Tren Diet Serba Daging

Tren Diet Serba Daging

Nama Shawn Baker, dokter ortopedi asal Amerika Serikat, sering dikaitkan dengan popularitas diet ini. Baker menyebut diet karnivora sebagai bentuk elimination diet yang menyingkirkan makanan olahan. Menurutnya, banyak orang yang mengikuti pola makan ini melaporkan penurunan berat badan serta perbaikan kondisi seperti obesitas, diabetes, depresi, dan kecemasan. Klaim tersebut banyak dikutip media kesehatan, termasuk Healthline.

Namun, di balik klaim dan kisah sukses yang viral, diet karnivora masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan ilmuwan. Hingga kini, belum ada uji klinis terkontrol yang secara khusus meneliti dampak diet karnivora dalam jangka panjang. Sebagian besar bukti yang tersedia berasal dari pengalaman pribadi dan survei berbasis laporan mandiri.

Salah satu survei tersebut dipublikasikan dalam jurnal Current Developments in Nutrition pada 2021, melibatkan lebih dari 2.000 pelaku diet karnivora. Responden melaporkan penurunan berat badan, peningkatan energi, dan perbaikan kesehatan secara umum. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut bersifat self-reported dan tidak dapat dianggap sebagai bukti kausal yang kuat.

Selain Bella, kisah sukses diet karnivora juga datang dari Patrick Ensley, teknisi HVAC asal Milford, Nebraska. Patrick memutuskan mengubah pola makannya setelah berat badannya mencapai 300 pon atau sekitar 136 kilogram. Selama setahun penuh, ia hanya mengonsumsi steak seberat 16 ons, satu pon daging sapi, dan enam butir telur setiap hari.

Setelah 10 bulan menjalani diet tersebut, Patrick mengungkapkan lingkar perutnya menyusut 48 sentimeter dan lingkar pinggulnya berkurang 32 sentimeter. Ia juga merasakan peningkatan energi, kualitas tidur yang lebih baik, dan suasana hati yang lebih stabil. “Saya merasa lebih sehat secara mental dan memiliki tujuan hidup kembali,” ujarnya, dikutip dari LadBible