkasnya. [tin/but]
